"Aban udah matan beum?" tanya Balen pada Larry via telepon.
"Sudah, Aban lagi di Warung Elite." jawab Larry terkekeh.
"Napain? tan Aban Nanta ladi di umah satit. Baen ladi liat anak bayi nih." katanya pada Larry.
"Anak bayi siapa?"
"Anak bayi Baen don." Larry tertawa mendengarnya.
"Pantanya lagi apa?"
"Gendong Bima Ayah Leyi." teriak Nanta membuat Balen terkesima.
"Ayah Leyi ladi." Balen terkekeh.
"Bagus tidak dipanggil Ayah Leyi?" tanya Nanta pada adiknya.
"Badus." jawabnya acungkan jempol.
"Aban Doni pandilna Padon aja." kata Balen lagi membuat Nanta dan Larry terbahak.
"Kak Dona apa?" tanya Dania.
"Madon." jawabnya mulai mengatur.
"Enak Mike dong ya, Om Mike." Nanta terkekeh.
"Omik, Anak Bayi aban Maik pandilna Omik aja, Tatak Seqa tamu pandilna Teqa."
"Hahaha Balen kamu saja yang atur ya." Doni yang dari tadi menyimak ikut tertawa.
"Tuh anak bayi, ada Padon tuh." kata Balen ajak Bima bicara.
"Madon lagi apa Padon?" Dania ikutan panggil ala Balen.
"Madon lagi bawa ember kemana-mana. Duh repot deh hamil begini." Doni gelengkan kepalanya.
"Yang bawa ember Madon kenapa Padon yang repot?" tanya Dania.
"Kasihanlah Dan. Semoga tidak lama-lama begini, mana dua bulan kedepan kita kembali Ke asrama." keluh Doni pikirkan istrinya.
"Yah Bima udah mo ditindal Panta te asama deh." kata Balen pada Bima.
"Kan ada Ante Baen jaga Bima." kata Nanta menggoda adiknya.
"Titip ninap umah Sakia aja ya Bima, tamu ndak sepian deh." katanya lagi membuat semua tertawa.
"Duh Si Mike sejak menikah susah dihubungi nih." kata Nanta membuat Larry terkekeh ingat kedap suara di apartemen Mike.
"Namanya juga masih adaptasi." kata Doni terbahak.
"Sibuk dia di apartment." Larry ikut terbahak.
"Sibuk diruangan kedap suara." sambung Larry lagi semua jadi terbahak dibuatnya.
"Baen, dirumah sakit sampai jam berapa?" tanya Larry pada Baen.
"Tundu Papon jemput Baen." jawabnya.
"Mau Aban jemput?" Larry menawarkan.
"Ndak usah, Baen uwusin anak bayina duu." jawabnya sok iye. Larry terkekeh dibuatnya.
"Elu masih sama Papi, Leyi?" tanya Nanta.
"Masih, tapi Papi lagi keruangannya dulu, ini gue diruang kerja lu." jawab Larry pada Nanta.
"Sudah main catur tadi?" tanya Nanta menggoda Larry.
"Hahaha makan Wedang Ronde." jawab Larry terbahak.
"Sekalian makan malam lah, tanggung." Doni ingatkan sahabatnya.
"Iya sudah Papi pesankan. Ini sudah mau magrib masih pada belum pulang, pada betah dikantor ya." Larry terbahak bahas Papi bersama sahabatnya.
"Iya banyak kerjaan mungkin." jawab Nanta.
"Iya jagoannya cuti sih." jawab Larry Nanta terbahak.
"Lusa baru masuk, kan dapat ijin cuti dua hari." jawab Nanta terkekeh.
"Eh sudah ya, Papi datang nih." Larry pamit pada sahabatnya.
"Baen, aban tutup dulu ya sayang." pamit Larry pada Balen.
"Yah." jawab Balen lambaikan tangan pada Larry
"Siapa?" tanya Mario pada Larry saat masuki ruangan.
"Balen." Larry terkekeh.
"Kenapa dia?" Mario ikut terkekeh bayangkan Balen.
"Biasa, lagi di rumah sakit lihat anak bayi."
"Papi belum lihat loh, rencananya mau hari ini, tapi tidak sempat, mungkin besok." kata Mario.
"Lusa Nanta sudah masuk kantor, Pi."
"Oh ya? cepat sekali." Mario tersenyum.
"Cuti dua hari katanya." Mario anggukan kepalanya.
"Leyi ayo sholat." Ayah Eja menyembul dari balik pintu.
"Aku sholat dulu Pi." kata Larry pada Papi.
"Nanti ajak Leyi langsung ke ruangan kita saja Ja, makan malam bersama." Mario sampaikan pada Reza.
"Iya." jawab Reza merangkul Larry.
"Yang lain mana Yah?" tanya Larry pada Ayah Eja.
"Sudah duluan." jawab Reza tersenyum.
"Ayah sudah lihat Bima?" tanya Larry lagi.
"Sudah semalam." jawab Reza.
"Hari ini tidak bisa lihat deh pulangnya kemalaman, kasihan Shakira menunggu Opa." jawab Reza lagi, Larry tersenyum.
"Cucu ayah sepasang deh." kata Larry, Reza anggukan kepalanya sambil tertawa.
Mereka pun tiba di Mushola, kembali Larry diberikan kehormatan menjadi imam Sholat.
"Makanan sudah dipesan kan?" tanya Andi setelah sholat, sudah lapar rupanya.
"Sesuai permintaan Bapak." jawab Erwin membuat Andi terkekeh.
"Kita sudah punya cucu, tapi kok berasa muda saja bawaannya ya." kata Andi lagi, bandingkan dirinya dengan Larry.
"Lihat Larry, ingat masa muda ya?" kata Reza tertawakan Andi.
"Iya, lihat Larry, Nanta dan sahabatnya gue ingat masa-masa dikejar fans." Andi terkekeh.
"Heboh ya Pa?" tanya Larry.
"Iya lumayan. Bunda Kiki juga tuh dulu." kata Andi tertawa.
"Tapi langsung gue redam, begitu menikah stop semua aktifitas medsos." kata Reza ingat saat awal menikah dulu.
"Nah istrinya Papa Andi ini juga basketnya jago Leyi, tapi dia tidak sampai jadi Atlit, hanya sebatas club saja." Erwin ceritakan adiknya Pipit.
"Sekarang masih bisa main basket tidak, Pa?" tanya Larry ingin tahu.
"Pernah beberapa kali ikut main bersama Nanta di lapangan dekat rumah." jawab Andi.
"Sudah lama itu waktu Nanta baru pindah ke Jakarta." Reza ingatkan Andi.
"Iya betul." Andi anggukan kepalanya.
"Sejak punya cucu sudah tidak main lagi ya, sudah tidak boleh juga kan." kata Andi lagi.
"Kamu mau main basket sampai kapan Leyi? sepertinya sudah bisa kerja kantoran. Apalagi kalau sudah menikah."
"Aku mau main basket selama masih dipakai Pa." jawab Larry.
"Sama saja seperti Nanta." Reza tertawa.
"Susah kalau sudah mendarah daging." kata Erwin. Larry tertawa mendengarnya.
"Itu kan bagian dari pekerjaan juga Po."
"Iya hobby yang dijadikan pekerjaan."
"Tapi kamu harus kerja kantoran juga kalau menurut Ayah. Biarkan saja basket jadi kerjaan sambilan, seperti Nanta."
"Iya nanti aku pikirkan."
"Bekerja saja disini bersama Nanta."
"Kan sudah handle cabang utara." jawab Larry.
"Iya maksud Ayah lebih mendalam lagi. Kalian ikut terjun gantikan kami yang sudah saatnya liburan kesana kemari." kata Reza.
"Iri sama gue, bilang Bos." kata Erwin tertawa senang.
"Nah berhubung istrinya sudah bisa diajak traveling diantara kami berempat, Popo Erwin yang paling sering liburan."
"Ayah juga mau seperti itu?" tanya Larry.
"Sekarang sih tidak, waktu Raymond di Malang itu rasanya ingin liburan terus." kata Reza tertawa.
"Mari makan." sambut Mario saat mereka masuk kedalam ruangan petinggi. Makanan sudah tersaji di meja.
"Yo, tadi gue bilang Larry supaya mau ikut bekerja disini bersama Nanta, jadi kita bisa lepaskan ini Warung Elite ditangan mereka." kata Reza pada Mario.
"Bagaimana Leyi?" Mario terkekeh.
"Nanti lah Pi, kalau urusanku sudah beres." kata Larry pada Mario.
"Ya bagaimana baiknya kamu saja. Leyi juga punya perusahaan keluarga, friend." Mario beritahukan Reza.
"Wah pasti sudah ditunggu sama keluargamu ya." Reza tertawa, tidak mungkin rebutan Larry.
"Aku belum pernah terjun kesana sih, masih fokus sama basket." jawab Larry tersenyum, urusannya masih banyak selain basket, melatih Balen berenang dan fokus membujuk Papa dengan data kesehatan Rumi nanti, belum bisa berpikir untuk bekerja kantoran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 368 Episodes
Comments
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu thor aku panda lagi gendong ubi goreng apa singkong rebus aban nanti gak disayang lagi ya 😂😂😂😂💪👍👍👍
2022-02-04
1
Diandra Kalista80
leyiiii,,semangat bujuk papa nya ya,SMG sukses
2022-02-04
1
Nyoyo
fokus menikah leyi
2022-02-04
3