Serangkaian pemeriksaan sudah Larry dan Rumi jalani, sekarang mereka harus makan setelahnya akan dilakukan pemeriksaan lagi. Tadi Larry menunggu Rumi sedikit lebih lama karena Rumi juga harus di usg untuk pemeriksaan kandungan, seperti yang Larry mau.
"Hasil akan keluar besok lusa." kata petugas kesehatan.
"Oke, sekarang boleh makan?" tanya Rumi.
"Boleh, makan yang enak, nanti setelah dua jam ambil darah lagi." kata petugas ajaki Rumi bercanda sambil sampaikan informasi.
"Oh masih harus menunggu dua jam ya, berarti aku tidak bisa ke kantor dong."
"Nanti setelah dua jam kesini lagi kan?" tanya Rumi pada petugas.
"Iya langsung temui saya saja." jawabnya.
"Terima kasih ya." Rumi mengajak Larry sedikit menjauh.
"Ijin tidak masuk saja." kata Larry melihat Rumi sedikit bingung.
"Aku hubungi Papi dulu." jawab Rumi.
"Tanyakan Papi, setelah antar kamu ke rumah nanti, aku tetap temui Papi di Warung Elite atau bagaimana?" Larry titip pesan untuk Papi mengingat tadi Papi minta Larry untuk mampir ke Warung Elite.
"Oke. Siapa tahu Papi sudah pulang kantor ya. Kamu bisa bicara dengan Papi di rumah sekalian makan malam. Dari pada sendiri di rumah makan tidak ada yang temani." oceh Rumi membuat Larry tertawa.
"Biasa Balen yang temani makan malam." jawab Larry tertawa.
"Sekarang aku juga bisa temani, eh petugasnya mana aku mau tanya boleh tidak makannya buah saja, rencana aku mau detox." kata Rumi ingat ia bawa buah di ransum tadi.
"Besok saja mulai detoxnya hari ini kita makan soto dulu." kata Larry sambil ulurkan tangannya mengajak Rumi ke kantin.
"Kamu mau gandeng aku ya?" tanya Rumi membuat Larry tersenyum dan menggandeng Rumi seperti rencana Larry semula.
"Tadi ada Fino loh, ternyata dia bekerja disini." Rumi sampaikan pada Larry, tangan mereka saling bertautan berjalan menuju kantin untuk makan siang. Sesekali Rumi melirik tangannya yang sedang di gandeng Larry, grogi sebenarnya tapi sok santai saja.
"Pantas tadi aku lihat ada yang mirip Fino." Larry tertawa, pikirnya mirip Fino ternyata memang Fino yang dilihatnya tadi.
"Nanti setelah makan kita menunggu ditempat Nanta saja, kamu bisa lihat Bima." kata Larry memberi ide, dua jam lumayan suntuk kalau harus menunggu luntang-lantung.
"Memangnya Nanta tidak kerja?" tanya Rumi.
"Belum lah, dia pasti ambil cuti." jawab Larry yakin.
"Kita belum kasih kado untuk Bima." kata Rumi lagi, kok kita hehehe.
"Nanti bisa menyusul, tidak harus sekarang." Larry tersenyum memandang Rumi.
"Kira-kira bagaimana hasil kesehatan kita ya?" Rumi menduga-duga.
"Sehat dong." jawab Larry yakin.
"Semoga." Rumi setengah bergumam.
"Makan apa?" tanya Larry biarkan Rumi duduk, ia saja yang ke counter untuk pesan makanan.
"Mau habiskan buah dulu, sayang tidak dimakan." kata Rumi, Larry anggukan kepalanya.
"Bantu dong Leyi, banyak nih. Aku tidak jadi detox kan?" Rumi pastikan maunya Larry.
"Iya aku pesan minuman dulu." jawab Larry.
"Aku tidak usah dibelikan ya, ada infus water." Rumi tunjuki tumbler di tas nya.
"Oke." Larry bergegas pesan minuman untuk dirinya sendiri, sementara Rumi sudah duduk manis sambil nikmati buah yang dipotongnya tadi pagi.
"Rum!" Rumi menoleh, ada lagi saja yang memanggilnya. Ternyata Fino lagi makan di tempat yang sama.
"Buka puasa nih." Rumi tunjuki buah yang dimakannya. Fino terkekeh melihatnya.
"Larry mana?" tanya Fino dengan mata berkeliling menyapu ruangan.
"Itu." tunjuk Rumi pada Larry yang sedang membayar minuman. Fino pun lambaikan tangan pada Larry yang kebetulan sudah berbalik arah, berjalan kearahnya.
"Fino." Larry tersenyum melihat Fino sudah duduk di meja yang sama dengan Rumi.
"Apa kabar Larry?" tanya Fino hangat.
"Alhamdulillah, Nanta istrinya melahirkan disini loh, sudah tahu kah?" tanya Larry ingat Nanta.
"Belum, dikamar berapa?" tanya Fino yang memang belum tahu. Lagi pula siapa yang akan memberi tahu Fino, dokter Deni rasanya tidak mungkin, mereka hanya berkomunikasi jika ada perlunya saja.
"Lupa gue di kamar berapa, tapi tahu kamarnya dimana." Larry tertawa tidak perhatikan nomor kamar Dania kemarin.
"Makan apa Fin?" tanya Larry lagi duduk disebelah Rumi, ikut nikmati buah yang Rumi bawa sesuai permintaan Rumi. Ada dua garpu kecil di sana.
"Sudah makan tadi, baru mau keluar kantin, gue lihat Rumi lagi saja. Kalian mau menikah ya makanya cek kesehatan?" tanya Fino tembak langsung. Ia menduga-duga melihat Larry lebih dekat dengan Rumi saat ini. Bahkan tidak canggung makan dalam satu wadah berdua. Larry dan Rumi tidak tawari Fino, sepertinya mereka lupa.
"Memangnya ada yang mau menikah cek kesehatan begini?" tanya Larry ingin tahu. Tapi mungkin saja memang ada.
"Ada." jawab Fino anggukan kepalanya. Memang ia pernah temukan calon pengantin yang begitu.
"Oh, ternyata ada." Larry tertawa, pikirnya hanya ia dan Rumi saja.
"Benar ya? Jangan lupa undang loh ya." kata Fino lagi.
"Doakan saja, jika memang jodohnya." jawab Larry tersenyum.
"Femi juga praktek di UGD Rumah Sakit ini, tapi hari ini kebagian piket sore." tanpa diminta Fino membahas Femi.
"Oh salam saja ya." kata Larry santai.
"Benar nih titip salam." Fino terkekeh.
"Benar lah, namanya juga teman." jawab Larry tekankan kata teman, ceritanya dengan Femi sudah selesai.
"Kalian kenapa sih?" tanya Fino ingin mendengar cerita versi Larry.
"Tidak jodoh." jawab Larry tertawa.
"Jodohnya aku Fin." jawab Rumi membuat Larry dan Fino tertawa.
"Femi merasa dijadikan pelarian." jawab Larry singkat.
"Ternyata?" Fino mencari tahu, kalau melihat kondisi saat ini seperti iya memang Femi hanya pelarian, terbukti tiba-tiba Larry dekat sekali dengan Rumi.
"Tidak ada niat seperti itu." jawab Larry jujur.
"Lagi pula Femi langsung putuskan saat itu juga kami tidak perlu temui orang tua gue." jawab Larry.
"Dia merajuk karena kamu terkesan mengulur waktu Leyi, bahkan ke Mal dengan Balen kamu utamakan." jawab Fino, Larry tertawa mendengarnya.
"Yah memang harus begitu ceritanya gue sama Femi, sudah lewat dan sudah selesai juga." tegas Larry pada Fino. Sekalian sampaikan di depan Rumi apa adanya, tidak ada yang Larry tutupi.
"Kenapa tiba-tiba Rumi?" tanya Fino pandangi Larry dan Rumi bergantian.
"Oh ini juga sedang proses, kalau berjodoh ya menikah." jawab Larry.
"Semoga berjodoh lah, kalian cocok kok." kata Fino lagi.
"Jika Allah mengijinkan." jawab Larry lagi.
"Aamiin." kencang sekali suara Rumi bilang Aamiin. Larry terbahak dan mengacak anak rambut Rumi.
"Kenapa tidak dari dulu pilih Rumi sih? pakai dekati adik gue dulu." kata Fino lagi.
"Dekati Femi dulu kok baru bertemu Rumi, tapi kan tidak di respon Femi. Ah sudahlah kenapa elu bahas Femi terus sih. Sudah selesai loh kita, sebelum Femi turun dari mobil gue kemarin itu, gue sudah closing." jawab Larry tegaskan pada Fino yang masih sedikit penasaran.
"Aku kan sudah bilang, jodohnya aku. Mau Larry dekati siapa juga pasti balik ke aku." jawab Rumi tengil, kembali Larry tertawa dibuatnya. Fino jadi cengar-cengir melihat gaya Rumi yang menggemaskan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 368 Episodes
Comments
Fitri Raihan
Pokoknya leyi harus sama yumi ya thor aku mau maksa 🤣🤣🤣
2022-02-03
1
Diandra Kalista80
lanjut dong....pokoknya leyi sama Rumi ya thoor,
2022-02-03
1