Baru mau temani Larry makan sepulang terapi, malah bertemu Nanta yang tampak terburu-buru dan sedikit panik, rupanya Dania istri Nanta melahirkan. Larry putuskan tidak jadi makan dan gantikan Nanta menyetir, Mobil Larry tinggal di Warung Elite. Nanta dan Larry memang sahabat sejati, ditambah lagi Mike dan Doni.
Sampai diruang rawat inap, mereka bertemu dengan Mamon istri Papanya Nanta dan Bang Raymond sepupu Nanta yang sudah temani Dania lebih dulu. Ada Opa dan Oma Nanta juga disana.
"Rumi ini calonmu kah?" ah Bang Raymond malah tanya begitu, Rumi jawab iya saja biar jadi doa, lagi pula Larry tidak pernah marah juga. Nanta dan Dania tertawakan Rumi.
"Kalian kapan menyusul?" Bang Raymond lagi-lagi kasih pertanyaan menjebak, Rumi bingung jawabnya kalau begini.
"Tunggu hasil medical check up Rumi." loh Larry malah jawab begitu, bikin bingung kan. Tadi Papi minta Rumi medical Check Up dan sekarang Larry bilang akan menyusul Nanta dan Dania, tunggu hasil medical check up, berarti Larry setuju jadikan Rumi istri kalau bisa disimpulkan begitu.
"Bingung." jujur Rumi memang bingung, Nanta malah tertawa bilang Larry tidak romantis, apa itu barusan pernyataan cinta jaman now ya? memang tidak ada romantis-romantisnya sih Larry ini.
"Apa sih maksudnya?" Rumi mesti pastikan lagi.
"Papa setujui kita kalau kamu sehat." Larry tersenyum pandangi Rumi. Loh berarti Larry sudah bahas Rumi sama Papanya. Apa karena itu Papi ajak Rumi medical check up ke S'pore minggu depan.
Anak Nanta dan Dania benar-benar menggemaskan, duh kapan bisa punya anak seperti mereka? menikah saja belum.
"Pengen punya anak." Rumi bergumam sendiri, apalagi lihat Nanta menangis saat pertama kali bertemu anaknya. Jangankan Nanta bapaknya, Rumi saja rasanya jadi ingin miliki bayi juga.
"Medical Check Up disini saja, jangan di S'pore. Aku tidak sabar menunggu hasilnya, aku mau kamu sehat." sampai disitu saja kalimat Larry, harusnya ada lanjutan setelah itu kita menikah. Ih itu sih maunya Rumi.
"Leyi kalau aku sehat kamu mau menikah dengan ku?" Rumi tanya saja begitu lah, Larry tidak jelas Rumi harus pastikan sendiri. Larry anggukan kepalanya. Spontan Rumi memeluk Larry, mimpinya jadi istri Larry sebentar lagi jadi kenyataan. Memang dasar tidak romantis dipeluk begitu bukannya balas memeluk malah bilang banyak keluarga Nanta nih. Terpaksa deh Rumi lepas lagi pelukannya. Harusnya tadi jadi momen romantis untuk mereka berdua.
"Leyi ayo." ajak Rumi tidak sabar.
"Kemana?" tanya Larry.
"Temani aku daftar medical check up." Rumi tarik saja tangan Larry, mumpung mereka masih di rumah sakit. Daftar hari ini besok pagi tinggal lanjutkan ritual Medical Check Up. Harus puasa dulu kan selama sepuluh jam.
Larry lambaikan tangan pada Nanta, tanda pamit sebentar dari ruangan itu. Rumi beneran semangat ingin cepat medical check up. Ia juga ingin pastikan jika organ tubuhnya sehat tidak terganggu. Calon mertua ingin punya menantu sehat sepertinya.
"Leyi Aku senang sekali." wajah Rumi berbinar-binar.
"Jangan senang dulu, kita harus pastikan kamu sehat. Aku juga mau Medical Check Up untuk pastikan aku juga sehat." kata Larry ikutan daftarkan diri.
"Kenapa begitu, kamu kan sehat."
"Harus fair dong, aku perlu bukti kamu sehat aku juga harus buktikan kalau aku sehat juga." duh Larry selalu saja membuat Rumi ingin memeluknya. Selalu bicara apa adanya, tidak neko-neko walau kadang terkadang terkesan kejam karena tidak suka basa-basi.
"Ini persyaratan dari orang tua kamu ya, calon menantu harus sehat?" tanya Rumi.
"Karena kamu mantan pecandu. Papa khawatir ada penyakit efek minuman." jawab Larry jujur. Rumi anggukan kepalanya.
"Leyi mau peluk." pinta Rumi yang saking bahagianya ingin peluki Larry.
"Tidak boleh, ini wilayah umum." Larry tolak Rumi, tidak mau ambil kesempatan.
"Aku kan calon istri kamu." Rumi bersungut.
"Kalau memenuhi syarat." jawab Larry, ish kalau begini tidak jadi peluk rasanya. Mereka sudah selesai lakukan pendaftaran medical check up.
"Minta periksa kandungan juga ya." kata Larry lagi pada petugasnya.
"Kok begitu?" protes Rumi.
"Mau punya anak kan?" tanya Larry pada Rumi, Rumi anggukan kepalanya. Ini mau jadi istri kenapa seperti melamar pekerjaan ya. Apa kalau jadi menantu pejabat negara harus begini. Rumi menarik nafas panjang.
"Ribet ya?" tanya Larry tertawa pandangi Rumi.
"Tidak apa asal dihadapi sama-sama." jawab Rumi tersenyum manis.
"Cantik." Larry cubiti pipi Rumi gemas.
"Cium dong." Rumi monyongkan bibirnya. Tapi yang Rumi dapat malah jidatnya didorong Larry. Benar-benar deh katanya playboy tapi malah diajak peluk dan cium dari tadi menolak. Playboy apaan yang seperti ini, gerutu Rumi dalam hati.
"Leyi, beneran urusan kamu sama Femi sudah beres?" tanya Rumi pastikan jika Larry tidak permainkan Femi ataupun Rumi.
"Sudah, tanya saja Femi kalau tidak percaya." jawab Larry.
"Kan aku di blokir, kenapa ya?" tanya Rumi lagi.
"Karena dia cemburu sama kamu." Larry terkekeh.
"Kok gitu?" Rumi jadi bingung.
"Tidak tahu, dia berasumsi sendiri kalau aku jadikan dia pelarian karena kamu." jawab Larry.
"Padahal?" tanya Rumi.
"Tidak ya, buat apa jadikan pelarian. Lagi pula dia juga cemburu sama Balen." kata Larry lagi sebut Balen adik kesayangannya, adiknya Nanta sih sebenarnya, tapi dekat sekali dengan Larry.
"Masa?" Rumi terbahak.
"Ya begitu lah. Sudah ya jangan bahas Femi." kata Larry malas.
"Nah sekarang kamu malah dekati aku. Jadikan aku pelarian ya?" tanya Rumi tertawa.
"Menurut kamu?" Larry balik bertanya.
"Aku tidak peduli." jawab Rumi menggandeng erat Larry.
"Ish nempel nih." protes Larry karena dada Rumi menempel di bahunya.
"Biar saja. Suka tidak?" dasar Rumi pikirannya kemana-mana. Lagi-lagi jidatnya jadi sasaran telunjuk Larry.
"Kasar." Rumi merengek.
"Jadi cewek mesti bisa jaga diri." omel Larry membuat Rumi terbahak dan ingin cium pipi Larry saja rasanya. Gemas sekali punya calon suami seperti ini.
"Playboy palsu." Rumi tertawakan Larry.
"Maksudnya apa?"
"Kamu bukan playboy." kata Rumi tertawa.
"Memang bukan, orang saja sembarangan kasih statement." kata Larry tersenyum.
"Leyi I love you " kata Rumi lagi. Larry tertawa saja.
"Jawab dong." pinta Rumi.
"Malas gombal ah, nanti saja kalau semua sudah clear." jawab Larry tidak mau terbawa perasaan, padahal dari tadi sudah tahan diri karena Rumi selalu saja menggoda Larry.
"Payah ah." Rumi mendengus kesal.
"Nanti sudah love-love tahu-tahu hasilnya jelek. Repot kita." jawab Larry.
"Jangan berdoa yang jelek dong." protes Rumi.
"Makanya dari sekarang zikir terus biar semua lancar." jawab Larry pandangi Rumi.
"Ah susah deh punya calon suami bergaya Ustadz." gerutu Rumi. Sekarang telinganya yang jadi sasaran Larry.
"Leyi..." teriak Rumi mengusap telinganya yang kena jewer.
"Bukannya ikut zikir biar semua mudah malah bilang begitu." omel Larry.
"Iya zikirnya apa?" tanya Rumi akhirnya.
"Pernah zikir tidak sih?" tanya Larry lagi.
"Jarang." jawab Rumi jujur.
"Nanti di mobil ada buku zikir kamu bawa pulang baca dan amalkan ya." kata Larry pada Rumi.
"Oke sayang." jawab Rumi langsung saja cium Pipi kanan Larry gemas. Bodo amat deh kalau kena jewer lagi. Rumi sudah siap saja ketika tangan Larry mendekati wajahnya. Ups bukan di jewer tapi dicubit gemas sama Larry, Rumi jadi senyum-senyum senang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 368 Episodes
Comments
Ano
senyum sendiri saya bacanya
2022-02-21
0
nha_82
yumi gemess.. ih.
2022-02-02
1
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya aban leyi baen tuh tatak lumi natal ya kis aban leyi baen 😘😘😍😂😂😂🤣🤣🤣💪💪👍👍
2022-02-02
1