"Papi aku masih di rumah sakit, harus menunggu dua jam lagi untuk pemeriksaan lanjutan." Rumi hubungi Mario via telepon.
"Oke." jawab Mario disela kesibukannya, sedikit kerepotan karena Nanta masih cuti.
"Papi, berarti aku tidak usah masuk kantor ya." ijin Rumi pada Mario, meskipun Papi tidak aktif di Unagroup tapi ia masih ikut memantau setiap pekerjaan disana.
"Iya, nanti kamu langsung pulang saja, Nak." jawab Mario pada Rumi.
"Larry jadinya temui Papi di Warung Elite atau di rumah?" tanya Rumi sampaikan pesan Larry.
"Warung Elite saja kalau Larry tidak capek. Papi pulang agak malam kok hari ini." jawab Mario pada Rumi.
"Aku ikut?" tanya Rumi, ingin ikut Larry saja bawaannya.
"Tidak usah, kamu pulang saja sayang." tegas Mario membuat Rumi mencebik. Papi tidak ijinkan Rumi ikut temui Papi di Warung Elite.
"Ada pembicaraan rahasia kah antara Papi dan Larry?" tanya Rumi, ia pandangi saja pujaan hatinya itu.
"Tidak ada, hanya pembicaraan antara lelaki sambil main catur." jawab Mario sambil tertawa, Rumi jadi ikut tertawa.
"Sambil main basket dong kalau sama Larry." katanya lagi disela tawanya.
"Sudah tidak kuat nafas Papi harus main basket sama Larry, oke Papi masih banyak pekerjaan, kalau ada perubahan Larry kabari Papi." kata Mario setelahnya, Rumi menutup sambungan telepon kemudian tersenyum pada Larry.
"Kenapa?" tanya Larry balas tersenyum pada gadis dihadapannya ini.
"Kata Papi kalau kamu tidak capek, kalian bertemu di Warung Elite saja bicara sambil main catur." Rumi sampaikan pesan Papi sambil tertawa.
"Oke, aku bisa sedikit main catur." jawab Larry ikut tertawa, mereka masih di kantin saat ini, buah yang Rumi bawa sudah habis mereka makan, tapi berhubung perut masih kenyang, jadi keduanya belum bisa pesan makanan yang lain.
"Aku tidak boleh ikut ke Warung Elite loh sama Papi." adu Rumi pada Larry.
"Janganlah, pulang saja dan istirahat. Besok kamu sudah ke kantor lagi. Hari. minggu besok juga kamu tidak libur karena ada syuting." Larry ingatkan Rumi akan aktifitasnya. Rumi anggukan kepala, hari ini saja setelah melewati rangkaian pemeriksaan, Rumi merasa sedikit mengantuk.
"Ayo ke Nanta." ajak Rumi.
"Tidak mau makan soto?" tanya Larry.
"Masih kenyang, kamu mau?" Rumi tawarkan Larry.
"Aku juga masih kenyang, nanti saja kalau sudah lapar lagi baru kita pesan sotonya. Bisa tidak ya antarkan ke ruangan?" tanya Larry.
"Jangan deh nanti berantakan, kasihan juga Bima cium bau soto." jawab Rumi pikirkan Bima si anak bayi.
Mereka beranjak segera bergegas menuju kamar rawat Dania. Jarak dari kantin menuju ruangan lumayan jauh, butuh waktu sekitar lima menit.
"Gandeng..." pinta Rumi pada Larry, tadi tanpa diminta Larry inisiatif menggandeng Rumi, kenapa sekarang tidak lagi, tentu saja Rumi tidak terima. Ia segera inisiatif menarik tangan Larry agar kembali menggenggam jemarinya.
"Ketagihan ih." Larry menggoda Rumi.
"Kamu sih mulai-mulai." jawab Rumi membuat Larry terbahak, padahal dari kemarin Rumi yang mulai-mulai.
"Assalamualaikum..." Rumi menyembul dari balik pintu, mengintip ada siapa saja diruangan Dania. Hanya ada Nanta, Dania dan Bima anak mereka.
"Hai, sini masuk." sambut Dania senang melihat Rumi. Nanta cengar-cengir saja melihat Larry mendorong pelan pundak Rumi, rangkul sih sebenarnya bukan dorong.
"Sudah selesai?" tanya Nanta pada Larry.
"Sekali lagi nanti jam dua." jawab Larry pada Nanta.
"Numpang sholat ah, tumben sepi. Pada kemana?" tanya Larry tidak melihat keluarga Nanta yang lainnya.
"Sore baru kesini." jawab Nanta sambil pandangi Bima mainan barunya.
"Mirip gue ya Leyi." kata Nanta pada Larry tunjuk anaknya.
"Hmmm.. ada mirip Dania juga." jawab Larry setelah amati Bima beberapa saat.
"Duh ajaib betul ya, gue bisa bikin anak lucu begini." kata Nanta kagumi dirinya membuat Larry menoyor kepala sahabatnya.
"Lama-lama kaya Mike lu." kata Larry membuat keduanya terbahak.
"Sana katanya mau sholat." Nanta ingatkan Larry. Larry segera beranjak menuju toilet.
"Sholat Yumi." katanya pada Rumi setelah selesai mengambil wudhu.
"Setelah kamu ya." kata Rumi pada Larry
"Jamaah saja, ada lagi kok sajadahnya." kata Nanta pada keduanya. Rumi pun segera ambil wudhu agar bisa berjamaah dengan Larry.
Ada rasa haru dihati Rumi saat sholat bersama Larry. Ini tidak pernah Rumi bayangkan sebelumnya, punya calon suami yang bisa mengajaknya pada kebaikan. Mulai dari awal Larry tahu Rumi seorang pecandu, Larry yang berani menegur Rumi saat itu bahkan menyita botol minuman Rumi.
Padahal Rumi saat itu hanya ingin berteman dengan menceritakan kebiasaan buruknya, tidak pernah terpikir akan ikuti terapi agar berhenti minum. Tidak pernah menyangka juga jika Larry minta Nanta untuk melaporkan kebiasaan buruknya pada Papi saat itu. Kalau Nanta tidak lapor Papi, pasti Papi tidak akan ambil alih untuk ikut merawat Rumi.
Rumi menitikkan air matanya, berdoa agar Allah mudahkan semua urusannya dan Larry. Rumi berharap sehat, berharap keluarga Larry bisa menerima Rumi, seperti yang Larry bilang. Rumi tahu Larry tidak akan memaksakan kehendak jika Papa dan Mamanya tidak merestui hubungan mereka berdua.
Larry menarik nafas panjang dan segera benahi sajadahnya setelah selesai laksanakan Ibadah sholat Dzuhur.
"Sudah makan?" tanya Nanta, masih pukul satu siang, masih ada satu jam lagi untuk Larry dan Rumi lakukan pemeriksaan selanjutnya.
"Tadi baru makan buah." jawab Larry melirik Rumi yang masih khusu berdoa.
"Makan disini saja, Mamon bawakan banyak sekali menu, tidak akan habis dimakan berdua Dania." ajak Nanta.
"Tidak usah, nanti ke kantin saja." tolak Larry.
"Makan saja Leyi, nanti sore pasti Mamon bawakan makanan yang lain, belum lagi bawaan Bunda. Sayang tidak dimakan." Dania ikut membujuk Larry.
"Ayo makan sama-sama, gue sama Dania juga belum makan." kata Nanta mulai menggelar karpet dan letakkan ransum yang berisi nasi, lauk pauk dan sayuran.
"Yumi, ayo makan." panggil Larry pada Rumi yang tampak melamun. Mungkin berzikir dalam hati, Rumi sudah tidak menangis lagi.
"Hm... makan disini?" tanya Rumi melihat Nanta dan Larry sibuk beresi segala kebutuhan untuk makan siang mereka.
"Iya, ayo." ajak Nanta sodorkan piring sekali pakai pada Rumi dan juga sendok plastik. Rumi pun sambut pemberian Nanta.
"Tidak usah takut cuci piring." kata Dania terkekeh
"Kamu disuapi sayang?" tanya Nanta pada istrinya yang belum bisa bergerak bebas.
"Makan sendiri saja, mumpung Bima tidur." jawab Dania. Nanta segera ambilkan makanan untuk Dania yang duduk di sofa tidak ikut duduk di karpet. Setelah urusan Dania selesai baru Nanta ambil untuk dirinya sendiri.
"Yumi, duduk sini saja, biarkan bapak-bapak duduk di karpet." kata Dania pada Rumi.
"Bapaknya baru satu, Dan." kata Larry terkekeh.
"Eh kamu juga bapaknya Bima kan? mau dipanggil apa? jangan Om loh." kata Dania pada Larry.
"Duh panggil apa ya, bingung." Larry terbahak.
"Ayah saja ya, Ayah Leyi." kata Nanta terkekeh.
"Hahaha kenapa jadi Ayah?" Larry terbahak.
"Tidak tahu, senang saja rasanya seperti Ayah Eja." jawab Nanta.
"Kenapa bukan elu yang dipanggil Ayah?" tanya Larry.
"Tadinya gue maunya begitu, elu tahu sendiri Balen." Nanta terbahak.
"Oh iya Panta ya." Larry ingat dan langsung terbahak.
"Iya aku juga jadi Manta deh, duh Balen benar-benar deh." Dania menepuk dahinya, Rumi jadi ikut terbahak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 368 Episodes
Comments
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu thor aku suka panta ama manta ubi goreng ya ante baen cantik aku kangen sayang banyak2 buat kalian semua 🤩🤩😍😍💕💕😘😘💪💪💪👍👍👍
2022-02-03
0
Rani Seftia
lanjut thor
2022-02-03
1
ecy
lanjut say.... yopiu....
2022-02-03
1