Satu . . . Dua . . . Tiga!
Braakkkk
Sekuat tenaga Bayu dan Galang mendobrak pintu kamar yang terkunci. Daun pintu yang terbuat dari kayu akasia memang terkenal akan kualitas kekuatannya. Apalagi grendel pintu berbahan besi yang berkualitas.
Setelah beberapa kali percobaan akhirnya pintu berhasil didobrak. Dan ternyata kamar dalam keadaan kosong. Tidak ada siapapun disana. Yodi menghilang beserta semua barang bawaannya.
Bayu memperhatikan dengan seksama kondisi kamar. Ada beberapa hal yang menjadi catatan di benaknya. Pertama kunci kamar tidak terpasang di pintu. Artinya kamar bisa saja bukan dikunci dari dalam, melainkan dari luar. Kedua, ada sebuah jendela yang terhubung dengan halaman depan rumah. Jendela yang cukup lebar untuk dimasuki satu orang dewasa. Dan entah sejak kapan jendela itu terbuka. Ketiga, ada jejak basah di lantai bawah jendela. Dan yang terakhir, ada setitik noda merah yang telah mengering pada ujung korden jendela.
"Mana Yodi?" Mella bertanya, memecah keheningan. Galang menggeleng pelan.
"Tas nya nggak ada. Semua barang barangnya juga raib. Jendela terbuka. Mungkin nggak sih Yodi melompat keluar lewat jendela, kemudian dia pulang?" Denis menyampaikan dugaannya
"Itu nggak mungkin Den. Yodi sedang cidera kakinya, jalan pun susah. Ngapain dia repot repot lompat dari jendela?" Galang langsung membantah pendapat Denis.
"Mungkin nggak sih ada perampok di tengah hutan kayak gini? Atau dedemit?" Tia mencengkeram tangan Iva dengan erat. Dia ketakutan.
"Huuss, ngawurr!" Mella sedikit membentak.
"Menurutmu gimana Bay? Kamu kan seorang polisi," Galang bertanya pada Bayu.
"Entahlah. Tidak ada petunjuk apapun. Sepertinya Yodi memang keluar lewat jendela, kemudian pergi entah kemana," Bayu menjawab sekenanya. Bayu enggan untuk menyampaikan analisanya.
"Sudahlah. Sebaiknya kita keluar dari kamar ini," lanjut Bayu memberi saran. Semua orang setuju dan kembali ke ruang tamu.
Pada saat itu, Hendra terlihat berjalan dari arah kamar mandi. Mengusap rambutnya yang basah dengan selembar handuk.
"Kalian ngapain sih?" Tanya Hendra, dia nampak heran melihat teman temannya yang baru keluar dari kamar tamu.
"Yodi hilang," ucap Denis.
"Hah? Hilang atau sengaja pergi tuh? Nggak betah berada di tengah hutan mungkin," sergah Hendra.
"Oh iya, kenapa nggak coba kalian telepon?" Hendra kembali bertanya.
"Apa kamu lupa kalau disini nggak ada sinyal?" Sahut Mella sewot.
"Walah, iyo ya," Hendra nyengir cengengesan.
Tiba tiba terdengar suara langkah kaki dari luar rumah. Langkah kaki yang cepat dan terburu buru. Ternyata, Dipta dan Norita kembali dari sungai. Sekujur badan mereka basah kuyup, dengan ekspresi yang tampak ketakutan.
Mereka bersandar pada tembok. Norita memegangi dadanya, seraya mengatur nafas. Sedangkan Dipta mengusap usap tangannya karena kedinginan.
"Kenapa kalian? Ada apa lagi ini?" Ellie menyambar handuk dan memberikannya pada Norita. Dia tidak ingin para lelaki matanya melotot melihat lekuk tubuh Norita yang tercetak ketat di kaosnya yang basah.
"Jar*n! Aku baru lihat sepotong tangan terapung di kali," Dipta mengumpat. Dia masih begidik ngeri mengingat kejadian yang baru dialaminya.
"Apa? Kamu nggak salah lihat kan?" Bayu mendekati Dipta. Dia merasakan firasat buruk.
"Aku pun nggak begitu yakin sih. Kejadiannya cepet banget tadi. Tapi, kurasa itu memang potongan tangan," Dipta masih terlihat gemetar.
"Mungkin sebaiknya kita segera pergi dari tempat ini. Kita berada di tengah hutan. Rumah tepi sungai ini nggak aman," Ucap Dipta menatap teman temannya satu persatu.
"Rumah ini sangat aman Tuan dan Nona. Jauh lebih aman daripada anda berjalan pulang di malam hari," tiba tiba saja Pak Mardoyo menyahut. Dia berdiri di ambang pintu. Ekspresinya tampak begitu dingin. Rahangnya yang lurus tegas, memberi kesan garang.
"Salah satu teman kami, tadi beristirahat di kamar tamu. Tapi saat ini dia menghilang Pak. Apakah benar rumah ini aman untuk kami?" Galang membantah ucapan Pak Mardoyo.
"Bisa jadi dia sedang jalan jalan Tuan. Saya adalah penjaga di rumah ini. Pak Zainul menitipkan keamanan tamunya pada saya. Saya bisa memastikan dan meyakinkan rumah ini sangat aman dan nyaman. Saya adalah bukti hidup, sudah 5 tahun tinggal disini, dan sehat wal afiat sampai sekarang."
Mendengar perkataan Pak Mardoyo semua terdiam. Sementara Dipta beranjak ke sofa, mengambil handuk jatahnya, juga baju ganti. Dia berjalan gontai menuju ke kamar mandi.
"Mel, temani aku ke kamar mandi," pinta Norita pada Mella setelah beberapa saat lamanya terdiam. Mella mengangguk setuju, dan segera menggandeng Norita untuk membersihkan diri sekaligus berganti baju.
"Lebih baik semuanya jangan panik. Tetap tenang, dan usahakan tidak pergi kemanapun sendirian. Aku mau keluar sebentar untuk memeriksa sesuatu," Bayu memberi saran dan peringatan.
"Aku ikut," ucap Galang. Bayu mengernyitkan dahi hendak melarangnya.
"Bukankah kamu sendiri yang bilang, jangan pergi kemanapun sendirian Bay," Galang menirukan ucapan Bayu.
"Ah, Baiklah," Bayu menghela nafas enggan untuk berdebat.
Bayu dan Galang berjalan keluar rumah menuju ke halaman depan. Kemudian berbelok ke ke kiri dan berhenti di bawah jendela yang terbuka. Jendela kamar tamu tempat Yodi menghilang.
"Bay, aku tadi melihat bercak darah di korden kamar," ucap Galang tiba tiba. Bayu sedikit kaget dengan teman lamanya itu. Galang ternyata cukup jeli dan teliti.
"Bagaimana menurutmu? Kamu juga melihatnya bukan?" Galang bertanya ketika melihat Bayu hanya diam saja.
"Ya aku melihatnya. Namun aku tidak bisa memastikan apakah itu memang benar darah atau bekas noda yang lain. Aku tidak membawa perlengkapan apapun. Namun, firasatku mengatakan ada yang nggak beres," Bayu berjongkok memeriksa tanah tepat di bawah jendela.
Sebuah jejak sepatu yang tak beraturan. Ada bekas ujung sepatu bagian depan yang terbenam cukup dalam di tanah. Jejak sepatu itu terlihat menyusuri rumah menuju ke bagian belakang.
"Bukankah sebaiknya kita membicarakan ini dengan Tuan rumah Bay? Si Zainul?"
"Aku tidak yakin. Mungkin sebaiknya kita cari Yodi dulu di sekitar rumah ini," Bayu berjalan mengikuti jejak sepatu di tanah, Galang mengekor di belakangnya.
Sampailah mereka di bagian belakang rumah. Ada beberapa rumpun bambu yang berayun ayun diterpa angin. Suara air sungai terdengar begitu deras. Sementara langit semakin kelam membuat pandangan pun terbatas.
Sebuah sepatu boot tergeletak di tumpukan kayu bakar. Bayu mengambilnya dan mencocokkannya dengan jejak yang ada di tanah. Dan pas, sepatu itulah yang tadi dipakai oleh siapapun itu orang yang berdiri di depan jendela kamar tamu.
Bayu merogoh HP di sakunya. Menghidupkan senter dan mengarahkannya pada sepatu boot. Di antara beberapa tanah yang menempel, sebuah noda merah yang mengental melekat di bagian tumit.
"Sepertinya Yodi dalam masalah. Kalau dugaanku benar, ini sungguh gawat," Bayu bergumam sendiri.
Galang yang memperhatikan, menatap Bayu dengan serius. Dia cukup kagum dengan cara kerja Bayu yang cepat, tepat dan cekatan.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Galang bertanya.
"Kita kembali ke dalam dulu. Bukankah saat perjamuan makan malam nanti Zainul akan hadir? Coba nanti kita sampaikan padanya kalau Yodi tiba tiba saja hilang. Aku ingin tahu bagaimana tanggapan Zainul," Bayu mengajak Galang untuk kembali ke dalam rumah.
Bayu memang belum bisa menyimpulkan apapun saat ini. Dia tidak bisa mempercayai siapapun, bahkan dia tidak yakin Zainul ada di rumah ini. Dan semua itu membuat Bayu sedikit merasa ketakutan di dalam hatinya.
Bersambung___
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Yuan Li
plot twist nya mereka di jadi bagian novel kisah nyata Zainul....
2024-02-05
4
Laksmi Amik
baru ini baca novel horor keren ..
2024-01-15
1
Lusia Jian
menyerAmkan
2023-08-24
1