Happy Reading
Jangan lupa like agar Author semakin semangat update!
•
"Syukurlah gampang sekali melumpuhkannya," ujar Dairy berjalan ke arah Markisa.
Soklin, Vanish dan Dairy menatap tubuh Markisa yang sudah tidak sadarkan diri, kini mereka hanya perlu membawa tubuh Markisa keluar dari rumah sakit, sebelum asisten atau suster yang bersama Markisa kembali.
"Kenapa kau begitu dendam pada kakakmu itu, Dairy?" tanya Vanish duduk di meja kerja Markisa.
"Dia bukan kakakku!" bentar Dairy menolak pertanyaan Vanish. "Dia hanya sampah dan semua sampah harus disingkirkan, dia membuat saudara kandungku Dove membenciku sendiri, atas tuduhan penyebaran video yang tidak aku lakukan."
"Bukannya itu wajar, kalian yang duluan menjebak Markisa, jadi jika dia balas dendam, kenapa kau harus marah," ujar Soklin yang disambut anggukan dari Vanish.
"Tidak usah ingin tahu! Sekarang kita harus memikirkan cara membawa wanita ini keluar dari sini!" jawab Dairy yang membuat Soklin dan Vanish mengangguk.
Dairy beruntung karena Markisa sendirian di ruangannya, tapi Dove lupa siapa Markisa, Markisa yang sebenarnya hanya pura-pura pingsan, mengambil kesempatan itu untuk mengirimkan pesan SOS kepada Milo melalui ponsel yang tidak jauh dari dirinya, dia bisa saja kabur namun permainan baru akan dimulai.
"Kita langsung bawa saja dia, lagipula kondisi ruang lobby sedang sepi," usul Soklin.
"Jangan terlalu terburu-buru, tapi kalau sudah begini aku juga bingung harus apa, bagaimana kalau aku mengambil mobil dan bersiap-siap sementara kalian langsung lari dengan membawa tubuh Markisa kedalam mobil, kalau rencana ini berhasil kita akan aman," jawab Dairy menatap tubuh Markisa.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Soklin dan Vanish setuju dengan rencana Dairy. Soklin dan Vanish kemudian bersiap memapah tubuh Markisa sementara itu Dairy menyiapkan mobilnya, dan benar saja rencana mereka kali ini berhasil, mereka berhasil membawa tubuh Markisa masuk ke mobil tanpa ketahuan siapapun.
"Mau kita bawah kemana dia?" tanya Soklin saat Dairy mulai menjalankan mobilnya meninggalkan area rumah sakit.
"Aku sudah punya rencana yang bagus," jawab Dairy dengan sorot mata tajamnya.
"Kalau nanti Kakak dan Suaminya mengetahui bahwa dia diculik, kita akan dalam bahaya, lebih baik hanya memberinya pelajaran jangan sampai membahayakan nyawanya," usul Vanish yang disambut anggukan kepala dari Soklin.
"Justru itu yang bagus, memancing dua tikus dengan tikus," Dairy menyeringai kecil.
Markisa yang hanya berpura-pura pingsan mendengar semua rencana mereka dan membuat Markisa lebih pintar mengatur rencana ketika bantuan sudah datang.
"Dasar, Kalian bedebah, sialan!" batin Markisa.
•
Sementara itu Milo yang tengah menyelesaikan pekerjaan kantornya yang tertunda beberapa hari karena membantu Markisa, tampak sibuk dengan layar monitor dihadapannya, sebelum pesan SOS dari Markisa masuk ke ponselnya.
Setelah menerima ponsel tersebut, Milo segera menutup laptopnya dan mengabari Zac bahwa Markisa dalam bahaya, Zac yang juga sibuk dengan urusan kantornya yang dia tinggalkan dan baru sempat dia kerjakan.
[Halo?]
Zac mengangkat telepon dari Milo sembari mengecek beberapa laporan keuangan dan income dari kantornya.
[Zac, Markisa dalam bahaya, kita bertemu di rumah sakit tempat dia bekerja, sekarang]
Zac yang mendengar kabar itu langsung menautkan alisnya dan menaruh semua berkas yang ada ditangannya.
[Serius?]
[Apakah aku terdengar berbohong! Cepat!]
Milo kemudian mematikan telepon tersebut sepihak yang membuat Zac segera membereskan berkas nya dan keluar dari ruangannya.
"Tuan Zac, anda mau kemana?" tanya asistennya Daniel.
"Asisten Dan? Aku ada keperluan mendadak dengan istriku, kamu tolong handle kantor sebentar," jawab Zac melepas jas dan melipat lengan panjang kemejanya.
"T-Tapi Tuan Zac, meeting untuk tender dua milyar hari ini sebentar lagi akan dimulai," ujar Asisten Daniel gugup.
Zac menatap Asisten Daniel tajam. "Batalkan,"
"T-Tapi,"
Zac yang mendengar itu langsung meraih kerah kemeja asistennya itu dan menatapnya tajam. "Apa yang ku perintahkan harus dituruti, lebih baik aku kehilangan uang dua milyar itu daripada harus melihat istriku dalam bahaya!"
Setelahnya Zac melepaskan kerah kemeja Asistennya dan menatapnya tajam yang membuat Asisten Daniel mengangguk.
Zac kemudian berjalan menuju parkiran untuk masuk kedalam mobilnya. Zac mengendarai mobilnya menuju rumah sakit dimana Milo sudah menunggunya.
Tak butuh waktu lama, Zac kini sudah tiba dirumah sakit tersebut dan mendapati Milo sudah menunggunya di depan pintu masuk, Zac langsung keluar dari mobilnya dan menemui Milo.
"D-Dimana Markisa?" tanya Zac pada Milo.
Milo menatap Zac tajam dan membuang mukanya. "Aku sudah mengecek ruangannya dan dia sudah tidak ada, dari rekaman cctv, yang membawa Markisa berjumlah tiga orang, aku tidak tahu siapa Mereka, namun kita sudah telat."
Zac seketika lemas dan mengusap kepalanya. "Sekarang kita harus apa?"
"Markisa udah memasang alat pelacak di ponselnya dan itu terhubung dengan ponselku, selagi ponsel Markisa aktif, kita bisa mendapatkan lokasi terbarunya, maka dari itu kita harus bergerak cepat," ujar Milo berjalan masuk ke mobilnya
Mendengar itu Zac segera bangkit dan masuk ke mobilnya menyusul Milo yang menancap gas menuju lokasi Markisa sekarang disusul oleh Zac.
•
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Fi Fin
iiih aku geli sama visualnya zak
2024-05-29
1
Mita Karolina
Ini keluarga Unilever atau Wings?
2023-01-07
1
umi b4well (hiatus)
otot lagi woiiiii..
bisa cari photo lain gk???
2022-11-17
0