"Apa yang anda semua lakukan di depan kamar Tuan Zainul?" Mak Ijah bertanya, nampak kerutan kerutan di keningnya.
"Mak Ijah, aku mau bertemu dengan Zainul sekarang juga," ucap Bayu seraya menghempaskan cengkeraman tangan Hendra.
"Maaf, Tuan Zainul tidak bisa diganggu. Anda sebagai tamu seharusnya memiliki sopan santun pada Tuan rumah," jawab Mak Ijah dengan ketus. Biasanya perempuan itu selalu menunjukkan mimik muka yang datar, namun kali ini ada emosi di raut wajahnya.
"Dipta tewas di kamarnya. Bukankah seharusnya Zainul diberitahu? Yodi yang hilang pun belum jelas dimana rimbanya hingga saat ini. Bagaimana mungkin dalam keadaan seperti ini Tuan rumah berdiam diri di dalam kamarnya?" Bayu pun nampak meluapkan emosinya.
Mak Ijah tak menggubris. Dia meletakkan nampan berisi segelas air dan beberapa butir kapsul di meja kecil depan kamar Zainul.
Tok tok tok
Mak Ijah mengetuk pintu kamar dengan perlahan sambil membungkuk.
"Silahkan obatnya Tuan," Mak Ijah berbicara perlahan di depan pintu kamar Zainul.
"Apa Zainul nanti akan keluar dari kamarnya Mak?" Tanya Bayu. Mak Ijah menatap Bayu dengan begitu tajam. Matanya melotot, tangannya terkepal tertahan.
"Kematian dan hilangnya teman Anda tidak ada hubungannya dengan Tuan Zainul. Tuan Zainul selama ini sudah cukup menderita dalam hidupnya. Biarkan beliau istirahat dan jangan ganggu, atau kalian akan saya usir dari rumah ini," ancam Mak Ijah sambil mengedarkan pandangannya pada semua orang.
"Makan siang sudah siap. Silahkan segera turun menuju meja makan," ucap Mak Ijah lagi, kemudian dia berjalan menuruni anak tangga menuju ke lantai bawah.
"Sialan!" Bayu mengumpat seraya menggaruk garuk kepalanya sekali lagi.
"Gimana dengan mayat Dipta? Di luar hujan deras, nggak mungkin kan kita mengantarkan mayat Dipta ke rumahnya dalam cuaca seperti ini?" Norita terlihat panik.
"Menguburkan Dipta disinipun juga tak mungkin. Istrinya menunggu kepulangannya di rumah. Siapa sangka Dipta pulang tinggal nama," Norita mulai menangis. Dia teringat Dipta kemarin bercerita isterinya tengah hamil tua. Rasa iba menguasai hatinya. Norita terisak, Ellie segera merangkulnya, mencoba menenangkan.
"Biarkan mayat Dipta di kamarnya. Kita harus mencari Mella. Apa yang menjadi penyebab kematian Dipta, kupikir petugas medis bisa mengidentifikasinya dengan lebih tepat," ujar Bayu kemudian.
"Mungkinkah roti kukus yang dimakan Dipta diberi racun?" Ellie bertanya.
"Kurasa tidak. Dari mulutnya tidak tercium aroma racun. Lagipula roti kukus terlihat utuh di tenggorokan Dipta. Yang artinya kemungkinan besar roti itu dijejalkan pada mulut Dipta saat dia sudah tewas atau menjelang kematiannya. Aku baru pertama kali menemukan kasus kematian seperti ini," Bayu mengepalkan tangannya karena geram.
"Ngomong ngomong, Galang mana Bay?" Denis teringat sosok Galang yang tak terlihat batang hidungnya.
"Itu dia. Aku juga sangat mengkhawatirkannya. Dia belum kembali dari hutan hingga saat ini. Pak Mardoyo pun menghilang," Bayu bergumam sendiri.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Norita terlihat gusar.
Bayu terdiam memandangi nampan berisi kapsul dan air putih yang tergeletak di atas meja. Kamar Zainul terasa lengang dan sepi. Bayu sebenarnya hendak menunggu di depan kamar hingga Zainul keluar, namun saat ini prioritasnya adalah mencari Mella. Juga jika hujan telah reda, dia harus segera kembali ke hutan mencari Galang sebelum petang tiba.
"Kita turun dulu," ucap Bayu setelah terdiam beberapa saat.
Semua orang menurut, mereka membiarkan mayat Dipta di kamarnya. Tia juga tetap dibiarkan di dalam kamar untuk beristirahat. Entah Tia dengar atau tidak kehebohan yang terjadi atas kematian Dipta tadi. Juga sang Tuan rumah yang belum jua menampakkan batang hidungnya hingga kini, mereka tetap dibiarkan di kamarnya masing masing.
"Kita harus mencari Mella. Kondisi di luar sedang hujan lebat. Jadi kita cari Mella di sekitar rumah saja, jangan pergi terlalu jauh. Kemampuan Mella sangat dibutuhkan saat ini. Sebagai perawat atau tenaga medis, aku perlu mendiskusikan keadaan Dipta dengannya," Bayu memberi instruksi. Saat ini mereka berdiri melingkar di tengah ruang tamu.
"Kita berkeliling secara berpasangan. Tidak diperbolehkan seorang pun berpisah dari pasangannya. Jika ada sesuatu yang mencurigakan, jangan bertindak gegabah. Berteriaklah, atau segera kembali ke rumah, melapor padaku. Kalian mengerti?"
Semua mengangguk. Nampak ketegangan dari raut wajah mereka.
"Baiklah, Denis berpasangan dengan Norita. Hendra berpasangan dengan Iva. Dan aku bersama dengan Ellie," Bayu menentukan pasangan secara acak.
"Area rumah ini tidak terlalu luas jadi kuharap Mella segera ditemukan. Denis dan Norita, kalian cari ke area belakang rumah. Hendra dan Iva ke halaman depan. Sementara aku dan Ellie akan melihat di area sekitar sungai. Kita bisa pinjam payung atau jas hujan yang ada di ruangan sebelah kamar mandi. Kemarin aku melihatnya ada banyak disana."
Semua orang setuju, dan segera bergerak secara berpasangan seperti instruksi Bayu. Makan siang sebenarnya sudah tersaji di atas meja makan. Namun, tidak ada yang lapar saat ini. Yodi dan Mella yang menghilang secara ajaib, juga Dipta yang telah menjadi mayat di kamarnya membuat nafsu makan setiap orang menjadi hilang.
Hujan masih cukup deras, saat Bayu dan Ellie berjalan di bibir sungai. Air mulai tampak keruh yang disebabkan oleh pasir dan tanah di bagian sumber mata air tergerus oleh air hujan.
"Dimana terakhir kali kamu melihat Mella Ell?" Bayu bertanya setengah berteriak. Hujan deras membuat suara Bayu kurang terdengar.
"Di belakang rumah sana," Ellie menunjuk pintu besi yang terletak di bagian belakang rumah.
"Entahlah kenapa dia tadi tidak ikut aku dan Iva jalan jalan di sungai," Ellie bergumam.
Hujan semakin deras, suara gemuruh di langit semakin menjadi jadi. Denis dan Norita duduk di bagian belakang rumah. Tumpukan kayu yang telah kering terguyur air hujan menjadi pemandangan yang mereka saksikan.
"Mungkin hidup kita bagaikan kayu kering itu," ucap Norita tiba tiba.
"Hah? Maksudnya?" Denis menyalakan sebatang rokok di tangan kanannya.
"Ya kejahatan kita pada Zainul di masa lalu, bagaikan kayu kering itu. Seberapa banyak pun air hujan yang membawa kebaikan dan kehidupan, kayu kering itu tidak akan pernah bersemi lagi. Seberapa pun kita berusaha melupakan, keburukan kita padanya akan tetap teringat kuat di hati masing masing."
"Jadi maksudmu kesalahan kita sudah tak termaafkan begitu? Hidup kita sudah tak berguna. Hah? Ha ha ha," Denis tergelak, tawanya pecah. Terdengar begitu nyaring di antara bunyi hujan yang jatuh menimpa atap seng di atas tempat duduknya.
"Jangan berlebihan Nori. Kesalahan kita di masa lalu tak lebih hanya sekedar kenakalan anak remaja. Hanya bercanda, iseng iseng saja kok. Melupakan masa lalu, terus bergerak dan berusaha maksimal di masa kini demi kehidupan masa depan agar lebih baik adalah kodrat kita sebagai manusia," Denis menyesap rokoknya dalam dalam.
Norita terdiam. Baik Denis maupun Norita enggan beranjak dari tempat duduknya. Mereka tak ada niat mencari Mella yang menghilang entah kemana. Sementara hujan semakin menjadi, disertai angin yang bertiup cukup kencang.
Bersambung___
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Yuan Li
Pernah ngalamin di bully pas masih SMP....tp gak ambil hati walau kadang pengen ngamuk. Namun pas kelulusan pada Minta maaf semua....aq cewek dan yg bully cowok sekelas. jadi teman sekelas q gak ada yg dekat sama aq. aq malah dekat dengan teman yg berbeda kelas....yg kelakuannya lebih baik dari teman sekelas q. makanya aq banyak lupa nama2 teman sekelas q. dibanding dengan teman2 yg beda kelas aq masih mengingat mereka. dan ada yg masih terhubung melalui media sosial.
2024-02-05
4
Rose_Ni
mental pembully ya seperti ini, cuma main-main cuma iseng, apakah ia tdk tahu dri perbuatan main-main dan isengnya tersebut ad mental dan fisik org yg tersakiti,. STOP BULLYING
2024-02-03
1
Laksmi Amik
saling nencurigai
2024-01-15
1