"Banyak hal tidak bisa kita prediksi. Setiap kejadian yang kita alami pun seakan kita hadapi dengan spontan. Walau ekspetasi kita yang ingin melebihi kapasitas nalar yang ada. Akan tetapi realita kerap kali membuat semuanya sirna hingga hampa. Prediksi yang sesuai ekspetasi adalah suatu kapasitas yang tak bisa ditandingi kesenangannya. Namun prediksi yang tak sesuai ekspetasi malah membuat kecewa dikala kita sudah susah payah bergantung padanya."
Keadaan desa Lailatu Haadiat sudah porak poranda akibat gempa yang telah terjadi. Fenomena ini sudah memakan korban jiwa yang tidak berdosa. Melahap satu persatu perumahan yang dimiliki. Tawa dan canda yang kerap kali terlihat disini, berubah menjadi tangis dan ketakutan dengan sekejap mata. Semua kesulitan menghadapi bencana yang entah darimana asal muasalnya. Ekosistem yang sudah terstruktur lama semakin hilang eksistensinya. Warga sekitar hanya mengharap perlindungan yang maha kuasa agar dapat meniadakan bencana yang ada.
Hadad semakin gelisah tatkala ia pandang tempat kedamaian yang selalu ia dambakan. Prediksi surat dari Hikari benarlah terjadi. Disaat keadaan genting yang datang tiba-tiba, sesosok makhluk raksasa datang dengan ancamannya dari ujung desa. Belum lagi semuanya semakin diperparah dengan kedatangan bandit dan perampok yang entah darimana asalnya. Mereka menapakkan kaki mereka dengan rasa ujub. Merampas dan menodong setiap insan yang sedang ketakutan.
Hadad semakin tersiksa melihat keadaan sekitar. Ia panik tak karuan. Berulang kali ia mengacak rambutnya dengan penuh kekesalan. Dirinya tak mampu membantu menegakkan keadilan yang sedang terinjak dihadapan matanya. Hingga akhirnya Hadad hanya bisa pasrah melarikan diri demi keselamatannya.
Ia berlari dengan kecepatan yang ia miliki. Berharap semua dapat berakhir dengan cepatnya. Akan tetapi dirinya malah merasakan penyesalan yang tak terbendung rasanya. Mungkin dirinya akan dicap pengecut. Tak memiliki mental kuat untuk menghadapi kenyataan. Orang yang semakin dekat dengan sikap acuh tak acuh. Tak heran apabila dirinya akan dikucilkan oleh penduduk desa. Sikap penakutnya semakin membuat dirinya menjauh dari realita yang ada. Hadad menyegerakan langkahnya menjauh dari desa. Dia tak memperdulikan keadaan disekitarnya. Ia bahkan melupakan dua temannya yang sedang kesulitan.
Sungguh hal yang mengurangi rasa respeknya. Namun apa boleh buat, setiap bencana yang terjadi selalu membuat seseorang lebih mementingkan keselamatan dirinya dibandingkan orang lain.
Rute yang ia lewati sangatlah jauh dari padatnya penduduk. Pelariannya semakin jauh semakin tanpa tujuan dan arah yang pasti. Hingga ia pun tiba di suatu tempat yang tak berpenghuni. Disekelilingnya hanya terlihat pepohonan besar yang menghalangi sinar matahari. Suasana yang sepi juga dingin membuat tempat tersebut menjadi tempat yang tenang dan damai. Hanya saja makhluk hidup yang berada disini masih membingungkan keberadaannya. Karena Hadad memikirkan bahwa suasana ini sama seperti pepatah yang pernah ia dengar yakni, Air yang keruh menampakkan kekurangannya walau berbahaya. Namun air yang jernih kerap kali menyembunyikan sesuatu yang lebih berbahaya dari air yang keruh.
Lalu Hadad pun mengumpulkan keberaniannya agar dapat bertahan hidup ditempat tersebut. Berbekal pengetahuan seadanya. Hadad mencoba menerapkan sikap survive yang biasanya dia lihat pada game dan acara televisi di dunia sebelumnya. Sedikit demi sedikit Hadad mengumpulkan bahan dan barang yang akan membantunya dalam keadaan genting tersebut. Mulai dari mencari akar dan dahan kayu yang bisa dibuat api unggun, tumbuhan yang dapat dimakan, sumber air dari tempat yang terjangkau, dan fasilitas lainnya. Awalnya dia menemukan suatu gua didekat bukit tempat ia tinggal. Hanya saja pengalaman buruknya dimasa lalu membuatnya tidak ingin memasuki dan berhadapan dengan hal-hal tersebut.
Ketika semua barang sudah didapatkan, Hadad pun mulai merangkai semuanya dengan hati-hati. Membuat rumah sementara dari kayu, membuat perapian api unggun, merakit peralatan memasak dan berburu, serta membuat pakaian dari dedaunan. Sungguh hal primitif yang sering ia bayangkan disaat menonton film tentang jaman purba. Tak disangka ternyata ia pun merasakan hal yang serupa. Setiap barang sudah siap, Hadad pun mulai menata semuanya. Setelah beberapa saat kemudian ia pun dapat menyelesaikan semua. Lalu rasa lapar pun mulai dirasakannya. Ia merasa bahwa makanan yang ia miliki masih belum cukup persediaannya. Sehingga ia kembali kedalam hutan untuk mencari makanan lainnya.
Saat dirinya mengelilingi tempat yang baru, ia dikejutkan dengan penampakan bercak darah yang terukir dekat sungai yang sedang ia lewati. Darah tersebut sangatlah banyak. Karena dari bentuknya saja seperti memanjang. Seakan-akan memperlihatkan suatu kejadian yang tidak diinginkan baru saja terjadi disitu.
"Aku rasa darah ini masih segar, sebab tapaknya masih tebal dan baru." Tutur Hadad sembari menyentuh tanah dengan bercak darah tersebut.
"Kalau dilihat dari rutenya seperti orang yang sedang diseret dengan luka yang cukup dalam."
"Tapi aku penasaran makhluk apa yang dapat mengeluarkan darah sebanyak ini."
"Sepertinya aku harus mengeceknya sebelum terjadi sesuatu." Ucapnya.
Hadad pun mulai mempercepat langkahnya mengikuti arah dari bercak darah itu terlihat. Darah tersebut semakin ditelusuri arahnya semakin tipis pula wujudnya. Hingga akhirnya Hadad pun tak menyadari dirinya telah dituntun kedalam gua dekat bukit. Suasana yang hening pun mulai terasa. Kulitnya sangat sensitif untuk merasakan hal tersebut.
Perasaannya yang ketakutan pun kembali menghantuinya. Sekelilingnya yang cerah telah menjadi kegelapan. Karena sudah hampir setengah jalan, Hadad merasa dirinya harus tetap mengikuti arah bercak darah itu. Walaupun hatinya menolak perlakuannya. Rasa penasaran yang tinggi pun seakan mengambil kesadarannya. Ia dituntun semakin dalam dan semakin jauh dari pintu masuk gua.
Tiba-tiba dirinya mendengar suara aneh dari ujung gua. Suara makhluk hidup yang menakutkan. Suara tersebut seperti perlahan mendekati Hadad. Hadad yang merasakan bahaya yang akan menghampirinya segera mencari tempat bersembunyi. Dan benar saja ternyata suara itu berasal dari sosok makhluk besar penghuni gua tersebut. Makhluk ini tidak terlalu jelas posturnya, akibat keadaan gua yang terlalu gelap. Hanya saja makhluk tersebut dapat berbicara dengan bahasa yang dapat Hadad mengerti.
"Nampaknya aku sedang kedatangan tamu yang tak diundang disini." Ucapnya dengan suara yang menyeramkan.
"Tapi baunya seperti makhluk yang belum pernah aku lihat. Ini sangat menarik, aku semakin bernafsu untuk segera menemukan dan memakan makhluk tersebut. Rwroooooooar" Ujarnya sambil mengeluarkan suara Auman yang keras.
Auman tersebut mirip sekali dengan auman singa. Hanya saja Auman nya lebih berbahaya. Hal tersebut dapat dirasakan oleh Hadad disaat dirinya terus gemetar mendengar suara tersebut. Tak ingin mengambil resiko yang besar, Hadad pun langsung mencari jalan keluar dari tempat tersebut. Namun ternyata cara itu sangatlah sulit untuk ia lakukan. Karena makhluk besar tersebut sudah semakin dekat dengan dirinya.
"Dimana kau makhluk kecil keluarlah, sebelum aku mengeluarkan jurus Auman pamungkas ku." Ucap makhluk tersebut.
"Jikalau kau tetap bersembunyi terus seperti ini, maka aku akan segera menghancurkan semua yang menghalangi jalanku ini untuk memakan mu."
"Krakkkk....." Suara yang tiba-tiba muncul dari kayu yang telah Hadad bawa sebelumnya.
Kayu tersebut tak sengaja ia injak disaat akan melarikan diri. Suatu hal kecil yang sangatlah fatal dan menyebabkan Hadad semakin disadari keberadaannya oleh makhluk tersebut. Makhluk itu segera mengeluarkan senjata dari tangannya yang mirip dengan cakar singa, namun lebih tajam beberapa kali lipat. Karena cakar tersebut dapat menghancurkan bebatuan disekitarnya dengan sekejap mata. Hadad tetap bersembunyi tanpa melakukan apapun. Ia menunggu momen yang tepat untuk kabur dari tempat itu.
Naasnya pergerakan Hadad sudah terbaca oleh makhluk tersebut, sehingga Hadad pun mempercepat larinya. Tapi apa daya, ternyata makhluk tersebut memiliki sihir yang besar. Sehingga dapat membuat mangsanya membeku disaat ia sedang menatapnya. Seketika Hadad pun mendadak diam dan tak bisa melanjutkan langkahnya. Ia tak sempat melihat sosok makhluk tersebut karena tatapannya.
Hingga akhirnya makhluk tersebut merobek tubuhnya dari belakang punggungnya. Cakarannya mengoyak setengah bagian badan Hadad hingga beberapa kali. Hadad semakin merasakan kesakitan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Semakin lama semakin tercabik-cabik tubuhnya. Hingga akhirnya Hadad pun kehilangan kesadarannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments