Larry segera ambil kunci mobilnya begitu selesai sarapan dan bicara dengan Papa. Duh sampai lupa hubungi Rumi, karena senang bisa ngobrol panjang sama Papa tadi dan sudah sampaikan apa yang Larry mau.
"Aku on the way ambil hasil." kata Larry via telepon saat sudah dalam perjalanan ke Rumah Sakit.
"Kamu sama siapa?" tanya Rumi.
"Sendiri, memangnya mau sama siapa?" Larry terkekeh.
"Iya sih, harusnya kan sama aku." jawab Rumi ikut terkekeh.
"Itu sih maunya kamu." Larry tertawakan Rumi.
"Kamu tidak mau memangnya bertemu aku?" tanya Rumi.
"Sekarang tidak, nanti malam kan kita ketemu, aku jemput kamu." jawab Larry.
"Sombong." mulut Rumi maju beberapa Senti, Larry tidak tergoyahkan.
"Memang, sudah sering kan lihat aku sombong." jawab Larry tengil.
"Leyi..." langsung merengek membujuk Larry.
"Ya Love." duh kalau begini kan Rumi jadi nyengir lebar.
"Mau ikut ambil hasil dong." kata Rumi kemudian membujuk Larry.
"Kamu kan banyak kerjaan, semalam saja lembur, professional dong kerjanya, jangan masuk semau kamu saja." Larry ingatkan Rumi.
"Hmm... ya deh." Rumi pasrah karena ditolak dengan alasan yang masuk akal.
"Nanti apapun hasilnya aku akan bilang bagus deh biar kamu senang." jawab Larry tertawa.
"Hahaha apa adanya saja Leyi, kalau jelek sampaikan saja." kata Rumi pada Larry, bersiap detox dua minggu lalu MCU di S'pore.
"Iya Love, pasti aku kasih tahu kamu kok, tidak bisa ditutupi juga kan karena harus tunjukkan sama Papa dan Mamaku." kata Larry jelaskan pada Rumi.
"Duh aku jadi deg-degan."
"Hehehe memangnya kamu saja yang deg-degan."
"Kamu juga kah?" tanya Rumi tidak percaya.
"Iya lah." jawab Larry yakin.
"Bukannya santai ya, kalau tidak dapat restu kamu tinggal cari yang lain, tinggal aku deh yang garuk-garuk aspal." cerocos Rumi membuat Larry tertawa.
"Kalimat yang paling tidak enak didengar." kata Larry lagi.
"Kan kamu biasanya begitu." kata Rumi.
"Yah, sayangnya kali ini tidak biasa." jawab Larry tertawa.
"Yumi, aku sudah parkir, sampai nanti malam ya." Larry segera matikan handphonenya.
Antarkan pesanan Nanta dulu untuk Dania sebelum mengambil hasil di bagian Radiology.
"Eh Bima ada Ayah Leyi tuh." Dania langsung beritahukan anaknya saat Larry masuk ke ruangan rawat.
"Assalamualaikum Bima." Larry ikut bicara sama Bima, tersenyum pandangi Bima lalu teringat Rumi.
"Waalaikumusalaam Ayah." Dania jawab wakilkan Bima. Ada Opa Dwi dan Oma Nina diruangan, Larry salami mereka.
"Aku hanya antar pesanan Nanta untuk kamu, Dan." kata Larry letakkan box kue di nakas.
"Itu kue yang waktu Mike menikah ya. Enak loh Oma, Opa, cobain deh." Dania tawarkan Oma dan Opa.
"Bawa sini Larry." pinta Opa Dwi pada Larry, Larry pun ambilkan box kue serahkan pada Opa Dwi.
"Kamu dari mana?" tanya Opa Dwi.
"Dari rumah Opa, aku mau ke radiologi ambil hasil." jawab Larry.
"Bagaimana hasilnya Leyi?" Dania penasaran.
"Belum diambil." Larry terkekeh.
"Harusnya kamu ambil dulu baru kesini." sungut Dania, ia penasaran Kisah cinta Larry dan Rumi.
"Penasaran ya?" Larry terbahak. Dania anggukan kepalanya.
"Aku pamit ya, Opa, Oma. Setelah ini mau ke Nanta juga." lapor Larry tanpa diminta.
"Wah Bima, Panta sama Ayah Leyi mau senang-senang tuh, kita di kamar saja belum bisa kemana-mana." kata Dania lagi.
"Jangan iri dong, biar disini juga kan banyak yang perhatikan." Larry tertawakan Dania.
"Iya nih Dania pasti kepikiran Nanta yang dua minggu lagi masuk asrama deh." kata Oma Nina.
"Iya Oma, betul. Aku mau ikut saja rasanya. Bima cepat besar dong biar kita bisa ikut Panta." Dania tertawa bicara sendiri pada anaknya.
Setelahnya Larry ke Radiologi mengambil hasil, membaca rincian keterangan dari dokter yang Larry sendiri tidak begitu mengerti apa artinya. Mungkin harus tanya Om Deni apa maksud dokternya.
"Gue ke Warung Elite sekarang ya." kata Larry menghubungi Nanta.
"Ya, Mike sudah disini." kata Nanta, gerak cepat hubungi Mike lebih dulu rupanya.
Larry segera lajukan kendaraannya menuju Warung Elite, membawa semua hasil pemeriksaan kesehatan miliknya dan milik Rumi. Banyak sekali, berhubung bahasa kedokteran yang tidak dimengerti, Larry perlu di jelaskan secara awam.
"Papi..." Larry tersenyum pada Mario saat tidak sengaja berpapasan di Warung Elite, kebetulan Papi Mario sedang keluar ruangannya.
"Eh Leyi, bagaimana sudah ambil hasil?" tanya Mario semangat.
"Sudah Papi tapi aku tidak mengerti bahasanya." jawab Larry tertawa.
"Sini kita lihat bersama."
"Papi mengerti?"
"Ada yang Papi tahu ada yang tidak." jawab Mario terkekeh.
"Tadinya aku mau minta dibacakan Om Deni." kata Larry jujur.
"Oh bisa juga, ayo kita keruangan Nanta." semangat sekali Papi Mario ingin tahu hasil kesehatan keduanya.
"Nanta..." Papi langsung panggil Nanta begitu masuki ruangan Nanta.
"Ya Pi." Nanta tersenyum pada Larry sambil naikan alisnya.
"Hubungi Om Deni, bacakan hasil pemeriksaan kesehatan Larry dan Rumi, Papi ingin tahu." jawab Papi tersenyum pada Nanta.
Nanta segera hubungi Om Deni dan ceritakan semuanya.
"Fotokan saja Nan." kata Om Deni via telepon.
"Banyak loh Om." kata Nanta.
"Tidak masalah asal kalian sabar." jawab Deni disela kesibukannya.
"Oke aku Kirim ya Om." Nanta segera lakukan perintah Om Deni, fotokan semua hasil lalu kirimkan pada Deni. Biar cepat Nanta bagi dua, punya Rumi dikirimkan pada Om Deni dan punya Larry di kirimkan pada Om Samuel. Keduanya dengan senang hati direpotkan Nanta.
Menunggu sambil berdebar itu tentu sangat tidak menyenangkan. Larry rasakan itu saat ini. Wajahnya tampak sangat tidak santai.
"Ujian kompetensi." kata Mike tertawakan Larry.
"Bukan Larry saja yang serasa ujian, Papi juga begitu." kata Mario tertawa menepuk bahu Larry. Sedikit menenangkan anak muda dihadapannya.
"Begini ya kalau mau menikah." Larry terkekeh.
"Masing-masing ada ujiannya." jawab Mario tertawa.
"Mike yang tidak ikut ujian Pi, dia pakai jockey." kata Nanta tunjuk Mike, semua jadi tertawa dibuatnya.
"Yang penting sudah halal." jawab Mike tertawa.
"Gaya Omik nih." kata Larry lagi.
"Apa tuh Omik?"
"Kata Balen panggil elu Omik saja tuh si Bima." Nanta tertawa.
"Uceet Baen, dikira gue obat batuk." Mike tertawa dibuatnya.
Handphone Nanta berdering, Deni hubungi Nanta. Wah wajah Larry kembali tidak santai.
"Ini kenapa cek kesehatan komplit sekali Larry sama Rumi, mau melamar di perusahaan mana?" tanya Deni pada Nanta.
"Bukan untuk melamar pekerjaan." jawab Nanta.
"Untuk apa?"
"Om apa hasilnya? Ceritanya nanti saja." Larry tidak sabar.
"Semua baik kok tidak ada masalah."
"Siapa, itu punya siapa?" tanya Mario tidak sabaran.
"Bang, Larry sama Rumi sehat. Tidak ada masalah. Mau apa sih mereka?" tanya Deni dengar suara Mario.
"Yeah jadi menikah dong." jawab Larry tertawa senang, Mario langsung memeluk Larry ikut bahagia. Dari awal ia sudah semangat dan berharap Larry berjodoh dengan Rumi. Satu masalah terlewati, semoga tidak ada masalah lainnya.
"Leyi, lu bikin patah hati Femi ya." teriak Samuel membuat Larry tertawa. Mario juga ikut tertawa dibuatnya.
"Om fitnah, terima kasih ya Om, sering aku repoti." Larry tertawa senang, sahabatnya Nanta dan Mike juga ikut senang melihat Larry bahagia.
"Semoga lancar Leyi, gue kira mau jadi TKI di Dubai lu berdua." kata Deni asal, semua langsung terbahak dibuatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 368 Episodes
Comments
Fitri Raihan
Alhamdulillah,,, nikah, nikah, nikah, nikahhhhhhh..... 🤣🤣🤣
2022-02-08
1
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu akhirnya hasilnya sehat cpt menuju halal ya aban leyi baen
2022-02-07
1
Diandra Kalista80
alhamdullilah cepatan di halalin KK,,,,,ak seneng bngt🥰🥰🥰🥰🥰
2022-02-07
1