Perjalanan menuju kediaman Zainul benar benar melelahkan. Sepuluh kilometer memang jarak yang cukup jauh ditempuh dengan berjalan kaki. Jalan yang semakin terjal dan menanjak menguras tenaga dan menyebabkan dehidrasi parah.
Bayu mengusap peluh di dahinya. Dia membuka tutup botol minuman elektrolit yang tadi dia bawa. Dengan cepat menenggaknya hingga tandas.
"Ini edan," Iva membanting botol minumannya ke tanah. Wajahnya merah padam kelelahan.
"Ngomong ngomong, gimana caranya si Zainul membawa logistik atau peralatan peralatan lainnya ke tengah hutan begini?" Mella entah bagaimana malah kepikiran tentang Zainul.
"Kabarnya sih, bayar warga desa sini untuk memanggul ramai ramai. Bahkan alat alat bangunan rumahnya dulu, juga warga desa yang membawakannya. Setelah pembangunan rumah selesai, warga dapat imbalan setimpal juga diberi bonus sama Zainul dibangunkan sebuah perpustakaan desa," Bayu menjelaskan di antara nafasnya yang ngos ngosan.
"Waooww, orang berduit enak ya. Apapun inginnya bisa kesampaian," Mella bergumam.
"Yah, kita tidak tahu jalan hidup seseorang. Bisa jadi orang yang sekarang kita anggap nggak mampu dan nggak punya apa apa esok hari tiba tiba jadi pimpinan kita. Permainan takdir itu tidak bisa kita prediksi. Jadi, yang saat ini berkecukupan jangan jumawa, kalau memang ditakdirkan besok hancur melarat ya kejadian," Bayu menimpali.
Kembali suasana hening. Semua terdiam. Entah karena perkataan Bayu, atau memang mereka semua sedang merasakan letih.
Dalam hati, Bayu sedikit menggerutu pada dirinya sendiri. Karena akhir akhir ini dia jarang berolahraga, membuat fisiknya kurang prima. Seharusnya dia tidak merasakan lelah seperti sekarang ini jika saja sering menggerakkan otot tubuhnya.
"Kamu cukup dekat dengan Zainul ya Bay. Kok bisa tahu kalau Zainul minta bantuan warga untuk membawakan segala keperluannya?" Iva menyahut.
"Sebelum memenuhi undangan, aku sudah mencari informasi di desa sekitar sini. Karena itu adalah tugasku," jawab Bayu datar.
"Kamu benar benar seorang polisi yang teliti. Padahal dulu waktu ulangan harian matematika kamu yang paling ceroboh, dan ngawur parah," Iva terkekeh, mengolok olok Bayu.
"Ya, mungkin sekarang aku sudah jadi versi terbaik dari diriku," Bayu balas tersenyum.
"Bisakah ngobrolnya kita hentikan, dan segera lanjutkan perjalanan wahai Tuan dan Nyonya?" Mella berjalan mendahului.
Mereka bertiga kembali berjalan, mendaki bukit yang semakin terasa curam. Pepohonan dan tanaman di sekitar juga semakin terlihat lebat nan rimbun. Padahal pagi telah pergi, siang telah datang namun suasana di tempat mereka berpijak sekarang layaknya hari sudah petang. Lebatnya hutan menutup sinar matahari, seakan mereka sekarang berada di bawah sebuah payung besar.
Dengan sekujur tubuh yang basah oleh keringat, akhirnya Bayu, Iva dan Mella berhasil mencapai puncak bukit. Tepat jam 12 siang, mereka mencapai titik tertinggi di wilayah kecamatan K. Dari tempat mereka berdiri nampak hamparan pepohonan yang hijau, juga pemandangan bangunan perumahan di kabupaten T yang berdiri berjejer. Terlihat sangat kecil, bagaikan lego yang ditata sedemikian indah berwarna warni.
Dari puncak bukit juga terlihat bagian hulu sungai, dengan air terjun berwarna biru kehijauan begitu jernih. Tak jauh dari air terjun tersebut, di tempat yang lebih lapang, berdiri satu satunya bangunan yang gagah dan megah. Sebuah rumah di tepian sungai bercat putih bersih.
"Huh, akhirnya kita hampir sampai," Iva setengah berteriak kegirangan.
"Pulangnya nggak disewakan helikopter apa ya," Mella menimpali.
"Gimana caranya mendarat, nyangsang di pohon doongg," Bayu ikut berkomentar.
"Yakin nih pulang dari sini betis pasti jadi sixpack," Mella menunjuk nunjuk betisnya sendiri.
Bayu, Iva dan Mella tertawa bersama. Rasa lelah yang terasa akhirnya sedikit terobati setelah tahu tujuan sudah di depan mata. Kali ini mereka hanya perlu menyusuri jalanan menurun yang tak terlampau jauh.
"Eits, awas hati hati. Bebatuan licin nih," Bayu kali ini yang berjalan paling depan memberi peringatan pada teman temannya.
Jalanan menurun tidak semudah yang mereka pikirkan. Pijakan berupa tanah liat yang sedikit becek dan berair nyatanya sulit untuk dilewati. Sangat licin dan cukup curam. Jika tidak berhati hati bisa jatuh tergelincir.
"Edan. Ini sih Zainul semacam bikin benteng ya. Mau bertamu saja kudu berjuang mati matian dulu," Iva kembali menggerutu.
"Mau berapa kali kamu bilang Edan edan dan edan Vaaa," Mella memprotes.
"Kalau misal aku yang banyak duit nih. Mending beli perumahan elit di kota. Kian hari harganya makin melejit. Investasi dong," Iva sedikit berjongkok untuk memudahkan berjalan di turunan yang curam. Dia berada di urutan paling belakang.
"Itu kalau kamu. Tiap orang itu punya keinginan dan rencana masing masing Va. Mana mau orang lain nurut sama keinginanmu," Mella mencibir.
"Fokus gaes fokus," Bayu kembali mengingatkan teman temannya untuk lebih konsentrasi pada pijakan kaki mereka.
Setelah bersusah payah akhirnya mereka sampai di bagian yang lebih lapang. Tinggal berjalan lurus saja, menyibak tanaman perdu dan beberapa ilalang di depan, mereka bisa sampai di kediaman Zainul. Tinggal tiga ratusan meter lagi.
Bayu semakin merasa bersemangat, namun kemudian sebuah suara membuatnya menghentikan langkah. Sebuah suara asing, seperti seseorang yang sedang merintih.
"Ughhh. . .uugghh. . .ughhh,"
Suara yang terdengar jelas. Iva dan Mella pun mendengar suara itu.
"Suara apa itu?" Mella bertanya lirih sembari berbisik.
"Ssttt," Bayu meletakkan telunjuk di bibirnya, memberi isyarat untuk diam.
Bayu berjalan perlahan, mengendap endap ke arah sumber suara. Dia begitu hati hati, tak ingin bertindak ceroboh yang bisa saja membahayakan diri sendiri dan teman temannya.
Bayu mengintip dari balik pohon sambil menyembunyikan badannya. Dia khawatir suara tersebut berasal dari hewan buas atau semacamnya. Namun dugaan itu salah besar.
Bayu cukup kaget melihat seorang laki laki bersandar di sebuah batu dengan kaki penuh luka, darah serta lumpur. Bayu mengenali sosok laki laki tersebut. Seorang teman dari kelas XI IPA 5.
"Yodi?," Pekik Bayu.
Sosok laki laki yang sedang terluka itu menoleh, menatap Bayu sejenak kemudian ekspresinya nampak lega. Sementara itu Mella dan Iva berlari menyusul Bayu.
"Kamu kenapa Yod?" Bayu segera mendekati Yodi. Mengambil sebotol air dan membantunya untuk minum.
"Aku jatuh dari atas sana," Yodi menjawab lirih.
"Biar kuperiksa lukanya," Mella menyela, dengan cekatan memeriksa luka di kaki Yodi. Mella membuka ranselnya, mengeluarkan semacam kotak P3K darurat yang selalu dia bawa.
Beberapa saat lamanya, luka Yodi selesai dibersihkan. Rasa sakit yang tadi Yodi rasakan kini sudah jauh berkurang.
"Kukira hanya aku sendiri yang mendapat undangan dari Zainul," Yodi tersenyum, rasa sakitnya sudah semakin tak terasa.
"Sepertinya si Rich Man itu mengadakan acara reunian yang besar besaran," Yodi menambahkan.
"Kamu nggak berubah ya Yod. Sekian lama tak berjumpa, bac*tmu tetap yang paling gedhe, padahal kondisimu tengah terluka," Mella menimpali sambil terus membersihkan luka dan lecet di bagian siku tangan Yodi menggunakan alkohol.
"Sudahlah, kita istirahat disini sebentar. Setelah keadaan Yodi membaik, kita lanjut lagi," Bayu menengahi.
Semua orang setuju. Mereka sebenarnya tidak sabar untuk segera sampai di kediaman Zainul, namun terburu buru pun tak ada gunanya.
Bersambung . . .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Yuli a
gl
2025-01-15
0
Yuli a
omg
2025-01-15
0
Pie Yana
semakin deh degan nih
2024-03-26
1