Perlahan mata wanita itu terbuka karna ia sudah lama terpejam setelah perjalanan waktu yang begitu lama tadi malam. kamar dengan nuansa yang sama dengan remangan yang masih kental menyerap sisa aroma panas yang tadi malam membelenggu hasratnya.
tiba-tiba mata Sofea terbuka lebar menarik diri dari alam bawah sadarnya, tangannya lansung meraba paha dan dadanya dimana bekas Kismark dan lebam yang sangat nyeri ditubuhnya, darah itu juga sudah mengering diselangkahannya membuat bibir Sofea kembali bergetar.
"L..Lagi.."
Gumam Sofea mencengkram selimut yang menutupi tubuhnya, ia merasa tak ada lagi harga diri yang ingin dijunjung tinggi. kehormatannya dipermainkan sampai saat ini ia tak tahu siapa yang selalu melakukan ini padanya.
"A..Apa ini, hiks? siapa yang melakukan ini?"
Lirih Sofea mencengkram kepalanya kuat, ia ingin berteriak memakai siapapun yang mempermainkannya begini. tapi siapa? ia tak tahu pria mana dan kenapa sekarang dia pergi? rasanya Sofea tak bisa lagi menatap wajah Mamanya karna ia sendiri sudah menjadi Ja*lang pemuas bagi sesosok misterius itu.
"K..Kau!! Siapapun kau aku..aku mohon hiks? aku..aku sudah tak mau begini!!!"
Teriak Sofea menatap remangan disekelilingnya, sedari kecil Sofea selalu menjaga Tubuhnya karna ia berharap ada seorang pria yang tulus mencintainya tanpa mengutamakan keindahan fisik ini. tapi sekarang siapa? siapa yang mau menerimanya sedangkan hal yang paling ia banggakan itu telah diambil berulang kali.
"Untuk apa kau menanagis?"
Degg..
Sofea terlonjak kaget saat mendengar suara datar nyaris tak bermaksud banyak dari seorang pria yang tengah bersandar ke daun pintu kamar mandi sana, wajahnya begitu segar berbeda dengan wajah lelah yang digambarkan Sofea padanya.
"Kau!! K..Kau yang me..melakukan ini?"
"Menurutmu?"
Seketika dada Sofea bergemuruh membendung emosi dan rasa sakit, matanya terlihat merah menatap murka Ardelof yang hanya santai diam menatapnya datar.
"A..Aku pikir kau pria baik..ba..baik. ta..tapi nyatanya kau..kau Pria..!"
"Apa?"
Tanya Ardelof seraya membawa handuk kecil ditangannya, ia sudah tak ingin bersembunyi lagi karna Sofea lambat laun juga akan mengetahui Identitasnya. tapi ia senang wanita ini tak bisa berbuat banyak selain menangis dan tak mampu melawannya.
"Kau gila!!! keluarkan aku dari sini!!!" teriak Sofea melempar tubuh Ardelof dengan bantal-bantal disampingnya, tangisannya pecah memukul tangan Ardelof yang memeggang lengannya kuat.
"Lepass!!! hiks, kau..kau brengsek!!"
Grett..
Ardelof mencengkram kuat kedua pipi lancip Sofea dengan genggaman kekarnya, mata biru itu seakan mengurung Sofea dalam lingkup kekuasaan dan hasrat yang kuat.
"Kau yang menyerahkan diri padaku."
"Lepas hiks!"
"Jadi..."
Ardelof melepas cengkramannya lalu mengelus kepala Sofea sebagai hewan peliharaan yang sangat ia sayangi dan penuh kelembutan, tapi percayalah mata Ardelof berubah sangar lansung mencengkram rambut panjang Sofea kuat.
Srett..
"Aaas!!"
"Terima apapun yang aku berikan. aku tak menerima penolakan!"
Sofea mengigit bibir bawahnya menahan sakit disekujur tubuhnya, sementara Ardelof ia tampak tak suka dibantah dengan ucapan Sofea karna ia memang tak pernah suka akan pemberontak.
"Menurutlah maka kau selamat, mengerti. Hm?"
Sofea hanya diam dengn tubuh gemetar menahan isak, ia sangat takut dan bingung. kemaren Ardelof tak seperti ini dan sekarang pria ini malah semangkin berubah seakan ingin menguasai jiwa dan raganya.
"JAWAB!!!"
"I..Iya, hiks!"
"Dan satu lagi."
Ardelof menarik tubuh Sofea kepangkuannya seraya meletakan handuk itu ke bagian inti wanita ini karna ia tahu bagian ini masih sangat sakit karna ia tak main-main dalam berlabuh.
"Aku tak ingin mendengar tangisanmu! itu tak akan berguna sampai kapanpun."
"P..Pulang hiks, aku..aku Mohon!"
"Suttt, kau suka ukiran, hm?"
Sofea menelan ludanya kasar saat melihat Ardelof memainkan jari-jari lentiknya, aura ditubuh kekar ini mulai tak bersahabat setiap Sofea meminta ingin pulang.
Krett..
"Aaaass!!"
"Pulang, hm?"
"T..Tidak. sakitt hiks!"
Teriak Sofea saat Ardelof memelintir lengannya membuat desisan sakit wanita itu menyeruk keras, terdengar pergesekan tulang lengannya membuat Sofea mencengkram bahu Ardelof kuat.
"A..Aku..Aku mohon!"
"Sakit?"
Sofea mengangguk cepat membuat Ardelof menyeringai melepas cengkramannya tapi lengan Sofea sudah terkilar biru membuat mata Sofea tak berani melihat keadaan lengannya yang benar-benar terpilin sakit.
"Kau masih mau pulang, hm?"
"T..Tidak!"
"Bagus, lain kali berfikirlah sebelum bicara, hm? tempatmu disini. dimana ada aku disitu kau ada, karna kau itu..!"
Sofea gemetar saat tangan Ardelof kembali mengelus rambut dan pipinya, setiap sentuhan pria ini seakan menjadi belati yang mengores luka disekujur tubuhnya.
"Penyihir yang sangat kuat. aku butuh kau untuk bermain di Dunia ini, kau mengerti?"
"Me..Mengerti!"
"Itu baru penyihir yang bijaksana."
Krekk..
"Emm!!"
Sofea menggeram sakit saat Ardelof kembali memutar tangannya pelan memperbaiki arah tulang lengannya, wajah Sofea sudah pucat tak mampu lagi memberontak dan bicara selain membiarkan Ardelof melakukan apapun yang ia suka.
Yang jelas, Sofea sangat membenci pria ini dan ia tak akan menyerah untuk pergi dari sini.
"Kau ingin pergi, hm?"
"T..Tidak!"
"Kalau kau menurut, maka apapun yang kau minta akan ku kabulkan tapi tidak dengan kebebasan, Penyihir kecil!"
Jari Ardelof mengetuk dagu lancip Sofea halus membuat Sofea hanya diam, ia tak tahu harus apa karna sangat sulit lepas dari pria ini sedangkan diluar sana hanya lapangan luas yang ketat akan penjagaan.
"T..Tubuhku sakit."
"Kau bisa bergerak?"
Sofea mengangguk melepas cengkramannya kebahu Ardelof berusaha untuk turun dari pangkuan pria ini, tapi nihil hanya rasa perih dan nyeri yang sangat ngilu Sofea rasakan sampai tak bisa bergerak.
Tapi, anehnya tangan yang tadi Ardelof pelintir serasa biasa saja setelah dipeggang pria itu, bahkan rasanya lebih leluasa dan plong begitu saja.
"Kau masih ingin pergi, hm?"
"Iya. ta..tapi kekamar mandi!"
Sambar Sofea menyambung cepat karna raut wajah Ardelof sangat cepat berubah memantik rasa takut dihati Sofea jika memancing amarahnya.
"A..Aku..Aku bisa sendiri!"
Tapi Ardelof tak mengkhiraukan bantahan Sofea yang tercekat diam saat Ardelof mengeratkan pelukannya, akhirnya ia pasrah saat tubuhnya masuk dalam gendongan pria ini kedalam kamar mandi sana dengan air di Bathube yang sudah terisi dipenuhi busa-busa serta harumnya tempat ini sangatlah menenagkan.
"Kau bisa Rileks!"
Sofea hanya diam saat tubuhnya diletakan dengan hati-hati kedalam benda ini, rasanya sangat hangat bercampur dingin dengan busa-busa sabun yang memijat kulitnya.
Mata Sofea terpejam bersandar ke pinggir Bathube yang sudah diberi bantal kecil oleh Ardelof yang duduk dipinggir benda itu, ia menikmati raut wajah lepas Sofea saat merasakan harum yang menenagkan ini.
"Kau suka?"
"Apanya?"
Tanya Sofea ciut membiarkan tangan besar Ardelof masuk kedalam air, pria itu memeggang pahanya lembut dengan rasa hangat yang disampaikan diseluruh tubuh Sofea yang merasa lebih ringan dari sebelumnya.
"Ak..Aku bisa sendiri!"
"Kau membantahku?"
Sofea lansung diam akhirnya menurut apapun yang dilakukan Ardelof padanya, beberapa kali ia mendengar helaan nafas berat Ardelof saat menyentuh kulitnya.
Namun, setelah penuh perjuangan akhirnya Ardelof dapat melawan Hasratnya hingga ia kembali membaluti tubuh Sofea dengan handuk dan membawanya keluar kamar. tapi Sofea mencegah Ardelof untuk mengganti pakaiannya.
"Aku sudah bisa jalan, aku akan mengganti pakaianku sendiri."
"Hm!"
"Tapi..!"
Sofea menahan tangan Ardelof yang ingin pergi ke Walkcloset, mata Ardelof masih menatap wajah berona segar Sofea yang termat mempesona membuatnya betah berlama-lama disini.
"Apa?"
"Pa..Pakaian kemaren itu..itu hanya g..gaun malam." Ciut Sofea agak merasa takut jika Ardelof marah, bisa saja pria ini kembali murka padanya.
"Aku tahu."
"B..bisa kau carikan pakaian yang..!"
"Ini!"
Sofea lansung terperanjat saat Ardelof meletakan Paper-bag ke pahanya lalu melangkah pergi ke Balkon diiringi tatapan aneh Sofea.
Sebenarnya kau kenapa? saat kau menjadi pria lembut perhatian rasanya aku sangat nyaman. tapi kau juga bisa berubah membuat tanda tanya besar, Tuan.
"10 menit!"
"Eh!"
Sofea tersadar dan lansung bergerak. rasanya sudah baikan setelah pria itu memberinya energi atau sejenis sihir apapun Sofea tak tahu. yang jelas ia tak bisa lagi melawan secara terang-terangan.
.....
Bughh..
Tubuh pria paruh bayah itu lansung tersungkur akibat pukulan bertubi-tubi dari 5 Pria bertubuh kekar dengan pakaian serba hitam itu. raut wajah geram dari Pria paruh baya yang tengah berdiri dengan Jas mewah dan tatapan menohok itu lansung menghunus Tuan Edgar yang sudah remuk redam.
"Kembalikan uangku atu berikan wanita itu!"
"T..Tuan, saya..saya tak lagi memiliki uang."
Tuan Edgar tampak meringis memeggangi perutnya yang sakit seraya menatap wajah tua Tuan Maukey yang sudah lama menunggu tapi wanita cantik yang ditawarkan kepadanya kemaren dengan bayaran fantastis malah hilang seperti angin.
"Be..Beri aku kesempatan. Tuan!"
"3 hari, kau harus membawanya padaku karna aku ingin menikah secepatnya!"
"B..Baik!"
Mereka melangkah pergi meninggalkan Tuan Edgar yang ada di Kediamannya, Mama Netty yang mendengar itu dari kamar sana lansung khawatir berdoa semoga putrinya tak ditemukan.
"Aku..Aku mohon ya, Tuhan! selamatkan Sofeaku."
...
Vote and Like Sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Rika Rahmat
sajauh ini sy membaca ceritanya lumayan bagus..bikin penasaran..tapi tata bahasanya kadang membingungkan agak sulit dicerna..seperti buku terjemahan bus asing..☺️
2022-11-13
3
botak
pangeraann apaan katnyaa kuasa dll....ditindas bininyaaa di mnfaatin bininyaa g berkutik....aah payah malah nyiksa gadis polos....demi keenakan drisndri miris lah kau ini..memalukan
2022-10-24
0
Ali Ajo
seperti nya belom ada kebahagian untuk Sofie
2022-10-20
0