"Leyi, ini kok seperti mimpi ya?" Rumi seperti tidak percaya saja, jika Larry akan setuju menjadi pasangannya. Walaupun memang belum ada pernyataan dari Larry untuk melamarnya, tapi mereka sudah daftarkan diri untuk cek kesehatan besok. Itu saja sudah lebih dari cukup bagi Rumi. Larry tidak pernah kasih harapan pada Rumi selama ini.
Mereka dalam perjalanan mengantar Rumi pulang saat ini. Rumi sudah kirimkan pesan pada Mami tadi jika ia pulang terlambat, selain terapi, kunjungi Nanta dan Dania ke rumah sakit.
"Leyi ini nyatakan? bukan mimpi?" Rumi kembali bertanya pada Larry.
"Nyata Yumi." jawab Larry santai. Mungkin karena sudah biasa ganti pacar sepertinya Larry tidak canggung beralih dari Femi pada Rumi. Tapi Rumi tidak pedulikan itu, yang penting Larry tunjukkan keseriusannya pada Rumi.
"Aku masih tidak percaya, kamu akhirnya pilih aku." Larry tertawa dengar ocehan Rumi. Masih saja tidak percaya padahal tadi Larry sudah sebut Papanya setuju asal Rumi sehat.
"Jangan menyesal ya karena sudah pilih aku." kata Rumi lagi, seperti mengancam tapi malah terkesan lucu.
"Berisik." kata Larry sambil fokus menyetir, Rumi mencibirkan bibirnya.
"Leyi, cium nih." Larry kembali terbahak pandangi sekilas ekspresi wajah Rumi yang mengancam akan menciuminya. Harusnya kan terbalik, Larry yang bilang begitu. Tapi sama Rumi dari awal saja sudah terbalik kok. Rumi yang terang-terangan mengejar Larry bahkan nyatakan cintanya pada Larry, tidak peduli diabaikan terus saja bilang kalau ia mau jadi pasangan Larry.
"Yumi, mulai malam ini sampai besok pagi puasa loh ya." Larry ingatkan Rumi.
"Hu uh." anggukan kepalanya. Tadi pegawai rumah sakit sudah ingatkan Larry dan Rumi.
"Jangan begadang, harus tidur cukup." pesan Larry lagi pada Rumi, lagi-lagi Rumi menganggukkan kepalanya.
'Kamu harus sehat ya." kata Larry kemudian tersenyum pada Rumi. Duh kok senyumnya manis sekali sih, bikin Rumi enggan turun dari mobil walaupun sudah sampai dari tadi.
"Ayo turun." Larry sadarkan Rumi kalau mereka sudah sampai dirumah Papi dan Rumi harus turun mobil, sedangkan Rumi masih mau berlama-lama dengan Larry.
"Kamu mau ikut turun?" tanya Rumi, Larry gelengkan kepalanya.
"Sudah gelap, sepertinya sudah pada tidur." kata Larry tunjuk rumah Papi yang tampak gelap, lampu tengah sudah dimatikan.
"Sudah pada dikamar biasanya." jawab Rumi tersenyum pada pujaan hatinya.
"Ya sudah sampai besok." kata Larry pada Rumi.
"Kamu jemput aku?" Larry anggukan kepalanya.
"Hati-hati di jalan, kamu di rumah sendiri kan?" Rumi bertanya.
"Iya kenapa?"
"Maaf ya aku belum bisa temani, kamu harus sendiri dulu di rumah." kata Rumi membuat tawa Larry meledak. Mama dan Papanya memang sedang lebih sering di rumah dinas sedangkan kedua adiknya masih di asrama. Hanya Larry dan asisten rumah tangga saja yang tinggal di rumah utama saat ini.
"Aku serius." kata Rumi pandangi Larry.
"Iya bawel, lagi pula di rumah ada asisten rumah tangga kok." jawab Larry membuat Rumi terkekeh, ternyata tidak benar-benar sendiri Larry di rumah.
"Semoga kita sehat." kata Rumi sebelum tinggalkan Larry masuk kedalam rumah. Ia berharap sehat biar lulus persyaratan menjadi istri Larry nantinya.
"Yumi!" panggil Larry serahkan buku zikir yang tadi dijanjikannya. Rumi menerima buku tersebut dan membolak-balikkan isinya.
"Ini tulisan Arab semua Leyi, aku belum bisa baca." jawab Rumi membuat Larry kembali tertawa. Rupanya Rumi tidak bisa baca tulisan Arab.
"Tertawakan aku terus." gerutu Rumi memandang Larry
"Sudah tua begini tidak bisa baca tulisan Arab, waktu kecil tidak belajar mengajikah? Kamu tidak pernah mengaji?" Larry gelengkan kepalanya sambil terkekeh.
"Lingkungan kita beda Leyi, disini banyak tempat kursus mengaji, di S'pore jarang, tidak kepikiran juga aku waktu itu." kata Rumi membuat Larry anggukan kepalanya mengerti.
"Nanti kita sama-sama belajar mengaji." kata Larry tersenyum pada Rumi. Itu PR Larry untuk Rumi.
"Kamu yang ajari?" tanya Rumi.
"Bukan, aku juga ikut belajar kok." jawab Larry tertawa.
"Oke." jawab Rumi ikut tertawa, pikirnya Larry nanti yang akan ajari Rumi mengaji, ternyata bukan.
"Jangan lupa berdoa, PR kamu banyak loh jadi menantu Papa dan Mamaku." kata Larry ingatkan Rumi, dasar pendidikan agama yang baik pasti jadi pertimbangan untuk Papa juga. Seperti yang Papa Larry pernah bilang, jika kuat Iman, Rumi tidak akan jadi pecandu.
"Apa saja PR ku?" tanya Rumi penasaran. Cek kesehatan saja sudah bikin Rumi kebat-kebit.
"Sholatnya harus selalu di jaga, itu yang utama." jawab Larry.
"Iya itu sih sudah pasti, tidak jadi istri kamu pun harus sholat." jawab Rumi bikin Larry acungkan jempolnya. Ia tersenyum pandangi Rumi.
"Sehat, kamu harus sehat, aku juga." Larry sampaikan PR kedua, ini yang tadi sudah mereka daftarkan di rumah sakit.
"Iya, apalagi selain itu?" tantang Rumi pada Larry, kalau urusan dapur jangan khawatir, Rumi yang biasa tinggal sendiri sudah pintar memasak manjakan perutnya. Beberes rumah pun Rumi sudah handal.
"Menurut sama suami, tidak boleh membantah." kata Larry, rupanya bukan apa yang ada dalam pikiran Rumi PR berikutnya.
"Itu syarat dari Papa dan Mama kamu?" tanya Rumi mendelikkan matanya. Harus menurut dan tidak boleh membantah, kadang Rumi suka sedikit ngeyel sih.
"Itu bukan syarat, jadi istri memang harus begitu." jawab Larry tersenyum jahil.
"Oke sayang." jawab Rumi membuat Larry kembali terbahak sambil menjaga pipinya, Rumi sudah mau nyosor saja cium Pipi Larry.
"Jangan suka gombal dan agresif kalau belum lulus persyaratan, nanti repot sendiri kita." kata Larry tersenyum membuat Rumi merengut.
"Aku pulang ya, kamu masuk deh." kata Larry membuat Rumi tersadar jika mereka harus terpisah malam ini. Rumi sih maunya dekat Larry terus saja.
"Hati-hati Leyi, ada ritual harus kabarkan kalau sudah sampai rumah tidak?" tanya Rumi seperti pasangan normal pada umumnya, khawatir Rumi sudah menunggu tapi Larry tidak hubunginya.
"Tidur saja kalau kamu sudah mengantuk." jawab Larry pada Rumi, lalu mulai lajukan kendaraannya pulang ke rumah. Larry belum mau biasakan diri untuk kabari Rumi karena belum tahu bagaimana hasil medical check up besok. Ia butuh Rumi sehat agar bisa melangkah lebih jauh. Setidaknya bisa yakinkan Papa jika terapi Rumi atasi minuman keras berhasil dan kesehatan Rumi pun tidak ada masalah. Sedikit repot untuk dapatkan cintanya kali ini.
Segitunya Larry pertahankan Rumi dihadapan Papanya. Mungkin buat sebagian orang itu sih biasanya saja, tapi buat Larry ini luar biasa, tidak pernah Larry mau repot dengan pacar-pacarnya dulu. Lagipula sebenarnya kan bisa saja cari wanita lain yang jelas-jelas tidak pernah terlibat dengan minuman keras dan juga pandai mengaji. Tanpa Larry harus bersusah payah, temani Rumi Medical Check Up dan juga nantinya akan carikan Rumi guru mengaji. Setidaknya ada bekal agama untuk Rumi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 368 Episodes
Comments
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu thor aku suka aban layi penuh perjuangan ya semangat ya aban 😂😂👍💪💪
2022-02-02
1
tri muntari
semangat Larry sampai segitunya demi cinta
2022-02-02
3