Happy Reading!
•
•
Zac mengejar Markisa ke kemar, Markisa tampak melepas bajunya yang membuat Zac membalikkan wajahnya karena tidak sengaja melihat hal itu.
"Kenapa kau masuk? Kau ingin melakukan hal Itu lagi padaku?" tanya Markisa yang beralih melilitkan handuk dari area dadanya kebawah.
Zac membalikkan badannya dan menelan ludahnya. "Jangan gila! Bagiku melakukan hal itu adalah najis! Aku tidak mencintaimu dasar kau gadis j*al*ang, kau yang menjebakku dalam kamar itu, kau benar-benar sampah,"
Markisa tersenyum miring kemudian berjalan ke hadapan Zac dan melihat benda pusaka dibawa sana menegang, apakah ini istilah membohongi diri sendiri?
"Kenapa kau masih berpikir bahwa aku yang melakukannya?" tanya Markisa pada Zac.
"Lantas, siapa? Kau itu benar-benar sampah dimataku," jawab Zac menatap tajam Markisa.
Markisa mengelus pipi Zac lembut dan memberinya sentuhan sensitif. "Kalau begitu menurutmu, kau harus bersyukur mempunya istri seagresif diriku,"
Zac memundurkan langkahnya beberapa kali dan menatap tajam Markisa yang sedang berusaha menggodanya, ini adalah bagian dari rencana Markisa untuk membuat Zac bertekuk lutut.
Markisa melepas handuk yang melilit tubuh nya, membiarkan tubuhnya terekspos sempurna dihadapan Zac, Zac yang melihat itu mati-matian dengan pendiriannya bahwa dia tidak akan melakukan hal itu kepada Markisa lagi, karena bagi Zac itu adalah hal yang menjijikkan.
"Jangan menggodaku! Kau wanita menjijikkan!" teriak Zac pada Markisa.
Markisa tidak menggubris Zac, dia berjalan ke arah Zac dan meremas rudal milik Zac. "Kurasa batanganmu lebih jujur dari dirimu, mau bermain sejenak? Aku bisa lebih agresif dari malam itu."
Zac terdiam, entah apa jurus Markisa, ia terdiam kaku, selama hidupnya, Zac tidak pernah dibuat seperti ini, dia adalah seorang Diktator kejam yang harus mendapatkan apapun dengan uang, bahkan dia sudah dua kali menduda karena ditinggal mati istrinya dahulu, namun Markisa berbeda dari kedua mantan istrinya.
Markisa mendorong tubuh Zac sehingga Zac jatuh keatas ranjang, Zac yang memang sudah dikuasai Nafsu menjadi pasrah seketika saat Markisa melucuti pakaiannya.
"Ready?" bisik Markisa ditelinga Zac dan mengigitnya kecil.
Zac yang sudah tanpa sehelai benang pun sama dengan Markisa, Markisa menciumi dada Zac dari atas sampai tiba pada rudal milik suaminya itu, sesuai rencana Markisa, Zac mulai tergoda.
"Akan kuberikan kau pelayanan terbaik, sampai kau lupa kalau ada wanita lain selain diriku, bersiaplah bertekuk lutut sayang," batin Markisa.
Markisa beralih mengocok pelan milik suaminya itu yang membuat Zac mengadu pelan, tidak tahan dengan perlakuan Markisa, Zac segera membalikkan keadaan, dia menindih Markisa dan membuat Markisa tersenyum sinis.
"Sesuai rencana, kau masuk perangkapku tuan,"
"Kita akan melakukan ini tanpa dasar cinta! Anggap saja ini hakku sebagai suami, kau sepenuhnya sampah dimataku, jadi jangan berharap, Nona." ujar Zac melebarkan kaki Markisa sehingga membuat milik Markisa terpampang jelas dihadapan Zac.
"Sepertinya sampah ini akan menikmati sampah lainnya," jawab Markisa mengalungkan tangannya dileher Zac.
Zac mulai memasukkan rudalnya ke milik Markisa dan mulai menggennjot perlahan, suara ******* dari Markisa dan Zac menjadi backsound dari kejadian malam ini.
Ah ... Ah ... Ah
Zac masih terus menggenjot dalam posisi yang sama, sebelum Zac merubah posisinya miring ke kanan, tangan kirinya memeluk erat leher Markisa sembari sesekali mencium leher Markisa yang membuat tanda merah disana.
Suara lenguh dari Markisa yang sudah kehilangan ke perawanannya sebelum melakukan ini, memenuhi seisi kamar, andai saja ruangan itu tidak kedap suara sudah pasti, erangan Markisa dan Zac akan membuat tetangga mereka bertanya-tanya.
"Kau hebat, Zac!" jerit Markisa saat Zac mendorong rudalnya dalam satu hentakkan yang membuat Markisa tersentak.
"Kau benar-benar sampah!" bisik Zac mempercepat genjotannya sembari menciumi Markisa
"Ah, bagaimana sialan! Enak?" bisik Zac lagi.
"Seharusnya aku yang bertanya, enak? Ku pasti kan kau terjerat dalam pesonaku." batin Markisa.
Keringat membasahi tubuh Zac yang masih semangat menggenjot Markisa, Zac menarik rambut Markisa sehingga membuat Markisa menengadah keatas.
Lalu dengan gaya face to face, Zac menggendong Markisa dan menyandarkan tubuhnya ditembok sebelum melanjutkan genjotannya dalam keadaan berdiri.
Zac tidak berhenti memberikan ciuman ke leher Markisa yang membuat Markisa mengerang sampai akhirnya, dengan sekali hentakkan cairan Zac langsung menyembur keluar didalam rahim Markisa.
Zac yang masih terengah-engah memeluk Markisa dalam kondisi rudalnya masih bersarang di milik Markisa, setelahnya mereka limbung diatas ranjang.
Ting!
Sebuah pesan dari Milo masuk ke ponsel Markisa yang membuat Markisa mengambil ponselnya yang ia taruh diatas nakas.
"Scandal Model Dove Mourt! Rencana kita sudah hampir berhasil," tulis Milo menyertakan link berita skandal Dove.
Markisa yang melihat itu tersenyum puas dalam satu hari ini dia menjalankan dua rencana yang semuanya berjalan dengan baik.
•
•
TBC
Zac
betewe ada yang nanya bukannya nama tuan Mourt Dancow yah? bener namanya Dancow Kopiko Mourt, jadi bisa dua-duanya.
/Padahal author yg salah tulis hahahaha
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Dyah Oktina
kel.mourt... ada lah keluarga aneka rasa minuman panas & coklat juga minuman segar markisa... hahahaha... ada2 aja halu mu thor
.
2024-01-04
0
Qina Zahra
apa mungkin nanti ada nama pembalut tapi aq suka bacanya muga sukses
2023-04-11
0
mahda ilvi
AQ mau tanya pas author nulis nama2 itu aslinya ketawa nggk sih...AQ yg baca malah ngakak tiap baca nama🤣🤣
2023-02-11
0