Mella kembali ke ruang tamu tak lama setelah sosok Zainul pergi. Dia merasa teman temannya jadi bersikap aneh. Wajah mereka tampak pucat, seperti sedang ketakutan.
"Kalian kenapa sih? Habis lihat hantu?" Mella bertanya penasaran.
"Ssstttt. . .sini duduk sini," Iva meminta Mella untuk mendekat.
"Ellie?" Mella baru menyadari ada Ellie yang sudah ikut bergabung, duduk di sebelah Iva. Ketika Mella pergi ke toilet tadi Ellie belum datang.
"Hai Mell," Ellie menjabat tangan Mella dengan erat.
"Mel mel," Iva berbicara setengah berbisik pada Mella.
"Baru saja, Zainul datang menyapa kita," ucap Iva lirih.
"Oh ya? Dimana dia sekarang? Aku juga ingin ketemu lho," Mella terlihat antusias.
"Jangan keras keras, nanti Zainul dengar. Dia ada di lantai atas," Iva meletakkan telunjuk di bibirnya.
"Kenapa sih?" Mella semakin bingung.
"Zainul jadi mumi," Iva berbisik sambil melotot.
"Hah? Ha ha ha ha. . .apa itu," Mella tergelak, tawanya pecah, kencang dan bergema.
Setelah tawa mereda, Mella baru sadar wajah semua teman temannya nampak serius. Mereka sedang tidak bercanda.
"Ah, sorry. . .seriusan?" Mella akhirnya berhenti tertawa.
"Seluruh badan Zainul mengenakan perban. Suaranya aneh, pokoknya serem," Norita menambahkan.
"Sialan! Aku jadi pengen pulang saja. Rumah ini jauh di pelosok, yang punya rumah penampilannya kayak sedang pesta hallowen. Jangan jangan setelah ini ada yang mati," Dipta nampak gusar.
"Wooo, mulutmuu. Belum pernah dicium orang cantik kayaknya," Ucap Norita sambil melotot. Dipta nyengir mendengarnya.
"Sudahlah, toh sebentar lagi uang yang dijanjikan bakalan ditransfer sama Zainul. Setelah itu terserah mau pulang atau gimana," Galang menimpali.
"Ngomong ngomong, uang apa sih yang dimaksud Zainul tadi? Kok bakalan di transfer ke kita itu maksudnya gimana, untuk apa?" Celetuk Ellie. Semua orang langsung menatap Ellie keheranan.
"Bukankah di surat undangan dari Zainul sudah jelas disebutkan kita akan dapat imbalan uang kalau bersedia datang ke rumah ini?" Kali ini Bayu yang bertanya. Semua orang mengangguk meng iya kan kecuali Ellie. Ellie terlihat kebingungan.
"Ell, memang bagaimana bunyi surat undanganmu?" Bayu kembali bertanya.
"Isi surat undangan dari Zainul menyebutkan jika aku datang kemari, aku akan diberi satu buku koleksi miliknya. Buku yang hanya dicetak 100 eksemplar saja," jawab Ellie. Dari sorot matanya nampak jelas tidak ada dusta.
"Hah? Dan kamu rela datang jauh jauh ke pelosok hutan, berkunjung ke rumah horor di tepian sungai seperti ini demi sebuah khayalan yang di cetak pada setumpuk kertas? Ohh, cantik cantik pekok ya otakmu," Dipta terkekeh mengejek Ellie.
"Bicaramu menunjukkan kualitas dirimu, Dipta. Orang yang tak punya karya apa apa, namun mulutnya dengan licin menghina karya orang lain, apalagi sebuah karya orisinal yang banyak dibicarakan dan dicari. Kamu tak lebih dari tong sampah," Ellie menyahut, matanya menatap tajam pada Dipta.
"Apa katamu?" Dipta berdiri dari duduknya, wajahnya terlihat merah padam.
"Sudah cukup, hentikan perdebatan kalian," Bayu berusaha menengahi.
"Hei, ada apa ini? Dari luar terdengar seru banget," seorang laki laki berdiri di ambang pintu. Laki laki berkulit putih, berkacamata, memakai jaket ber merk Seger. Dialah Hendra Asmara, juga alumni XI IPA 5 berprofesi sebagai seorang pengajar para lansia dalam upaya pemberantasan buta huruf.
"Hendra?" Galang menyapa.
"Oyi, aku baru sampai dan kulihat kalian sudah asyik bercengkerama," Hendra tersenyum cengengesan.
Kehadiran Hendra meredam suasana yang sebelumnya memanas. Dipta sudah kembali duduk di sofa, sementara Ellie terlihat menyibukkan dirinya dengan buku yang baru saja dia ambil dari dalam tas.
"Kamu datang sendirian Hen?" Bayu bertanya.
"Ya, aku tidak telat kan?"
"Sebenarnya berapa orang sih yang diundang kemari?" Tia kali ini bersuara, setelah diam saja sedari tadi.
"Sepertinya sih, dari 40 siswa XI IPA 5 hanya kita bersebelas yang diundang. Sebelas orang dari ekskul drama," jawab Hendra datar.
"Darimana kamu tahu kalau kita bersebelas, padahal yang ada di ruangan ini hanya 9 orang Hen?" Bayu bertanya penuh selidik.
"Weeww, aku lupa kalau ada seorang polisi disini. Jadi salah deh ucapanku," Hendra tertawa santai.
"Ya saat aku melihat kalian, aku langsung menduga personil ekskul drama XI IPA 5 yang diundang Tuan Rich Man ke rumah megahnya ini," Hendra tersenyum penuh arti.
"Sebelas orang yang pernah bermasalah dengan Zainul di masa lalu bukan?" Galang menimpali.
Sebuah kalimat yang membuat suasana hening dan senyap seketika. Sementara Hendra meletakkan barang bawaannya di dekat pintu. Pakaiannya terlihat basah oleh keringat. Nafasnya pun terdengar sedikit ngos ngosan.
-
Setengah lima sore, saat suasana di halaman luar terlihat semakin gelap Denis kembali ke ruang tamu. Musisi itu berjalan sambil bersenandung. Dia cukup kaget melihat jumlah orang di ruang tamu yang bertambah, ada Ellie dan Hendra.
"Darimana saja sih nyuk? Lebih dari sejam kamu di luar, kupikir kamu diculik dedemit hutan," Dipta bertanya dengan kalimatnya yang seperti biasa, tak enak didengar.
"Ngerokok, sekalian mandi di kali. Airnya seger benerrr," Denis mengibas ngibaskan rambut gondrongnya, mirip iklan sampo di tv.
"Iya kah? Mumpung daritadi suasananya gerah dan panas, mandi asyik kali ya," Norita menyahut.
"Mau dimandiin?" Dipta menatap Norita, seperti singa yang menandai buruannya.
"Iihhhhh," Norita tersenyum nakal.
Tiba tiba terdengar langkah kaki dari arah dapur. Mak Ijah datang bersama seorang laki laki di belakangnya. Laki laki berusia sekitar lima puluh tahun. Perawakannya kekar meskipun tidak terlalu tinggi. Tatapan matanya tegas dan terlihat sedikit garang. Dia menenteng tas kresek di kedua tangannya.
"Tuan dan Nyonya, hari sudah sore hidangan juga sudah saya siapkan. Namun, mungkin anda semua perlu untuk membersihkan diri atau mandi terlebih dahulu. Ada 3 kamar mandi di bagian belakang yang bisa digunakan secara bergantian," ucap Mak Ijah dengan wajah datar.
"Di belakang saya ini namanya Pak Mardoyo, tukang kebun sekaligus penjaga rumah ini. Handuknya silahkan dibagikan Pak."
Pak Mardoyo segera mengambil handuk di dalam tas kresek. Kemudian membagikan satu persatu pada para tamu.
"Nanti sekitar jam enam kita berkumpul di ruang makan. Kalau ada yang dibutuhkan atau ditanyakan bisa ke Pak Mardoyo. Saya permisi dulu," Mak Ijah melangkah pergi.
"Pak Mardoyo?" Bayu memanggil.
"Ah, dalem Mas," jawab Pak Mardoyo. Suaranya terdengar serak.
"Bapak kan penjaga rumah. Darimana saja tadi kok waktu kami datang, Bapak tidak ada? Kami panggil panggil juga tidak ada yang menjawab," tanya Bayu.
"Ah anu Mas. Tadi saya di belakang, ngumpulin kayu bakar Mas," Pak Mardoyo terlihat sedikit gelagapan. Sebagai seorang petugas kepolisian Bayu sudah hafal dengan gelagat orang yang berbohong atau menyembunyikan sesuatu.
"Wiihh, Pak Polisi kenapa main interogasi tukang kebun sih," Hendra mengolok olok.
Bayu akhirnya tidak melanjutkan pertanyaannya. Dia mengambil handuk di tangan Pak Mardoyo dan segera menuju ke kamar mandi. Sementara Dipta dan Norita nampak berjalan beriringan keluar rumah.
"Aku mandi nanti kamu jagain ya. Ingat hanya jagain, jangan macem macem," Norita berbisik pada Dipta.
"Iya, beres. Aku cuma pengen lihat saja kok gimana sih kalau bidadari sedang mandi di sungai," Dipta menyeringai, hatinya berbunga bunga.
Norita mendaratkan sebuah cubitan manja pada lengan Dipta. Mereka berdua berlari lari kecil menuju sungai. Tanpa mereka sadari, seseorang sedang mengawasi dari teras rumah. Tatapannya begitu tajam, dengan gigi gemeretak beradu menahan amarah.
Bersambung ___
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Yuli a
Mardoto?
2025-01-15
1
Yuli a
sp nih
2025-01-15
1
Laksmi Amik
siapa yg marah thor
2024-01-15
2