11. Makan malam

Jam enam lebih, semua tamu undangan kecuali Yodi yang hilang entah kemana sudah berkumpul di ruang makan. Mereka duduk menghadap meja bundar besar yang terletak persis di tengah ruangan. Lampu hias yang begitu indah dan megah tergantung di atas meja.

"Kamu nggak ganti baju Lang?" Iva bertanya pada Galang setelah beberapa saat memperhatikannya.

"Iya nih. Aku nggak bawa baju ganti soalnya. Kupikir nggak perlu nginep. Tahunya, mau pulang pun susah. Di tengah hutan cuy."

"Pokoknya begitu matahari terbit, kita harus, wajib dan kudu segera pulang," ucap Dipta. Dia terlihat gusar dan cemas.

"Tunggu dulu lah. Kamu lupa Zainul akan nransfer uang ke kita," sergah Iva.

"Aku nggak peduli lagi soal duit. Rumah ini, tempat ini menakutkan. Nyawa lebih penting!" Dipta melotot.

"Nyalimu sekecil itu Dipta?" Iva terkekeh.

"Kamu nggak tahu apa yang aku lihat sama Norita tadi. Seandainya kamu ikut aku yakin kamu pun akan merengek minta pulang."

"Hah? Ikut kalian mandi di sungai maksudmu? Ogah lah ya," Iva terus mengolok ngolok.

"Sudah cukup. Tolong hentikan. Kita lama tak bertemu, jangan jadikan reuni sesaat ini menjadi ajang permusuhan," Galang menengahi. Sementara teman teman yang lain nampak tak peduli. Semua sibuk dengan pikiran masing masing.

Mak Ijah datang menyuguhkan beberapa makanan di atas meja. Ada beberapa jenis masakan yang tersaji. Sop, soto, berbagai macam gorengan, bola bola daging, dan masih banyak yang lainnya.

"Mak, Zainul nya mana kok nggak ada?" Tanya Mella pada Mak Ijah.

"Sabar Non," jawab Mak Ijah ketus. Mella langsung mengatupkan mulutnya rapat rapat. Pembantu satu ini memang terasa sangat jutek dan tidak ramah sama sekali.

"Mak, penerangan dan listrik di rumah ini darimana ya?" Bayu kali ini bertanya. Sedari tadi dia penasaran, bagaimana caranya mendapatkan listrik di tengah hutan seperti ini?

"Listriknya ada beberapa sumber Tuan. Ada 3 genset di bagian belakang rumah ini, dengan beberapa drum persediaan bensin yang cukup untuk satu bulan. Selain itu atap rumah juga terpasang panel surya," jawab Mak Ijah.

"Bagaimana cara membawa bensin dari kota kesini Mak?" Denis ikut bertanya.

"Sama halnya dengan pasokan makanan. Tuan Zainul membayar warga untuk mengantarkan kemari dengan cara dipanggul."

"Gila ya. Kenapa ada orang yang suka merepotkan diri sendiri seperti itu. Padahal hidup di kota membeli salah satu rumah di Royal Residence itu jauh lebih mudah," Denis terkekeh menertawakan pernyataan Mak Ijah.

"Maaf, anda tidak berhak mengomentari jalan hidup majikan saya. Beliau melakukan ini semua karena beliau mampu dan bisa. Tentunya bagi Anda itu aneh, karena Anda tidak mampu hidup seperti Tuan Zainul," Mak Ijah berjalan kembali ke dapur. Kata kata yang dilontarkan benar benar terasa seperti skakmat dalam permainan catur. Denis merah padam dibuatnya, sementara yang lain tampak menahan tawa.

Beberapa saat kemudian Mak Ijah kembali ke ruang makan. Dia membawa speaker kecil dan meletakkannya di depan kursi milik sang tuan rumah.

"Tuan Zainul beberapa bulan belakangan memang tidak mampu lagi berdiri. Kesehatannya menurun. Jadi, beliau selalu di kamarnya di lantai atas. Beliau akan menyampaikan beberapa hal secara langsung melalui speaker ini," Mak Ijah menjelaskan.

Mak Ijah sekali lagi berjalan ke dapur kemudian segera kembali membawa amplop putih dan membaginya satu persatu kepada semua orang. Bayu menerimanya dan segera membuka amplop tersebut. Dalam amplop terdapat sebuah kertas karton putih. Di kertas tersebut tercetak dua buah kata yaitu 'Tanam Tuai'.

"Apa ini Mak?" Bayu bertanya pada Mak Ijah. Namun diacuhkan begitu saja. Mak Ijah sibuk menghidupkan dan mengatur volume dari speaker di atas meja.

"Sebelum kita makan malam, ijinkan Tuan Zainul memberikan sambutannya," ucap Mak Ijah.

Beberapa saat berikutnya terdengar suara berdenging dari speaker.

"Selamat malam teman teman," suara yang sangat serak terdengar dari speaker.

"Mohon maaf, belum bisa duduk bersama dengan kalian di meja makan. Kondisi kesehatan saya sedang kurang baik. Terimakasih sudah bersedia berkunjung ke tempat terpencil ini. Dan sesuai janji, uang sudah saya transfer ke rekening pribadi kalian masing masing. Silahkan dicek melalui mobile banking di HP kalian masing masing. Memang jaringan sinyal nggak tersedia disini, namun kalian bisa memakai wifi milik saya pribadi, dengan memasukkan pasword yang tertulis di kertas yang kalian pegang."

Semua orang secara serempak langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh suara Zainul. Dan benar saja, saat mengecek mutasi rekening melalui mobile banking, sejumlah uang dalam jumlah besar sudah masuk di rekening masing masing.

Ruangan tiba tiba saja berubah lebih cerah dan berbinar, rona bahagia terpancar dari wajah wajah yang tersorot lampu hias di atas meja makan. Hanya ada dua orang yang terlihat tidak terlalu antusias, dia adalah Bayu dan Ellie.

"Untuk sisa uangnya akan diberikan oleh pembantu saya secara cash dua hari lagi. Kenapa menunggu dua hari lagi? Karena pengantar uangnya baru akan datang dua hari lagi. Jadi, saya harap kalian menginap disini, berlibur disini dengan tenang dan bahagia. Nikmatilah kehidupan damai jauh dari hingar bingar perkotaan. Karena saya tahu dan yakin, kalian butuh penyegaran. Untuk baju ganti, dan semua kebutuhan kalian akan disiapkan oleh pembantu saya."

"Saya juga sudah mendengar dari pembantu dan penjaga rumah, Yodi menghilang dari kamarnya. Saya harap kalian tenang dan tidak perlu panik. Rumah ini adalah tempat paling aman dan nyaman. Besok pagi, biar penjaga rumah ini yang mencoba mencari Yodi."

"Kamar tidur kalian sudah disiapkan di lantai atas. Nanti akan dibagikan kuncinya. Dan jika kalian butuh apapun itu, sampaikan saja ke pembantu saya. Terakhir, selamat menikmati makan malam. Sampai jumpa." 

Speaker berdenging sebentar kemudian mati. Mak Ijah kemudian menekan tombol off.

"Silahkan menikmati hidangan makan malam Tuan dan Nona. Semoga suka," Mak Ijah membungkuk. Semua orang kecuali Bayu langsung mengambil piring dan makanan. Perut mereka lapar tak tertahankan. Siang tadi mereka semua memang tidak makan.

"Mak Ijah?" Bayu memanggil, di tengah suara piring dan sendok beradu.

"Iya Tuan?"

"Bagaimana caranya jaringan wifi bisa sampai kesini?" Bayu terlihat sangat penasaran.

"Tuan Zainul membangun tower khusus di puncak bukit. Dan di rumah ini di pasang antena yang menangkap sinyal dari tower tersebut. Setahu saya begitu Tuan. Mohon maaf jika penjelasan saya mungkin salah, karena saya orangtua yang tidak begitu faham terkait hal semacam itu."

"Oke Mak. Terimakasih," ucap Bayu mengakhiri.

Bayu kali ini mengambil piring dan makanan yang tersedia. Dia merasa perlu untuk mengisi perutnya, agar otaknya mendapat asupan nutrisi untuk berpikir.

Terlalu banyak keanehan di rumah ini. Termasuk Mak Ijah. Mak Ijah nampak sudah tua, namun pengetahuannya sangat luar biasa. Masakan, dan semua seluk beluk rumah ini benar benar dia kuasai. Pertanyaan Bayu soal sinyal wifi tadi pun sebenarnya hanya sebuah tes. Dan nyatanya jawaban Mak Ijah semakin menggambarkan bahwa dia orang yang cukup pintar dan sangat tahu tentang rumah tepi sungai ini.

Bersambung ___

Terpopuler

Comments

Yuli a

Yuli a

takutnya tu makanan dikasih obat tidur.... jadi mudah di eksekusi...

2025-01-16

1

Yanto Infinix

Yanto Infinix

jangan" dagingnya yodi di msk di tulang nya di buat SOP iihhh ngeri

2024-06-09

1

Bunda Silvia

Bunda Silvia

jangan2 emang yodi yg duluan di bunuh di mutilasi

2024-02-15

2

lihat semua
Episodes
1 1. Sepucuk surat
2 2. Guru BK
3 3. Perjalanan melewati hutan
4 4. Puncak bukit
5 5. Rumah yang tertutup rapat
6 6. Mumi
7 7. Sebelas orang
8 8. Sesuatu yang hanyut
9 9. Kamar Tamu
10 10. Hilang
11 11. Makan malam
12 12. Handuk Basah
13 13. Kamar atas
14 14. Dipta dan Galang
15 15. Kesalahan masa lalu
16 16. Analisa Bayu
17 17. Hujan di atas bukit
18 18. Dipta
19 19. Terisolasi
20 20. Kayu Bakar dan Hujan
21 21. Kue ulang tahun
22 22. Pondok Tua
23 23. Cokelat untukmu
24 24. Bunga dan Kumbang
25 Ruang Curhat
26 25. Perselisihan
27 26. Tia
28 27. Dugaan Denis
29 28. Lemari
30 29. Batu Nisan
31 30. Pertarungan
32 31. Luka di kaki
33 32. Pemeriksaan Kamar
34 33. Sebuah Kunci
35 34. Malam kedua
36 35. Putus Asa
37 36. Dalam Kegelapan
38 37. Hidup dan Mati
39 38. Amarah Ellie
40 39. Fadlan dan Wignyo
41 40. Suara apa gerangan?
42 41. Pesan Galang
43 42. Ruangan yang asing
44 43. Ekskul Drama
45 Ruang Curhat II
46 44. Tuan Zainul
47 45. Saran Bayu
48 46. Tabur Tuai
49 47. Perempuan tua misterius
50 48. Penonton pertunjukan
51 49. Keluar dari hutan
52 50. Kamar Sang Rich Man
53 51. Hak dan Kewajiban untuk bahagia
54 Ruang Curhat III
55 52. Kalian tidak akan mengerti!
56 53. Zainul
57 54. Kebakaran
58 55. Peran Bayu
59 56. Buku bersampul merah
60 57. Malam yang gaduh di desa nan jauh
61 58. Penebusan
62 59. Hilangkan jejak
63 60. Pembalasan dan Penebusan
64 I. Lembaran Baru
65 II. Senja Pertama
66 III. Makan Malam Keluarga
67 IV. Buku Merah Maroon
68 V. Pagi berkabut
69 VI. Miko
70 VII. Tamu
71 VIII. Mari berfoto
72 IX. Kepingan Surga
73 X. Perseteruan
74 XI. Buku di atas ranjang
75 XII. Lenyapnya isi kulkas
76 XIII. Sajian lezat
77 XIV. Kematian Erfan
78 XV. Praduga Ali
79 XVI. Selimut
80 XVII. Dalam selimut
81 XVIII. Jejak Kaki di dapur
82 XIX. Air terjun di tengah malam
83 XX. Uang dalam karung
84 XXI. Tamu jam satu malam
85 XXII. Interogasi
86 XXIII. Kesimpulan Awal
87 XXIV. Kamar Erwin
88 XXV. Masa Lalu
89 XXVI. Tarji alergi dingin
90 XXVII. Kemampuan Bayu
91 XXVIII. Cincin Ananta
92 XXIX. Sebuah tamparan
93 XXX. Perempuan pemilik uang
94 XXXI. Kecantikan Medusa
95 XXXII. Jumat Pahing
96 XXXIII. Bidan Desa
97 XXXIV. Bidan Nurma
98 XXXV. Buku seri ketiga
99 XXXVI. I Will Always Love You
100 XXXVII. Perempuan di depan cermin
101 XXXVIII. Penyesalan Erwin
102 XXXIX. Erwin pelakunya
103 XL. Keterangan Semua Orang
104 XLI. Miko Hilang
105 XLII. Menuntut Balas!
106 XLIII. Lari atau kembali?
107 XLIV. Kegilaan Erwin
108 XLV. Orang seperti apa Bayu Khairil?
109 XLVI. Kenyataan Damar
110 XLVII. Manusia bertopeng iblis
111 XLVIII. Hujan merah maroon
112 XLIX. Tangis Miko
113 L. Kembalinya Miko
114 LI. Aroma hutan di malam kelam
115 LII. Tanah milik Sang Rich Man
116 LIII. Tawa Anggun
117 LIV. Ibuk mertua ku sayang Ibuk mertua ku malang
118 LV. Janji dua anak manusia
119 LVI. Akhir adalah Awal
120 Karya Misteri Baru dari bung Kus
121 NOVEL CETAK RUMAH TENGAH SAWAH
122 Ijin Promo Judul Baru
123 Judul Horor Baru bung Kus
124 Novel Horor Baru
Episodes

Updated 124 Episodes

1
1. Sepucuk surat
2
2. Guru BK
3
3. Perjalanan melewati hutan
4
4. Puncak bukit
5
5. Rumah yang tertutup rapat
6
6. Mumi
7
7. Sebelas orang
8
8. Sesuatu yang hanyut
9
9. Kamar Tamu
10
10. Hilang
11
11. Makan malam
12
12. Handuk Basah
13
13. Kamar atas
14
14. Dipta dan Galang
15
15. Kesalahan masa lalu
16
16. Analisa Bayu
17
17. Hujan di atas bukit
18
18. Dipta
19
19. Terisolasi
20
20. Kayu Bakar dan Hujan
21
21. Kue ulang tahun
22
22. Pondok Tua
23
23. Cokelat untukmu
24
24. Bunga dan Kumbang
25
Ruang Curhat
26
25. Perselisihan
27
26. Tia
28
27. Dugaan Denis
29
28. Lemari
30
29. Batu Nisan
31
30. Pertarungan
32
31. Luka di kaki
33
32. Pemeriksaan Kamar
34
33. Sebuah Kunci
35
34. Malam kedua
36
35. Putus Asa
37
36. Dalam Kegelapan
38
37. Hidup dan Mati
39
38. Amarah Ellie
40
39. Fadlan dan Wignyo
41
40. Suara apa gerangan?
42
41. Pesan Galang
43
42. Ruangan yang asing
44
43. Ekskul Drama
45
Ruang Curhat II
46
44. Tuan Zainul
47
45. Saran Bayu
48
46. Tabur Tuai
49
47. Perempuan tua misterius
50
48. Penonton pertunjukan
51
49. Keluar dari hutan
52
50. Kamar Sang Rich Man
53
51. Hak dan Kewajiban untuk bahagia
54
Ruang Curhat III
55
52. Kalian tidak akan mengerti!
56
53. Zainul
57
54. Kebakaran
58
55. Peran Bayu
59
56. Buku bersampul merah
60
57. Malam yang gaduh di desa nan jauh
61
58. Penebusan
62
59. Hilangkan jejak
63
60. Pembalasan dan Penebusan
64
I. Lembaran Baru
65
II. Senja Pertama
66
III. Makan Malam Keluarga
67
IV. Buku Merah Maroon
68
V. Pagi berkabut
69
VI. Miko
70
VII. Tamu
71
VIII. Mari berfoto
72
IX. Kepingan Surga
73
X. Perseteruan
74
XI. Buku di atas ranjang
75
XII. Lenyapnya isi kulkas
76
XIII. Sajian lezat
77
XIV. Kematian Erfan
78
XV. Praduga Ali
79
XVI. Selimut
80
XVII. Dalam selimut
81
XVIII. Jejak Kaki di dapur
82
XIX. Air terjun di tengah malam
83
XX. Uang dalam karung
84
XXI. Tamu jam satu malam
85
XXII. Interogasi
86
XXIII. Kesimpulan Awal
87
XXIV. Kamar Erwin
88
XXV. Masa Lalu
89
XXVI. Tarji alergi dingin
90
XXVII. Kemampuan Bayu
91
XXVIII. Cincin Ananta
92
XXIX. Sebuah tamparan
93
XXX. Perempuan pemilik uang
94
XXXI. Kecantikan Medusa
95
XXXII. Jumat Pahing
96
XXXIII. Bidan Desa
97
XXXIV. Bidan Nurma
98
XXXV. Buku seri ketiga
99
XXXVI. I Will Always Love You
100
XXXVII. Perempuan di depan cermin
101
XXXVIII. Penyesalan Erwin
102
XXXIX. Erwin pelakunya
103
XL. Keterangan Semua Orang
104
XLI. Miko Hilang
105
XLII. Menuntut Balas!
106
XLIII. Lari atau kembali?
107
XLIV. Kegilaan Erwin
108
XLV. Orang seperti apa Bayu Khairil?
109
XLVI. Kenyataan Damar
110
XLVII. Manusia bertopeng iblis
111
XLVIII. Hujan merah maroon
112
XLIX. Tangis Miko
113
L. Kembalinya Miko
114
LI. Aroma hutan di malam kelam
115
LII. Tanah milik Sang Rich Man
116
LIII. Tawa Anggun
117
LIV. Ibuk mertua ku sayang Ibuk mertua ku malang
118
LV. Janji dua anak manusia
119
LVI. Akhir adalah Awal
120
Karya Misteri Baru dari bung Kus
121
NOVEL CETAK RUMAH TENGAH SAWAH
122
Ijin Promo Judul Baru
123
Judul Horor Baru bung Kus
124
Novel Horor Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!