Happy Reading!
•
•
Setelah pertengkaran semalam yang berakhir dengan Zac yang mengalah, akhirnya Markisa tetap tidur di ranjang Zac, sedangkan Zac memilih tidur disofa yang ada di ruangan itu, ia tidak habis pikir kenapa sifat diktator dan kekejamannya sangat tidak mempan pada Markisa.
Semalaman memikirkan itu membuat Emosi Zac kembali memuncak mana kala ditatapnya Markisa yang tertidur tanpa bebas di ranjangnya, sungguh itu adalah hal yang membuat Zac kesal.
Tak lama kemudian Zac memilih tidur dan memikirkan rencana bagaimana menyingkirkan Markisa dari kehidupannya.
•
Markisa terbangun dari tidurnya, jam dinding dikamar menunjukkan angka pukul enam pagi, hari ini dia tidak masuk kerja begitupun dengan Zac, pasca pernikahan dadakan itu, baik Zac maupun Markisa diminta untuk mengambil cuti selama seminggu, dan hal itu sangat disukai oleh Zac karena dia bisa menyiksa Markisa nantinya.
Markisa berjalan ke kamar mandi didalam kamar itu, membasuh wajahnya dan menggosok giginya sebelum menyiapkan sarapan untuknya dan Zac, walaupun pernikahan diatas kertas balas dendam, tapi Markisa tetap melakukan hak-nya sebagai seorang istri.
Markisa berjalan keluar kamar melewati sofa tempat Zac tidur, wajah yang begitu damai namun mengapa jika bangun terlihat seperti iblis, Markisa membenarkan posisi selimut Zac sebelum berjalan keluar dari kamar untuk memasak sarapan.
"Dia pria yang sangat-sangat menyebalkan, jangan sampai kau jatuh cinta, ingat tujuan utama mu," batin Markisa memperingati dirinya sendiri.
Markisa kemudian berjalan ke dapur, melihat bajan yang ada dikulkas, untungnya rumah itu sudah disediakan bahan Makanan yang membuat Markisa hanya perlu mengelolanya.
Markisa yang pada dasarnya tidak memiliki bakat memasak hanya membuat nasi goreng sederhana dua porsi untuknya dan Zac, toh dia tidak peduli Zac akan memakannya atau tidak.
Setelah selesai memasak, Markisa menaruh dua porsi nasi goreng di meja makan, setelahnya dia kembali lagi ke kamar untuk membangunkan Zac.
Berat rasanya bagi Markisa, namun hal itu harus dia lakukan, Markisa menggerakkan bahu Zac berusaha membangunkannya, namun bukannya bangun, Zac malah menggeliat dan tanpa sengaja membuat Markisa jatuh menindihnya, melihat itu Zac dan Markisa sama-sama membuka matanya lebar.
Markisa yang terkejut langsung berdiri dan mencoba untuk tenang agar tidak terkesan kaku dihadapan Zac. "Sarapan sudah jadi,"
Setelah mengucapkan kalimatnya, Markisa kembali keluar dari kamar, meninggalkan Zac yang menatapnya penuh dendam. "Hanya kalimat itu? Gadis ini benar-benar harus ku singkirkan."
Zac kemudian bangkit dari tidurnya, ia berjalan ke arah kamar mandi dan membasuh wajahnya sebelum keluar dari kamar menuju meja makan, di meja makan sendiri sudah ada Markisa yang menunggunya.
Zac langsung mengambil kursi dan duduk menatap nasi goreng buatan Markisa yang menurutnya sangat menjijikan.
Markisa yang melihat Zac tidak menyentuh makanannya tidak terlalu menghiraukannya, toh dia sendiri yang rugi jika tidak mau makan, kenapa Markisa harus ambil pusing.
Zac yang merasa kesal disajikan masakan yang sama sekali tidak pernah dia makan lantas mengambil piring tersebut dan membantingnya ke lantai.
Prangg
Suara piring yang dibanting oleh Zac beserta nasi goreng itu membuat Markisa tersentak, entah ingin menabuh genderang perang didi sepagi ini, Markisa hanya menatap sekilas Zac kemudian menyantap makanannya sendiri.
"Buatkan aku yang lain, aku tidak ingin makan makanan sampah seperti itu," ujar Zac menggebrak meja yang tidak merubah apapun pada diri Zac. "Ini perintah,"
"Ada yang salah dengan nasi goreng itu?" tanya Markisa masih santai yang membuat Zac geram.
Zac kemudian berdiri dan menghampiri Markisa dia memegang kedua bahu Markisa dan menatapnya tajam.
"Sudah kubilang! Nasi goreng yang kamu buat adalah sampah, dan semua yang aku katakan adalah benar!" bentak Zac dengan penuh penekanan.
"Lepaskan tangan menjijikkan itu dari badanku. Tuan,"
Markisa yang mendengar itu hanya mengangkat alisnya dan menyingkirkan tangan Zac dari bahunya kemudian mengambil ponsel miliknya.
"Segera buatkan aku makanan lain!" teriak Zac lantang.
Markisa tanpa mempedulikan Zac, mengotak-atik ponselnya dan menyerahkannya kepada Zac. "Kau punya otak kan? Silakan pesan sendiri,"
Markisa melemparkan ponsel itu ke meja, kemudian berdiri dan mengambil piring nasi gorengnya. "Kau lupa aku istrimu, bukan pembantumu."
Setelahnya Markisa berjalan ke arah ruang tamu, meninggalkan Zac di dapur yang masih kesal tidak berhasil menekan Markisa.
"Baiklah! Kau yang memulai," ujar Zac dengan tatapan penuh emosi.
Zac kemudian masuk ke kamar dan mencari ponselnya yang ada di nakas, ia beralih menelepon seseorang yang membuat wajah tersenyum puas.
"Aku butuh seorang gadis malam, siang ini," ujar Zac sebelum mematikan telepon itu sepihak.
•
•
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
harwanti unyil
awas entr senjata makan tuan
2024-05-03
0
umi b4well (hiatus)
gk menghargai bangat sih...kesalll
2022-11-17
0
umi b4well (hiatus)
ihhhh...gregetan ku tengok si zac ini.mau ku tokok kepalanya tuh
2022-11-17
0