"Rumi, kamu tidak kerja?" Regina bangunkan Rumi yang masih bergelung selimut pagi ini, biasanya Rumi sudah sarapan bersama Mario dan Regina di meja makan. Berhubung tidak terdengar suaranya maka Mario minta Regina mengecek keadaan Rumi dikamarnya, khawatir terjadi sesuatu.
"Hmm... Mami, Rumi baru tidur sebentar." mata Rumi terasa berat saat akan dibuka.
"Kamu tidak enak badan, tidak usah ke kantor saja ya." kata Regina pada Rumi. Ia pegangi dahi Rumi, tidak demam.
"Rumi baru bisa tidur setelah sholat shubuh tadi, Rumi hanya butuh tidur dua jam lagi Mami." pinta Rumi pada Mami.
"Kamu begadang?" Regina duduk dipinggir kasur menepuk bahu Rumi.
"Iya Mami." menjawab pelan dengan mata terpejam.
"Pikirkan apa? hasil pemeriksaan kesehatan?" tanya Regina menduga-duga.
"Semalam habis video call sama Larry, tidak mau tidur matanya." Rumi salahkan mata yang tidak mau terpejam.
"Baru pacaran sehari sudah loyo." Regina terkekeh, mengacak anak rambut Rumi.
"Bukan pacar, Mami" Rumi tersenyum tapi enggan membuka mata, dibiarkannya terpejam.
"Susah deh kalau demam cinta." Regina terkekeh dan biarkan Rumi kembali lanjutkan tidurnya.
"Kenapa?" tanya Mario karena Regina kembali dengan wajah cengar-cengir.
"Rumi baru tidur setelah sholat shubuh tadi. Dia agak demam." jawab Regina.
"Demam? sudah kamu kasih obat?" Mario agak khawatir.
"Hanya demam cinta, jadi obatnya ya kalau Larry telepon atau jemput dia, pasti langsung bangun itu." jawab Regina tertawakan Rumi.
"Honey, aku kira serius Rumi demam." Mario terkekeh gelengkan kepalanya.
"Mungkin Rumi online sampai pagi sama Larry." Mario malah ikutan membahas keduanya.
"Mungkin, namanya juga anak muda lagi kasmaran." Regina tertawakan Rumi.
"Kita jangan mau kalah, kamu ke butik jam berapa?" tanya Mario merangkul istrinya.
"Nanti jam sepuluh, kamu berangkat kantor jam berapa?" Regina balik tanyakan Mario.
"Jam sebelas saja nanti kita berangkat bersama, kita masih sempat bikin adik buat Rumi dan Steve." bisik Mario menyeringai lalu ajak istrinya masuk ke kamar. Regina tertawa memukul bahu Mario, tapi ikuti langkah suaminya masuk ke dalam kamar. Kita biarkan saja Mario dan Regina cari kesibukan.
Sementara setelah dua jam alarm Rumi pun berbunyi dengan nyaringnya, harapan Rumi sih morning call dari Larry, apalah daya setelah mengintip tidak ada misscalled ataupun pesan masuk dari kesayangannya itu. Sombong sekali Leyi sih, sungut Rumi, segera bangun, mandi dan bersiap ke kantor. Pekerjaan hari ini cukup banyak, Rumi harus pastikan persiapan syuting hari minggu bersama Balen berjalan dengan baik dan lancar.
Suasana rumah tampak sepi, tapi Mobil masih komplit, berarti Papi dan Mami belum berangkat, mereka masih di rumah.
"Sarapan apa Non?" tanya Bi Neneng pada Rumi.
"Yang ada di meja makan saja, eh aku mau detox hari ini. Tapi kemarin lupa beli buah. Ada buah apa dikulkas?" tanya Rumi tersenyum.
"Kemarin Mami suruh saya beli semangka, katanya Non Rumi mau itu." jawab Bi Neneng yang sudah bekerja di rumah Papi dan Mami dari sebelum Steve lahir. Tapi karena sekarang sudah punya keluarga Bi Neneng kerja balik hari, tidak lagi menginap.
"Mami tahu saja aku lupa beli buah." Rumi terkekeh.
"Mau di potong apa di jus?" tanya Bi Neneng.
"Jus boleh." jawab Rumi tersenyum senang. Sambil menunggu Bi Neneng bikinkan jus untuk Rumi, ia kembali mengecek handphonenya, kosong saja hanya pesan dari kantor tanyakan beberapa pekerjaan pada Rumi.
Tidak kangen aku ya?
Rumi kirimkan pesan pada Larry, selalu saja harus Rumi yang memulai. Beberapa menit menunggu pesan Rumi tidak dibaca, mungkin masih tidur, atau sibuk seperti yang Larry bilang pada Rumi semalam.
Jus yang dibuatkan oleh Bi Neneng pun sudah habis Rumi minum, tapi balasan dari Larry juga tidak ada. Sudahlah Rumi tidak mau ambil pusing, yang penting Larry sudah bilang Love semalam. Rumi jadi cengar-cengir sendiri ingat tadi malam, sesekali menutup wajahnya malu sendiri.
"Benar kata Mami kamu demam cinta ya?" Mario yang sudah rapi dengan pakaian kantornya terkekeh memandangi Rumi.
"Ish Papi."wajah Rumi langsung memerah jadi malu sama Papi, sementara Mami senyum-senyum berjalan di belakang Papi. Sudah rapi juga bersiap mau ke Butik. Butik iseng-iseng kata Mami, hanya untuk mengisi waktu tapi karyawan Mami lumayan banyak ada sekitar tujuh orang. Apanya yang iseng? itu serius, pikir Rumi.
"Kami dijemput Larry?" tanya Mami pada Rumi.
"Tidak Mami, Rumi berangkat sendiri seperti biasa." Rumi tersenyum.
"Siapa yang bangunkan tadi, morning call?" Mami menggoda Rumah, ah Mami kepo deh urusan anak muda.
"Boro-boro morning call Mami, pesan Rumi saja tidak dibaca." Rumi bersungut. Mario gelengkan kepalanya saja sambil tersenyum.
"Jangan terlalu di kejar." pesan Mami pada Rumi.
"Tidak kok." jawab Rumi. Tidak mengejar hanya ungkapkan perasaan secara berulang hahaha Rumi tertawa dalam hati.
"Iya nanti cowoknya bosan." Mario ikut ingatkan Rumi.
"Kan hari ini tidak bertemu, Rumi tadi pagi hanya Kirim pesan sekali." jawab Rumi tidak kasih tahu pesan apa yang dia kirim pada Larry.
"Mau Papi antar sekalian antar Mami?" tanya Mario pada Rumi.
"Boleh deh, Rumi malas setir masih agak mengantuk juga." jawab Rumi senang, nanti pulang tinggal minta di antar supir kantor atau ikut sama Aditya.
"Ayo." ajak Mario.
"Papi sama Mami tidak sarapan?" tanya Rumi.
"Bukan sarapan lagi, lebih dari sarapan juga sudah." jawab Mario membuat Rumi tertawa, walaupun tidak mengerti apa yang Papi maksud.
"Non mau bawa buah potong buat di kantor?" Bi Neneng tawarkan Rumi.
"Tidak usah Bi Neneng, nanti Rumi bisa beli di kantor." jawab Rumi.
"Tapi ini semangka cuma Non Rumi yang makan, harus habis hari ini." kata Bi Neneng sodorkan ransum berisi semangka yang sudah dipotong pada Rumi.
"Hahaha Bi Neneng pakai tanya, kalau sudah siap pasti Rumi bawa." Rumi tertawa senang, bukan hanya Papi dan Mami yang perhatian, Bi Neneng dan Pak Atim pun sangat perhatian pada Rumi. Seperti Rumi anak kandung Bos nya saja.
"Nanti kalau aku menikah, Papi dan Mami berdua lagi deh di rumah." kata Rumi begitu mereka sudah dalam perjalanan ke kantor Rumi. Karena memang rutenya lewati Unagroup dulu, Butik Mami baru Warung Elite.
"Yah sepi lagi kita ya Pi." Regina menghela nafas panjang.
"Nanti kamu harus sering kunjungi Papi dan Mami ya. Jangan seperti Steve tuh betah sekali di S'pore sejak punya anak jarang ke Jakarta." pesan Mario pada Rumi.
"Iya Papi, lagi pula aku juga tidak tahu menikahnya kapan. Restu calon mertua saja belum dapat. Belum lagi harus ijin sama Papa. Boleh tidak Papi saja yang temui Papa jangan aku." pinta Rumi pada Mario.
"Bagaimanapun dia Papa kamu sayang." Regina ingatkan Rumi.
"Rumi malas bertemu Papa, Mami. Rumi lihat Papa ingat pisau dan sundut rokok." Rumi menghela nafas.
"Nanti kan yang temani Papi dan Larry." kata Mario.
"Mami juga ikut deh, Mami kan belum pernah ke Brunei." Regina langsung semangat.
"Betul ya Mami?"
"Iya sayang. Kamu harus temui Papamu, terserah nanti dia mau datang jadi walimu atau hanya berikan surat kuasa. Yang penting kamu tidak durhaka." kata Regina pada Rumi.
"Papa lihat Rumi mirip Mama jadi benci sama Rumi. Padahal Mama pergi bukan karena Rumi." Rumi bersungut, ia juga tidak tahu kemana Mamanya, ada yang bilang sudah meninggal ada yang bilang sudah menikah lagi dan tinggal negara lain, beritanya simpang siur.
"Sudah jangan diingat-ingat nanti mood kamu rusak, pikir yang senang-senang saja." Mario tenangkan Rumi, khawatir kusut lagi pikirannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 368 Episodes
Comments
manda_
lanjut thor semangat buat up lagi ya ditunggu thor
2022-02-07
1
Fitri Raihan
Semangat ya yumi,,,,
2022-02-06
0
ecy
baca kedua... coment pertama....
yopiu.... lanjut kakak....
2022-02-06
0