Happy Reading!
•
•
[Bagaimana rencana selanjutnya, Markisa?]
Suara dari Milo yang tersambung dengan ponsel Markisa tampak terdengar jelas di telinga Markisa, Markisa membetulkan posisi duduknya dan dengan berpikir sejenak mencoba mencari rencana baru yang pas.
[Kak Milo, setuju tidak kalau kita mengorbankan saudara kita dalam rencana kali ini, mereka berdua kan objek utamanya, dan Tango, biarkan aku yang mengurusnya]
[Semua tergantung padamu dek, Lagipula Dove dan Dairy adalah anak dari si Sialan Maura yang menjadi istri kedua Ayah dulu, Mereka bukan saudara kandung kita]
Markisa tersenyum walaupun itu tidak bisa dilihat oleh Milo, bayangannya tersentak ke beberapa tahun yang lalu.
Dimana dia lahir dalam keluarga yang tidak biasa, Ayahnya memiliki dua istri, dan masing-masing istri memiliki anak, yaitu Milo dan Dove.
Markisa sendiri sangat bersyukur ia lahir dari rahim yang sama dengan yang melahirkan Milo. Milo dan Markisa sebenarnya adalah orang yang baik sama seperti Nyonya Cimory, sewaktu Ibu kandung Dairy dan Dove meninggal, merekalah yang menghibur saudari tiri itu.
Namun bak menelan pil pahit, pengkhianatan ini membuat naluri kasian dan rasa persaudaraan Milo dan Markisa terhadap kedua orang itu luntur seketika.
[Target pertama kita siapa?]
Mendengar pertanyaan dari Milo membuat Markisa tersadar dari lamunannya, dan segera menjawab pertanyaan kakaknya itu.
[Target pertama kita Zac, membuatnya tekuk lutut dan mengemis cinta padaku, tapi mari kita tinggalkan dia sejenak, bagaimana kalau kita menghancurkan mental dan karir Kak Dove tanpa mengotori tangan kita?]
[Bagaimana caranya?]
[Sepuluh menit lagi aku akan tiba di Cafe XX, kita lanjut membahasnya disana saja, Kak]
[Baik]
Markisa kemudian mematikan sambungan teleponnya dengan Milo. Kemudian menaruh ponselnya di meja ruang tamu, setelahnya Markisa berjalan masuk ke kamar untuk berganti baju.
Rumah ini sepi, Zac entah kemana dia sudah pergi semenjak kejadian tadi pagi, Markisa tidak ambil pusing, dia akan segera menemui kakaknya untuk rencana balas dendamnya, Setelah berganti baju, Markisa berjalan keluar kamar dengan tasnya, mengambil ponselnya di ruang tamu kemudian berjalan keluar rumah.
Namun baru saja Markisa hendak keluar dari rumah, Zac dan sesosok wanita mengagetkannya dan membuat langkah Markisa terhenti disana.
"Oh, beruntung sekali kau ada disini, aku ingin kau menyiapkan kamar untukku dan gadis ini, kami ingin bersenang-senang," ujar Zac santai melirik gadis yang bergelayut manja dipundaknya.
"Oh? Hebat? Jadi kau ingin mendua? Silakan. Itu hal yang bagus, bagaimana kalau kita lomba selingkuh?" jawab Markisa tanpa beban sedikitpun yang membuat Zac menautkan kedua alisnya.
Harapannya adalah Markisa cemburu, sakit hati dan pergi meninggalkannya. Namun berbanding terbalik, Markisa malah seolah-olah tidak sakit hati sedikitpun.
Markisa kemudian menepuk pundak Zac dan berbisik ke telinganya. "Tuan Diktator suamiku, kamarnya sudah ku bersihkan. Silakan kau pake untuk bersenang-senang. Ingat pakai pengaman, aku tidak ingin wanita itu hamil dan menjadi istri keduamu, kalau itu terjadi, jangan salahkan aku jika besoknya kau terbangun dalam keadaan tidak mempunyai aset berhargamu itu,"
Mata Zac terbelalak saat Markisa meremas pelan bagian sensitifnya, selanjutnya Markisa berjalan ke arah gadis yang dibawah Zac dan menatapnya lembut tanpa dosa.
"Selamat bersenang-senang dengan suamiku, dia hebat dalam urusan ranjang, tapi apa yang lebih hebat lagi? Aku sudah melengkapi kamar itu dengan alat perekam jadi ketika kalian bersenggama aku bisa menyebarkannya sebagai jejak digital, tertarik untuk bermain?"
Gadis yang bersama Zac menelan ludahnya kasar atas ucapan Markisa barusan, ia kemudian pamit meninggalkan Zac disana bersama Markisa yang tersenyum puas.
"Kau tidak akan bisa lepas dariku, Hubby, jaga rumah, aku ingin bertemu pria lain diluar rumah dulu," ujar Markisa mengedipkan matanya dan keluar dari rumah.
Zac menahan tangan Markisa sehingga Markisa tidak jadi melangkahkan kakinya keluar dari rumah. "Menentang ku? Jangan pikir kau bisa bebas dari tanganku!"
Markisa tersenyum dan melepaskan tangan Zac darinya. "Aku hanya melawan belenggu kediktatoran mu, karena kalau aku diam saja, itu sama dengan bunuh diri,"
Markisa kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari rumah meninggalkan Zac yang masih sangat kesal dibuatnya.
Sementara itu Zac hanya menatap kesal Markisa yang perlahan menghilang dari hadapannya, rasa kesal dihatinya semakin membara, entah rencana apalagi yang harus dia lakukan untuk menyingkirkan Markisa dari kehidupannya.
"Aku tahu maksud dari ucapanmu! Akan ku buat kau tekuk lutut sampai kau menangis untuk selalu bersamaku!" teriak Zac pada Markisa.
"Aku menunggu saat itu, Tuan!" teriak Markisa balik.
•
•
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Dyah Oktina
keren ..... markisa nan segar..... lawan terus orang2 menyebalkan 😍
2024-01-04
3
🇮🇩A Firdaus🇰🇷
makin seru
2023-10-13
0
Ernadina 86
seru ih
2023-08-30
0