12. Handuk Basah

Bayu menyelesaikan makan malamnya dengan cepat. Dia menatap teman temannya satu persatu. Wajah Dipta yang tegang dan takut tadi sempat tergambar dengan jelas, kini berubah lebih tenang dan berbinar. Perut sudah kenyang, uang pun sudah masuk di rekening nyatanya membuat Dipta lupa akan rasa takutnya.

"Kenapa tidak dari awal kita diberitahu kalau disini ada jaringan wifi? Kupikir tadi kita benar benar terisolir, setelah ada akses internet aku seperti kembali hidup," Denis terdengar menggerutu.

"Jaringan internet jauh lebih penting daripada oksigen ya Den?" Hendra menimpali.

"Iya doongg. Sekarang kan aku bisa live Instagram. Kasian para fansku tak mendapat kabar dariku seharian," Denis tertawa.

"Wiihh, selebgram, musisi, youtuber, banyak dong duitmu Den. Buat apa uang 100 juta dari Zainul tadi?" Mella ikut berkomentar.

"Ah, not your business," ucap Denis seraya memandangi layar HP nya. Dia terlihat senyum senyum sendiri setelahnya.

Tia juga nampak mengangkat sebuah panggilan telepon. Dia buru buru pergi dari ruang makan. Dia terus berjalan melewati ruang tamu dan berhenti di teras depan.

"Hallo Yah," Tia mengangkat telepon yang ternyata dari suaminya.

"Kenapa kamu susah dihubungi?" Tanya suami Tia melalui telepon.

"Susah sinyal Yahh."

"Gimana, beneran dikasih uang sama temen SMA mu itu?" Suami Tia kembali bertanya.

"Iya Yah, ini sudah ditransfer 100. Sisanya dua hari lagi," Ucap Tia.

"Lalu, kamu bakalan nginep disana dua malam?"

"Iya Yaah. Kita butuh uang ini, supaya kita bisa beli rumah. Aku sudah nggak tahan hidup bersama orangtuamu dan semua saudara saudaramu itu," ucap Tia, dia kembali berjalan, kali ini menuju ke hamparan rumput di halaman depan.

Langit benar benar tampak kelam. Tak ada satupun sinar sang bintang. Rembulan pun juga tak menampakkan dirinya. Semua tertelan oleh pekatnya mendung hitam.

Tia teringat kembali hidupnya yang terasa kacau dan gagal. Dia menyesali keputusannya dulu. Selepas lulus SMA, saat teman temannya meneruskan studi untuk mencoba menggapai mimpi mimpi mereka, Tia memilih untuk menikah. Dia begitu memuja suaminya. Dulu dia merasa bisa hidup hanya dengan modal cinta. Saat orangtuanya memberi peringatan bahkan melarangnya, Tia tak menggubris, dan mengacuhkannya.

Dan kini nasi sudah menjadi bubur. Kedelai telah menjadi tahu. Tak mungkin mengulang kembali kedigdayaan langkah sang waktu. Hidup akan terus berjalan, dan Tia berusaha menanggung konsekuensi dari pilihannya. Tak mungkin dia meminta belas kasihan pada orangtuanya meski himpitan ekonomi kian terasa.

Dan yang semakin menyiksa Tia adalah ketika sang suami sudah tidak bekerja lagi karena terkena PHK. Harus tinggal bersama mertua dan beberapa saudara dalam satu atap membuatnya semakin gerah.

Hingga akhirnya datanglah surat undangan dari Zainul. Secercah harapan untuk masalah yang dialami Tia. Dan disinilah Tia sekarang, di rumah tepi sungai di tengah hutan.

Tia menutup teleponnya. Tanpa terasa dia sudah berjalan cukup jauh dari rumah. Tia berdiri di tengah rerumputan di luar pagar halaman depan.

"Duh, nglamun nggak sadar sampai sini," Tia bergumam sendiri.

Hembusan udara malam terasa menusuk tulang. Tia menggigil kedinginan. Dia memutuskan untuk segera kembali ke rumah. Hawa dingin nyatanya juga membuat bulu kuduk Tia meremang.

Sraakk sraakk sraakkk

Terdengar suara sesuatu yang bergerak pada semak belukar di hadapan Tia.

Sraakk sraakk sraakkk

Suara terdengar semakin mendekat. Tia mundur beberapa langkah sambil tetap menajamkan penglihatannya, mengawasi sekitar. Tengkuknya terasa begitu dingin dan membesar.

Sraakkk sraakk sraakkk sraakkk

Sesuatu yang bergerak itu terdengar semakin cepat. Tia pun mempercepat langkah mundurnya. Namun sepertinya dia terlalu lamban. Muncul dari kegelapan sosok yang tak pernah diduga, melompat ke arah Tia.

 * * *

Saat Tia mengangkat telepon dari suaminya, Denis sibuk dengan media sosialnya. Sementara yang lain memilih bersantai di depan televisi, begitupun Bayu. Dia duduk di sofa menghadap televisi namun pikirannya mengawang jauh.

"Udah mandi udah kenyang, seharusnya segera diberitahu kamar tidur kita dimana. Udah mulai ngantuk nih," Dipta menguap lebar. Padahal belum juga pukul 7 malam.

"Tadi siapa yang merengek minta pulang. Sekarang siapa pula yang merengek minta tidur," sergah Iva mencibir.

"Bisa nggak kamu diam? Kasihan benar yang jadi suamimu punya istri mulutnya ada 3," Dipta membalas.

"Ya kasihan juga istrimu. Punya suami pengecut dan nggak setia," Iva kembali menyerang dengan kalimatnya yang tajam dan menusuk.

Dipta berdiri dari duduknya. Tangannya terkepal dengan wajah merah padam. Terlihat jelas dia kesulitan mengontrol emosinya kali ini. Hendra dan Galang serempak berdiri menenangkan. 

Semua orang di ruangan itu tahu, hubungan Dipta dan Iva tidak baik sedari dulu. Mereka seringkali berselisih di kelas dalam beberapa momen. Awalnya sepele, karena Iva melaporkan pada guru saat Dipta mencontek. Seperti pepatah jawa kriwikan dadi grojogan. Masalah yang terasa kecil dan sepele nyatanya membesar hingga sekarang.

Dipta akhirnya bisa ditenangkan. Dia menyulut sebatang rokok. Galang meminta Iva untuk menghentikan mengolok olok Dipta dan memancing pertengkaran.

"Ngomong ngomong handuk basah kita diletakkan dimana nih?" Mella bertanya mengalihkan pembicaraan. Memang handuk yang baru selesai mereka pakai dibiarkan tertumpuk di sudut sofa.

"Iya ya. Coba tak panggil Mak Ijah," Ellie menimpali.

"Sebentar, biar aku saja," Bayu tiba tiba beranjak dari duduknya. Dia teringat sesuatu yang perlu ditanyakan pada Mak Ijah. Handuk basah yang tertumpuk memberi sebuah pertanyaan besar di benaknya.

Bayu buru buru menuju ke dapur mencari Mak Ijah. Dia menemukan Mak Ijah tengah sibuk memotong motong daging dan tulang, yang sepertinya tulang iga. Kehadiran Bayu tidak mengusiknya.

"Mak Ijah?" Panggil Bayu.

"Iya Tuan?" Mak Ijah hanya melirik, tak menoleh.

"Siapa yang menyiapkan handuk untuk kami tadi Mak?"

"Setahu saya Pak Mardoyo mendapat perintah langsung dari Tuan Zainul. Apakah ada masalah?" Mak Ijah kali ini menoleh menatap Bayu, namun wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Celemek yang dikenakan Mak Ijah tampak cipratan noda merah. Mungkin dari tulang dan daging yang sedang dia potong.

"Ah tidak Mak. Kami hanya bingung dimana harus meletakkan handuk yang basah," jawab Bayu sambil tersenyum.

"Nanti akan saya bereskan Tuan. Letakkan dimana saja, yang penting masih di area rumah ini," Mak Ijah kembali sibuk memotong daging.

Bayu menatap punggung wanita yang sudah tampak tua itu. Satu lagi yang menjadi catatan di pikiran Bayu. Jumlah handuk yang disiapkan tepat 10 buah. Padahal waktu handuk dibagikan, semua mengira Yodi masih tidur di kamarnya. Seharusnya handuk yang disiapkan ada 11 buah. Jadi, Tuan rumah sudah tahu jika Yodi menghilang dari kamarnya waktu itu. Bayu semakin curiga dengan sosok Zainul, sang pemilik rumah di tepi sungai. Bayu juga sedikit curiga dengan sang pembantu yang saat ini berdiri memunggunginya.

Saat Bayu sibuk dengan pertanyaan di benaknya, tiba tiba saja . . .

Aaaaaaaaaaaaaaa

Terdengar sebuah teriakan dari halaman depan.

"Tia?" Pekik Bayu dan segera berlari menuju ke arah suara teriakan berasal.

Bersambung ___

Terpopuler

Comments

Yuan Li

Yuan Li

apakah mak Ijah dan pak mardoyo adalah orang tua Zainul

2024-02-05

2

Laksmi Amik

Laksmi Amik

siapa sih ..apa mardoyo

2024-01-15

1

novita setya

novita setya

keknya si tuan rmh bukan mas inul..trus sp ya😄

2023-10-28

1

lihat semua
Episodes
1 1. Sepucuk surat
2 2. Guru BK
3 3. Perjalanan melewati hutan
4 4. Puncak bukit
5 5. Rumah yang tertutup rapat
6 6. Mumi
7 7. Sebelas orang
8 8. Sesuatu yang hanyut
9 9. Kamar Tamu
10 10. Hilang
11 11. Makan malam
12 12. Handuk Basah
13 13. Kamar atas
14 14. Dipta dan Galang
15 15. Kesalahan masa lalu
16 16. Analisa Bayu
17 17. Hujan di atas bukit
18 18. Dipta
19 19. Terisolasi
20 20. Kayu Bakar dan Hujan
21 21. Kue ulang tahun
22 22. Pondok Tua
23 23. Cokelat untukmu
24 24. Bunga dan Kumbang
25 Ruang Curhat
26 25. Perselisihan
27 26. Tia
28 27. Dugaan Denis
29 28. Lemari
30 29. Batu Nisan
31 30. Pertarungan
32 31. Luka di kaki
33 32. Pemeriksaan Kamar
34 33. Sebuah Kunci
35 34. Malam kedua
36 35. Putus Asa
37 36. Dalam Kegelapan
38 37. Hidup dan Mati
39 38. Amarah Ellie
40 39. Fadlan dan Wignyo
41 40. Suara apa gerangan?
42 41. Pesan Galang
43 42. Ruangan yang asing
44 43. Ekskul Drama
45 Ruang Curhat II
46 44. Tuan Zainul
47 45. Saran Bayu
48 46. Tabur Tuai
49 47. Perempuan tua misterius
50 48. Penonton pertunjukan
51 49. Keluar dari hutan
52 50. Kamar Sang Rich Man
53 51. Hak dan Kewajiban untuk bahagia
54 Ruang Curhat III
55 52. Kalian tidak akan mengerti!
56 53. Zainul
57 54. Kebakaran
58 55. Peran Bayu
59 56. Buku bersampul merah
60 57. Malam yang gaduh di desa nan jauh
61 58. Penebusan
62 59. Hilangkan jejak
63 60. Pembalasan dan Penebusan
64 I. Lembaran Baru
65 II. Senja Pertama
66 III. Makan Malam Keluarga
67 IV. Buku Merah Maroon
68 V. Pagi berkabut
69 VI. Miko
70 VII. Tamu
71 VIII. Mari berfoto
72 IX. Kepingan Surga
73 X. Perseteruan
74 XI. Buku di atas ranjang
75 XII. Lenyapnya isi kulkas
76 XIII. Sajian lezat
77 XIV. Kematian Erfan
78 XV. Praduga Ali
79 XVI. Selimut
80 XVII. Dalam selimut
81 XVIII. Jejak Kaki di dapur
82 XIX. Air terjun di tengah malam
83 XX. Uang dalam karung
84 XXI. Tamu jam satu malam
85 XXII. Interogasi
86 XXIII. Kesimpulan Awal
87 XXIV. Kamar Erwin
88 XXV. Masa Lalu
89 XXVI. Tarji alergi dingin
90 XXVII. Kemampuan Bayu
91 XXVIII. Cincin Ananta
92 XXIX. Sebuah tamparan
93 XXX. Perempuan pemilik uang
94 XXXI. Kecantikan Medusa
95 XXXII. Jumat Pahing
96 XXXIII. Bidan Desa
97 XXXIV. Bidan Nurma
98 XXXV. Buku seri ketiga
99 XXXVI. I Will Always Love You
100 XXXVII. Perempuan di depan cermin
101 XXXVIII. Penyesalan Erwin
102 XXXIX. Erwin pelakunya
103 XL. Keterangan Semua Orang
104 XLI. Miko Hilang
105 XLII. Menuntut Balas!
106 XLIII. Lari atau kembali?
107 XLIV. Kegilaan Erwin
108 XLV. Orang seperti apa Bayu Khairil?
109 XLVI. Kenyataan Damar
110 XLVII. Manusia bertopeng iblis
111 XLVIII. Hujan merah maroon
112 XLIX. Tangis Miko
113 L. Kembalinya Miko
114 LI. Aroma hutan di malam kelam
115 LII. Tanah milik Sang Rich Man
116 LIII. Tawa Anggun
117 LIV. Ibuk mertua ku sayang Ibuk mertua ku malang
118 LV. Janji dua anak manusia
119 LVI. Akhir adalah Awal
120 Karya Misteri Baru dari bung Kus
121 NOVEL CETAK RUMAH TENGAH SAWAH
122 Ijin Promo Judul Baru
123 Judul Horor Baru bung Kus
124 Novel Horor Baru
Episodes

Updated 124 Episodes

1
1. Sepucuk surat
2
2. Guru BK
3
3. Perjalanan melewati hutan
4
4. Puncak bukit
5
5. Rumah yang tertutup rapat
6
6. Mumi
7
7. Sebelas orang
8
8. Sesuatu yang hanyut
9
9. Kamar Tamu
10
10. Hilang
11
11. Makan malam
12
12. Handuk Basah
13
13. Kamar atas
14
14. Dipta dan Galang
15
15. Kesalahan masa lalu
16
16. Analisa Bayu
17
17. Hujan di atas bukit
18
18. Dipta
19
19. Terisolasi
20
20. Kayu Bakar dan Hujan
21
21. Kue ulang tahun
22
22. Pondok Tua
23
23. Cokelat untukmu
24
24. Bunga dan Kumbang
25
Ruang Curhat
26
25. Perselisihan
27
26. Tia
28
27. Dugaan Denis
29
28. Lemari
30
29. Batu Nisan
31
30. Pertarungan
32
31. Luka di kaki
33
32. Pemeriksaan Kamar
34
33. Sebuah Kunci
35
34. Malam kedua
36
35. Putus Asa
37
36. Dalam Kegelapan
38
37. Hidup dan Mati
39
38. Amarah Ellie
40
39. Fadlan dan Wignyo
41
40. Suara apa gerangan?
42
41. Pesan Galang
43
42. Ruangan yang asing
44
43. Ekskul Drama
45
Ruang Curhat II
46
44. Tuan Zainul
47
45. Saran Bayu
48
46. Tabur Tuai
49
47. Perempuan tua misterius
50
48. Penonton pertunjukan
51
49. Keluar dari hutan
52
50. Kamar Sang Rich Man
53
51. Hak dan Kewajiban untuk bahagia
54
Ruang Curhat III
55
52. Kalian tidak akan mengerti!
56
53. Zainul
57
54. Kebakaran
58
55. Peran Bayu
59
56. Buku bersampul merah
60
57. Malam yang gaduh di desa nan jauh
61
58. Penebusan
62
59. Hilangkan jejak
63
60. Pembalasan dan Penebusan
64
I. Lembaran Baru
65
II. Senja Pertama
66
III. Makan Malam Keluarga
67
IV. Buku Merah Maroon
68
V. Pagi berkabut
69
VI. Miko
70
VII. Tamu
71
VIII. Mari berfoto
72
IX. Kepingan Surga
73
X. Perseteruan
74
XI. Buku di atas ranjang
75
XII. Lenyapnya isi kulkas
76
XIII. Sajian lezat
77
XIV. Kematian Erfan
78
XV. Praduga Ali
79
XVI. Selimut
80
XVII. Dalam selimut
81
XVIII. Jejak Kaki di dapur
82
XIX. Air terjun di tengah malam
83
XX. Uang dalam karung
84
XXI. Tamu jam satu malam
85
XXII. Interogasi
86
XXIII. Kesimpulan Awal
87
XXIV. Kamar Erwin
88
XXV. Masa Lalu
89
XXVI. Tarji alergi dingin
90
XXVII. Kemampuan Bayu
91
XXVIII. Cincin Ananta
92
XXIX. Sebuah tamparan
93
XXX. Perempuan pemilik uang
94
XXXI. Kecantikan Medusa
95
XXXII. Jumat Pahing
96
XXXIII. Bidan Desa
97
XXXIV. Bidan Nurma
98
XXXV. Buku seri ketiga
99
XXXVI. I Will Always Love You
100
XXXVII. Perempuan di depan cermin
101
XXXVIII. Penyesalan Erwin
102
XXXIX. Erwin pelakunya
103
XL. Keterangan Semua Orang
104
XLI. Miko Hilang
105
XLII. Menuntut Balas!
106
XLIII. Lari atau kembali?
107
XLIV. Kegilaan Erwin
108
XLV. Orang seperti apa Bayu Khairil?
109
XLVI. Kenyataan Damar
110
XLVII. Manusia bertopeng iblis
111
XLVIII. Hujan merah maroon
112
XLIX. Tangis Miko
113
L. Kembalinya Miko
114
LI. Aroma hutan di malam kelam
115
LII. Tanah milik Sang Rich Man
116
LIII. Tawa Anggun
117
LIV. Ibuk mertua ku sayang Ibuk mertua ku malang
118
LV. Janji dua anak manusia
119
LVI. Akhir adalah Awal
120
Karya Misteri Baru dari bung Kus
121
NOVEL CETAK RUMAH TENGAH SAWAH
122
Ijin Promo Judul Baru
123
Judul Horor Baru bung Kus
124
Novel Horor Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!