"Semua orang pasti merasakan beberapa musibah dalam hidupnya. Baik musibah yang berdampak bagi dirinya sendiri, maupun bersama orang-orang disekitarnya. Tak dapat dipungkiri bahwa setiap musibah itu pasti ada hikmahnya. Rasa saling tolong menolong menjadi awal dari bersatunya sekumpulan manusia dari berbagai kalangan. Mereka tak akan memperdulikan siapa orang yang mereka tolong, karena mereka lebih mementingkan keselamatan bersama. Demi menanggulangi musibah yang terjadi mereka rela bahu membahu antar sesama tanpa pandang bulu. Karena tempat yang mereka tinggali merupakan rumah bagi semuanya. Sungguh suatu sifat sosial yang tidak akan pernah hilang dari setiap insan yang ada."
Sejenak Arkhan dan Layyin terdiam tanpa berkata apa-apa. Mereka tidak menyangka bahwa sosok perempuan yang telah menolongnya merupakan kekasih dari sahabatnya. Padahal selama mereka hidup bertiga belum pernah dirinya melihat sosok gadis cantik jelita yang didambakan sahabatnya. Sontak mereka kaget dan kagum dengan perempuan tersebut. 'Entah harus berkata apa' itulah hal yang terbesit dalam benak mereka berdua. Belum lagi pandangan perempuan tersebut semakin dekat seakan penasaran dengan keduanya.
"Ka....ka...kalau boleh tau namamu siapa? dan kamu kenal Hadad dari kapan?" Tanya Arkhan dengan sedikit gemetar.
"Iiya nih aku juga pengen tahu dimana kalian bertemu saat itu. Coba ceritakan dong." Tambah Layyin.
"Baiklah.…. Jikalau memang itu pertanyaan kalian maka aku akan menjawabnya." Jawab perempuan itu sembari menghela napas.
"Mohon maaf apabila diriku ini belum memberitahukan namaku terlebih dahulu. Jadi namaku adalah Akarui Hikari. Aku adalah ras gadis cuaca dan berasal dari ibukota Majutsu shi no yoso. Sebenarnya Aku dengan Hadad bertemu beberapa minggu yang lalu. Saat itu kami berdua bertemu dipinggiran taman desa. Waktu itu aku sedang melihat dirinya sedang duduk disebuah bangku taman sendirian. Lalu aku datangi deh dirinya dan langsung memasangkan cincin pernikahan. Lalu aku bergegas menyatakan perasaanku kepadanya dan akhirnya kita resmi menikah."
"Apppaaaaa.….? Semudah itukah…..?"
"Wah hebat banget ya kak Akarui bisa langsung menyatakan perasaannya. Padahal kalian baru bertemu sebentar ya."
"Yah begitulah.… mungkin ini yang disebut cinta pada pandangan pertama yang seringkali membuat buta sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara."
"Kamu sedang bercanda kan? Soalnya mana mungkin Hadad bakal menerimanya begitu saja."
"Iya juga sih kak, soalnya kan kak Hadad itu orangnya sangat pemalu."
"Mmmmmm sebenarnya itu intuisiku saja sih. Soalnya aku ini pandai menilai orang walaupun baru bertemu. Jadi disaat aku melihatnya otomatis badanku bergerak mendekatinya tanpa ada rasa ragu sedikitpun."
"Mumumumustahil.…. Itu pasti Cuma karangan belaka saja. Aku masih belum percaya." Ujar Arkhan yang masih membantah jawaban dari Hikari.
"Yah kalau kamu ingin bukti sebenarnya maka kamu harus langsung tanyakan saja kepada orangnya nanti."
"Aku juga masih belum pecaya sih kak, tapi mendengar jawaban kak Akarui sepertinya dia tidak berbohong dan memang menjelaskan semuanya dengan jujur."
"Yah kalau memang Layyin membenarkannya maka silahkan saja. Tetapi aku masih tidak bisa mempercayainya sebelum mendengar penjelasan langsung dari Hadad."
"Iya silahkan saja kalau memang itu maumu. Semoga kamu dapat mendapatkan jawaban yang terbaik ya hehehe……" Ucap Hikari dengan sedikit gelak tawa diwajahnya.
Arkhan seketika menjadi bingung dengan keadaan disekitarnya. Ini dikarenakan sahabatnya yang masih belum ia temukan jejaknya sama sekali. Ditambah sosok perempuan yang tiba-tiba muncul dan mengaku sebagai kekasih sahabatnya. Dua peristiwa tersebut semakin membuat dirinya bingung dan tak dapat berpikir secara jernih. Dan pada akhirnya Arkhan pun memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu ke tenda yang sudah ia tempati sebelumnya. Ia meninggalkan Layyin bersama dengan perempuan tersebut, sehingga keduanya pun tak dapat mengejarnya.
Arkhan akhirnya kembali ke tenda tempat ia bersemayam selama ini. Ia merasa bingung dan tak bisa mencerna situasi yang sedang terjadi. Ia masih tidak menyangka bahwa sahabatnya yang baru saja meninggalkannya sudah memulai hidup baru yang lebih sejahtera. Sungguh kecewa hatinya mendengar kabar tersebut. Karena selama ini ia tidak pernah mendapat pesan dari sahabatnya tersebut. Sehingga ia mengira bahwa dirinya telah dijauhi. Arkhan pun kembali termenung diam dan tak berkata apapun. Ia bahkan tidak menyadari pergerakan para pengungsi disekitarnya. Dirinya hanya terus melamun tanpa ada alasan yang jelas. Semakin lama dirinya semakin tidak bersuara. Hingga akhirnya paman disebelahnya mencoba untuk menyapanya.
"Kau kenapa anak muda? Bukankah dirimu tadi sedang melihat papan pengumuman orang hilang ya?" Tanya paman tersebut.
"Apakah kamu sudah menemukan orang yang kau cari itu? Atau mungkin dirinya telah tiada?"
".….….….….…"
Arkhan tidak menjawab pertanyaan paman tersebut dengan ucapan, ia hanya menganggukkan dan menggelengkan kepalanya saja. Ini membuat suasana disekitarnya menjadi sedih. Karena dirinya adalah anak yang biasanya ceria dan tak kenal lelah.
"Oh begitu ya rupanya. Tidak apa jikalau kamu tidak ingin untuk menjawab pertanyaan dariku hari ini." Ujar paman
".….….….…"
"Aku akan mengingatkan padamu suatu hal, jikalau temanmu itu masih hidup dan belum kembali kepadamu, mungkin saja dirinya masih merasa belum pantas untuk menemui dirimu. Bisa juga dirinya sedang berusaha mencoba untuk mencari solusi terbaik untuk bisa bertemu denganmu. Dan yang pasti bukan hari ini tetapi dihari yang akan datang. Hari dimana dirinya sudah siap untuk menemui mu. Karena dia juga tahu bahwa jikalau dirinya bertemu denganmu secepatnya maka dia akan merasa semakin membebanimu. Dia juga tidak mau apabila dia terus-terusan merepotkanmu. Maka dari itu dirinya sedang berusaha untuk mencapai tingkat yang layak sebagai sahabatmu. Dengan kelayakan tersebut maka dirinya sudah mampu bertemu denganmu dan kembali menceritakan kisahnya padamu."
".….….….….."
Setelah arkhan mendengarkan penjelasan paman tersebut dirinya merasa bersalah dan menyesal atas hal yang telah ia lakukan. Dirinya merasa bahwa penuturan paman itu sangatlah benar adanya. Karena selama sahabatnya tinggal dirumahnya, dia seringkali direpotkan olehnya. Namun sebenarnya dia tidak merasakan hal demikian. Karena dia juga belum bisa memahami perasaan sahabatnya. Sekejap Arkhan pun berterima kasih kepada paman tadi dan ia berjanji bahwa dirinya akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Agar kedepannya ia layak untuk bertemu dengan sahabatnya lagi. Lalu Arkhan pun memutuskan untuk kembali ketempat Akarui dan Layyin untuk mendengar penjelasan yang lebih mendetail.
Disaat dirinya sampai ditempat sebelumnya seketika dirinya melihat Akarui dan Layyin yang sedang mengobrol dengan akrabnya. Dia merasa heran karena tadi dirinya sempat membuat ketegangan diantara mereka bertiga. Tapi untungnya kedua perempuan tersebut malah menunjukkan sikap yang berbeda. Arkhan segera mendekati keduanya dan mulai meminta maaf.
"Kalian berdua maafkan aku yang telah mengkhawatirkan kalian. Aku sangat menyesal atas apa yang telah aku perbuat. Aku berjanji bahwa diriku ini akan senantiasa mendengarkan penjelasan terlebih dahulu sebelum bertindak." Ucap Arkhan seraya membungkukkan kepalanya.
"Iya kak tidak apa-apa. Sebenarnya itu juga salah Layyin yang tidak merespon perkataan kakak secara positif." Ujar Layyin.
"Iya benar, aku juga minta maaf karena diriku menceritakan sesuatu yang membuatmu kesal." Sambung Akarui.
"Aku harap kita bertiga dapat lebih akrab kedepannya. Karena aku merasa bahwa apabila kita bersama maka tujuan kita akan cepat tercapainya."
"Iya aku juga merasakan hal demikian."
"Betul kak aku juga, mohon bantuannya."
Merekapun akhirnya bisa saling memaafkan dan menerima kesalahan masing-masing. Lalu mereka bertiga kembali berdiskusi untuk bisa menemukan kembali orang yang berharga bagi mereka. Karena mereka tau bahwa semua masalah ini akan cepat terselesaikan jikalau mereka menghadapinya bersama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments