"Mengawali setiap sesuatu memang bukanlah hal yang mudah. Setiap hal perlu
direnungkan terlebih dahulu. Hanya saja jika kita tak memulainya, maka hal
tersebut mustahil terjadi. Karena setiap sesuatu pasti ada sebabnya. Dan setiap
sebab pasti akan ada akibatnya. Maka berhati-hatilah dalam memulai sesuatu."
Hadad masih tidak percaya akan beberapa hal yang terjadi kepadanya. Dunia yang ia tempati masih menjadi misteri baginya. Walaupun cerita yang Mor sampaikan kepadanya sudah lebih dari cukup. Ia masih merasa ada kejanggalan yang terjadi disini. Belum lagi salah satu hal yang terbenak dalam pikirannya ialah ketika Mor menyebutkan bahwasanya setiap manusia di dunia ini sangatlah berharga. Melihat situasi tersebut sangatlah berbanding terbalik dengan kehidupannya di tempat Hadad berasal. Tapi entah mengapa walau dunia ini berbeda dari yang ia pikirkan, namun Hadad merasa bahwa masih ada hal yang familiar disini. Sebut saja pekerjaan sehari-hari, kebiasaan penduduk, sistem kepemerintahan, bahkan sikap para penghuni dunia ini pun masih terlihat sama. Hanya saja ia tetap harus berhati-hati dalam menjaga identitasnya. Karena bisa saja setiap makhluk disini pasti mengincarnya.
Jejak kaki yang mereka tinggalkan sudahlah jauh dari gua. Mereka keluar dari tempat yang lebih cepat layaknya jalan tikus. Bentuk gua yang mereka lewati notabenenya lebih mengarahkan pejalan kaki ke daerah hutan yang lebih tenang. Udara yang segar pun langsung dirasakan oleh Hadad. Sudah sekian lamanya, ia belum pernah merasakan ketenangan ini. Selama hidupnya pun Hadad hanya bisa berdiam diri dirumah. Sehingga ia sangat jarang berinteraksi langsung dengan alam. Pengalaman pertamanya memanglah tak terduga. Hutan belantara yang ia lewati bersama Mor sangatlah unik. Dengan pohon yang
berwarna hijau pekat, rantingnya yang menjulang kesamping, akarnya yang
terlihat keluar dari tanah, dan buah aneh yang timbul dari setiap dahannya.
"Mor kalau boleh tau pohon tersebut digunakan untuk apa ya? Kok unik
sekali bentuknya?" Hadad bertanya sambil menunjuk pohon disampingnya.
"Pohon tersebut bernama Alveolus, suatu pohon yang bisa tumbuh hingga
ribuan tahun lamanya." Jawab Mor sambil mengambil salah satu buahnya.
"Terus buah yang dihasilkannya itu apa? Apakah buah tersebut bisa
dimakan?"
"Buah ini bernama Tufaahat sawda. Buah ini sangatlah enak, karena
kemanisannya yang pas untuk dibuat cemilan sehari-hari. Ambillah dan coba
rasakan manisnya." Tutur Mor sambil memberikan satu buah tersebut kepada
Hadad.
Hadad pun mencoba buah tersebut dengan perlahan. Ternyata benar, buah tersebut sangatlah manis. Kemanisannya mengingatkan Hadad dengan buah strawberry. Dengan cepat Hadad pun memakan buah tersebut dengan lahapnya. Ia merasa bahwa kelaparannya selama ini bisa teratasi dengan buah tersebut. Mor yang melihat tingkah laku Hadad pun tersenyum. Karena ia senang memberikan pengetahuan yang bermanfaat padanya.
......................
Setelah menikmati beberapa buah mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Hingga akhirnya mereka sampai ditempat para werewolf berada. Tempat tersebut tidak terlalu besar dan mewah. Hanya saja tempat yang Hadad kunjungi ini terlihat sangat damai dan aman. Sesaat setelah melewati pintu gerbang didepan desa tersebut, Hadad diberitahu oleh Mor agar melakukan pengecekan terlebih dahulu. Karena hal tersebut sangatlah perlu dilakukan sebelum memasuki wilayahnya. Hadad pun mengiyakan usulan Mor dan langsung bergerak menuju tempat pengecekan. Ditempat tersebut Hadad diperiksa oleh dua petugas Werewolf yang ada. Mereka tampak seumuran dengan Hadad. Disaat
pengecekan berlangsung Hadad pun mulai diberi pertanyaaan perihal dirinya dari kedua petugas tersebut.
"Baik semuanya aman tak ada kendala. Pengecekan tubuh sesuai dengan yang
diharapkan. Tidak ada senjata yang mematikan. Pakaian yang digunakan pun biasa saja." Ucap petugas pertama sambil mengecek tubuh Hadad.
"Yap kamu benar, tidak ada hal yang mencurigakan padanya. Kamu boleh
memasuki tempat ini dengan aman." Ucap petugas kedua.
"Baik terima kasih banyak petugas." Tutur Hadad sembari merapihkan pakaiannya.
Tak lama kemudian datang seorang warga yang memasuki kantor pengecekan tersebut dengan terburu-buru.
"Ada apa gerangan pak? Mengapa anda terburu-buru?" Tanya petugas kepadanya.
"Mohon maaf saya menganggu kegiatan disini. Hanya saja saya merasakan aroma yang aneh dari pemuda ini. Seperti aroma yang tidak asing." Ucapnya sambil sesekali mencium aroma pakaian yang sedang Hadad gunakan.
"Aaa..aroma seperti apa ya pak? Bbbbukannya saya beraroma biasa
saja..?" Ucap Hadad sambil gemetaran.
"Begitukah, tapi saya merasa pemuda ini mempunyai karakteristik seperti
manusia…."
"Saya juga merasa hal demikian pak, tetapi masih belum ada fakta yang
membenarkannya." Tutur petugas.
"Ttttidak kok pak. Mungkin bapak salah orang. Saya Cuma pengembara kok
pak……"
Hadad semakin tertekan dengan pertanyaan yang diberikan warga tersebut. Bahkan
para petugas pun menjadi agak curiga terhadapnya. Fakta bahwa dirinya adalah seorang manusia pun nampaknya tidak bisa dipungkiri lagi.
"Oh iya, maaf saya agak lancang. Kalau boleh tau anda ini dari spesies
mana ya?" Tanya petugas.
"aaanu.… Saya adalah spesies….."
Tiba-tiba pintu petugas kembali terbuka dengan paksa. Dan ternyata orang yang
datang ialah Mor. Dengan cepat Mor pun segera menjelaskan situasi Hadad saat
ini. Awalnya setiap orang ditempat tersebut kurang percaya dengan Hadad. Namun semua situasi tersebut dapat diselesaikan oleh Mor. Setiap penjelasannya yang mendetail pun cukup untuk meyakinkan para penjaga dan warga disitu. Pada akhirnya Hadad pun dapat selamat dari situasi menegangkan itu.
Setelah kejadian tersebut Hadad semakin tersadar bahwa kehadirannya masih
dicurigai. Setiap warga yang melihatnya pun seakan memandangnya seperti orang asing. Desa yang ia sangka aman dan damai tersebut, ternyata malah lebih menekan dan sesak baginya. Untungnya Mor membantunya untuk tidak terkena masalah.
...----------------...
Singkat cerita mereka berdua pun singgah
disebuah rumah dekat sungai yang cukup besar. Disana terdapat beragam keunikan
dekorasi luar rumah yang menakjubkan. Mulai dari warnanya yang silver terang,
bahannya yang terbuat dari besi yang kokoh, serta sekitaran rumahnya yang
terdapat banyak sekali perkebunan sederhana. Disaat memasuki rumah tersebut, Hadad bertemu dengan seorang perempuan yang sedang menyirami beberapa tumbuhan diperkebunan rumah itu. Wajahnya yang rupawan, tingginya yang normal, dan perawakannya yang biasa membuat Hadad sedikit terpikat. Ia menggunakan pakaian yang sederhana dengan baju kaus berwarna putih dan celana pendek berwarna biru. Sandal yang ia gunakan berwarna biru pula dan sarung tangan berwarna hitam sambil memegang alat penyiram tanaman. Tak sengaja perempuan tersebut menoleh
kearah Hadad sehingga membuat Hadad terkejut. Senyumannya yang manis bak bunga mawar yang ia sirami. Menjadi kecantikan tersendiri yang membuat sekitarnya terpesona. Sesaat perempuan tersebut menghampiri Hadad dan bertanya kepadanya.
"Apakah kita pernah bertemu?" Tanyanya sambil tersenyum.
"Tttidak aku belum pernah melihatmu sebelumnya kok…." Jawab Hadad
sambil gemetaran.
"Begitukah, nampaknya aku salah orang ternyata. Maaf ya."
"Yyyya.… Titttidak apa-apa."
"Oh iya, kamu kenalannya kak Arkhan ya?"
"Iiiya.…aku baru kenal dengannya beberapa jam yang lalu."
Nampaknya perempuan ini mengenal Mor dengan baik. Tapi siapakah dia, adiknya,
kakaknya, atau saudaranya ya?
"Kalau boleh tahu siapa namamu?" Ucapnya dengan nada penasaran.
"Namaku Hadad Romli. Aku seorang pengembara yang tidak sengaja bertemu dan diselamatkan oleh Mor." Jawab Hadad dengan perlahan.
"Wow, hebat sekali ya kak Arkhan ini. Bisa menyelamatkanmu tanpa pamrih
keren…!"
"Iya begitulah, kalau boleh tau juga namamu siapa ya? Terus apa hubunganmu dengan Mor??" Ucap Hadad balik bertanya.
"Oh iya maaf aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Layyin Siel. Aku
sepupunya kak Arkhan, salam kenal ya."
"Iiiya salam kenal juga." Jawab Hadad sambil bersalaman dengannya.
Tak lama kemudian, Mor pun hadir dari dalam pintu mendekati mereka berdua.
"Wah sepertinya kalian sudah saling kenal ya…" Tuturnya sambil menjahili Hadad.
"Iya kak, tadi sempat ngobrol-ngobrol. Ternyata kak Hadad ini orangnya
menyenangkan ya." Ucapnya sambil tersenyum.
Mendengar hal tersebut Hadad semakin tersipu malu hingga mukanya memerah. Mor pun tertawa dan kembali menjahili temannya. Begitu pula Layyin yang ikut
tertawa melihat hal tersebut. Lalu mereka pun meneruskan obrolannya didalam rumah. Saking senangnya mengobrol, mereka lupa bahwasanya waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Akhirnya mereka pun menyelesaikan obrolan hangatnya. Dan mulai memasuki kamarnya masing-masing untuk beristirahat.
Kamar yang ada pada rumah tersebut berjumlah 4 kamar. Mor tidur dikamar bawah dekat dapur. Lalu kamar Hadad dan Layyin berada diatas rumah hanya terpisah oleh sebuah lorong dekat tangga dan satu kamar lagi berada diujung dekat kamar mandi. Hadad tak menyangka ternyata kamar yang ia gunakan begitu nyaman dan sederhana.
Dengan satu ranjang yang terbuat dari jerami, satu jendela yang berada disamping kasurnya, satu lemari tua besar untuk pakaian, dan satu kotak mirip harta karun didekatnya yang digunakan sebagai tempat penyimpanan barang-barang kecil. Ia pun segera menaiki kasur dan merasakan kenyamanan yang ada. Perlahan ia pun
tertidur dengan pulas. Hari ini adalah hari yang cukup melelahkan baginya. Hari
dimana ia memulai interaksi dengan hal yang baru. Perasaan senang telah ia
dapatkan dengan bertemu teman sebaik Mor dan perhatian seperti Layyin. Hanya
saja ia masih merasa tertekan dengan keadaan disekitarnya. Hawa yang menekan dari para warga terasa sangat memberatkannya. Dengan selimut yang ada ia mencoba menghangatkan dirinya agar dapat lebih tenang. Ia berharap dihari
selanjutnya lebih baik dari sekarang. Walaupun berat, ia masih tetap berusaha
untuk beradaptasi demi mendapatkan fakta yang masih belum ia ketahui tentang dunia ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
anggita
Layyin Siel... 😘
2023-07-12
0