Sebuah mobil hitam melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi. Beberapa genangan air bekas hujan semalam beberapa kali dilewati, meninggalkan noda kecoklatan pada velg yang sebelumnya bersih mengkilat.
Si pengemudi adalah seorang wanita berusia tiga puluh tahun. Rambut pendek sebahu, dengan warna pirang kecoklatan. Iva Nora seorang pementas di panggung teater, dengan segudang prestasi yang diraihnya beberapa tahun belakangan ini.
Dengan segala keberhasilan yang telah diraih, Iva menyimpan sebuah masalah pelik. Suaminya adalah seorang pemabuk berat, sekaligus tukang judi akut. Saat ini keluarga kecilnya sedang terlilit hutang yang cukup besar. Keuangan keluarga Iva sedang dalam kondisi sangat buruk. Bahkan mobil yang dia kendarai saat ini adalah mobil rental.
Beruntung, disaat kesulitan sedang membelit dan mencekiknya datang sebuah undangan dari teman semasa SMA nya dulu. Sebuah undangan jamuan makan, sekaligus bagi bagi uang. Sebenarnya Iva sempat berpikir aneh, kenapa tiba tiba saja, tak ada angin tak ada hujan teman SMA nya itu mengundangnya? Namun, seakan tak ada pilihan lain dan tak ada alasan untuk menolak, Iva saat ini menuju ke rumah Zainul Rikhman.
Iva menghentikan mobilnya di sebuah tanah lapang di pinggir sungai. Terdapat rumpun bambu yang lebat berayun ayun tertiup angin. Bambu yang berfungsi sebagai pagar hidup agar tanah tepian sungai tidak mengalami erosi saat musim hujan dan banjir datang. Ada beberapa motor yang sudah terparkir disana.
Tak jauh dari tempat Iva berhenti, terlihat dua orang yang sedang berdiri sambil memperhatikan kedatangannya. Iva segera turun dari mobil, mengambil tas ransel di kursi belakang dan menggendongnya. Dia berjalan mendekati dua orang yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Hallo Iva," Sapa salah satu orang yang melambaikan tangan. Dia adalah Bayu.
Sedangkan satu orang lagi adalah Mella. Seorang perawat di rumah sakit terbesar di kabupaten T. Dua orang yang merupakan teman sekelas Iva di XI IPA 5 dulu.
"Kalian juga dapat undangan dari Zainul?" Iva bertanya penuh selidik.
"Yap. Undangan yang menggiurkan bukan? Benar benar Zainul Rich Man," Mella tersenyum.
"Setelah menerima surat undangan itu, aku langsung menelepon Mella. Menanyakan padanya apakah mendapat undangan yang sama, mengingat dalam surat itu Zainul tidak menggunakan 'kata' kamu, melainkan 'kata' kalian. Jadi aku yakin ada orang lain yang diundang selain aku. Apalagi dalam paket itu juga menyertakan foto kita yang berpose di kelas IPA 5," Bayu menimpali.
"Analisis seorang petugas kepolisian memang tajam. Tadinya aku sempat ragu untuk datang, tapi dengan adanya seorang polisi disini aku jadi lebih tenang," Iva menghela nafas, ekspresinya nampak lega.
"Memang apa yang membuatmu ragu? Dan kenapa kamu harus tenang saat ada seorang polisi?" Bayu bertanya penuh penekanan.
"Ah, ya gimana ya. Bukankah kita dulu kurang baik pada Zainul ya," Ucap Iva ragu ragu.
Suasana langsung hening seketika. Semua terdiam, sibuk dengan pikirannya masing masing. Masa lalu yang ingin mereka lupakan, kini terbayang kembali.
"Ah, sebaiknya kita ngobrol sambil jalan deh," Ucap Mella mengalihkan perhatian.
"Ya, mungkin teman teman yang lain sudah ada yang sampai di rumahnya Zainul," Bayu menimpali.
Semua setuju untuk melanjutkan perjalanan. Mereka bertiga menggendong tas ransel masing masing menyusuri jalan setapak dengan pemandangan pepohonan jenis sengon dan akasia yang menjulang tinggi dan rapat.
Suara tonggeret dan serangga serangga lain terdengar bersahutan, seakan begitu bahagia melihat kedatangan para manusia. Udara yang begitu sejuk dan sedikit lembab terhirup oleh indera penciuman setiap orang yang sedang berjalan menyibak rerumputan di mata kaki mereka.
Sinar mentari pagi menerobos masuk di celah antara pepohonan menghasilkan gambar gambar abstrak di tanah. Kicau burung sesekali juga terdengar di ketinggian. Mungkin hewan yang tak pernah fals itu, melompat dari satu dahan ke dahan yang lain, menikmati pagi bersama kawanannya.
Bayu berdecak kagum. Begitu tenteram hatinya menikmati hiburan alam yang demikian itu.
"Hei, ngomong ngomong udah pada baca berita kemarin belum? Rame banget di medsos" Mella bertanya memulai pembicaraan.
"Berita apaan?" Tukas Iva, sambil mengatur nafas. Jalanan yang mereka lewati mulai menanjak.
"Bu Ami meninggal gantung diri di dapur rumahnya," Mella menjawab setengah berbisik.
"Bu Ami? Guru BK kita dulu?" Iva bertanya memastikan.
Mella mengangguk, sementara Bayu nampak tidak peduli dengan percakapan dua wanita di depannya itu.
"Yang bikin rame di pemberitaan itu adalah di meja sebelah tempat Bu Ami bunuh diri, ada novel terbaru karya Zainul. Novel yang hanya dicetak seratus eksemplar," Mella menghela nafas.
"Menurutmu gimana Bay?" Iva melempar pertanyaan pada Bayu yang sedari tadi diam saja.
"Hah? Apanya?" Bayu mengernyitkan dahi.
"Sebagai seorang polisi kamu pasti sudah tahu kan kasus bunuh diri Bu Ami?" Iva terlihat agak jengkel.
"Ya, aku sudah tahu. Terus kenapa? Itu murni bunuh diri."
"Alasan bunuh diri Bu Ami apa Bay? Kenapa juga harus ada novel karya Zainul disana?" Iva kembali mencecar Bayu dengan pertanyaannya.
"Tidak ada hubungannya. Bisa jadi itu hanya kebetulan. Bu Ami itu hidup sendirian di usia senjanya. Suaminya dulu meninggalkannya dan dia tidak memiliki anak. Mungkin saja dia tertekan dengan itu semua kan. Lagipula aku dari kemarin sudah mengajukan cuti untuk berkunjung kemari. Aku tak tahu detailnya seperti apa," Tukas Bayu.
"Ngomong ngomong, kenapa kamu sampai rela mengambil cuti demi ke tempat Zainul Bay?" Mella menyela pembicaraan.
"Ya, karena aku ingin ketemu Zainul. Bagaimana dengan kalian? Apa karena tergoda dengan uang imbalan?" Bayu tersenyum masam.
Mendengar pertanyaan Bayu, Iva terlihat salah tingkah. Dia bersedia datang memang demi uang yang dijanjikan Zainul di suratnya. Iva sama sekali tak peduli dan tak ingin tahu keadaan Zainul. Dia hanya peduli dengan imbalan uangnya.
Sementara Mella menghentikan langkahnya. Dia berjongkok di tengah jalan setapak yang hendak mereka lalui.
"Sudahi percakapan nggak guna ini. Mari kita istirahat dulu. Betis ini rasanya mau meledak," Mella meringis, dia kelelahan.
"Baru juga separuh jalan Mel," Bayu memprotes, namun pada akhirnya dia berhenti juga menuruti permintaan Mella.
"Kalian terlihat akrab. Masih sering WA nan atau gimana nih?" Iva menggoda Bayu dan Mella.
"Iya. Soalnya selain Bayu, temen sekelas pada ganti nomor semua termasuk kamu. Kita juga nggak punya Group chat," Mella mendengus kesal.
"Yah, saat kita berumah tangga dunia itu akan berubah. Prioritas hidup akan bergeser. Aku memutuskan membatasi pertemanan dan dunia media sosialku. Kalian belum merasakannya, karena kalian berdua masih asyik melajang kan hingga sekarang," Ucap Iva kalem, namun kata katanya menusuk. Mella hanya diam saja kali ini.
Bayu tak terlalu ambil pusing dengan ucapan Iva. Dia sibuk mengamati sekeliling. Pepohonan yang menjulang tinggi, hanya ada jalan setapak yang sedikit tertutup rumput di bagian tengahnya. Manusia seperti apa yang menyukai tinggal di tempat terisolasi seperti ini? Bayu melihat HP nya, ternyata tak terjangkau sinyal.
Zainul Rikhman. . .orang seperti apa dirimu sekarang?
Bersambung . . .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Yuli a
pelan-pelan aja. entar cepet habis. susah nyari cerita kayak gini..
2025-01-15
1
Pie Yana
jadi deh degan CRRTTTT.. crrtt ne perasaan, seru tor q terus nyimak
2024-03-26
2
gr
Dh
2024-02-24
1