"Bagaimana situasi di sana, Ly?"
"Aman! Sedikit lagi, aku selesai."
"Oke. Selesaikan dengan cepat. Aku punya kejutan untukmu, Ly."
"Benarkah? Aku sudah tidak sabar."
"Sudah cukup, kalian berdua. Fokus! Waktu kita tidak banyak!" Sebuah suara mengintrupsi dua orang yang berbicara tadi melalui earpice yang terpasang di telinga masing-masing.
"Kami tahu, Kak. Lycoris akan melakukan tugasnya dengan baik. Tenang saja!"
"Kakak tahu! Misi yang kalian kerjakan memang tidak pernah gagal. Kakak hanya mengingatkan kalian berdua,"
"Siap, Kak!"
Seperti yang dikatakan, mereka sedang dalam misi penyelundupan. Lebih tepatnya, misi dengan tujuan menggagalkan transaksi perdagangan manusia di sebuah pelabuhan kecil di pinggiran kota Kanada.
Orang yang berbicara pertama kali adalah Rhiana Lavanya Veenick. Anak bungsu Zant dan Rihan. Rhiana menjalankan misi bersama sahabat baiknya, Lycoris Ranny Shaclike. Rhiana biasa memanggilnya Ly. Keduanya diberi misi oleh Rihan. Sedangkan orang yang satunya lagi, adalah putra tertua Zant dan Rihan. Dalfa Aurellio Veenick.
Rihan yang memberi perintah untuk menjalankan misi, Dalfi adalah otak dari rencana ini, Dalfa bertugas memantau situasi, Rhiana dan Lycoris yang menjalankan misi. Seharusnya posisi dua pria dan dua gadis itu terbalik, tetapi dua gadis itu justru ingin turun langsung dalam misi ini.
Rihan masih tetap menjadi pemimpin organisasi Cruel Devil. Ketiga anaknya belum ada yang mau mengemban tugas sebagai pemimpin organisasi itu. Ketiganya menolak karena belum sanggup. Mereka merasa kemampuan mereka sama sekali belum menyamai kedua orang tua mereka.
Jadi, Rihan untuk sementara masih tetap pada posisinya. Rihan hanya memberi ancaman pada anak-anaknya dengan memberi ketiganya waktu selama 2 tahun. Setelah itu, Rihan akan memberikan kursi kepemimpinan pada salah satu dari mereka tanpa ada penolakan apapun. Rihan tidak tahu, bahwa Dalfa dan Dalfi sudah memutuskan untuk memberikan posisi itu pada adik bungsu mereka Rhiana.
Dalfa tidak ingin menjadi pemimpin organisasi itu, karena tugasnya sekarang sudah membuatnya sibuk. Dalfa sudah mengemban tugas sebagai CEO R.A Group, perusahaan milik sang mommy, Rihan. Sedangkan Dalfi sebagai CEO Cognizant Technology, perusahaan milik sang daddy, Zant.
Meski masih tergolong usia muda, tapi ketiga anak kembar Rihan dan Zant sangat terampil. Usia mereka sekarang 15 tahun. Benar-benar masih sangat muda.
Tidak ada seorangpun karyawan perusahaan yang berani menolak CEO baru yang begitu muda. Menatap wajah mereka saja, tidak ada yang berani. Aura CEO muda mereka benar-benar setara dengan CEO mereka sebelumnya.
Dalfa dan Dalfi sudah membuat keputusan diam-diam, untuk memberikan posisi organisasi Cruel Devil pada saudari kembar mereka, Rhiana. Jika bisa, keduanya juga ingin adik bungsu mereka mengambil alih kelompok daddy mereka. Keduanya hanya akan membantu menyusun rencana dan menjalankan setiap misi.
...
Berbicara tentang misi, Rihan tidak menyangka, ternyata masih ada kaki tangan organisasi bawah tanah. Meski bos mereka sudah dibunuh 15 tahun lalu, ternyata masih ada beberapa bawahan setia mereka, sehingga organisasi bawah tanah yang sudah dihancurkan dulu, kini kembali berdiri.
Tujuan Rihan mendirikan organisasi Cruel Devil untuk membantu rencana balas dendamnya, juga membantu pemerintah. Belum lagi organisasi bawah tanah yang kini semakin meresahkan. Jika 15 tahun lalu, mereka membuat dan menjual belikan obat terlarang, senjata dan virus, kini apa yang mereka lakukan semakin berbahaya.
Bukan saja melakukan rutinitas mereka 15 tahun lalu, mereka kini menjual manusia hidup, juga organ tubuh manusia secara ilegal. Tidak hanya itu. Organisasi bawah tanah itu juga menjadi pembunuh bayaran yang tidak kenal ampun. Mereka akan membunuh siapa saja yang menjadi target klien mereka. Tentu saja dengan bayaran yang mahal.
Aksi mereka kali ini benar-benar membuat pemerintah sakit kepala. Sudah banyak korban karena organisasi itu. Hampir setiap hari selalu ada laporan orang hilang di setiap negara. Pemerintah sama sekali tidak memiliki kekuatan untuk membasmi organisasi itu.
Rihan yang merasa tugasnya di masa lalu belum selesai, akhirnya memberikan misi untuk anak-anaknya. Suami posesifnya tidak ingin dia turunkan langsung, sehingga Rihan hanya bisa memberi perintah. Anak-anaknya yang akan melakukan semuanya itu.
...
Beralih pada situasi pinggiran kota Kanada.
Rhiana ada di salah satu pohon tertinggi didekat pelabuhan itu. Dia bertugas sebagai sniper. Lycoris berperan sebagai salah satu sandera yang akan diperdagangkan.
Biasanya di misi-misi sebelumnya, Rhiana yang selalu menjadi sandera, atau menjadi umpan. Tapi kali ini, Lycoris ingin mencoba menjadi sandera. Gadis itu sedikit bosan menjadi sniper. Akhirnya keduanya bertukar posisi untuk sementara.
"Siap-siap, Ly! Seseorang menuju ke arahmu." Rhiana memberi instruksi setelah melihat melalui senjata Barrett M82 miliknya.
Barrett M82 adalah senjata sniper militer Amerika Serikat yang merupakan senjata sniper mematikan. Pelurunya bisa menembus hingga ke tembok. Setelah dimodifikasi lagi, senjata itu semakin canggih. Selain peluru yang menembus tembok, jarak tempuhnya juga semakin jauh. Bukan hanya itu. Penggunanya juga bisa melihat apa saja dibalik tembok yang memiliki ketebalan hingga 30 cm.
Lycoris, selain menyamar sebagai sandera, gadis itu juga diam-diam memasang bom rakitan di beberapa tempat jaga dan tempat penyimpanan. Tujuan pemasangan bom rakitan itu untuk rencana cadangan, atau untuk hal mendesak.
Mereka baru tahu bahwa bukan hanya transaksi perdagangan manusia malam ini, tetapi juga transaksi perdagangan obat terlarang dan beberapa senjata militer.
"Oke." Lycoris hanya menjawab dengan singkat dan dengan cepat bersembunyi, lalu kembali berbaur dengan para sandera lainnya.
Lycoris bersama para sandera kemudian digiring menuju jembatan dan bersiap-siap naik kapal. Transaksi sudah selesai beberapa saat lalu, sehingga para sandera siap dikirim.
BOOMM!!!
Suara ledakan keras membuat para sandera dan orang-orang organisasi bawah tanah menjadi panik. Selama ini rencana mereka tidak pernah bocor keluar. Mereka selalu melakukan semuanya dengan bersih. Mereka hanya akan meninggalkan beberapa bukti untuk menunjukkan seberapa besar kekuasaan organisasi bawah tanah pada dunia.
Ledakan itu terjadi, karena dipicu oleh peluru seorang Rhiana yang menembak bom rakitan yang dipasang oleh sahabatnya.
"Sorry! tanganku licin," Rhiana dengan santai berbicara. Lycoris hanya tersenyum tipis mendengar penuturan sahabatnya ini. Tentu saja dia tahu Rhiana ingin main-main.
Di saat para sandera didorong paksa untuk masuk ke kapal, Lycoris tetap tenang dan berjalan masuk ke dalam kapal.
Setelah itu, dengan tiba-tiba satu persatu orang-orang organisasi bawah tanah mulai tumbang di pelabuhan itu. Mereka tidak tahu dari mana asal tembakan itu. Suaranya bahkan tidak ada. Mereka mulai panik. Beberapa orang mulai bersembunyi.
Rhiana yang melihatnya menyeringai. Bersembunyi pun, senjata miliknya tetap akan menemukan mereka. Rhiana dengan santai terus menembaki orang-orang itu. Kapal juga belum berangkat. Bagaimana mau berangkat, nahkodanya sudah Rhiana tembak mati.
Rhiana akan membunuh para bawahan lebih dulu. Untuk utusan yang melakukan transaksi, akan dia urus belakangan. Baginya, mereka adalah makanan penutup.
"Para sandera aman, Rhi. Bagaimana situasimu?" Tanya Lycoris melalui earpice di telinganya.
"Sebentar lagi! Amankan para sandera dalam satu ruangan. Bantu aku memblokir jalan para utusan itu. Aku akan turun ke sana," Rhiana setelah mengatakan itu, bergegas merapikan senjatanya dan bersiap melompat.
"Oke. Waktumu hanya 5 menit, Rhi. Aku sudah tidak sabar mendengar kejutan darimu."
"Hahaha... kamu benar-benar. 5 menit terlalu banyak. Berikan aku 3 menit."
"Oke."
Selama berbicara dengan sahabatnya, Rhiana tetap bergerak dengan tenang dan gesit menuju pelabuhan. Gerakannya tidak meninggalkan suara apapun. Bahkan nafasnya pun hampir tidak terdengar.
"2 menit 50 detik! Di mana posisimu, Ly?" Rhiana berbicara setelah menatap waktu di jam tangannya.
"Di kabin! Para utusan itu akan segera pergi."
"Aku tahu. Mereka bagianku. Tenang saja!" Rhiana kembali memposisikan senjatanya untuk menembak mobil yang bersiap keluar dari pelabuhan. Karena jaraknya dengan target hanya beberapa meter, sehingga Rhiana begitu santai.
"Baiklah. Aku akan mengurus para utusan di sini. Mereka sepertinya sudah menyadari kematian sang nakhoda."
"Hati-hati, Ly!"
"Siap, Tuan puteri!" Lycoris menjawab dengan tegas dan terkekeh diakhir kalimatnya.
Keduanya lalu melakukan tugas masing-masing dengan baik.
BOOMM!
BRAKK
BRUKK
BRUKK
Dua kendaraan berhasil Rhiana hentikan. Dua sedan hitam itu, kini terbalik dan berguling karena ledakan pada ban masing-masing.
"Kak, sekarang tugasmu menghubungi polisi." Rhiana menginstruksi Dalfa, Saudara kembarnya.
"Oke."
Rhiana kemudian merapikan senjata sniper miliknya, dan mengendongnya di punggung. Gadis itu kemudian mengambil pistol yang tersimpan dibalik pinggangnya dan bersiap menyusul sahabatnya.
...
Dor
Dor
Dor
"Kenapa kecolongan?" Tanya Rhiana setelah menghampiri Lycoris dan membantunya menembaki musuh yang tidak jauh dari mereka.
"Entahlah. Aku juga heran, kita ketahuan." Lycoris menjawab sambil mengisi kembali amunisinya.
"Benar-benar aneh," Rhiana bergumam dan sedikit berpikir.
Tidak memikirkan solusinya, Dua gadis itu harus mengatasi beberapa hambatan di depan mereka.
"Butuh bantuan?" Suara Dalfa terdengar.
"Tidak perlu, Kak. Kami bisa mengatasinya," Lycoris menjawab dengan santai.
"Ya, sudah. Hati-hati. Jangan terlalu memaksakan diri."
"Siap!" Rhiana dan Lycoris lalu menjawab dengan serempak.
Dor
Dor
Dor
Dor
Aksi tembak menembak masih berlangsung. Rhiana dan Lycoris tidak menyangka, misi kali ini memakan cukup banyak waktu. Tidak terasa aksi mereka berakhir setelah satu jam lebih. Benar-benar di luar ekspetasi. Biasanya misi keduanya paling lama hampir satu jam. Kali ini benar-benar lama.
"Jadi, dimana kejutanku?" Tanya Lycoris setelah misi mereka selesai.
Keduanya saat ini sedang bersantai di jembatan sambil menatap para polisi yang mengamankan beberapa orang organisasi bawah tanah yang masih hidup. Para sandera juga sedang dievakuasi.
"Sebentar," Rhiana lalu merabah saku celananya.
Lycoris menaikkan sebelah alisnya melihat sesuatu di tangan Rhiana.
"Untukmu!" Rhiana mengulurkan tangannya pada Lycoris.
"Hei... Tiba-tiba aku merasa jijik!" Lycoris memeluk dirinya sendiri dan bergidik ngeri melihat Rhiana.
"Maksudmu?" Rhiana bertanya dengan bingung.
"Kamu memberiku sebuah kalung, seperti ingin menyatakan cinta. Aku merasa jijik. Ingat! Aku ini masih normal." Lycoris menggeleng pada Rhiana.
"Ya, ampun! Aku juga normal astaga... lihat dulu pemberianku sebelum berkomentar. Tapi, kalau kamu jijik, tidak masalah. Aku merasa kamu tidak membutuhkan ini lagi." Rhiana lalu memasang gerakan ingin membuang kalung di tangannya.
"Aku hanya bercanda. Sini, berikan padaku!" Lycoris dengan cepat mengambil kalung di tangannya Rhiana dan tersenyum senang melihatnya.
"Buka liontinnya!" Rhiana menginstruksi.
Lycoris melirik Rhiana sebentar, kemudian membuka liontin kalung itu.
"Ini... terima kasih, Rhi. Jadi, kamu tahu keberadaan kakakku?" Lycoris menatap Rhiana dengan berbinar.
"Ya. Besok kita bisa berangkat ke sana,"
"Terima kasih, Tuan puteri!" Lycoris lalu tersenyum senang dan segera memeluk Rhiana dengan erat.
"Kamu memanggilku tuan puteri di saat senang saja. Ck..." Rhiana mendengus tapi membalas pelukan sahabatnya ini.
"Hehehe... kalau begitu, aku akan memanggilmu tuan puteri mulai sekarang, agar para lebah di luar sana kembali mengejarmu seperti dulu."
"Hentikan! Kau tahu, dikejar-kejar itu benar-benar melelahkan. Aku tidak suka itu,"
"Baiklah, baiklah. Siapa suruh kamu terlalu cantik." Pelukan keduanya pun terlepas.
"Ayo kita pulang! Aku lelah. Aku ingin istirahat." Rhiana kemudian berdiri diikuti oleh Lycoris.
Dua gadis itu kemudian berjalan dengan santai bersiap pulang.
Ketika sampai di tengah pelabuhan, suara tembakan mengagetkan semua orang, termasuk Rhiana dan Lycoris.
Dor
Dor
Dor
"Ini..." Rhiana mengerutkan kening kemudian bergegas bersembunyi. Begitu juga dengan Lycoris. Posisi keduanya berlawanan arah.
"Sejak awal, aku sudah merasa ada yang aneh. Ini benar-benar merepotkan!" Kesal Rhiana sambil menyiapkan pistol miliknya. Rhiana tidak lagi memakai senjata sniper
Dor
Dor
Dor
Dor
Aksi baku tembak sedang berlangsung, antara Lycoris dan beberapa orang yang berjarak 1 km meter dari mereka. Karena para sandera dan para polisi masih ada di pelabuhan, sehingga para polisi juga ikut membantu.
"Misi kali ini benar-benar gagal. Ck... mommy pasti akan kecewa padaku," Gumam Rhiana setelah membidik beberapa target di depannya.
"Aku penasaran, siapa mata-mata di sisi kita." Tanya Lycoris melalui earpicenya.
"Entahlah! Setahuku, hanya sedikit orang yang tahu rencana ini," Balas Rhiana pelan.
Sudah beberapa menit berlalu, tapi aksi tembak menembak masih berlangsung.
"Rhi, awas!"
Dor
Dor
Dor
Tiga tembakan beruntun terdengar. Suasana di pelabuhan itu tiba-tiba menjadi hening. Rhiana seperti kehilangan kesadarannya. Telinganya berdengung. Bukan karena tembakan, tapi karena cipratan darah yang mengenai wajahnya.
Gadis berusia 15 tahun itu sedang linglung. Tubuhnya lemas. Pistol di tangannya sudah tidak mampu digenggam lagi. Tangannya gemetar. Pandangannya kosong.
"Syukurlah, kamu baik-baik saja, Rhi." Suara lemah Lycoris mengalihkan kesadaran Rhiana.
"Ly... kenapa seperti ini?" Rhiana memangku kepala Lycoris. Tubuh Lycoris sudah dipenuhi darah.
Beberapa saat lalu, Lycoris menyadari titik merah di tubuh Rhiana. Tepatnya bagian jantungnya. Sahabat Rhiana itu kemudian dengan cepat berteriak dan merubah posisi keduanya, sehingga dia yang menerima tiga tembakan beruntun itu yang mengenai titik vitalnya.
"Bertahanlah, Ly! Sebentar lagi kak Dalfa akan datang," Rhiana sudah menangis. Betapa dia sangat menyayangi sahabatnya ini. Keduanya tumbuh bersama. Rhiana sudah menganggap Lycoris seperti saudarinya sendiri.
"Waktuku tidak banyak, Rhi. Terima kasih sudah menerimaku dalam keluargamu. Aku bersyukur menjadi bagian dalam keluarga Veenick. Sampaikan rasa terima kasihku pada Mama Rihan dan Papa Zant. Terima kasih sudah menganggapku anak mereka. Aku menyayangi mereka. Sampaikan salamku juga pada kak Dalfa dan Dalfi. Aku..."
"Berhenti bicara! Aku yakin kamu akan baik-baik saja, Ly. Aku mohon, bertahanlah!" Rhiana memotong perkataan Lycoris dengan cepat.
"Aku punya satu permintaan, Rhi."
"Aku tidak mau mendengarnya! Aku tidak ingin kamu meninggalkanku! Tidak!"
"Rhi... aku ingin kamu menjaga kakakku. Jagalah dia untukku. Anggap saja dia adalah aku. Apapun yang terjadi, tolong bantu kakakku, Rhi. Bantu aku menjaganya. Bantu aku menjaganya dari orang yang ingin menyakitinya.
Kakakku adalah orang yang dingin, tapi hatinya sangat lembut. Aku harap, kamu bisa mencairkan gunung es itu. Jika boleh... aku ingin kamu bersama kakakku. Aku ingin kamu mendampinginya, Rhi. Aku selalu berharap kamu bisa bersanding dengan kakakku, karena aku merasa kalian pasangan yang cocok. Mau ya, Rhi?"
"Tidak! Kamu harus menjaga kakakmu sendiri. Aku tidak mau!" Rhiana menolak dengan gelengan pelan.
"Aku lelah, Rhi. Aku tidak bisa menahannya lagi. Berjanjilah padaku, hm?"
"Ly..."
"Berjanjilah untuk selalu di sisi kakakku, Rhi. Berjanjilah padaku, Rhi."
"Baik. Aku berjanji! Tapi bisakah kamu bertahan untukku?"
"Maafkan aku, Rhi. Misiku hanya sampai di sini. Sepertinya kamu harus mencari partner baru. Selamat tinggal, Rhi. Aku menyayangimu." Lycoris menggembuskan nafas terakhir di pangkuan Rhiana.
"LYCORIS! Maafkan aku, aku juga menyayangimu. Tenang di sana, My Sister."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 110 Episodes
Comments
tina yusuf
hai kak aku sdh mampir ,sdh ku beri gift juga semoga happy ya ,salam manis
2023-04-27
0
Falenya
😥😥😥
2022-08-16
0
Falenya
I like it.
2022-08-16
0