Setelah makan siang bersama Nanta dan Dania, pukul dua kurang lima menit, Rumi dan Larry pamit.
"Setelah ini kemana?" tanya Nanta pada Larry.
"Antar Rumi pulang terus temui Papi di Warung Elite." jawab Larry tersenyum.
"Ada apakah?" Nanta terkekeh.
"Main catur." jawab Larry membuat Nanta terbahak, apa yang main catur, selama kerja di Warung Elite Papi tidak pernah sekalipun keluarkan papan catur.
"Semangat, kalau mau jadi menantu emang suka begitu sih, dipanggil terus." bisik Nanta membuat Larry terbahak.
"Pengalaman pribadi hei?" Larry ikut berbisik.
"Hmmm..." Nanta naikkan alisnya sambil cengengesan.
"Terima kasih ya Dan, sudah makan pulang ini." kata Rumi, Dania terkekeh.
"Terima kasih sudah bantu habiskan makanan, jadi Mamon senang deh pasti, pikirnya kita makan banyak." Nanta terbahak.
"Pasti tahu ada yang bantu." jawab Larry.
"Kalau tidak kasih tahu pasti tidak tahu." Nanta menepuk bahu Larry.
"Doakan ya semuanya lancar." pinta Larry.
"Pasti dong, niat baik in syaa Allah di bikin lancar." jawab Nanta lagi.
Setelahnya Larry dan Rumi langsung ke ruang radiologi, melakukan pengambilan darah yang terakhir. Semua rangkaian pemeriksaan sudah dilakukan, tinggal menunggu hasilnya esok lusa saja. Membuat Rumi tegang saja seperti menunggu pengumuman hasil tes. Kalau hasil jelek, tidak lulus tes, ah masa begitu sih, Rumi menghela nafas panjang.
"Kenapa?" tanya Larry yang kembali menggandeng Rumi, mereka sedang menuju parkiran.
"Berharap semua lancar." jawab Rumi. Larry tersenyum mendengarnya.
"Kamu santai betul sih." Rumi bersungut
"Seperti yang Nanta bilang, niat baik hasilnya juga akan baik." jawab Larry.
"Niat baiknya apa?" pancing Rumi.
"Duh apa yah?" seperti tahu di pancing, Larry malah tidak sebutkan niat baiknya apa. Rumi jadi sebal sendiri, Larry belum pernah bilang dari mulutnya sendiri kalau ia akan menikahi Rumi. Waktu Rumi tanya saja Larry menganggukkan kepalanya. Ditanya Fino tadi pun jawabnya doakan saja.
"Eh cemberut lagi." Larry goyangkan tangannya.
"Kamu jawabnya selalu menggantung." jawab Rumi, mulai naiki kendaraan Larry, tak lama Larry pun menyusul.
"Berdoa saja." kata Larry lagi.
"Berdoa apa?" malah bertanya.
"Biar semuanya hasilnya baik." jawab Larry.
"Kalau baik kenapa?" malah tanya lagi.
"Ya Alhamdulillah berarti kamu dan aku sehat." Larry tersenyum jahil.
"Oke." jawab Rumi akhirnya, Larry tertawa dan mengacak anak rambut Rumi. Senang sekali bisa menggoda Rumi, lalu Larry pun mulai lajukan kendaraannya. ia tahu Rumi ingin mendengar kata menikah, tapi kan Rumi sudah tahu memang itu tujuannya, kenapa diulang lagi sih, pikir Larry.
"Nanti kalau kita... eh tidak jadi." Rumi membuat Larry penasaran.
"Mau bilang apa?" tanya Larry melirik Rumi sekilas.
"Tidak bilang, nanti saja kalau sudah keluar hasilnya." jawab Rumi.
"Ya sudah nanti saja, jangan berhayal dulu." kata Larry lagi.
"Padahal semua dari hayalan, bisa jadi kenyataan." jawab Rumi pelan, Larry terkekeh.
"Tidak mau gandeng?" Larry merentangkan telapak tangannya, menunggu Rumi menyambutnya.
"Takut kebiasaan." jawab Rumi membuat Larry tertawa.
"Sini." katanya sedikit memaksa. Tidak ada pergerakan dari Rumi.
"Ya sudah kalau tidak mau." Larry kembali memegang tuas transmisi.
"Ish..." Rumi akhirnya mengalah mengambil tangan Larry untuk digenggamnya, Larry tertawa melihat gaya Rumi yang sok jual mahal.
"Tidak pantas, sok jual mahal begitu." kata Larry terkekeh, sambil mainkan tangan Rumi.
"Kamu yang jual mahal, perasaan aku sudah obral dari kapan tau." jawab Rumi membuat Larry gemas dan mengecup punggung tangan Rumi.
"Sabar ya." katanya tersenyum lembut pandangi Rumi. Duh bikin Rumi berdebar kan kalau begini, bagaimanapun Rumi punya perasaan. Rumi jadi canggung dan hanya bisa mengangguk saja.
"Tumben kalem." kata Larry lagi membuat Rumi terbahak. Rasa canggungnya jadi hilang seketika.
"Leyi, terima kasih ya. Kamu hati-hati nyetirnya." kata Rumi begitu mereka tiba di depan rumah Papi. Larry anggukan kepalanya, menunggu Rumi turun dari kendaraannya.
"Kamu sendiri?" tanyanya lagi.
"Ada Bi Neneng, Mami mungkin masih di butik." jawab Rumi tersenyum. Larry kembali anggukan kepalanya.
"Ceritakan nanti hasil pembicaraan dengan Papi ya." pinta Rumi pada Larry.
"Hmm..." Larry mengangkat alisnya.
"Jangan rahasia loh." Rumi sedikit mengancam.
"Hmm... Tergantung." jawab Larry.
"Tergantung apa?" tanya Rumi.
"Harus dirahasiakan apa tidak." jawab Larry lagi sambil tersenyum.
"Sebel ih."
"Masa? bukannya suka sama aku?" malah menggoda Rumi.
"Jangan ditanya lagi itu sih." kata Rumi melengos kemudian turun dari mobil. Larry tertawa dibuatnya, kemudian lajukan kendaraannya setelah Rumi masuk kedalam rumah.
Perjalanan ke Warung Elite tidak pakai lama paling hanya setengah jam. Larry pun tiba menjelang ashar. Begitu turun kendaraan langsung di sambut suara adzan. Langsung saja Larry masuk menuju musholla. Jadi nanti enak setelahnya bisa ngobrol santai sama Papi.
"Larry, kamu di sini." sapa Ayah Reza yang bertemu dengan Larry di Mushola setelah berwudhu. Ayah bersama kedua sahabatnya Papa Andi dan Popo Erwin.
"Iya Ayah, mau bertemu Papi." kata Larry tersenyum salami Ayah Eja.
"Mau interview." Papa Andi terkekeh. Larry jadi senyum saja mendengar bercandaan Papa Andi.
"Ayo siapa jadi imam?" tanya Popo Erwin sambil benarkan gulungan celananya.
"Larry lah, calon menantu mesti di tes bisa jadi Imam apa tidak." eh malah jawab begitu Papa Andi, bikin Larry grogi saja. Dari tadi ajak Larry bercanda tapi penuh sindiran bukan sih? Larry jadi mikir deh.
"Ok ya Larry imam." kata Erwin lalu mulai melafalkan Iqamah. Kemudian Larry maju kedepan untuk mengimami para petinggi Warung Elite sholat ashar bersama. Untung saja kalau sedang kumpul keluarga Larry biasa lakukan jadi Imam Sholat bergantian dengan Papa dan adik-adiknya, jadi Larry tidak canggung lagi.
"Jadi bagaimana nih, lulus tidak jadi menantu?" tanya Reza setelah mereka selesai Sholat berjamaah. Larry dan yang lainnya jadi tertawa.
"Lulus dong." jawab Papa Andi tertawa.
"Dari tadi sudah ditunggu loh, kamu mau makan apa?" tanya Ayah Reza saat mereka keluar dari Mushola.
"Aku sudah makan sama Nanta tadi." jawab Larry.
"Oh bertemu Nanta di rumah sakit?"
"Iya sambil menunggu ambil darah terakhir, kita keruangan Nanta tadi." jawab Larry.
"Cucu ayah lagi apa?" tanya Reza tentang Bima.
"Tidur saja tadi." jawab Larry tersenyum.
"Tunggu diruang Nanta saja, Papi suka disana." kata Popo Erwin pada Larry.
"Tidak di kunci?" tanya Larry mengingat Nanta tidak ke kantor.
"Tidak, dari tadi Papimu sudah menunggu disana." jawab Erwin terkekeh.
"Ok ya, Ayah langsung ke ruangan." Reza menepuk bahu Larry.
"Iya Ayah, terima kasih." jawab Larry tersenyum. Reza lambaikan tangannya. Erwin dan Andi sudah berjalan lebih dulu masuk keruangan mereka.
"Sore Papi." sapa Larry saat membuka ruangan kerja Nanta.
"Eh sudah datang, masuk Nak." Mario tersenyum manis, kacamata bertengger dihidungnya dengan segala berkas sudah tersusin rapi di meja.
"Baru ditinggal Nanta sehari, berkas sudah menumpuk saja." Mario melepaskan kacamatanya, kodekan tangannya agar Larry duduk.
"Bagaimana tadi, lancar?" tanya Mario setelah Larry duduk dihadapannya.
"Alhamdulillah lancar Pi, hasilnya lusa." jawab Larry pada Mario.
"Rumi sudah di rumah?" tanya lagi.
"Sudah, tadi selesai langsung antar Rumi, terus aku langsung kesini deh, ngobrol apa nih Papi?" tanya Larry penasaran.
"Mau buru-buru saja, santai dulu dong. Papi bereskan ini sebentar ya. Lima menit deh. Kamu mau makan atau minum apa?" tanya Mario.
"Masih kenyang Pi." jawab Larry jujur.
"Es campur saja ya?"
"Jangan Pi."
"Jus alpukat?"
"Duh Larry masih kenyang." Larry memegang perutnya. Mario menghubungi pegawainya pesankan minuman untuk Larry sesuai yang Mario mau.
"Yang hangat-hangat wedang Ronde." katanya terkekeh. Larry jadi ikut terkekeh tapi otaknya berpikir keras, papi mau bilang apa ya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 368 Episodes
Comments
nha_82
duh leyi deg deg an ya, mau ditanya apa sama papi
2022-02-04
0
Diandra Kalista80
aduhh kenapa ak yg deg deg an ya🥰🥰🥰🥰lanjut dong up nya,,,,penasaran nih,semoga semuanya lancar thoor....aminnnnn
2022-02-04
0
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi semangat aban leyi baen 👍👍💪💪💕💕
2022-02-04
0