8. Sesuatu yang hanyut

Ellie duduk di hamparan rumput di halaman depan. Senja membuat langit nampak redup dan temaram. Semburat merah jingga juga terlihat di antara mega mendung.

Ellie membaca buku bersampul biru. Nama pengarang tercetak tebal di bagian atas, Zainul Rikhman. Buku pertama dari Zainul yang langsung laku keras di pasaran. Sebuah cerita bersambung menceritakan derita seorang tak berpunya yang mencintai anak seorang saudagar kaya.

Ellie sudah beberapa kali membaca buku itu. Namun, tak ada rasa bosan di hatinya. Sebuah tulisan yang terasa jujur dari Zainul. Sebuah cerita yang Ellie tahu bahwa dari setiap kalimat yang tertulis, Zainul menumpahkan isi hatinya.

"Maafkan aku," ucap Ellie lirih. Cerita dalam buku itu mengingatkan Ellie pada hubungannya dengan Zainul dulu.

Tiga belas tahun silam, pada suatu pagi di hari senin, Zainul mendatangi Ellie setelah bertugas mengibarkan bendera. Ellie ingat betul wajah Zainul yang nampak sumringah datang padanya.

"Terimakasih Ellie, terimakasih telah membalas suratku. Membalas perasaanku," ucap Zainul dengan mata berbinar. 

Zainul memakai setelan seragam putih abu abu lusuh. Di tangan kanannya tergenggam sebuah kertas berwarna merah muda.

"Membalas apa?" Ellie menatap Zainul tak mengerti.

"Surat dariku tempo hari, akhirnya hari ini kamu balas. Kamu tak perlu malu mengakuinya," Zainul menunjukkan kertas yang ada di tangannya. 

"Maaf Nul. Suratmu tempo hari hanya kubaca sekilas, dan kutinggalkan saja di bangku belakang kelas. Aku tak pernah berniat membalasnya. Jadi itu bukan balasan dari aku, itu bukan tulisanku," Ucap Ellie dingin. Sementara teman teman Ellie terlihat tertawa terbahak bahak di belakangnya.

Wajah Zainul langsung tampak berubah. Rona berbinar dan kebahagiaan yang tadi sempat terpancar, kini berubah menjadi rasa malu yang tak terperi.

"Maaf Nul, ini perlu kukatakan padamu agar kamu sadar dimana letak salahmu. Pertama, surat kayak gini sudah nggak jamannya, sekarang itu jamannya udah SMS ataupun telepon makanya segera belilah HP. Dan yang kedua, aku nggak mau pacar pacaran, aku mau fokus sekolah," Ellie pergi meninggalkan Zainul yang masih berdiri mematung di tengah lapangan. Teman teman Ellie masih terus tertawa sambil mengekor berjalan di belakang Ellie.

Kenangan tiga belas tahun silam itu sekilas terngiang di benak Ellie. Kemudian dia menutup buku di tangannya. Ada penyesalan di hati Ellie, kenapa dulu dia begitu ketus pada Zainul.

Ellie masih duduk memandangi langit yang nampak semakin muram. Beberapa mendung hitam terlihat bergerak liar di bawah langit.

Tanpa Ellie sadari, ada sosok yang sedang berjalan mengendap endap di belakangnya. Sosok itu mendekati Ellie dengan hati hati. Sosok itu nampak tersenyum menyeringai sambil terus berjalan berjingkat. Jarak mereka semakin dekat dan . . .

"Elliiee!"

Sebuah teriakan membuat Ellie tersentak. Kaget bukan kepalang. Mella tertawa puas telah berhasil mengagetkan teman lamanya itu.

"Mella, kamu bisa buat aku jantungan," Ellie melotot. Mella terus tertawa melihatnya.

"Lagian ya, kamu surup surup kayak gini duduk melamun menghadap ke hutan. Nggak takut kena sawan?" Mella ikut duduk di sebelah Ellie.

"Buku apa itu?" Mella melirik buku yang digenggam Ellie.

"Novel pertama Zainul. Kamu tahu Mel, kisah dalam novel ini membuatku teringat akan sikapku pada Zainul dulu. Aku sungguh menyesal kenapa dulu aku begitu sering membentaknya, bersikap kasar padanya," Ellie menghela nafas.

"Itu masa lalu Ellie. Pada masa itu, kita masih belum dewasa. Pemikiran dan pengambilan keputusan kita belum matang. Kupikir semua orang telah berbuat salah pada Zainul. Dan kurasa kita tak perlu memperumit hidup ini, kalau telah berbuat salah ya minta maaf," Mella menepuk pundak Ellie.

"Salah satu alasanku datang kesini adalah untuk meminta maaf pada Zainul," Mella tersenyum.

"Memangnya kamu pernah berbuat salah apa pada Zainul Mel? Kukira dari dulu kamu cukup akrab dengannya."

"Emmm, lain kali kuceritakan. Untuk sekarang lebih baik kita masuk ke dalam rumah," Mella mengulurkan tangannya, mengajak Ellie berdiri.

Ellie setuju, mereka berjalan beriringan menuju ke dalam rumah. Tak jauh dari sana nampak Pak Mardoyo berdiri mematung mengawasi dua sahabat itu. Sebuah gunting pemotong rumput digenggamnya dengan erat.

"Pak Mardoyo aneh ih, serem," Mella berbisik, mengajak Ellie untuk mempercepat langkahnya.

Sementara itu di sungai samping rumah, di antara suara gemericik air, terdengar tawa riang sepasang manusia. Dipta dan Norita bermain air, seperti adegan film romansa bolywood.

Baju Norita nampak basah, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah dan sintal. Dipta semakin tergoda, dia mendekati Norita. Mereka berendam di balik batu besar hampir di bagian tengah sungai.

"Ngapain dekat dekat?" Norita pura pura melotot.

"Hei, kamu dari dulu selalu terlihat cantik Nor," Dipta melancarkan rayuannya.

"Dan kamu dari dulu nggak berubah, suka nge gombal," balas Norita.

Dipta sudah berada di hadapan Norita. Tangannya memegangi pinggul Norita di dalam air.

"Ngomong ngomong kamu sudah menikah kan?" Dipta menatap perempuan di hadapannya itu. Kulitnya bersih terawat, hidungnya cukup mancung dengan bulu halus di atas bibir dan di sekitar telinganya. Sungguh menggoda.

"Asal kamu tahu saja, aku sedang mengurus perpisahan dengan suamiku," ucap Norita lirih.

"Bagaimana denganmu?" Norita balik bertanya.

"Aku memiliki satu istri yang sedang hamil. Lagi butuh banyak uang untuk persiapan persalinan. Ah, sungguh merepotkan."

"Bukankah pekerjaanmu sangat bagus?" Norita mengernyitkan dahi.

"Ya, tapi gajiku nggak cukup," Dipta tersenyum masam.

"Hah? Bagaimana bisa?"

"Judi online. Aku kecanduan," jawab Dipta pendek.

"Sudahlah, jangan membahas urusan rumah tangga disini. Kita sedang di tempat antah berantah, tak bolehkah sedikit bersenang senang," Dipta kembali menatap Norita.

"Kamu yang tadi memulainya, bodoh," Norita mendaratkan cubitan di lengan Dipta.

Bluunggg

Terdengar suara sesuatu terjauh ke dalam air. Suara dari bagian atas sungai, cukup kencang hingga terdengar meski gemericik air begitu riuh ramai.

"Suara apa itu?" Norita menoleh ke arah sumber suara.

"Apa sih? Mungkin ranting atau kayu jatuh. Ini kan di tengah hutan," Dipta nampak tidak peduli.

"Coba lihat apa itu yang hanyut," Norita menunjuk ke bagian atas sungai. Dipta kali ini ikutan menoleh memperhatikan.

Suasana memang sudah cukup gelap, mereka kesulitan melihat dengan jelas benda yang terapung di kejauhan. Sesuatu yang berwarna putih kecoklatan, berayun ayun di dalam air. Ada sedikit semburat merah di sekitarnya.

"Airnya berdarah?" Norita terpekik. Tubuhnya merinding, namun penglihatannya tak mau lepas dari sesuatu yang mengapung itu.

Baik Norita juga Dipta hanya bisa diam terpaku, saat benda yang mengapung itu berlalu melewati mereka. Nampak jelas sepotong tang*n hanyut dibawa derasnya air sungai.

Di bagian atas sungai terlihat bayangan manusia berlari menuju ke arah rumah.

"Dipta, aku takut," Norita menangis mencengkeram lengan Dipta dengan erat.

"Sialan, kita harus segera pergi dari tempat ini," Dipta pun gemetar hebat. Tangan siapa yang baru saja hanyut? Dan siapa pula yang menghanyutkannya tadi? 

Bersambung ___

Terpopuler

Comments

Yuli a

Yuli a

tangan siapa yang udah jadi korban duluan tuh...

2025-01-15

2

Yuli a

Yuli a

apa pelakunya si Elie ya....

2025-01-16

2

Pie Yana

Pie Yana

wihh dag dig dug derr neh thor soundtrack nya...

2024-03-26

1

lihat semua
Episodes
1 1. Sepucuk surat
2 2. Guru BK
3 3. Perjalanan melewati hutan
4 4. Puncak bukit
5 5. Rumah yang tertutup rapat
6 6. Mumi
7 7. Sebelas orang
8 8. Sesuatu yang hanyut
9 9. Kamar Tamu
10 10. Hilang
11 11. Makan malam
12 12. Handuk Basah
13 13. Kamar atas
14 14. Dipta dan Galang
15 15. Kesalahan masa lalu
16 16. Analisa Bayu
17 17. Hujan di atas bukit
18 18. Dipta
19 19. Terisolasi
20 20. Kayu Bakar dan Hujan
21 21. Kue ulang tahun
22 22. Pondok Tua
23 23. Cokelat untukmu
24 24. Bunga dan Kumbang
25 Ruang Curhat
26 25. Perselisihan
27 26. Tia
28 27. Dugaan Denis
29 28. Lemari
30 29. Batu Nisan
31 30. Pertarungan
32 31. Luka di kaki
33 32. Pemeriksaan Kamar
34 33. Sebuah Kunci
35 34. Malam kedua
36 35. Putus Asa
37 36. Dalam Kegelapan
38 37. Hidup dan Mati
39 38. Amarah Ellie
40 39. Fadlan dan Wignyo
41 40. Suara apa gerangan?
42 41. Pesan Galang
43 42. Ruangan yang asing
44 43. Ekskul Drama
45 Ruang Curhat II
46 44. Tuan Zainul
47 45. Saran Bayu
48 46. Tabur Tuai
49 47. Perempuan tua misterius
50 48. Penonton pertunjukan
51 49. Keluar dari hutan
52 50. Kamar Sang Rich Man
53 51. Hak dan Kewajiban untuk bahagia
54 Ruang Curhat III
55 52. Kalian tidak akan mengerti!
56 53. Zainul
57 54. Kebakaran
58 55. Peran Bayu
59 56. Buku bersampul merah
60 57. Malam yang gaduh di desa nan jauh
61 58. Penebusan
62 59. Hilangkan jejak
63 60. Pembalasan dan Penebusan
64 I. Lembaran Baru
65 II. Senja Pertama
66 III. Makan Malam Keluarga
67 IV. Buku Merah Maroon
68 V. Pagi berkabut
69 VI. Miko
70 VII. Tamu
71 VIII. Mari berfoto
72 IX. Kepingan Surga
73 X. Perseteruan
74 XI. Buku di atas ranjang
75 XII. Lenyapnya isi kulkas
76 XIII. Sajian lezat
77 XIV. Kematian Erfan
78 XV. Praduga Ali
79 XVI. Selimut
80 XVII. Dalam selimut
81 XVIII. Jejak Kaki di dapur
82 XIX. Air terjun di tengah malam
83 XX. Uang dalam karung
84 XXI. Tamu jam satu malam
85 XXII. Interogasi
86 XXIII. Kesimpulan Awal
87 XXIV. Kamar Erwin
88 XXV. Masa Lalu
89 XXVI. Tarji alergi dingin
90 XXVII. Kemampuan Bayu
91 XXVIII. Cincin Ananta
92 XXIX. Sebuah tamparan
93 XXX. Perempuan pemilik uang
94 XXXI. Kecantikan Medusa
95 XXXII. Jumat Pahing
96 XXXIII. Bidan Desa
97 XXXIV. Bidan Nurma
98 XXXV. Buku seri ketiga
99 XXXVI. I Will Always Love You
100 XXXVII. Perempuan di depan cermin
101 XXXVIII. Penyesalan Erwin
102 XXXIX. Erwin pelakunya
103 XL. Keterangan Semua Orang
104 XLI. Miko Hilang
105 XLII. Menuntut Balas!
106 XLIII. Lari atau kembali?
107 XLIV. Kegilaan Erwin
108 XLV. Orang seperti apa Bayu Khairil?
109 XLVI. Kenyataan Damar
110 XLVII. Manusia bertopeng iblis
111 XLVIII. Hujan merah maroon
112 XLIX. Tangis Miko
113 L. Kembalinya Miko
114 LI. Aroma hutan di malam kelam
115 LII. Tanah milik Sang Rich Man
116 LIII. Tawa Anggun
117 LIV. Ibuk mertua ku sayang Ibuk mertua ku malang
118 LV. Janji dua anak manusia
119 LVI. Akhir adalah Awal
120 Karya Misteri Baru dari bung Kus
121 NOVEL CETAK RUMAH TENGAH SAWAH
122 Ijin Promo Judul Baru
123 Judul Horor Baru bung Kus
124 Novel Horor Baru
Episodes

Updated 124 Episodes

1
1. Sepucuk surat
2
2. Guru BK
3
3. Perjalanan melewati hutan
4
4. Puncak bukit
5
5. Rumah yang tertutup rapat
6
6. Mumi
7
7. Sebelas orang
8
8. Sesuatu yang hanyut
9
9. Kamar Tamu
10
10. Hilang
11
11. Makan malam
12
12. Handuk Basah
13
13. Kamar atas
14
14. Dipta dan Galang
15
15. Kesalahan masa lalu
16
16. Analisa Bayu
17
17. Hujan di atas bukit
18
18. Dipta
19
19. Terisolasi
20
20. Kayu Bakar dan Hujan
21
21. Kue ulang tahun
22
22. Pondok Tua
23
23. Cokelat untukmu
24
24. Bunga dan Kumbang
25
Ruang Curhat
26
25. Perselisihan
27
26. Tia
28
27. Dugaan Denis
29
28. Lemari
30
29. Batu Nisan
31
30. Pertarungan
32
31. Luka di kaki
33
32. Pemeriksaan Kamar
34
33. Sebuah Kunci
35
34. Malam kedua
36
35. Putus Asa
37
36. Dalam Kegelapan
38
37. Hidup dan Mati
39
38. Amarah Ellie
40
39. Fadlan dan Wignyo
41
40. Suara apa gerangan?
42
41. Pesan Galang
43
42. Ruangan yang asing
44
43. Ekskul Drama
45
Ruang Curhat II
46
44. Tuan Zainul
47
45. Saran Bayu
48
46. Tabur Tuai
49
47. Perempuan tua misterius
50
48. Penonton pertunjukan
51
49. Keluar dari hutan
52
50. Kamar Sang Rich Man
53
51. Hak dan Kewajiban untuk bahagia
54
Ruang Curhat III
55
52. Kalian tidak akan mengerti!
56
53. Zainul
57
54. Kebakaran
58
55. Peran Bayu
59
56. Buku bersampul merah
60
57. Malam yang gaduh di desa nan jauh
61
58. Penebusan
62
59. Hilangkan jejak
63
60. Pembalasan dan Penebusan
64
I. Lembaran Baru
65
II. Senja Pertama
66
III. Makan Malam Keluarga
67
IV. Buku Merah Maroon
68
V. Pagi berkabut
69
VI. Miko
70
VII. Tamu
71
VIII. Mari berfoto
72
IX. Kepingan Surga
73
X. Perseteruan
74
XI. Buku di atas ranjang
75
XII. Lenyapnya isi kulkas
76
XIII. Sajian lezat
77
XIV. Kematian Erfan
78
XV. Praduga Ali
79
XVI. Selimut
80
XVII. Dalam selimut
81
XVIII. Jejak Kaki di dapur
82
XIX. Air terjun di tengah malam
83
XX. Uang dalam karung
84
XXI. Tamu jam satu malam
85
XXII. Interogasi
86
XXIII. Kesimpulan Awal
87
XXIV. Kamar Erwin
88
XXV. Masa Lalu
89
XXVI. Tarji alergi dingin
90
XXVII. Kemampuan Bayu
91
XXVIII. Cincin Ananta
92
XXIX. Sebuah tamparan
93
XXX. Perempuan pemilik uang
94
XXXI. Kecantikan Medusa
95
XXXII. Jumat Pahing
96
XXXIII. Bidan Desa
97
XXXIV. Bidan Nurma
98
XXXV. Buku seri ketiga
99
XXXVI. I Will Always Love You
100
XXXVII. Perempuan di depan cermin
101
XXXVIII. Penyesalan Erwin
102
XXXIX. Erwin pelakunya
103
XL. Keterangan Semua Orang
104
XLI. Miko Hilang
105
XLII. Menuntut Balas!
106
XLIII. Lari atau kembali?
107
XLIV. Kegilaan Erwin
108
XLV. Orang seperti apa Bayu Khairil?
109
XLVI. Kenyataan Damar
110
XLVII. Manusia bertopeng iblis
111
XLVIII. Hujan merah maroon
112
XLIX. Tangis Miko
113
L. Kembalinya Miko
114
LI. Aroma hutan di malam kelam
115
LII. Tanah milik Sang Rich Man
116
LIII. Tawa Anggun
117
LIV. Ibuk mertua ku sayang Ibuk mertua ku malang
118
LV. Janji dua anak manusia
119
LVI. Akhir adalah Awal
120
Karya Misteri Baru dari bung Kus
121
NOVEL CETAK RUMAH TENGAH SAWAH
122
Ijin Promo Judul Baru
123
Judul Horor Baru bung Kus
124
Novel Horor Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!