"Kamu sepertinya harus ke S'pore." kata Larry pada Rumi ketika menjemput pujaan hatinya pulang kantor.
"Yah Leyi, aku detox dulu dong." Rumi langsung sedih saja mendengarnya.
"Nanti aku temani ke S'pore nya, jangan sedih gitu dong." kata Larry tersenyum menggenggam jemari Rumi.
"Ijin dulu sama Papa dan Mama kamu dong."
"Iya nanti kita ijin sama-sama." jawab Larry nyengir lebar, senang bisa kerjai Rumi malam ini.
"Hasilku yang jelek bagian mana Leyi?" tanya Rumi ingin tahu.
"Tidak usahlah, kamu detox saja dulu biar tidak stress." kata Larry berlagak acuh.
"Leyi, nanti Papa kamu tidak restui kita dong." Rumi jadi benar-benar sedih.
"Restui dong masa tidak restui sih." jawab Larry santai.
"Hasilnya kan tidak bagus." Rumi menghela nafas panjang.
"Kata siapa tidak bagus?" tanya Larry pada Rumi.
"Itu kamu bilang aku harus ke S'pore."
"Tentu saja kita harus ke S'pore, kita harus minta restu Opa dan Oma kamu juga kan?" Larry tersenyum pandangi Rumi kemudian kembali fokus setir kendaraannya.
"Leyi maksud kamu apa?" Rumi masih belum nyambung, tidak bisa mikir cepat.
"Ish, tidak seru ah." kata Larry terkekeh, maksud hati mau kasih surprise eh Rumi tiba-tiba jadi bolot. Rumi jadi tertawa ketika menyadari apa maksud ucapan Leyi.
"Kamu kerjai aku ya?" langsung saja kelitiki pinggang Larry yang lagi setir kendaraan. Kebetulan lagi lampu merah.
"Hahaha ada yang mau nangis." Larry tertawa senang.
"Jadi hasilnya bagus, tidak ada masalah?" tanya Rumi memastikan, senyumnya mengembang tampak sangat bahagia.
"Iya Love, satu masalah terselesaikan." kata Larry tidak kalah bahagia.
"Alhamdulillah." Rumi bahagia sekali, doanya terkabul, kondisi badannya sehat. Semoga persyaratan dari Papa dan Mama Larry hanya itu.
"Jadi Nyonya Larry dong aku." kata Rumi lagi pandangi Larry.
"Siap tidak jadi Nyonya Larry?" tanya Larry mengusap pipi Rumi dengan tangan kirinya.
"Siap dong, aku kapan berhenti kerjanya, kamu bilang saja." Rumi langsung ingat jika jadi istri Larry harus berhenti kerja.
"Tidak usah buru-buru, teman kamu juga tidak ada yang bisa ikut suami untuk sementara waktu." kata Larry teringat Dania dan Dona.
"Oh iya, ya sudah kamu tinggal bilang saja nanti."
"Oke sayang." Larry mengacak anak rambut Rumi. Keduanya dalam keadaan bahagia saat ini, langkah selanjutnya temui Papa dan Mama Larry. Tentu saja minta waktu mereka lebih dulu.
"Tadi aku sudah ngobrol sama Mike, Seiqa yang akan ajari kamu mengaji." kata Larry kemudian.
"Leyi..." Rumi langsung nyengir lebar, Larry ternyata masih pikirkan guru mengaji untuk Rumi.
"Hari apa saja belajar mengaji?" tanya Rumi.
"Tanyakan saja sama Seiqa. Kamu bisa hubungi langsung." jawab Larry.
"Jadi wanita sholeha dong aku." Rumi tertawa.
"Harus dong." jawab Larry.
"Siap Pak Ustadz." kembali menggoda Larry.
"Mulai deh..." Larry monyongkan bibirnya.
"Jangan mancing-mancing deh." kata Rumi lihat Larry monyongkan bibirnya.
"Pikiranmu ya." Larry kembali mendorong dahi Rumi, keduanya kemudian tertawa bersama.
"Minggu aku jemput jam berapa?" tanya Larry.
"Jam tujuh Pagi ya. Syuting mulai jam sembilan." pinta Rumi pada Larry.
"Oke love." Larry tersenyum pandangi Rumi. Mereka sudah tiba di depan rumah Papi Mario.
"Papi dan Mami pasti senang kalau tahu aku sehat." kata Rumi pada Larry.
"Iya, senang sekali tadi Papi." jawab Larry.
"Papi sudah tahu?"
"Sudah." Larry anggukan kepalanya.
"Huhu aku malah baru diberitahu malam ini, berhasil kamu kerjai aku." sungut Rumi, Larry tertawa melihatnya.
"Aku langsung pulang ya." pamit Larry pada Rumi yang belum juga turun dari Mobilnya.
"Aku tidak dikasih hadiah ya, kan aku sehat." pandangi Larry penuh harap.
"Mau apa?" tanya Larry siap penuhi keinginan Rumi.
"Tidak mahal kok." kata Rumi nyengir lebar.
"Iya apa?" tanya Larry.
"I want to kiss you Leyi." Rumi tersenyum sandarkan wajahnya dilengan Larry. Siap betul minta dicium Larry gadis ini. Duh Leyi jadi maju mundur, tapi sudah janji sama diri sendiri tidak akan dekati Zina walau sekecil apapun. Begini saja sudah salah pikir Larry.
"Kalau sudah di kiss aku biasanya maunya lebih." kata Larry menggoda Rumi.
"Jangan lebih, kalau lebih nikahi dulu." jawab Rumi manja.
"Ya sudah kalau begitu nanti saja sekalian, Paket komplit." Larry terkekeh mengacak anak rambut Rumi.
"Ayo turun, nanti ada yang lihat kita mesra-mesraan begini, malu." kata Larry ingatkan Rumi.
"Iya Leyi sayangku." jawab Rumi menghela nafas, susah sekali mau cium saja.
"Jangan cemberut dong." kata Larry pada Rumi.
"Kamu sih sombong." sungut Rumi.
"Bukan sombong, aku tidak mau nanggung." jawab Larry sambil tertawa.
"Peluk deh kalau begitu." pinta Rumi lagi. Ampun deh ujian Larry mau jadi cowok alim susah juga ternyata.
"Kamu nih uji kesabaran aku betul deh." Larry tertawa.
"Kok gitu, kan cuma peluk."
"Kamu kira kalau peluk tidak terasa begitu?"
"Ah kamunya saja pikirannya kesana."
"Pasti pikirannya kesana aku kan laki-laki normal." jawab Larry mencubit pipi Rumi gemas.
"Cium ini saja." katanya kecup punggung tangan Rumi.
"Sana turun." katanya kemudian.
"Tidak ada mesra-mesranya, abis cium tangan aku disuruh turun." masih saja komplen.
"Besok saja kita menikahnya yuk." ajak Larry tersenyum.
"Mana bisa, Mama dan Papa kamu saja belum bertemu aku."
"Habis kamu mancing-mancing, aku jadi tidak tahan deh." Larry menghela nafas.
"Iya sayang aku sabar deh." kata Rumi akhirnya. Larry jadi tertawa.
"Playboy palsu." gerutu Rumi lagi.
"Hahaha..." Larry terbahak.
"Salam." Rumi ulurkan tangannya salami Larry. Kemudian mencium tangan Larry, membuat Larry terbahak.
"Kamu memang maunya diperlakukan seperti Opa-Opa kan." kata Rumi tertawa.
"Yumi..."
"Apa?" cemberut pandangi Larry.
"Kamu tahu kenapa aku tidak mau sentuh kamu sebelum halal?" tanya Larry.
"Takut dosa kan Pak Ustadz?"
"Iya, dosaku sudah banyak, tidak mau tambah dosa lagi, selain itu...
"Apa?"
"Because I Love You, Yumi. Kata banyak orang, melakukan setelah menikah itu akan ada kebahagiaan tersendiri." Larry menjelaskan.
"Leyi..." Rumi langsung meleleh. Larry mengacak anak rambut Rumi lagi gemas.
"Tuh Papi keluar." tunjuk Larry melihat Papi berdiri di teras.
"Hehehe pasti mengintip dari jendela." Rumi tertawa.
"Makanya, kan tadi aku sudah bilang kamu." Larry membuka pintu turun dari Mobil.
"Larry, mampir dulu." Papi Mario tawarkan Larry ketika Larry hampiri Mario dan salami dirinya.
"Langsung saja Papi, sudah malam. Besok juga Rumi harus ke Kantor." kata Larry pada Mario.
"Baru jam sembilan." Mario terkekeh.
"Iya aku biasanya jam sepuluh sudah lima watt." jawab Larry tertawa.
"Pantas temanmu Balen." Mario terbahak.
"Hahaha iya Papi, duh aku belum telpon Balen lagi malam ini." Larry baru ingat, belum sempat hubungi Balen karena euforia hasil cek kesehatan hari ini.
"Nanta juga tidak telepon kamu kan?" tanya Rumi.
"Iya sih, mungkin Nanta di rumah sakit." kata Larry tersenyum.
"Aku pulang ya Papi." pamit Larry pada Mario.
"Hati-hati Larry."
"Makasih Papi."
"Sama aku kok tidak terima kasih?" protes Rumi menggoda Larry yang hanya tertawa mendengarnya. Sebenarnya mau cubit pipi Rumi, gemas, tapi ada Papi.
Sambung besok lagi ya😍😍💕💕
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 368 Episodes
Comments
Diandra Kalista80
ha haaaa....ak bhg bngt,lanjut KK🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2022-02-08
1
ecy
di tunggu lanjutannya tata....
yopiu.....
2022-02-07
1
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu aban leyi blm nikah aja udah lupa ya sama baen apa lagi udah nikah pasti lupa beneran nih
2022-02-07
1