Langkah tertatih-tatih Sofea terus menyusuri lorong yang tak kunjung ada ujungnya, sedari tadi ia berjalan hanya melewati ruangan yang sama membuat ia kualahan belum lagi rasanya pangkal paha wanita itu sudah sangat lengket akan darah dan bau amis.
"S..Sakit!"
Sofea mendesis memeggangi bagian bawahnya, ia sudah lama bergerak membuat tubuhnya Drop hingga sampai tak mampu lagi untuk bergerak jauh.
"A..Aku harus keluar dari sini!"
Sofea kembali berdiri memaksakan langkahnya untuk pergi kemanapun ada ruang untuk bertapak kaki namun, tiba-tiba ada sekilat cahaya yang datang dari arah belakang membuat perlahan mata Sofea bisa melihat ditempat apa ia sekarang.
Degg..
Sofea terlonjak kaget saat melihat dinding lorong ini dilapisi lumeran darah segar dengan lantai yang berubah menghitam dipemandangan matanya.
"Aaaa!!!!"
Sofea berteriak keras sangat takut hingga ia berlari kedepan sana tanpa menoleh kebelakang, kedua tangan Sofea memeggangi pinggir Selimut yang membalut tubuhnya, ia berlari tak tentu arah hingga melihat tangga disamping pintu merah tertutup sana dan lansung menapaki benda itu kebawah.
Sofea tak memperhatikan ruangan yang ia lalui karna hanya fokus mencari jalan keluar, Tangga itu berliku sampai kebawah dimana ada lantai hitam yang sunyi sepi tak ada manusia sama sekali, setibanya disana Sofea mematung melihat Pintu besar nan megah yang bercorak lilitan akar berwarna kusam.
"I..Ini pintunya!"
Binar Sofea kembali berlari kedekat pintu itu, tangannya terulur menarik gagang pintu hingga perlahan sekuat tenaga ia membukanya penuh semangat.
Kreett..
Pintu itu terbuka memperlihatkan dunia luar yang begitu mendung, langit sana sama sekali tak mendukung dengan hamparan tanah luas dengan rerumputan yang kering, mata Sofea menatap semua itu dengan was-was seraya terus melangkah pelan kedepan sesekali ia melirik kekanan-kiri takut ada yang datang.
Whusss..
"S..Siapa?"
Sofea kembali berbalik kebelakang saat ada yang membelai punggungnya, langit diatas sana lansung mengumpal gelap menyerap cahaya yang mulai menyusut, wajah Sofea pucat saat melihat rupa bangunan yang sebenarnya ia tinggali ini.
Seperti sebuah Villa besar yang bercorak tua dengan akar-akar besar melilit di setiap pilarnya, tangga itu juga terlihat retak dan berlumut belum lagi lapangan yang tadi ia lihat berubah menjadi lautan darah dengan tanaman-tanaman yang tadinya gersang tersulap menjadi pagar bergerigi dipenuhi potongan daging manusia membuat kepala Sofea langsung pusing.
"Hoeekk!!"
Sofea muntah saat kakinya mulai terendam oleh darah kental yang memenuhi lapangan ini, ia luruh terduduk melihat kesemua arah dimana angin mulai menyapu kencang dengan kegesitan bayangan yang mengelilingi Bangunan itu.
"T..Tidak, i..ini..ini tak nyata hiks!"
Sofea gemetar takut melihat bayangan hitam berjubah separuh badan itu mengelilingi Bangunan sakral dan menyeramkan yang terlihat dimatanya.
"I..Ini tak..!"
Sofea mencengkram kepalanya hingga pandangannya langsung kabur dan oleng tak mampu mengendalikan tubuh yang lemah.
Whuss..
Grepp..
Sesosok bayangan hitam itu menangkap tubuhnya hingga tak sempat langsung jatuh masuk ke kubangan darah itu, mata merahnya berubah biru serta seringaian iblis tersungging penuh kemenangan.
"Kau tak akan bisa keluar!"
"S..Siapa?"
Tanya Sofea melihat sekilas mata biru itu lalu lansung pasrah masuk kedalam gendongan tubuh kekar yang meraup seluruh tubuhnya , Jubah hitam besar itu terkibar penuh kekuasaan dengan tatapan berubah menajam memejamkan matanya kembali untuk menormalkan situasi Dimensi ini.
"Yang Mulia!"
"Aku akan membawanya keluar!"
Fu pun terkejut mendengar ucapan Pimpinannya, ini sebenarnya adalah Dimensi Drak milik Ardelof dimana setiap korban akan di eksekusi ditempat ini, Ardelof sengaja memperlihatkan ilusi dimana tanah ini adalah tempat raja kegelapan yang sangat penuh tipuan dan Sofea masuk kedalamnya.
"Apa anda yakin? maaf, Yang Mulia! tapi dia sudah melihat Dimensi anda, dia bisa saja mengetahui siapa anda sebenarnya!"
"Itu urusanku!"
Fu lansung terdiam dan akhirnya mengangguk pasrah memberi salam hormat dengan penuh kesopanan pada pria berwibawah ini.
Whusss..
Ardelof menghilang dengan hembusan angin yang menyertainya kembali mengunci Dimensi ini agar tak ada siapapun yang masuk kedalamnya dengan Fu yang sedia kalah menjaga tempat Ilusi Yang Mulianya itu.
.........
Dalam sekejap mata mereka sudah ada didalam ruangan yang begitu luas dengan remangan cahaya yang minim, lampu kamar itu meredup saat langkah Ardelof menepis kesunyian yang ada didalam sini.
Sebuah sebuah kamar yang selalu remang dengan tirai hitam yang tertutup, kalau tak ada kepentingan maka Balkon itu tak akan terpapar cahaya. Sofa panjang didepan ranjang sana terlihat dingin karna sudah lama tak diduduki.
Perlahan ia mendekati ranjang dengan wajah datarnya menatap wajah lelah dan lemas Sofea yang masih separuh sadar hanya membelit leher kokoh Ardelof yang diam duduk dipinggir ranjang.
Remangan kamar itu membuat Ardelof terhanyut dengan hembusan nafas Sofea yang menyentuh lehernya, pelukannya ke tubuh lemah wanita ini mengerat.
Kenapa? kau sangat cantik.
Batin Ardelof terhanyut sudah, tanpa sadar tangannya terulur merapikan helaian rambut panjang itu membuat Sofea meringis saat luka di pipinya tersentuh oleh tangan kekar itu.
Namun, seketika Ardelof sadar dari kekosongannya memandangi wajah Sofea hingga ia menghela nafas berat lalu membaringkan Sofea keatas ranjang itu.
Ardelof tak bisa menahan untuk tak menatap wajah cantik itu karna pesona Sofea seakan membuatnya tunduk akan gairah dan kelembutan wajahnya.
"J..Jangan!"
Sofea melirihkan kata itu, antara sadar atau tidak ia melihat Tubuh gagah nan kekar seorang pria yang belum pernah ia lihat selama ini, Tubuh atletis yang hanya dimiliki oleh seseorang yang sudah mengambil Mahkota tertingginya dalam suatu harga diri.
Tanpa ingin berlama-lama, Ardelof membuka selimut yang membalut tubuh Sofea hingga kulit polos penuh memar biru dan bercak darah itu menyapa netra birunya, ada rasa aneh yang masuk dalam relung hatinya tapi sekuat angan ia tepis hingga wajahnya kembali berubah datar.
"Quxi!"
Bocah wanita berkulit pucat itu lansung mendekati Ardelof yang hanya menatap datar tubuh Sofea, walaupun aliran darahnya mulai tersumbat melihat gudukan sintal dan kulit putih bersih ini tapi ia masih bisa menyadarkan diri.
"Iya, Yang Mulia!"
"Kau obati dia!"
"Baik!"
Ardelof berdiri melepas Jubahnya lalu melangkah menuju Sofa empuk bercorak merah pekat itu, ia duduk bertopang kaki angkuh seraya menatap lurus. rambut agak kecoklatannya tampak menjulurkan satu helai didekat kening menambah kesan Cool dan Maskulin, belum lagi mata biru dan kulit putih memang khas kerajaan Batalion Alison sebagai Putra penguasa Kerajaan besar ini.
"Ya..Yang Mulia!"
"Hm!"
"A..Aku masih kecil!"
Seketika Quxi menelan ludahnya berat saat tatapan membunuh Ardelof menikam jantungnya, tapi ia rasa ada benarnya juga, Quxi masih kecil dan masih takut memeggang tubuh pulen itu. tapi kalau ia yang mengobatinya maka Ardelof tak menjamin ia akan tahan dengan aura seksual itu.
"Siapkan makanan!"
"Baik!"
Quxi mengangguk dan menghilang pergi meninggalkan Ardelof sendirian disini bersama Sofea yang tampak sudah masuk dalam mimpinya hingga ia tak lagi bicara.
"Menyusahkan!"
Umpat Ardelof memaksa tubuhnya bangkit seraya mendekati Sofea, ia tak memandang wajah wanita itu melainkan ia lebih memilih menyelimuti Sofea dengan Selimut baru diranjang seraya menggenggam tangan lembut itu.
Whusss...
Angin itu kembali berhembus menggerayai tubuh Sofea agar luka itu kembali sembuh, Ardelof merasa nyaman dengan genggaman tangan lembut ini sampai-sampai ia ikut terbuai hingga terpejam lama.
"Yang Mulia!!"
"Sial!!"
Ardelof mengumpat saat suara Kristof pria bermata sipit itu memanggilnya dari luar penuh hormat, ia memandangi wajah damai Sofea dengan helaan nafas berat tercipta.
"Urusan kita belum selesai!"
Ucap Ardelof melepas genggamannya tak rela lalu melangkah menuju pintu besar kamar, ia agak meredupkan kembali lampu ini hingga dibagian ranjang tak memperlihatkan sesosok molek yang tidur dengan lelapnya.
Pintu itu terbuka, Ardelof berdiri gagah menatap tajam dan datar Kristof yang lansung menunduk hormat tapi Ardelof hanya membalasnya dengan wajah dingin itu.
"Hm!"
"Yang Mulia Raja meminta anda malam nanti menghadiri Pertemuan antara Putri Vanelope dan anda sendiri!"
Seketika kepalan tangan Ardelof menguat, ia sangat membenci wanita itu tapi Ayahnya selalu saja mengekang untuk memberi keturunan, padahal sudah jelas kalau Vanelope menghianati pernikahan mereka.
"Maaf, Yang Mulia! tapi anda tahu sendiri kalau Putri Vanelope sangat mencintai anda!"
"Pergilah!"
Kristof mengangguk melangkah pergi, sementara Ardelof bersandar ke daun pintu kamarnya. ia ingin kembali pergi dari Istana ini tapi ia dikekang aturan dan Tahtah. Ardelof memang sudah tak ingin didesak terus memiliki keturunan dari Putri Vanelope.
Bummmm..
Terdengar ledakan dibelakang Istana membuat suara riuh sampai ketelinga Ardelof yang menyeringai, ia melepas kepalan tangannya karna hal biasa bagi Ardelof menghancurkan Istananya sendiri.
Tatapan nanar wanita paruh baya itu lansung menghunus foto cantik Putrinya, sudah 2 hari Sofea pergi membuat ia khawatir kalau wanita itu celaka atau terluka.
Gibran dan Yella terus mencari Sofea tapi tak ketemu, jejak wanita itu seakan hilang ditelan bumi membuat Mama Netty menangis penuh rasa sakit.
"Kau..Kau dimana, Nak hiks! M..Mama merindukanmu, Fea!"
Gumam Mama Netty sedang duduk didekat jendela yang biasa Sofea renungi, ia takut jika putrinya malah ditemukan oleh Juand dan Tuan Edgar dan bisa saja wanita itu dijual entah kemana.
"Maaa!!!"
Suara Juand yang keras lansung mengejutkan Mama Netty hingga wanita paruh baya itu menoleh kearah wajah kelam Putranya.
"Ada apa?"
"Kau tahukan dimana, Sofea?"
"Kalau tahupun aku tak akan pernah memberikannya pada kalian!"
Juand mengepalkan tangannya kuat, ia sudah terlilit hutang dengan Tuan Maukey karna Sofea tak datang ke Hotel itu, apalagi uangnya sudah habis untuk berpesta foya saat itu.
"Sial!!! Wanita itu memang sumber mala petaka!!"
,...
Vote and Like Sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
ˢ⍣⃟ₛ 𝐀⃝🥀💜⃞⃟𝓛 Jibril Adinda
wah jika punya utang ya bayar sendiri donk.
2023-10-12
1
Yella Rostia
Namaku Yella😂😂😂😂
2022-11-18
0
HoneyXing 🍯
artinya di dimasukin ke dunia ilusi??? aduh aku pusing mikirnya
2022-11-16
0