"Aku sudah mandi." lapor Larry saat video call Rumi.
"Hmm harum." Rumi terkekeh.
"Lebay deh." Larry ikut terkekeh.
"Kok lama sih?" tanya Rumi yang tak sabar menunggu video call Larry dari tadi.
"Telepon Mama dulu." jawab Larry.
"Bilang apa?"
"Ada deh." Larry tertawa.
"Ish Leyi, aku kan mau tahu, kamu bahas aku apa tidak." gerutu Rumi kesal Larry main rahasia, kenapa juga kasih tahu telepon Mamanya tadi.
"Bahas dong." jawab Larry tersenyum.
"Bilang apa?" Rumi penasaran.
"Minta restu." jawab Larry jujur.
"Apa jawabnya?" Rumi penasaran.
"Kepo deh." jawaban Larry membuat Rumi mengerucut. Larry kembali tertawa senang.
"Mama kamu restui kita tidak? kok aku takut ya."
"Tadi sih katanya kenalan dulu."
"Kapan?"
"Nanti kalau sudah luang pasti dikabari." Larry menjelaskan.
"Aku harus bagaimana ya nanti kalau bertemu orang tua kamu?" Rumi berusaha persiapkan diri.
"Biasa saja jadi diri kamu sendiri." jawab Larry.
"Pakaian?
"Ya seperti biasa kamu pakai saja, sudah pernah bertemu mama kan waktu Daniel syuting." Larry mengingatkan.
"Iya tapi tidak bicara banyak karena aku sibuk wara-wiri, waktu tanda tangan kontrak juga sama Aditya bukan sama aku." jawab Rumi lagi.
"Pantas Mama bilang belum tahu kamu yang mana, kalian tidak ngobrol ya."
"Iya sekilas saja. Lagian aku pikir mau kamu kenalkan sama Femi masa aku maju-maju." kata Rumi membuat Larry kembali tertawa.
"Sebal ih ingat kamu sama Femi." kesal Rumi.
"Kok gitu?" Larry pandangi wajah Rumi yang menempel pada bantal.
"Ya sebal lah, di Cirebon kamu sibuk sama Femi saja." Rumi menghela nafas.
"Kan itu sudah lewat. Kamu juga dekat sama Fino eh terus dekat lagi sama Diky." Larry terkekeh.
"Itu kan kalian yang dekati aku sama Diky, bukan aku yang mendekat."
"Iya. Manusia berencana Tuhan yang menentukan, buktinya sekarang video call sama aku." Larry tersenyum manis.
"Leyi..."
"Ya."
"Tidak sabar deh mau peluk kamu." bilang begitu dengan suara bantal lagi, bikin pikiran Larry jadi kemana-mana kan.
"Genit ah." jawab Larry tutupi ekspresi wajahnya yang takut terbaca oleh Rumi.
"Biarin, genitnya sama calon suami aku."
"Hehehe kalau jodoh, semoga ya."
"Hmm..."
"Kamu sudah ngantuk ya Yumi, itu sudah merem-merem matanya." kata Larry melihat ekspresi Rumi yang sudah lima watt.
"Tapi masih mau dengar suara kamu." kata Rumi membuat Larry terkekeh.
"Jangan mancing-mancing deh." kata Larry karena Rumi terlihat sexy kini.
"Mancing apa?" tanya Rumi besarkan bola matanya.
"Bikin aku pengen ke rumah kamu sekarang tahu."
"Mau apa?"
"Mau peluk kamu." jawab Larry membuat Rumi senyum-senyum, duh jantungnya kok jadi debar-debar lebih cepat dari biasanya.
"Mau dong dipeluk Leyi." jawab Rumi terkekeh.
"Sudah ya tutup teleponnya, bahaya ini." kata Larry lagi.
"Ah Leyi, nanti." Rumi merengek.
"Iya tapi gayanya jangan begitu, aku mikirnya jadi aneh-aneh." jawab Larry jujur.
"Jadi mau cium aku ya?" pancing Rumi.
"Kalau tidak dosa sih iya." jawab Larry.
"Ah kamu mah bawa-bawa dosa." keluh Rumi.
"Loh iya kan dosa. Kalau sudah cium pasti aku maunya lebih." Larry jujur pada Rumi.
"Kamu sudah pernah Leyi?"
"Pernah apa?"
"Kissing?"
"Pernah lah."
"Sama siapa?" Rumi cemburu, menyesal kenapa juga tanya ini.
"Sama pacar-pacarku dulu." jawab Larry jujur.
"Huhu banyak dong, katanya takut dosa." gerutu Rumi kesal.
"Sekarang takut dosa, dulu belum sadar." jawab Larry bicarakan aibnya.
"Sampai batas mana setelah kissing?" tanya Rumi.
"Tidak mau jawab."
"Berarti lebih dari itu pernah."
"Tidak mau jawab, kamu tidak perlu tahu, yang penting aku sama kamu sekarang dan kedepan." jawab Larry membuat Rumi tersenyum.
"Aku cemburuan sebenarnya." aku Rumi.
"Masa?"
"Iya tapi aku berusaha menahan. Supaya tidak meledak."
"Ya sudah begitu terus saja ya, aku tidak suka dicemburui." jawab Larry pada Rumi.
"Tapi kalau kelewatan..."
"Aku tahu batasan Yumi, in syaa Allah aku jaga, kamu jangan khawatir."
"Betul ya."
"Iya, percaya dong."
"Sama Femi sempat kissing tidak?" tanya Rumi lagi ingin tahu.
"Kalau aku jawab nanti kamu cemburu." Larry tertawa menggoda Rumi.
"Jawab dong."
"Tidak ah kan tadi saja kamu sudah kesal."
"Berarti kissing?"
"Ada deh." Larry terkekeh.
"Bodo ah Leyi, nanti kalau bertemu aku yang kiss kamu." ancam Rumi pada Larry.
"Ish harus aku yang mulai ya jangan kamu."
"Kapan, saat kita bertemu besok?"
"Siapa yang mau bertemu kamu besok." Larry tertawa.
"Leyi, besok memangnya tidak antar jemput aku?" tanya Rumi pada Larry.
"Tidak, kecuali kalau kita sudah pasti akan menikah." jawab Larry.
"Leyi jangan begitu dong."
"Bahaya ketemu kamu tiap hari." jawab Larry.
"Kamu takut aku perkosa ya?" tanya Rumi membuat Larry terbahak.
"Tuh bahasanya saja mengarah ke situ terus."
"Habisnya kamu bilang bahaya bertemu aku tiap hari. Memangnya aku seagresif itu ya?"
"Tidak kok. Tapi kadang suka tidak terduga." jawab Larry terkekeh, ingat Rumi tiba-tiba memeluk dan mencium pipinya.
"Aku spontan orangnya." kata Rumi terkekeh.
"Iya aku suka kok." jawab Larry.
"Beneran?"
"Iya tapi sekarang tahan dulu ya, bantu aku." kata Larry pada Rumi.
"Maksudnya?"
"Kalau kamu begitu terus khawatir aku yang tidak tahan kitanya kebabalasan."
"Separah itu?"
"Iya aku kan laki-laki normal Yumi. Sahabatku sih enak sudah pada halal, kita kan belum."
"Iya Pak Ustadz."
"Tuh kan kalau dikasih tahu begitu."
"Iya Leyi sayangku."
"Hehehe."
"Mana katanya mau bilang sayang." tagih Rumi pada Larry.
"Kan tadi sudah."
"Mau dengar sering-sering." Rumi merengek.
"Sayang, sudah malam nih, bobo ya?"
"Leyi, bukan begitu."
"Terus bagaimana? kan aku sudah bilang sayang."
"Tapi kok suruh aku bobo?"
"Karena sudah malam, suara kamu sudah serak. Besok kamu kesiangan lagi, aku tidak bisa antar jemput kamu besok, banyak urusan. Lusa juga aku saja yang ambil hasil kesehatannya, kamu bekerja saja ya tidak enak tadi sudah ijin sehari."
"Hmm..."
"Marah?" tanya Larry, Rumi gelengkan kepalanya.
"Nite Yumi."
"Nite Leyi, I love you."
"Ya."
"Masih belum mau jawab ya?"
"Tunggu restu dulu."
"Tapi love tidak sama aku?"
"Hahaha iya." Rumi tersenyum mendengarnya.
"Kalau love bilang love dong, jangan jual mahal."
"Hahaha kamu nih, tutup ah."
"bilang dulu." Rumi memaksa, tidak mau tutup teleponnya.
"Iya Love, tutup ya teleponnya." jawab Larry menurut pada Rumi.
"Aku suka kamu panggil Love gitu."
"Jadi panggil love saja?"
"Hahaha tapi didepan Mama dan Papamu ya. Berani tidak?" tantang Rumi.
"Berani."
"Beneran?"
"Hu uh."
"Janji?"
"Yumi, bawel deh."
"Hahaha..." tertawa senang melihat ekspresi wajah Larry.
"Leyi Aku bobo dulu ya."
"Nite-nite love."
"Leyi, aku tidak bisa tidur nih."
"Hahaha kapan tutup teleponnya nih Yumiiii."
"Tidak mau tutup mau dengar lagi."
"Nite-nite sayang." ah tambah tidak bisa tidur saja Rumi jadinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 368 Episodes
Comments
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu thor aban leyi love tatakyumi 🤣🤣🤣💪💪👍👍🤩😍😍😘
2022-02-05
2
Diandra Kalista80
ya ampun,,,jadi baper ak SM leyi rumi
2022-02-05
3
nha_82
duh manis bener sih leyi sama yumi... jadi senyum2 sendiri bacanya.
2022-02-05
2