"Sudah sholat?" tanya Mario disela pekerjaannya.
"Sudah tadi sama Ayah, Papa dan Popo juga." jawab Larry.
Tidak lama pesanan Wedang Ronde pun datang, berbarengan dengan Mario selesaikan pekerjaannya. Berkas-berkas pun sudah di pinggirkan Mario.
"Papi kira akan selesai lebih lama, ternyata lebih cepat dari perkiraan." Mario tersenyum pada Larry, pegawai menyusun Wedang Ronde di hadapan Larry dan Mario.
"Jadi main catur kita, Pi?" tanya Larry, Mario langsung terbahak.
"Tidak ada catur disini, Papi hanya ingin bicara santai. Ayo sambil nikmati penghangat perut." kata Mario mulai nikmati Wedang Rondenya.
"Bicara apa, Pi?" tanya Larry.
"Papi senang kamu perhatikan Rumi, tapi kok Papi jadi khawatir Rumi berharap lebih ya." Mario menghela nafas.
"Aku juga berharap lebih." jawab Larry pandangi Mario.
"Tapi aku harus pastikan Rumi sehat, supaya Papaku merestui hubungan kami." Larry menghela nafas.
"Kamu serius sama Rumi?" tanya Mario. Larry anggukan kepalanya.
"Kamu tahu Rumi punya cerita menyedihkan? Papanya tidak terima dia dan menganggap dia beban?" tanya Mario pada Larry.
"Aku tidak tahu detail Papi. Rumi mau terapi dan lepaskan minuman keras sudah melegakan untuk aku."
"Kalau background keluarga Rumi seperti itu apa Papa kamu akan terima?" tanya Mario sedikit khawatir.
"Papi hanya mau Rumi bahagia. Punya mertua yang bisa menerima dan sayangi Rumi seperti Papi dan Mami sayangi Rumi."
"Mungkin Papi terlambat karena selama ini tidak terlalu perhatikan Rumi, Papi pikir Oma Santoso dan Oma Lani sudah cukup, ternyata tidak terkontrol."
"Aku belum sebut keluarga Rumi seperti apa sama Papaku, tapi biasanya Papa lebih tahu dari aku, Pi." Larry terkekeh.
"Papi tahu kamu dipantau." Mario tertawa.
"Papa tahu Rumi sedang terapi. Tapi aku belum bilang kalau terapi Rumi sudah selesai. Kemarin waktu aku bilang mau seriusi Rumi, Papa respon soal kesehatannya, karena Papa tidak mau aku sedih dan repot sendiri." Larry menjelaskan.
"Semoga hasilnya baik kalaupun ternyata ada efeknya Papi akan upayakan Rumi sehat." kata Mario pada Larry.
"Iya aku juga berharap Rumi sehat, jadi aku bisa ambil langkah selanjutnya, minta Papa dan Mamaku melamar Rumi." Larry tersenyum pada Mario.
"Eh bukannya waktu di Cirebon kamu dekat dengan anak buahnya Deni ya? katanya Deni Rumi lagi dikenalkan dengan salah satu dokter disana." kata Mario ingat pembicaraan saat makan malam.
"Oh, itu hanya teman." Larry terkekeh.
"Jangan permainkan Rumi, boy." tegas Mario pada Larry.
"Tidak Papi, selama ini aku tidak pernah kasih harapan pada Rumi, tapi setelah Papaku kasih lampu hijau baru aku berani mendekat." jawab Larry.
"Pasti ya tidak ada gangguan dari wanita lain?" Mario menggoda Larry.
"Aman Papi." jawab Larry tertawa.
"Kalau kalian berjodoh, kamu harus tetap temui Papanya Rumi loh, karena Papi belum dapat arahan boleh wakilkan Papanya. Lagi pula Papi sama Rumi beda keyakinan, Walinya harus seiman bukan?"
"Nanti aku akan ajak Rumi temui Papanya. Dimana sih Papanya Rumi?" tanya Larry membuat Mario terbahak.
"Di Brunei, lumayan jauh." jawab Mario.
"Sama saja seperti S'pore, aman itu Pi."
"Masalahnya, Rumi sudah siap belum ya bertemu Papanya?" Mario menghela nafas.
"Nanti Papi akan temani kalian." kata Mario lagi.
"Terima kasih Papi." Larry tersenyum senang.
"Tapi, tugas kamu yakinkan Papamu lumayan berat tuh."
"Iya Papi."
"Papi tidak tahu harus bantu apa supaya Papa kamu bisa terima Rumi."
"Biar Larry saja Pi." Larry terkekeh.
"Kalian yang berhubungan, Papi yang deg-degan kok ya. Waktu Steve tidak begini." Mario tertawa.
"Mungkin karena Rumi perempuan Pi, kalau Bang Steve kan laki-laki." jawab Larry.
"Steve dan ayu bikin rusuh juga tuh. Tapi syukurlah mereka bahagia."
"Iya anaknya cantik-cantik." Larry tersenyum ingat kedua anak Bang Steve.
"Ya dong, cucu Papi." langsung bangga gitu dibilang cucunya cantik-cantik.
"Kapan ada waktu kita ke S'pore, ajak Rumi biar bertemu dengan Oma Lani Dan Opa Santoso." kata Mario lagi.
"Iya Pi, boleh." Larry terkekeh.
"Kapan lagi ada aktifitas basket, pertandingan ke luar?"
"Dua bulan lagi sudah mulai masuk asrama lagi Papi."
"Waduh, Nanta libur dong ya." langsung denyut-denyut kepala Mario, sudah keenakan pekerjaannya diambil alih Nanta selama ini.
"Sekitar dua minggu Pi." Larry tertawa.
"Yah mau bagaimana lagi, sudah perjanjian diawal Nanta boleh tetap aktif di Basket. Berarti aktifitas Basket Cabang utara akan libur juga?"
"Itu nanti diwakilkan oleh teman yang tidak masuk asrama Pi." jawab Larry membuat Mario tersenyum senang.
"Cabang Utara sejak ada kalian jadi ramai."
"Alhamdulillah." Larry tersenyum lebar.
"Papi, tapi aku pekerjaannya hanya atlet, keluarga Papi tidak masalahkah?" tanya Larry pada Mario, ia tidak seperti Nanta yang punya aktifitas lain selain Basket.
"Kalau kamu mau punya pekerjaan lain selain basket, kamu bisa ikut bantu Nanta loh. Jadi kami yang tua ini bisa tambah santai." Mario menawarkan.
"Hmm... Sebenarnya Mamaku juga punya perusahaan tapi tidak sebesar Unagroup, Burhan Company ataupun Syahputra ah apalagi Suryadi." Larry terkekeh.
"Kamu ikut aktif disana?"
"Belum sih, Mama pernah tawarkan tapi selalu bentrok dengan jadwal basket."
"Jangan khawatir kalau kamu hanya aktif di basket, banyak ide kreatif yang bisa kalian laksanakan setelahnya. Terbukti basket corner, papi saja tidak sangka akan mendongkrak penjualan di cabang Utara. Jadi jangan bilang kamu hanya atlet. Apa itu hanya?"
"Hehehe kan aku kepikiran, keluarga Papi pengusaha besar."
"Kamu juga atlet besar." Mario terbahak.
"Jangan merendahkan pekerjaan kamu, tidak semua orang bisa jadi atlet."
"Iya Papi."
"Sudah lapar belum, makan yuk." sepertinya pembicaraan sudah selesai, Papi mulai tawarkan makan.
"Belum sih, ini saja belum habis." Larry tunjuk Wedang Rondenya.
"Bagaimana mau habis, hanya kamu aduk-aduk dari tadi." Mario terkekeh.
"Hehehe papi perhatikan saja."
"Terlihat jelas, boy." Mario terbahak.
"Aku grogi." Larry nyengir lebar. Mario tambah kencang saja tertawanya.
"Sudah cinta belum sama Rumi?" tanya Mario menggoda Larry.
"Eh..." garuk kepala bingung mau bilang apa.
"Hayo jawab." ish Papi memaksa senyumnya melebar.
"Iya." Larry anggukan kepalanya.
"Iya apa?"
"Cinta, ah Papi aku malu bahas ini." wajah Larry memerah, Mario tertawa senang.
"Kasih tahu dong sama Papamu kalau kamu cinta Rumi." kata Mario provokasi.
"Iya, nanti aku akan bilang Papa. Tapi mungkin Papa sudah tahu kalau aku bawa hasil test kesehatan kami berdua nanti." jawab Larry terkekeh.
"Kamu ikut cek kesehatan juga?" Mario kembali tersenyum.
"Hu uh."
"Biar apa?"
"Biar sama-sama yakin bahwa kita berdua sehat, tidak ada penyakit bawaan dan penyakit terdampak." jawab Larry, Mario tertawa, baru kali ini ia lihat ada pria yang mau menikahi wanita syaratnya harus ada hasil pemeriksaan kesehatan. Mungkin ada tapi yang Mario lihat baru Rumi dan Larry, ah Rumi sih bikin kelakuan, Mario kembali tersenyum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 368 Episodes
Comments
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu semangat aban leyi baen
2022-02-04
1
nha_82
semangat leyi...
2022-02-04
1
Fitri Raihan
Mudah"n rumi sehat,,, amin
2022-02-04
1