Pagi hari Larry sudah membelah jalanan menjemput Rumi menuju Rumah Sakit sesuai rencana. Masih puasa seperti yang disarankan petugas rumah sakit.
"Aban mau ke rumah sakit dulu ya." kata Larry pada Balen yang melakukan telepon rutin dipagi hari.
"Aban satit?" tanya Balen.
"Tidak, cuma periksa kesehatan saja. Balen masih pagi sudah di rumah sakit?" tanya Larry karena Balen menghubunginya melalui telepon Nanta seperti biasa.
"Ndak, Aban puan duu ambin baju Tania." jawab Balen membuat Larry terkekeh. Ia sudah sampai di depan rumah Papi Mario saat ini. Sepertinya Larry harus turun karena tampak Papi Mario duduk santai di teras.
"Baen, aban tutup dulu ya. Mau ngobrol sama Papi Mario." kata Larry pada Balen.
"Yah." jawab Balen menurut lalu matikan sambungan teleponnya. Larry segera turun Mobil dan tersenyum hampiri Papi Mario yang sedang duduk santai di teras rumahnya.
"Pagi Papi." sapa Larry salami Mario.
"Hei Leyi, kamu sudah sampai. Sebentar Papi panggil Rumi." Mario segera beranjak sambil berteriak memanggil Rumi.
"Ya..." terdengar suara Rumi dari dalam. Larry jadi tersenyum sendiri, tidak lama Rumi muncul dengan ransum di tangannya.
"Aku bawa buah untuk kita buka puasa nanti." katanya pada Larry.
"Papi, kami jalan dulu." ijin Larry pada Mario.
"Yah, nanti setelah antar Rumi ke kantor, Papi tunggu di Warung Elite ya Leyi." kata Mario pada Larry.
"Siap Papi." Larry main siap saja, pasti ada yang mau papi bicarakan dengan Larry terkait Rumi kalau begini. Itu dugaan sementara Larry.
"Kok tidak telepon begitu mau sampai, biar aku langsung keluar." kata Rumi saat mereka sudah di jalan.
"Tadi lagi bicara ditelepon dengan Balen." jawab Larry sambil fokus menyetir.
"Pantas saja aku telepon tadi tidak bisa, ternyata online sama Balen." Rumi terkekeh.
"Tiap pagi pasti online sama si unyil." jawab Larry terkekeh.
"Oke." jawab Rumi tersenyum.
"Tidak marah kan?" Larry memastikan.
"Tidak, kalau aku marah kamunya bisa kabur nanti." jawab Rumi membuat Larry terbahak.
"Jadi biar tidak kabur jangan marah-marah deh." kata Rumi lagi.
"Bisa begitu terus?" tanya Larry pada Rumi.
"Semoga bisa, hanya Balen kan? kalau ada selain Balen aku sih tidak jamin." jawab Rumi terkekeh.
"Siapa selain Balen, paling keluargaku." jawab Larry.
"Selain Balen dan keluarga, mantan-mantan misalnya, aku bisa marah tuh." Rumi menjelaskan.
"Cemburu?" tanya Larry.
"Bisa dibilang begitu deh." Rumi terkekeh.
"Tidak boleh cemburu." kata Larry tersenyum.
"Kenapa tidak boleh?" tanya Rumi.
"Kan belum pasti." jawab Larry membuat Rumi kembali monyongkan bibirnya.
"Aku mau semuanya pasti dulu." kata Larry menghela nafas. Agak khawatir juga berharap semua lancar.
"Mari kita pastikan." kata Rumi dengan wajah sumringah.
"Iya, makanya kita harus sehat." jawab Larry.
"Kalau hasil disini jelek, aku detox dua minggu lalu cek ulang di S'pore." kata Rumi santai.
"Kok kamu bilang jelek?" tanya Larry."
"Kamu sendiri sepertinya kurang yakin, makanya aku cari alternative lain supaya semuanya jadi pasti." jawab Rumi semangat.
"Semangat sekali." Larry terkekeh.
"Harus semangat dong, aku sudah usaha dengan terapi dan berhasil, masa mau gagal lagi."
"Hehehe oke." Larry tertawa senang melihat semangat Rumi.
"Boleh peluk?" tanya Rumi menggoda Larry.
"Aku lagi setir." jawab Larry.
"Nanti kalau sudah selesai setir." kata Rumi menawar.
"Ck... nanti saja kalau sudah halal." jawab Larry meringis, Rumi suka mancing-mancing, Larry kan jadi tergoda, tapi ia mesti tahan diri.
Mereka tiba di rumah sakit sebelum pukul delapan pagi, setelah laporkan diri, Rumi dan Larry menunggu dipanggil sesuai nomor antrian.
"Asli ini seperti lagi melamar kerja." Rumi terkekeh.
"Waktu mau masuk TimNas juga begini." jawab Larry ikut terkekeh.
"Kenapa kamu tidak pakai hasil yang lama?" tanya Rumi yang duduk disebelah Larry.
"Sudah berapa tahun yang lalu itu." jawabnya sambil mengacak anak rambut Rumi, semakin lama Rumi semakin menggemaskan.
"Eh pegang-pegang, nanti aku Ikutan gemas loh." kata Rumi membuat Larry terbahak.
"Genit." bisik Larry pada Rumi.
"Cuma sama kamu saja." Rumi balas berbisik.
"Masa?" Larry pura-pura tidak percaya.
"Beneran." Rumi meyakinkan Larry.
"Sama Diky kemarin gandeng-gandeng." Larry ingatkan Rumi.
"Itu kan karena lihat kamu berduaan sama Femi." jawab Rumi membuat Larry tertawa.
"Cemburu ya? katanya tidak harus Larry." Larry menggoda Rumi.
"Iya kalau kamu pilih Femi, ya aku sama yang lain dong, masa mau maksa kamu supaya mau sama aku." jawab Rumi membuat Larry mencubit pipinya gemas.
"Gemas deh sama kamu." kata Larry jujur.
"Cium dong kalau gemas." jawab Rumi konyol dekatkan wajahnya pada Larry.
"Ish." Larry kembali mendorong dahi Rumi pelan sambil tertawa. Kalau Rumi begini terus pertahankan Larry bisa luntur, ah ada saja kelakuannya.
"Larry Prawira." nama Larry dipanggil lebih dulu oleh petugas pemeriksa kesehatan.
"Aku duluan." kata Larry tersenyum pada Rumi.
"Ok sayang." jawab Rumi membuat Larry kembali tertawa. Dari kemarin Larry jadi lebih sering tertawa karena Rumi sering bertingkah konyol.
"Rumi!" eh Rumi kira dia dipanggil oleh petugas kesehatan karena sudah saatnya lakukan pemeriksaan kesehatan, rupanya Fino yang panggil Rumi.
"Hai Fin." langsung Rumi berdiri hampiri Fino.
"Kamu praktek disini?" tanya Rumi. Fino anggukan kepalanya.
"Kamu kenapa?" tanya Fino.
"Hanya pemeriksaan kesehatan." jawab Rumi tersenyum.
"Sama siapa?" tanya Fino lagi.
"Sama Larry, dia sudah dipanggil lebih dulu." jawab Rumi jujur.
"Oh ada apa kok periksa kesehatan berdua?" tanya Fino ingin tahu.
"Kenapa kompak ya kita?" Rumi malah balik bertanya. Fino anggukan kepalanya.
"Fin, Femi kenapa blokir nomor aku?" tanya Rumi pada Fino.
"Tidak tahu, malah aku baru tahu." jawab Fino pada Rumi.
"Oh Salam saja kalau bertemu ya." kata Rumi lagi.
"Kamu belum dipanggil?" tanya Fino.
"Belum, baru Larry yang dipanggil tadi." jawab Rumi tersenyum.
"Senyum-senyum sebut nama Larry, ada apakah?" tanya Fino curiga.
"Ada cinta hehehe, kan kamu tahu aku memang suka sama Larry dari dulu." Rumi naikkan alisnya.
"Jadi bagaimana? Larry pilih kamu akhirnya?" tanya Fino terkekeh, ia sempat mendengar curhatan Rumi sebelumnya.
"Doakan saja, semoga begitu. Yang pasti dia lebih perhatian sih sekarang." jawab Rumi senang.
"Ikut senang Rumi." Fino menepuk bahu Rumi, ucapkan senang secara tulus. Masalah Larry dan Femi, Fino sudah dengar cerita langsung dari Femi dan Fino tidak bisa salahkan Larry karena Femi banyak menuntut padahal belum ada status yang jelas tentang hubungan mereka. Cowok mana yang tidak akan lari kalau begitu.
"Fin, kapan-kapan makan bersama ya, ajak pacar kamu." kata Rumi pada Fino.
"Nanti berkabar ya, kalau pacarku sudah kembali dari tugas kemanusiaan di Papua." kata Fino, Rumi anggukan kepalanya.
"Rumi Santoso." Nama Rumi mulai dipanggil.
"Aku periksa dulu, mohon doanya." kata Rumi lambaikan tangannya pada Fino.
"Sehat-sehat ya kalian." kata Fino tersenyum tulus. Ah hampir saja Rumi jatuh hati pada Fino kemarin itu saat Larry abaikan Rumi, ternyata Fino sudah punya pacar sesama dokter. Memang jodohnya harus Larry ternyata, eh semoga mereka berjodoh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 368 Episodes
Comments
Rani Seftia
up dong thor
2022-02-02
0
Diandra Kalista80
semangat ...semoga Rumi sehat biar bisa sama leyi,
2022-02-02
1
nha_82
lanjut...
2022-02-02
1