"Rasa kepercayaan seseorang datang dari keadaan sekitarnya. Banyak sekali hal yang mempengaruhi rasa kepercayaan tersebut. Semakin besar rasa kepercayaan seseorang maka semakin kuat juga ikatan yang terjalin. Namun apabila sebaliknya maka orang tersebut biasanya tidak akan banyak bertindak dan bersosialisasi dengan orang lain. Maka latihlah rasa kepercayaan itu, agar dirimu tidak mudah percaya dengan orang asing. Dan menyelamatkan dirimu dari perubahan sekitarmu."
Sesaat setelah menyantap makan malam, Hadad kembali menceritakan hal yang terjadi kepadanya disaat berjalan-jalan. Ia menuturkan bahwasanya awal perjalanannya tersebut biasa saja, namun semua berubah menjadi tegang dan menegangkan disaat ia bertemu dengan seseorang yang baru ia kenal. Layyin dan Mor pun mempercayai ceritanya dengan mendengarkan setiap penjelasan Hadad dengan seksama. Hadad yang notabene menceritakan kisahnya dengan jelas pun membuat keduanya mempercayainya. Di saat Hadad bercerita tentang pertemuannya dengan sosok gadis yang menyukainya mereka pun terkejut.
"Wah pantas saja kamu betah jalan-jalan ya." Ucap Mor.
"Iya nih, kak Hadad seakan lupa dengan jalan-jalannya ya. Padahal baru pertama kali bertemu." Timpal Layyin.
"Eeeengggak kok.... aku juga sebenarnya gak tau bakal kayak gitu kejadiannya." Tutur Hadad.
"Soalnya dia muncul secara tiba-tiba, lalu memasangkan cincin perak ini sambil berkata kontrak telah selesai."
"Loh kok dikasih cincin? Bukannya baru bertemu ya kak?"
"Apa jangan-jangan itu cincin pernikahan lagi?" Tanya Mor dengan bingung.
Hadad hanya bisa terdiam malu ketika mereka bertanya seperti itu. Mereka pun semakin menyadari bahwasanya hal tersebut benarlah terjadi.
"Wahhh....selamat yah kak Hadad, semoga langgeng." Ucap Layyin mendo'akan.
"Waaaaaah aku jadi iri nih..... Masa aku keduluan sama kamu dad. Padahal kamu baru disini..... Ssselamat ya..." Ujar Mor dengan ungkapan yang agak kesal.
"Eeeengggak kok, aku juga masih bingung menghadapi situasinya." Kata Hadad.
"Soalnya aku juga masih belum terlalu mengenal dengan baik tentang dirinya."
"LAAAAAHHHH...... Terus kenapa kalian bisa tiba-tiba akrab?" Tanya Mor terheran-heran.
"Iya nih, kak Hadad bilangnya gak sesuai tingkah lakunya."
"Jangan-jangan kak Hadad juga punya perasaan dengannya ya?" Tanya Layyin.
"Yyyyyyyaaa bbbeebebebegitulah." Jawabnya dengan malu-malu.
"Soalnya aku merasa nyaman didekatnya, juga dia orangnya enak diajak bicara."
"Yaudah kamu ungkapin saja perasaanmu padanya. Biar nanti gak menyesal."
"Iya kak, kan kalian sama-sama suka. Kami juga gak akan ngelarang kok."
"Iiiya deh makasih banyak dukungannya." Ucap Hadad.
"Yossssh karena Hadad sudah menemukan pasangannya, maka kita rayakan besok dengan piknik di hutan bersama...."
"Siap kak....."
Keduanya terlihat senang dan mendukung dengan apa yang Hadad rasakan. Ia begitu bersyukur dapat dukungan dari keduanya. Ia pun merasa bahwa dirinya sangatlah berhutang budi kepada keduanya. Lalu mereka pun kembali mengobrol hingga waktu tidur pun tiba.
"Perjalananmu akan segera dimulai......." Suara yang kembali terdengar oleh Hadad dalam mimpinya.
"Lebih baik engkau tinggalkan tempat ini......."
"Semua yang ada bukanlah ilusi......."
"Maka bersiaplah untuk kemungkinan terburuk yang akan terjadi......"
Mendadak Hadad pun terbangun dari tidur nyenyak nya. Ia tak menyangka ternyata ia masih saja dihantui dengan suara tersebut. Hanya saja perkataan suaranya kali ini terdengar seperti peringatan yang harus ia lakukan. Hadad masih belum menceritakan kejadian berulang ini kepada yang lain, karena ia tidak ingin yang lain mengkhawatirkannya. Sesaat ketika ia sedang mencerna perkataan tersebut, tiba-tiba ia teringat suatu hal. Ya secarik kertas yang kemarin diberikan oleh Hikari sebagai persyaratan terhadapnya. Satu-persatu barangnya pun mulai ia bereskan sembari mencari secarik kertas tersebut. Setelah membereskan semua barang, Hadad pun akhirnya dapat mendapatkannya. Ia pun duduk di kursi tempat ia makan yang menghadap kedinding. Perlahan ia pun mulai membuka kertas tersebut. Tulisannya tak terlalu panjang dan rapih. Isi kertas tersebut adalah,
"Suamiku....
Aku sangatlah bersyukur dengan hubungan kita berdua
Maafkan keegoisanku yang mendadak memutuskan hubungan ini
Aku merasa bahwa keputusanku sudahlah tepat dengan memilihmu
Hanya saja aku ingin sekali menyampaikan sesuatu yang penting bagimu
Bukannya diriku suudzhon
Tetapi tempat yang sedang kamu tempati itu sudah bukan tempatmu lagi
Aku pun memperingatkan dirimu untuk pegi dari situ
Dari informasi yang aku dapat
Tempat tersebut akan menjadi sasaran daripada penjahat
Mereka berencana untuk merampas semuanya
Jumlah mereka pun sangatlah banyak
Oleh karena itu aku mohon agar dirimu menjauh
Aku tidak ingin melihatmu lebih menderita
Maafkan aku yang terlalu mendadak memberitahumu
Semoga dirimu baik-baik saja
Aku harap kita dapat bertemu kembali diwaktu yang tepat
Dengan penuh harapan dan cinta
Akarui Hikari
Istri setiamu yang selalu menunggu"
Tak disangka, ternyata surat tersebut sangatlah penting. Hadad begitu terkejut hingga terdiam tak mampu untuk berkata. Surat peringatan tersebut sangatlah membantu dirinya untuk tetap waspada. Akhirnya diapun bergegas kekamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum keberangkatannya.
Setelah mandi, Ia pun segera membangunkan Layyin dan Mor. Keduanya tampak nyenyak tertidur dikamar mereka. Awalnya Hadad tidak tega untuk membangunkan keduanya, namun ia tidak punya pilihan lain. Ia tidak ingin keduanya dilanda kesulitan. Karena ia merasa berhutang budi kepada keduanya. Seketika Hadad pun segera membangunkan keduanya.
Setelah itu ia pun memberitahukan keduanya bahwa dirinya akan berpamitan. Terkejut akan hal tersebut, keduanya pun segera bangun dari tidur mereka. Hadad pun menunggu keduanya diruang tamu. Pagi hari itu sangatlah dingin karena waktu masih menunjukkan pukul lima. Kabut yang menyelimuti desa begitu tebal terlihat dari luar jendela rumah. Hawa dingin yang menusuk kulit sangatlah terasa. Cuaca yang mendung pun semakin menambah gelapnya hari ini. Matahari pun tidak terlihat kemunculannya. Sungguh hari yang menegangkan bagi Hadad.
Layyin dan Mor pun datang keruang tamu dengan keadaan yang sudah terbangun sepenuhnya. Mereka heran mengapa Hadad tiba-tiba berpamitan kepada mereka. Hadad pun mempersiapkan tempat duduk yang biasa mereka gunakan sebagai tempat untuk mengobrol santai ketiganya. Wajahnya yang sedikit tegang mulai menjelaskan situasi yang akan mereka alami di desa tersebut.
"Dad kenapa sih pagi-pagi gini ka mu ngebanguninnya?" Ucap Mor sambil agak menguap.
"Iya kak Hadad, gak seperti biasanya kak Hadad." Tutur Layyin.
"Maaf ya aku mendadak membangunkan kalian berdua, sebenarnya hari ini akan terjadi........"
Tiba-tiba gempa mengguncang desa tersebut dengan skala yang lumayan besar. Ketiganya panik dan mulai mencari tempat untuk berlindung. Gempa tersebut berlangsung selama sepuluh menit lamanya. Anehnya gempa tersebut seakan datang bukan dari kenampakan alam, melainkan dari suatu makhluk besar yang sedang berjalan.
Disaat gempa sudah berhenti Hadad pun segera melihat keadaan sekitar rumah, untungnya tidak ada kerusakan yang fatal. Korban jiwa pun tidak terlalu banyak, hanya luka ringan dan berat yang dialami oleh warga desa. Gempa tersebut sangatlah misterius, karena sebelumnya didaerah tersebut belum pernah terjadi gempa selama ribuan tahun lamanya. Suatu hal yang tabu bagi masyarakat. Hanya saja semua kejadian tersebut seakan terjawab dengan sendirinya.
Disaat Hadad menemukan suatu makhluk besar dihutan yang sedang mencari sesuatu. Makhluk tersebut perlahan mulai mendekati desa dan menghancurkan setiap benda disekitarnya. Setelah melihat hal tersebut, Hadad langsung beranjak memberitahu masyarakat desa, namun semua itu sudah terlambat. Karena desa tersebut sedang dalam fase awal kehancuran.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments