"Sudah di mana?" tanya Rumi pada Larry via telephone.
"Di jalan, baru mau pulang." jawab Larry, tadi setelah selesai makan ia dan rombongan petinggi Warung Elite langsung pulang ke rumah masing-masing.
"Sudah makan?"
"Sudah." jawab Larry sambil tersenyum, walau Rumi tidak melihatnya.
"Sudah telepon Balen?" tanya Rumi karena tahu biasanya makan malam Larry yang temani Balen dan Nanta via telepon.
"Sudah tadi sebelum makan." jawab Larry.
"Kok tidak telepon aku?" tanya Rumi.
"Memang harus?" malah balik tanya.
"Leyi, sombong deh!" gerutu Rumi membuat Larry tertawa.
"Aku penasaran kamu ngobrol apa saja sih sama Papi?" tanya Rumi lagi.
"Ngobrol biasa saja." jawab Larry.
"Ngobrol biasa sampai dipanggil ke Warung Elite." Rumi tidak percaya.
"Papi ajak kita bertemu Papamu." jawab Larry membuat Rumi terdiam cukup lama.
"Yumi..." masih saja diam tidak menjawab.
"Yumi... kok diam?" tanya Larry lagi. Hanya terdengar helaan nafas.
"Ya sudah nanti saja kita bahas soal Papa kamu ya, kita selesaikan urusan yang kita yang disini dulu." kata Larry akhirnya, tahu Rumi sepertinya belum siap untuk bertemu Papanya.
"Leyi, kita tidak usah bertemu Papaku. Nanti aku minta restu via telepon dan minta surat pengantar wali hakim saja sama Papa. Seperti yang disarankan Mamanya Dania dulu." kata Rumi pelan, ia ingat cerita Nanta dan Dania saat mau menikah dulu.
"Nanti ya kita pikirkan soal itu, kalau urusan Papaku sudah beres." jawab Larry.
"Yah."
"Kamu jangan melemah begini dong." pinta Larry pada Rumi.
"Sudah malam kali sudah saatnya tidur." Rumi terkekeh. Larry tahu Rumi lagi atasi rasa tidak enak dihatinya.
"Mau video call?" Larry menawarkan.
"Kamu lagi setir." Rumi menolak, bahaya lagi setir sendiri malah video call.
"Aku bisa minggir dulu." kata Larry lagi.
"Nanti sampai rumahnya lama, pulang saja. Kalau sudah sampai rumah baru video call."
"Tapi sampai rumah aku mandi dulu ya, biar tidak kemalaman. Nanti video call kamu sampai kamu tidur." janji Larry pada Rumi.
"Setiap malam akan begini tidak?" Rumi langsung tersenyum.
"Tidak, malam ini saja biar kamu tidak suntuk." jawab Larry.
"Ish..." langsung kesal gitu.
"Kenapa?" tanya Larry tertawa.
"Tidak romantis, setiap malam dong begini, video call aku sampai aku tidur." Larry kembali tertawa mendengarnya.
"Leyi Aku serius." kata Rumi lagi.
"Nanti saja kalau sudah dapat restu." jawab Larry yang rupanya masih menahan diri.
"Aku saja deh yang hubungi Papamu minta restu, bagaimana?" Rumi tidak sabaran.
"Jangan, ini bagian aku bukan kamu." Larry menolak.
"Aku tidak sabar."
"Sabar saja, jawabannya kan lusa. Kalau sehat aku bisa langsung minta waktu Papa untuk bertemu."
"Susah sekali mau bertemu Papamu ya?"
"Begitu kalau lagi sibuk, kalau lagi santai ya setiap hari bisa bertemu kok, konyolnya saat Papa dan Mama santai akunya ke luar kota atau luar negeri." Larry terkekeh.
"Minta Papa dan Mama ikut saksikan kamu bertanding dong, seperti Om Kenan kan suka ikut tuh."
"Tidak kepikiran sih, aku malah pikir Papa dan Mama bisa kunjungi Daniel dan Redi di asrama kalau mereka santai."
"Sayang adik ya kamu."
"Iya sama Balen saja sayang, apalagi sama mereka."
"Sama aku sayang tidak?" Rumi jadi penasaran.
"Hmm..." hanya jawab begitu.
"Leyi..."
"Hmm...?"
"Jawab dong."
"Nanti saja."
"Ish menyebalkan!" entah pura-pura merajuk entah tidak.
"Menurut kamu Yumi?"
"Tidak tahu kalau kamu tidak bilang." jawab Rumi.
"Hahahaha..." malah tertawa bikin Rumi gemas.
"Sudah sampai dimana?" tanya Rumi.
"Depan rumah, lagi tunggu gerbang dibuka." jawab Larry.
"Ya sudah aku tutup ya."
"Ya."
"Jangan lupa loh."
"Video call kan?"
"Iya sama satu lagi."
"Apa?"
"Bilang sayang sama aku."
"Hahaha..." kembali tertawa.
"Jangan jual mahal Leyi, aku sudah discount habis-habisan."
"Iya sayang." ucapkan dengan kesadaran penuh.
"Ah Leyi, apa?" senang begitu mendengar Larry bilang sayang.
"Iya." jawab Larry tersenyum.
"Selain itu." minta diulang bilang sayangnya.
"Gerbangnya sudah dibuka aku masuk dulu ya." Larry menahan tawa, senang sekali menggoda Rumi.
"Ish Leyi menyebalkan." teriak Rumi mendengarnya.
"Hahaha..." Larry tak kuasa menahan tawa dengar gaya Rumi yang menggemaskan.
Rumi pun menutup handphonenya sementara Larry malah cengar-cengir sendiri setelah sambungan teleponnya terputus. Rumi selalu saja bikin Larry senyam-senyum, dulu hanya Balen saja, sekarang ada Rumi yang lucunya beda lagi.
"Lagi senang ya Mas Larry?" bisik penjaga rumah melihat Larry turun Mobil dengan senyum yang masih mengembang.
"Mungkin abis telepon sama anak kecil itu." bisik penjaga yang satu, rupanya kebiasaan Larry video call dengan Balen sudah diketahui seisi rumah. Pembahasan mereka tentang Larry berhenti begitu Larry melambaikan tangan pada mereka dan masuk kedalam rumah.
"Tadi Bapak telepon, Mas." lapor Bu Titik orang kepercayaan Papa dan Mamanya yang menemani Larry dirumah.
"Bilang apa bu?" tanya Larry.
"Tanyakan Mas Larry sudah dirumah apa belum." jawab Bu Titik.
"Kok tidak telepon aku." Larry terkekeh, Papa lebih suka bertanya sama orang lain ketimbang hubungi anaknya sendiri.
"Mungkin sibuk, jadi sekalian cek keadaan rumah." jawab Bu Titik.
"Kapan Papa ke Jakarta?" tanya Larry.
"Belum ada informasi." jawab Bu Titik.
"Katanya seminggu di Lombok, harusnya senin sudah di Jakarta." kata Larry.
"Kalau tidak ada perubahan jadwal, Mas Larry tahu sendiri kadang suka tukar koper di Bandara." jawab Bu Titik tertawa.
"Makanya aku tidak mau jadi pejabat seperti Papa ah. Waktuku untuk keluarga tidak ada." kata Larry mencebik.
"Aku ke kamar dulu. Ada pesan apa dari Papa dan Mama?" tanya Larry, biasanya banyak rincian pesan yang dibacakan Bu Titik ketika Larry sampai di rumah.
"Tidak ada." jawab Bu Titik.
"Makasih Bu Titik." kata Larry kemudian naik ke atas menuju kamarnya di lantai dua.
"Mau disiapkan makan malam, Mas Larry?" tanya Bu Titik, harus tanya dulu karena Larry jarang makan dirumah kalau pulang sudah lewat Isha.
"Tidak usah, aku sudah makan tadi, Bu." jawab Larry, untung saja ada Bu Titik dan yang lainnya ada di rumah, jadi Larry tidak terlalu kesepian, berasa sepi kalau lagi dimeja makan saja, harus makan sendirian.
Larry segera bersihkan diri, pikirnya sebelum hubungi Rumi ia mau hubungi Papa atau Mama. Siapa saja yang bisa diajaknya ngobrol malam ini. Larry juga sudah rindu sama Mamanya dan belum dengar suara Mama berapa hari ini.
Setelah bersihkan diri, Larry hubungi Mama, kalau Papa mungkin sedang rapat, pasti Zaki yang angkat telepon Papanya nanti.
"Anak mama." langsung suara Mama terdengar sumringah.
"Aku sudah di rumah." lapor Larry pada Mama.
"Iya, Bu Titik barusan laporan." jawab Mamanya terkekeh.
"Mama sampai kapan di Lombok?"
"Minggu pulang, rencananya begitu."
"Ke sini apa ke rumah dinas?" tanya Larry.
"Nanti lihat jadwal Papa dulu, kenapa. Nak?"
"Sudah berapa minggu tidak bertemu anaknya malah tanya kenapa?" Larry bersungut, Mama malah tertawa.
"Nanti Mama ajak Papa pulang kerumah deh, atau kamu saja yang ke rumah Dinas."
"Malas ah, tidak suka aku disana." jawab Larry.
"Ma, aku sudah punya pacar." lapor sama Mama. Main pacar saja padahal belum bilang apapun sama Rumi.
"Siapa?" mau tahu walaupun sudah mendapat laporan Larry jalan sama siapa berapa hari ini.
"Rumi." jawab Larry jujur.
"Hmm..." menghela nafas panjang.
"Sudah selesai terapinya kok, sudah baik sekarang tidak minum lagi, beneran." berusaha yakinkan Mama.
"Ya."
"Aku mau seriusi Rumi, tadi kita sudah cek kesehatan. Hasilnya lusa keluar. Mama dukung aku dong." minta suaka Mama.
"Ya." singkat saja jawabannya.
"Kalau hasilnya baik restui aku ya." belum pernah Larry seperti ini sama Mama. Biasanya ditanya soal pacar jawabnya malas-malasan.
"Mama harus tahu dulu orangnya yang mana, belum ngobrol, belum kenalan." kata Mama membuat Larry tersenyum.
"Nanti kalau Mama di Jakarta luangkan waktu untuk aku dan Rumi dong. Aku ajak temui Papa dan Mama." pinta Larry pada Mama.
"Ya, boleh."
"Betul ya, I love you Mama." langsung saja wajahnya sumringah.
"I Love you Abang." Larry lega mendengar tanggapan Mama yang tidak menolak walau belum mengiyakan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 368 Episodes
Comments
manda_
semangat leyi
2022-02-05
1
Diandra Kalista80
😄😄😄😄aduh..... semakin seru dan penasaran kk
2022-02-05
2
nha_82
duh gemes banget sih yumi sama leyi, rentuin dong mama...
2022-02-05
1