Ellie duduk di hamparan rumput di halaman depan. Senja membuat langit nampak redup dan temaram. Semburat merah jingga juga terlihat di antara mega mendung.
Ellie membaca buku bersampul biru. Nama pengarang tercetak tebal di bagian atas, Zainul Rikhman. Buku pertama dari Zainul yang langsung laku keras di pasaran. Sebuah cerita bersambung menceritakan derita seorang tak berpunya yang mencintai anak seorang saudagar kaya.
Ellie sudah beberapa kali membaca buku itu. Namun, tak ada rasa bosan di hatinya. Sebuah tulisan yang terasa jujur dari Zainul. Sebuah cerita yang Ellie tahu bahwa dari setiap kalimat yang tertulis, Zainul menumpahkan isi hatinya.
"Maafkan aku," ucap Ellie lirih. Cerita dalam buku itu mengingatkan Ellie pada hubungannya dengan Zainul dulu.
Tiga belas tahun silam, pada suatu pagi di hari senin, Zainul mendatangi Ellie setelah bertugas mengibarkan bendera. Ellie ingat betul wajah Zainul yang nampak sumringah datang padanya.
"Terimakasih Ellie, terimakasih telah membalas suratku. Membalas perasaanku," ucap Zainul dengan mata berbinar.
Zainul memakai setelan seragam putih abu abu lusuh. Di tangan kanannya tergenggam sebuah kertas berwarna merah muda.
"Membalas apa?" Ellie menatap Zainul tak mengerti.
"Surat dariku tempo hari, akhirnya hari ini kamu balas. Kamu tak perlu malu mengakuinya," Zainul menunjukkan kertas yang ada di tangannya.
"Maaf Nul. Suratmu tempo hari hanya kubaca sekilas, dan kutinggalkan saja di bangku belakang kelas. Aku tak pernah berniat membalasnya. Jadi itu bukan balasan dari aku, itu bukan tulisanku," Ucap Ellie dingin. Sementara teman teman Ellie terlihat tertawa terbahak bahak di belakangnya.
Wajah Zainul langsung tampak berubah. Rona berbinar dan kebahagiaan yang tadi sempat terpancar, kini berubah menjadi rasa malu yang tak terperi.
"Maaf Nul, ini perlu kukatakan padamu agar kamu sadar dimana letak salahmu. Pertama, surat kayak gini sudah nggak jamannya, sekarang itu jamannya udah SMS ataupun telepon makanya segera belilah HP. Dan yang kedua, aku nggak mau pacar pacaran, aku mau fokus sekolah," Ellie pergi meninggalkan Zainul yang masih berdiri mematung di tengah lapangan. Teman teman Ellie masih terus tertawa sambil mengekor berjalan di belakang Ellie.
Kenangan tiga belas tahun silam itu sekilas terngiang di benak Ellie. Kemudian dia menutup buku di tangannya. Ada penyesalan di hati Ellie, kenapa dulu dia begitu ketus pada Zainul.
Ellie masih duduk memandangi langit yang nampak semakin muram. Beberapa mendung hitam terlihat bergerak liar di bawah langit.
Tanpa Ellie sadari, ada sosok yang sedang berjalan mengendap endap di belakangnya. Sosok itu mendekati Ellie dengan hati hati. Sosok itu nampak tersenyum menyeringai sambil terus berjalan berjingkat. Jarak mereka semakin dekat dan . . .
"Elliiee!"
Sebuah teriakan membuat Ellie tersentak. Kaget bukan kepalang. Mella tertawa puas telah berhasil mengagetkan teman lamanya itu.
"Mella, kamu bisa buat aku jantungan," Ellie melotot. Mella terus tertawa melihatnya.
"Lagian ya, kamu surup surup kayak gini duduk melamun menghadap ke hutan. Nggak takut kena sawan?" Mella ikut duduk di sebelah Ellie.
"Buku apa itu?" Mella melirik buku yang digenggam Ellie.
"Novel pertama Zainul. Kamu tahu Mel, kisah dalam novel ini membuatku teringat akan sikapku pada Zainul dulu. Aku sungguh menyesal kenapa dulu aku begitu sering membentaknya, bersikap kasar padanya," Ellie menghela nafas.
"Itu masa lalu Ellie. Pada masa itu, kita masih belum dewasa. Pemikiran dan pengambilan keputusan kita belum matang. Kupikir semua orang telah berbuat salah pada Zainul. Dan kurasa kita tak perlu memperumit hidup ini, kalau telah berbuat salah ya minta maaf," Mella menepuk pundak Ellie.
"Salah satu alasanku datang kesini adalah untuk meminta maaf pada Zainul," Mella tersenyum.
"Memangnya kamu pernah berbuat salah apa pada Zainul Mel? Kukira dari dulu kamu cukup akrab dengannya."
"Emmm, lain kali kuceritakan. Untuk sekarang lebih baik kita masuk ke dalam rumah," Mella mengulurkan tangannya, mengajak Ellie berdiri.
Ellie setuju, mereka berjalan beriringan menuju ke dalam rumah. Tak jauh dari sana nampak Pak Mardoyo berdiri mematung mengawasi dua sahabat itu. Sebuah gunting pemotong rumput digenggamnya dengan erat.
"Pak Mardoyo aneh ih, serem," Mella berbisik, mengajak Ellie untuk mempercepat langkahnya.
Sementara itu di sungai samping rumah, di antara suara gemericik air, terdengar tawa riang sepasang manusia. Dipta dan Norita bermain air, seperti adegan film romansa bolywood.
Baju Norita nampak basah, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah dan sintal. Dipta semakin tergoda, dia mendekati Norita. Mereka berendam di balik batu besar hampir di bagian tengah sungai.
"Ngapain dekat dekat?" Norita pura pura melotot.
"Hei, kamu dari dulu selalu terlihat cantik Nor," Dipta melancarkan rayuannya.
"Dan kamu dari dulu nggak berubah, suka nge gombal," balas Norita.
Dipta sudah berada di hadapan Norita. Tangannya memegangi pinggul Norita di dalam air.
"Ngomong ngomong kamu sudah menikah kan?" Dipta menatap perempuan di hadapannya itu. Kulitnya bersih terawat, hidungnya cukup mancung dengan bulu halus di atas bibir dan di sekitar telinganya. Sungguh menggoda.
"Asal kamu tahu saja, aku sedang mengurus perpisahan dengan suamiku," ucap Norita lirih.
"Bagaimana denganmu?" Norita balik bertanya.
"Aku memiliki satu istri yang sedang hamil. Lagi butuh banyak uang untuk persiapan persalinan. Ah, sungguh merepotkan."
"Bukankah pekerjaanmu sangat bagus?" Norita mengernyitkan dahi.
"Ya, tapi gajiku nggak cukup," Dipta tersenyum masam.
"Hah? Bagaimana bisa?"
"Judi online. Aku kecanduan," jawab Dipta pendek.
"Sudahlah, jangan membahas urusan rumah tangga disini. Kita sedang di tempat antah berantah, tak bolehkah sedikit bersenang senang," Dipta kembali menatap Norita.
"Kamu yang tadi memulainya, bodoh," Norita mendaratkan cubitan di lengan Dipta.
Bluunggg
Terdengar suara sesuatu terjauh ke dalam air. Suara dari bagian atas sungai, cukup kencang hingga terdengar meski gemericik air begitu riuh ramai.
"Suara apa itu?" Norita menoleh ke arah sumber suara.
"Apa sih? Mungkin ranting atau kayu jatuh. Ini kan di tengah hutan," Dipta nampak tidak peduli.
"Coba lihat apa itu yang hanyut," Norita menunjuk ke bagian atas sungai. Dipta kali ini ikutan menoleh memperhatikan.
Suasana memang sudah cukup gelap, mereka kesulitan melihat dengan jelas benda yang terapung di kejauhan. Sesuatu yang berwarna putih kecoklatan, berayun ayun di dalam air. Ada sedikit semburat merah di sekitarnya.
"Airnya berdarah?" Norita terpekik. Tubuhnya merinding, namun penglihatannya tak mau lepas dari sesuatu yang mengapung itu.
Baik Norita juga Dipta hanya bisa diam terpaku, saat benda yang mengapung itu berlalu melewati mereka. Nampak jelas sepotong tang*n hanyut dibawa derasnya air sungai.
Di bagian atas sungai terlihat bayangan manusia berlari menuju ke arah rumah.
"Dipta, aku takut," Norita menangis mencengkeram lengan Dipta dengan erat.
"Sialan, kita harus segera pergi dari tempat ini," Dipta pun gemetar hebat. Tangan siapa yang baru saja hanyut? Dan siapa pula yang menghanyutkannya tadi?
Bersambung ___
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Yuli a
tangan siapa yang udah jadi korban duluan tuh...
2025-01-15
2
Yuli a
apa pelakunya si Elie ya....
2025-01-16
2
Pie Yana
wihh dag dig dug derr neh thor soundtrack nya...
2024-03-26
1