"Pola kehidupan seseorang itu dapat ditentukan ketika ia sudah beranjak dewasa. Setiap hal disekelilingnya dapat berdampak pada pola itu. Sikap dan kebijakan pula turut serta didalamnya. Hanya saja setiap insan seringkali melupakan hal tersebut. Padahal pola kehidupan seseorang itu dapat mempengaruhi dirinya dan sekitarnya. Semakin teratur pola kehidupan seseorang, maka akan semakin baik pula hidupnya. Namun apabila tidak maka hal yang sebaliknya akan menjadi tanggungannya. Maka perbaikilah pola kehidupanmu hari ini, demi masa depanmu nanti."
Sesaat Hadad membayangkan dirinya dimasa lalu. Senja yang ia rasakan di dunia ini sangatlah berbeda dengan dunia sebelumnya. Karena ketika senja tiba, Hadad biasanya melakukan kegiatan prioritasnya dengan sukacita. Hanya saja keuletannya seringkali diabaikan oleh sekitarnya. Kadang kerja keras yang dilakukannya hanya menuai hasil positif bagi lingkungannya saja. Dirinya sendiri hanya merasakan keletihan tanpa perhatian. Hadad pun saat itu hanya bisa melakukan hal yang terbaik untuk orang-orang sekitarnya. Jarang sekali ia memikirkan kehidupan pribadinya. Ia pun melakukan prioritasnya dengan kegigihan tanpa pamrih.
Jabatan yang dimiliki hanyalah sebatas aksesoris. Karena pada dasarnya ialah yang bakal menanggung segala konsekuensinya. Orang-orang yang membantunya tidaklah banyak. Bahkan ia merasa muak dengan sikap mereka yang hanya membutuhkannya saja tanpa bertanya kesibukan yang sedang ia hadapi. Tidak ada daya dan upaya yang dilakukannya melainkan pekerjaan dengan hasil nyata yang disia-siakan setelahnya. Sungguh peristiwa kelam yang ia miliki. Namun hari ini Hadad lebih merasakan arti kebebasan sebenarnya. Belenggu yang ia pakai diwaktu itu seakan terlepas dengan sendirinya. Kewajiban yang dilakukannya pun telah tiada. Orang yang membencinya pun tak akan ia lihat kembali. Walau sedih rasanya, ketika berpisah dengan orang yang mendukungnya selama ini. Hadad masih tetap tegar menghadapi situasi tersebut. Karena ia tahu bahwa suatu hari ia dapat kembali mendapatkan hal yang lebih istimewa daripada hari kemarin. Terbukti saat ini kebahagiaan mulai menyelimuti perasaannya.
Kekhawatiran,keragu-raguan,kepasrahan, dan sifat buruk dalam dirinya mulai menghilang jejaknya. Hadad semakin hari semakin membuat dirinya lebih ideal untuk dirinya. Suatu saat ia akan senang dengan pengorbanannya dimasa lau. Karena hari ini dia sudah mendapat gambaran kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya.
Beberapa jam lamanya telah Hadad habiskan dengan gadis yang baru ia kenal. Seakan chemistry keduanya terjalin dengan sendirinya. Semakin lama bersama maka semakin akrab keduanya. Hadad yang merasa nyaman disebelahnya membuat gadis itu merasakan hal yang sama. Rasa cinta pun perlahan tumbuh diantara keduanya. Langit semakin menguning. Matahari semakin tenggelam dan menepi dari keberadaannya. Waktu yang tenang semakin berakhir. Ukiran tinta emas yang baru sudah tertulis sebagai sejarah pertemuan keduanya. Sesaat suasana menjadi semakin hangat dan nyaman. Tempat duduk yang terbuat dari kayu di taman itu menjadi tempat mereka bersantai diakhir hari ini. Hadad duduk disebelah kiri gadis tersebut dengan merentangkan tangannya dibelakang kursi taman itu.
"Aku sangat bersyukur loh.... Dapat bertemu orang seperti dirimu." Ucap Hadad dengan bangganya.
"Aku juga sangat bersyukur dapat bertemu sosok yang baik dan peduli terhadap diriku ini." Tutur gadis tersebut sambil bersandar disebelah kiri lengan yang Hadad rentangkan.
"Apakah besok kita akan kembali bertemu...?"
"Tentu saja, kita kan sudah resmi menikah secara perjanjian"
"Ya juga sih.... Tapi kan ini terlalu mendadak bagiku."
"Berat diawal tapi ringan diakhir kok. Kalau kita menjalani semuanya dengan baik kita pasti akan tetap bersama."
"Aku pun berharap begitu...., Oh iya aku lupa satu hal yang penting ! Kalau boleh tau siapa namamu?" Tanya Hadad dengan penuh keberanian yang sudah ia kumpulkan sebelumnya.
"Masa suami lupa sama nama istrinya sendiri sih......" Jawab gadis tersebut.
"Eeeeeeh....? Aaaku serius loh bertanya seperti ini, soalnya daritadi aku masih penasaran dengan pertanyaan ini."
"Yaudah deh apa boleh buat, sekarang akan aku beritahukan namaku kepadamu. Tapi dengan satu syarat..." Ucapnya sambil menggoda Hadad.
"Emang syaratnya apa? Jangan yang berat-berat yah, soalnya aku masih belum terbiasa disini hehe...."
"Iya deh aku pasti beri syarat yang pasti bisa kamu lakukan kok."
"Nah gitu dong, jadikan aku bisa menepatinya."
"Baiklah, sebelum itu perkenalkan terlebih dahulu. Namaku Akarui Hikari. Aku berasal dari ras Gadis cuaca dan lahir serta besar di ibukota Majutsu shi no yoso." Tuturnya dengan nada yang sopan.
"Salam kenal juga, namaku Hadad Romli seorang pengembara tulen yang senang berkeliling dunia."
"Wow aku baru tau kalau kamu pengembara loh...."
"Hehe aku juga baru memulainya kok."
"Menarik juga ya hobimu itu. Mungkin suatu saat kamu harus bertualang bersamaku."
"Iiiii...iya aku usahakan. Ujar Hadad dengan wajah yang memerah karena malu .
"Oh iya Akarui, untuk mengenai persyaratannya tadi, aku harus seperti apa ya?" Tanya Hadad.
"Nih aku sudah tuliskan syarat-syaratnya di kertas ini. Nanti kamu baca yah..."
"Baik semoga aku dapat melaksanakannya dengan baik."
"Kamu juga mulai hari ini harus memanggil namaku dengan panggilan yang akrab, soalnya kita kan sudah jadi suami istri." Pintanya.
"Waduh....panggilan seperti apa ya? Aku masih malu untuk hal seperti itu..." Ucap Hadad
"Pokoknya harus panggilan yang terdengar romantis."
"Yasudah deh, berarti mulai hari ini kamu boleh panggil aku Romli dan sebagai gantinya aku akan memanggilmu Hikari."
"Yah.... kirain mau panggil aku sayang... KECEWA DEH....." Tuturnya sambil menunjukkan wajah yang imut.
"Jjjjjangan sekarang dong, aku masih belum siap...."
"Baiklah aku terima alasanmu itu, tapi kamu jangan lupa untuk melaksanakan janjinya ya suamiku." Ucap Hikari dengan nada yang sedikit menggoda.
"Iiiiiya akan aku laksanakan..... Kamu jangan curang dong, kan kita sudah setuju buat panggilan namanya." Jawab Hadad dengan malu-malu.
"Hehehehe.... iya deh iya..." Jawabnya dengan penuh keceriaan.
Mereka pun saling berpamitan satu sama lain dan mulai berjalan terpisah kearah rumahnya masing-masing. Disaat Hadad baru saja memulai langkahnya, tiba-tiba Hikari memeluknya dengan erat dari belakang sambil berbisik ke telinga Hadad.
"Aku sangat mencintaimu suamiku...."
Mendadak Hadad terdiam malu sejenak dan menghentikan langkah kakinya. Hikari pun tertawa melihat sikap Hadad yang berubah seketika dan langsung berlari setelah kejadian tersebut. Mereka pun akhirnya melanjutkan langkah kaki mereka kearah yang mereka tuju.
Sesampainya dirumah Hadad sudah disambut oleh kedua temannya. Mor dan Layyin sudah mempersiapkan jamuan untuk makan malam. Beruntung sekali Hadad, karena ia dapat menikmati kembali masakan yang sangat ia sukai. Disaat itulah Mor tiba-tiba bertanya kepada Hadad,
"Darimana saja sih kamu dad, masa dari pagi sampai sore baru pulang? Apakah memang seseru itu berjalan-jalan di desa?" Tanya Mor kepada Hadad.
"Yyyyaaaa begitulah, banyak hal yang terjadi hari ini soalnya." Jawab Hadad dengan sedikit gemetar.
"MMMMMMMMM........Mencurigakan nih.... Jangan-jangan ada suatu hal yang spesial nih? Cerita dong aku penasaran nih"
"Enggak kkkkok, cuman jalan-jalan saja tidak lebih."
"Masa sih....? Aku masih gak percaya loh.... Coba aku serahkan ini kepada Layyin saja." Ucapnya sambil memanggil Layyin yang sedang berada di dapur.
"Ada apa kak memanggil Layyin?" Tanyanya dengan sedikit kebingungan.
Mor pun langsung mengatakan apa yang baru saja ia bicarakan dengan Hadad kepada Layyin sambil berbisik.
"Oh begitu toh.... Iya iya Layyin mengerti kak." Tutur Layyin sambil mengangguk.
"Jadi kak Hadad itu kemana saja sih selama ini? Kok baru pulang sore? Padahal tadi pagi katanya mau jalan-jalan di desa, tapi kok bisa selama itu ya? Apa memang ada sesuatu yang terjadi dengan kak Hadad?" Tanya Layyin sembari mendekati Hadad dengan kursi yang sedang ia duduki. Begitu pula dengan Mor. Keduanya sangatlah penasaran dengan apa yang akan dijawab oleh Hadad nanti.
"Bbbbaiklah akan aku jelaskan, tetapi tolong dong kita makan dulu. Nanti takut keburu dingin makanannya." Ucap Hadad sambil memegang perutnya yang sudah keroncongan dan berbunyi beberapa kali.
"Waduh.... maaf ya kalau kami terlalu memaksamu menjawab, yaudah mari kita makan malam terlebih dahulu." Ujar Layyin sambil membawa beberapa masakan yang telah ia buat di dapur.
Mereka bertiga pun akhirnya sepakat untuk menyantap makan malam terlebih dahulu. Suasana ruang makan yang tadinya menegangkan pun berubah menjadi hangat kembali dengan obrolan santai mereka. Setiap masakan yang dibuat oleh Layyin sangatlah lezat, walau terkesan sederhana. Namun masakan tersebut setara dengan masakan hotel bintang lima. Belum lagi rempah-rempah yang digunakan dalam masakannya pun begitu bervariasi dan membuat masakan tersebut sangatlah berharga. Hampir belasan piring yang telah dihabiskan oleh ketiganya. Khususnya Hadad yang terus-terusan menambah makannya. Setelah kenyang Hadad dan yang lainnya beristirahat sejenak. Suasana pun kembali menegang.
"Jadi bagaimana kalau kak Hadad menjelaskan kepada kami perihal kejadian hari ini?" Tanya Layyin dengan serius.
"Baiklah....jadi sebenarnya tadi......."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments