3. Perjalanan melewati hutan

Sebuah mobil hitam melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Beberapa genangan air bekas hujan semalam beberapa kali dilewati, meninggalkan noda kecoklatan pada velg yang sebelumnya bersih mengkilat.

Si pengemudi adalah seorang wanita berusia tiga puluh tahun. Rambut pendek sebahu, dengan warna pirang kecoklatan. Iva Nora seorang pementas di panggung teater, dengan segudang prestasi yang diraihnya beberapa tahun belakangan ini.

Dengan segala keberhasilan yang telah diraih, Iva menyimpan sebuah masalah pelik. Suaminya adalah seorang pemabuk berat, sekaligus tukang judi akut. Saat ini keluarga kecilnya sedang terlilit hutang yang cukup besar. Keuangan keluarga Iva sedang dalam kondisi sangat buruk. Bahkan mobil yang dia kendarai saat ini adalah mobil rental.

Beruntung, disaat kesulitan sedang membelit dan mencekiknya datang sebuah undangan dari teman semasa SMA nya dulu. Sebuah undangan jamuan makan, sekaligus bagi bagi uang. Sebenarnya Iva sempat berpikir aneh, kenapa tiba tiba saja, tak ada angin tak ada hujan teman SMA nya itu mengundangnya? Namun, seakan tak ada pilihan lain dan tak ada alasan untuk menolak, Iva saat ini menuju ke rumah Zainul Rikhman.

Iva menghentikan mobilnya di sebuah tanah lapang di pinggir sungai. Terdapat rumpun bambu yang lebat berayun ayun tertiup angin. Bambu yang berfungsi sebagai pagar hidup agar tanah tepian sungai tidak mengalami erosi saat musim hujan dan banjir datang. Ada beberapa motor yang sudah terparkir disana.

Tak jauh dari tempat Iva berhenti, terlihat dua orang yang sedang berdiri sambil memperhatikan kedatangannya. Iva segera turun dari mobil, mengambil tas ransel di kursi belakang dan menggendongnya. Dia berjalan mendekati dua orang yang melambaikan tangan ke arahnya.

"Hallo Iva," Sapa salah satu orang yang melambaikan tangan. Dia adalah Bayu.

Sedangkan satu orang lagi adalah Mella. Seorang perawat di rumah sakit terbesar di kabupaten T. Dua orang yang merupakan teman sekelas Iva di XI IPA 5 dulu.

"Kalian juga dapat undangan dari Zainul?" Iva bertanya penuh selidik.

"Yap. Undangan yang menggiurkan bukan? Benar benar Zainul Rich Man," Mella tersenyum.

"Setelah menerima surat undangan itu, aku langsung menelepon Mella. Menanyakan padanya apakah mendapat undangan yang sama, mengingat dalam surat itu Zainul tidak menggunakan 'kata' kamu, melainkan 'kata' kalian. Jadi aku yakin ada orang lain yang diundang selain aku. Apalagi dalam paket itu juga menyertakan foto kita yang berpose di kelas IPA 5," Bayu menimpali.

"Analisis seorang petugas kepolisian memang tajam. Tadinya aku sempat ragu untuk datang, tapi dengan adanya seorang polisi disini aku jadi lebih tenang," Iva menghela nafas, ekspresinya nampak lega.

"Memang apa yang membuatmu ragu? Dan kenapa kamu harus tenang saat ada seorang polisi?" Bayu bertanya penuh penekanan.

"Ah, ya gimana ya. Bukankah kita dulu kurang baik pada Zainul ya," Ucap Iva ragu ragu.

Suasana langsung hening seketika. Semua terdiam, sibuk dengan pikirannya masing masing. Masa lalu yang ingin mereka lupakan, kini terbayang kembali.

"Ah, sebaiknya kita ngobrol sambil jalan deh," Ucap Mella mengalihkan perhatian.

"Ya, mungkin teman teman yang lain sudah ada yang sampai di rumahnya Zainul," Bayu menimpali.

Semua setuju untuk melanjutkan perjalanan. Mereka bertiga menggendong tas ransel masing masing menyusuri jalan setapak dengan pemandangan pepohonan jenis sengon dan akasia yang menjulang tinggi dan rapat.

Suara tonggeret dan serangga serangga lain terdengar bersahutan, seakan begitu bahagia melihat kedatangan para manusia. Udara yang begitu sejuk dan sedikit lembab terhirup oleh indera penciuman setiap orang yang sedang berjalan menyibak rerumputan di mata kaki mereka.

Sinar mentari pagi menerobos masuk di celah antara pepohonan menghasilkan gambar gambar abstrak di tanah. Kicau burung sesekali juga terdengar di ketinggian. Mungkin hewan yang tak pernah fals itu, melompat dari satu dahan ke dahan yang lain, menikmati pagi bersama kawanannya.

Bayu berdecak kagum. Begitu tenteram hatinya menikmati hiburan alam yang demikian itu.

"Hei, ngomong ngomong udah pada baca berita kemarin belum? Rame banget di medsos" Mella bertanya memulai pembicaraan.

"Berita apaan?" Tukas Iva, sambil mengatur nafas. Jalanan yang mereka lewati mulai menanjak.

"Bu Ami meninggal gantung diri di dapur rumahnya," Mella menjawab setengah berbisik.

"Bu Ami? Guru BK kita dulu?" Iva bertanya memastikan.

Mella mengangguk, sementara Bayu nampak tidak peduli dengan percakapan dua wanita di depannya itu.

"Yang bikin rame di pemberitaan itu adalah di meja sebelah tempat Bu Ami bunuh diri, ada novel terbaru karya Zainul. Novel yang hanya dicetak seratus eksemplar," Mella menghela nafas.

"Menurutmu gimana Bay?" Iva melempar pertanyaan pada Bayu yang sedari tadi diam saja.

"Hah? Apanya?" Bayu mengernyitkan dahi.

"Sebagai seorang polisi kamu pasti sudah tahu kan kasus bunuh diri Bu Ami?" Iva terlihat agak jengkel.

"Ya, aku sudah tahu. Terus kenapa? Itu murni bunuh diri."

"Alasan bunuh diri Bu Ami apa Bay? Kenapa juga harus ada novel karya Zainul disana?" Iva kembali mencecar Bayu dengan pertanyaannya.

"Tidak ada hubungannya. Bisa jadi itu hanya kebetulan. Bu Ami itu hidup sendirian di usia senjanya. Suaminya dulu meninggalkannya dan dia tidak memiliki anak. Mungkin saja dia tertekan dengan itu semua kan. Lagipula aku dari kemarin sudah mengajukan cuti untuk berkunjung kemari. Aku tak tahu detailnya seperti apa," Tukas Bayu.

"Ngomong ngomong, kenapa kamu sampai rela mengambil cuti demi ke tempat Zainul Bay?" Mella menyela pembicaraan.

"Ya, karena aku ingin ketemu Zainul. Bagaimana dengan kalian? Apa karena tergoda dengan uang imbalan?" Bayu tersenyum masam.

Mendengar pertanyaan Bayu, Iva terlihat salah tingkah. Dia bersedia datang memang demi uang yang dijanjikan Zainul di suratnya. Iva sama sekali tak peduli dan tak ingin tahu keadaan Zainul. Dia hanya peduli dengan imbalan uangnya.

Sementara Mella menghentikan langkahnya. Dia berjongkok di tengah jalan setapak yang hendak mereka lalui.

"Sudahi percakapan nggak guna ini. Mari kita istirahat dulu. Betis ini rasanya mau meledak," Mella meringis, dia kelelahan.

"Baru juga separuh jalan Mel," Bayu memprotes, namun pada akhirnya dia berhenti juga menuruti permintaan Mella.

"Kalian terlihat akrab. Masih sering WA nan atau gimana nih?" Iva menggoda Bayu dan Mella.

"Iya. Soalnya selain Bayu, temen sekelas pada ganti nomor semua termasuk kamu. Kita juga nggak punya Group chat," Mella mendengus kesal.

"Yah, saat kita berumah tangga dunia itu akan berubah. Prioritas hidup akan bergeser. Aku memutuskan membatasi pertemanan dan dunia media sosialku. Kalian belum merasakannya, karena kalian berdua masih asyik melajang kan hingga sekarang," Ucap Iva kalem, namun kata katanya menusuk. Mella hanya diam saja kali ini.

Bayu tak terlalu ambil pusing dengan ucapan Iva. Dia sibuk mengamati sekeliling. Pepohonan yang menjulang tinggi, hanya ada jalan setapak yang sedikit tertutup rumput di bagian tengahnya. Manusia seperti apa yang menyukai tinggal di tempat terisolasi seperti ini? Bayu melihat HP nya, ternyata tak terjangkau sinyal.

Zainul Rikhman. . .orang seperti apa dirimu sekarang?

Bersambung . . .

Terpopuler

Comments

Yuli a

Yuli a

pelan-pelan aja. entar cepet habis. susah nyari cerita kayak gini..

2025-01-15

1

Pie Yana

Pie Yana

jadi deh degan CRRTTTT.. crrtt ne perasaan, seru tor q terus nyimak

2024-03-26

2

gr

gr

Dh

2024-02-24

1

lihat semua
Episodes
1 1. Sepucuk surat
2 2. Guru BK
3 3. Perjalanan melewati hutan
4 4. Puncak bukit
5 5. Rumah yang tertutup rapat
6 6. Mumi
7 7. Sebelas orang
8 8. Sesuatu yang hanyut
9 9. Kamar Tamu
10 10. Hilang
11 11. Makan malam
12 12. Handuk Basah
13 13. Kamar atas
14 14. Dipta dan Galang
15 15. Kesalahan masa lalu
16 16. Analisa Bayu
17 17. Hujan di atas bukit
18 18. Dipta
19 19. Terisolasi
20 20. Kayu Bakar dan Hujan
21 21. Kue ulang tahun
22 22. Pondok Tua
23 23. Cokelat untukmu
24 24. Bunga dan Kumbang
25 Ruang Curhat
26 25. Perselisihan
27 26. Tia
28 27. Dugaan Denis
29 28. Lemari
30 29. Batu Nisan
31 30. Pertarungan
32 31. Luka di kaki
33 32. Pemeriksaan Kamar
34 33. Sebuah Kunci
35 34. Malam kedua
36 35. Putus Asa
37 36. Dalam Kegelapan
38 37. Hidup dan Mati
39 38. Amarah Ellie
40 39. Fadlan dan Wignyo
41 40. Suara apa gerangan?
42 41. Pesan Galang
43 42. Ruangan yang asing
44 43. Ekskul Drama
45 Ruang Curhat II
46 44. Tuan Zainul
47 45. Saran Bayu
48 46. Tabur Tuai
49 47. Perempuan tua misterius
50 48. Penonton pertunjukan
51 49. Keluar dari hutan
52 50. Kamar Sang Rich Man
53 51. Hak dan Kewajiban untuk bahagia
54 Ruang Curhat III
55 52. Kalian tidak akan mengerti!
56 53. Zainul
57 54. Kebakaran
58 55. Peran Bayu
59 56. Buku bersampul merah
60 57. Malam yang gaduh di desa nan jauh
61 58. Penebusan
62 59. Hilangkan jejak
63 60. Pembalasan dan Penebusan
64 I. Lembaran Baru
65 II. Senja Pertama
66 III. Makan Malam Keluarga
67 IV. Buku Merah Maroon
68 V. Pagi berkabut
69 VI. Miko
70 VII. Tamu
71 VIII. Mari berfoto
72 IX. Kepingan Surga
73 X. Perseteruan
74 XI. Buku di atas ranjang
75 XII. Lenyapnya isi kulkas
76 XIII. Sajian lezat
77 XIV. Kematian Erfan
78 XV. Praduga Ali
79 XVI. Selimut
80 XVII. Dalam selimut
81 XVIII. Jejak Kaki di dapur
82 XIX. Air terjun di tengah malam
83 XX. Uang dalam karung
84 XXI. Tamu jam satu malam
85 XXII. Interogasi
86 XXIII. Kesimpulan Awal
87 XXIV. Kamar Erwin
88 XXV. Masa Lalu
89 XXVI. Tarji alergi dingin
90 XXVII. Kemampuan Bayu
91 XXVIII. Cincin Ananta
92 XXIX. Sebuah tamparan
93 XXX. Perempuan pemilik uang
94 XXXI. Kecantikan Medusa
95 XXXII. Jumat Pahing
96 XXXIII. Bidan Desa
97 XXXIV. Bidan Nurma
98 XXXV. Buku seri ketiga
99 XXXVI. I Will Always Love You
100 XXXVII. Perempuan di depan cermin
101 XXXVIII. Penyesalan Erwin
102 XXXIX. Erwin pelakunya
103 XL. Keterangan Semua Orang
104 XLI. Miko Hilang
105 XLII. Menuntut Balas!
106 XLIII. Lari atau kembali?
107 XLIV. Kegilaan Erwin
108 XLV. Orang seperti apa Bayu Khairil?
109 XLVI. Kenyataan Damar
110 XLVII. Manusia bertopeng iblis
111 XLVIII. Hujan merah maroon
112 XLIX. Tangis Miko
113 L. Kembalinya Miko
114 LI. Aroma hutan di malam kelam
115 LII. Tanah milik Sang Rich Man
116 LIII. Tawa Anggun
117 LIV. Ibuk mertua ku sayang Ibuk mertua ku malang
118 LV. Janji dua anak manusia
119 LVI. Akhir adalah Awal
120 Karya Misteri Baru dari bung Kus
121 NOVEL CETAK RUMAH TENGAH SAWAH
122 Ijin Promo Judul Baru
123 Judul Horor Baru bung Kus
124 Novel Horor Baru
Episodes

Updated 124 Episodes

1
1. Sepucuk surat
2
2. Guru BK
3
3. Perjalanan melewati hutan
4
4. Puncak bukit
5
5. Rumah yang tertutup rapat
6
6. Mumi
7
7. Sebelas orang
8
8. Sesuatu yang hanyut
9
9. Kamar Tamu
10
10. Hilang
11
11. Makan malam
12
12. Handuk Basah
13
13. Kamar atas
14
14. Dipta dan Galang
15
15. Kesalahan masa lalu
16
16. Analisa Bayu
17
17. Hujan di atas bukit
18
18. Dipta
19
19. Terisolasi
20
20. Kayu Bakar dan Hujan
21
21. Kue ulang tahun
22
22. Pondok Tua
23
23. Cokelat untukmu
24
24. Bunga dan Kumbang
25
Ruang Curhat
26
25. Perselisihan
27
26. Tia
28
27. Dugaan Denis
29
28. Lemari
30
29. Batu Nisan
31
30. Pertarungan
32
31. Luka di kaki
33
32. Pemeriksaan Kamar
34
33. Sebuah Kunci
35
34. Malam kedua
36
35. Putus Asa
37
36. Dalam Kegelapan
38
37. Hidup dan Mati
39
38. Amarah Ellie
40
39. Fadlan dan Wignyo
41
40. Suara apa gerangan?
42
41. Pesan Galang
43
42. Ruangan yang asing
44
43. Ekskul Drama
45
Ruang Curhat II
46
44. Tuan Zainul
47
45. Saran Bayu
48
46. Tabur Tuai
49
47. Perempuan tua misterius
50
48. Penonton pertunjukan
51
49. Keluar dari hutan
52
50. Kamar Sang Rich Man
53
51. Hak dan Kewajiban untuk bahagia
54
Ruang Curhat III
55
52. Kalian tidak akan mengerti!
56
53. Zainul
57
54. Kebakaran
58
55. Peran Bayu
59
56. Buku bersampul merah
60
57. Malam yang gaduh di desa nan jauh
61
58. Penebusan
62
59. Hilangkan jejak
63
60. Pembalasan dan Penebusan
64
I. Lembaran Baru
65
II. Senja Pertama
66
III. Makan Malam Keluarga
67
IV. Buku Merah Maroon
68
V. Pagi berkabut
69
VI. Miko
70
VII. Tamu
71
VIII. Mari berfoto
72
IX. Kepingan Surga
73
X. Perseteruan
74
XI. Buku di atas ranjang
75
XII. Lenyapnya isi kulkas
76
XIII. Sajian lezat
77
XIV. Kematian Erfan
78
XV. Praduga Ali
79
XVI. Selimut
80
XVII. Dalam selimut
81
XVIII. Jejak Kaki di dapur
82
XIX. Air terjun di tengah malam
83
XX. Uang dalam karung
84
XXI. Tamu jam satu malam
85
XXII. Interogasi
86
XXIII. Kesimpulan Awal
87
XXIV. Kamar Erwin
88
XXV. Masa Lalu
89
XXVI. Tarji alergi dingin
90
XXVII. Kemampuan Bayu
91
XXVIII. Cincin Ananta
92
XXIX. Sebuah tamparan
93
XXX. Perempuan pemilik uang
94
XXXI. Kecantikan Medusa
95
XXXII. Jumat Pahing
96
XXXIII. Bidan Desa
97
XXXIV. Bidan Nurma
98
XXXV. Buku seri ketiga
99
XXXVI. I Will Always Love You
100
XXXVII. Perempuan di depan cermin
101
XXXVIII. Penyesalan Erwin
102
XXXIX. Erwin pelakunya
103
XL. Keterangan Semua Orang
104
XLI. Miko Hilang
105
XLII. Menuntut Balas!
106
XLIII. Lari atau kembali?
107
XLIV. Kegilaan Erwin
108
XLV. Orang seperti apa Bayu Khairil?
109
XLVI. Kenyataan Damar
110
XLVII. Manusia bertopeng iblis
111
XLVIII. Hujan merah maroon
112
XLIX. Tangis Miko
113
L. Kembalinya Miko
114
LI. Aroma hutan di malam kelam
115
LII. Tanah milik Sang Rich Man
116
LIII. Tawa Anggun
117
LIV. Ibuk mertua ku sayang Ibuk mertua ku malang
118
LV. Janji dua anak manusia
119
LVI. Akhir adalah Awal
120
Karya Misteri Baru dari bung Kus
121
NOVEL CETAK RUMAH TENGAH SAWAH
122
Ijin Promo Judul Baru
123
Judul Horor Baru bung Kus
124
Novel Horor Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!