Tangan lentik itu sangat cekatan membersihkan lantai di bawah sana, sesekali ia tampak meraba area pribadinya karna merasa aneh. beberapa menit yang lalu ia merasa tubuhnya seakan ditiban Truk besar tapi setelah bangun dari tidur tadi Tubuhnya ringan kembali membuat tanda tanya besar dibenak Sofea.
Apalagi ia sekarang tengah berada didalam kamar yang gelap minim cahaya dan hanya remang-remang saja, terkesan sangat Misteri dan menyeramkan bagi pecinta mentari sepertinya.
"Kenapa pria itu suka sekali, gelap? padahalkan terang juga lebih baik."
Gumam Sofea seraya melangkah menuju tirai, saat tangannya terulur ada rasa segan dihatinya untuk berbuat lancang tapi mau bagaimanapun aura kamar ini sangat mengerikan membuat ia tak nyaman.
"Berani kau membukanya?"
"M..Maaf!"
Sofea mundur saat sesosok yang bernetra biru tajam tadi tengah berdiri dibelakangnya dengan Stelan Jas yang sangat gagah, mata bening Sofea sempat terhanyut oleh ketampanan Ardelof hingga ia menatap mata elang itu intens.
Tentu Ardelof pun sama hingga mereka berdau pandangan, Sofea bisa melihat rasa benci, rasa sakit dan tak tahu arah tertera dimata itu. tapi, Ardelof justru melemah saat melihat netra hitam agak kecoklatan milik Sofea yang tampak menawarkan kelembutan tapi juga sesuatu hal yang berbeda.
"Yang Mulia!"
Keduanya lansung mengalihkan pandangan saat suara Kristof yang kedua kalinya terucap diluar pintu yang tertutup rapat sana. pandangan Ardelof kembali berubah datar menajam memandang jijik Sofea yang menunduk.
"Mustahil kau tak mengenalku, apa kau hanya ingin memanfaatkan situasi saja?" Suara Ardelof terkesan remeh.
"Memangnya kau siapa?"
Degg..
Seketika Ardelof terkejut mendengar ucapan seakan memang tak tahu didukung bersama mimik serius dari Sofea yang benar-benar tak tahu.
"Tuan, aku tahu kau sangat tampan! tapi, aku serius aku tak tahu kau dan sekarang aku dimana? kalau kau bersedia aku ingin kembali ke rumah ku."
Ucap Sofea perlahan mendekati Ardelof yang meneggang sempurna, tubuh Sofea yang dilapisi Dress putih polos sampai ke lutut dengan bagian pinggang ketat hingga dadanya terbungkus menyesakan, setengah buah besar sekang nan padat itu menyembul ganas memperlihatkan kulit putih Sofea dengan tai lalat pangkal benda itu.
Jakun Ardelof naik turun merasakan aliran darahnya menggebu memompa sangat keras, ia terbayang dimana malam itu ia tak bisa mengendalikan dirinya hingga berlabuh dengan kenikmatan yang membuat ia candu.
"Jangan menggodaku!"
"A..Apanya?"
Sofea kembali mundur satu langkah, ia masih tak tahu bahwa pakaiannya begitu sangat sempit ditubuhnya hingga semua bagian indah itu bisa dilihat Ardelof yang berusaha tenang.
"Kau seorang Penyihir!"
Whuss..
"Akk!!"
Sofea terhapit kedinding sana dengan kedua tangannya refleks mencengkram leher jenjangnya, mata Ardelof sangat menajam menolak keras jika Sofea adalah Manusia biasa, melainkan wanita ini adalah seorang wanita penyihir yang sama seperti Vanelope. seorang yang bisa memainkan hati dan menghancurkannya sekaligus.
"Katakan!!!"
"A..Aku....bu..bukan..!"
Sofea menggeleng dengan wajah yang sangat pucat karna pasokan udara diparu-parunya menipis, apalagi ia sangat takut jika nanti pria ini membunuhnya secara perlahan.
"A..Aku b..bukan hiks!"
Brugh..
Ardelof menghepaskan tangannya hingga Sofea kembali jatuh kelantai sana, dengan cepat Sofea mengambil nafas sekuat mungkin mengisi pasokan didadanya seraya menjauh dari Ardelof.
"Kau masih belum mengaku?"
"A..Apa? a..aku bukan penyihir!"
Lirih Sofea dengan mata yang mengembun, kenapa pria ini yang ia kira akan membantunya tapi malah memberinya sesuatu yang menyakitkan?! ia sangat merindukan Mamanya. bagaimana kabar Gibran dan Yella, apakah mereka sudah menikah atau belum membuat Sofea tak mampu lagi bergerak banyak.
"Kau pikir aku akan kasihan melihatmu?"
"Tidak!"
Tegas Sofea menghapus lelehan bening itu, ia teringat dengan pengkhianatan Gibran padanya dan sampai sekarang rasa sakit itu masih ada. Sofea tak ingin dikasihani atau menerima belas kasih semua orang.
"Kau sangat angkuh!"
"Memangnya kenapa? kau punya masalah pada wanita bukan berarti kau melampiaskannya padaku! apa kau pikir hanya wanita yang berbuat salah, ha? kalian juga... aku sudah percaya pada kalian tapi dia..dia malah menghancurkannya!!! apa 5 tahun itu waktu yang sebentar?"
Suara Sofea mulai bergetar mengatakannya, ia menahan isakan menarik diri merapat kedinding gelap itu. ia juga tak lagi percaya soal Cinta dan ketulusan, menurut Sofea ia akan tetap menjadi Ilusi bagi seorang pria, bukan Prioritas atas nyata.
"Jangan mengotori lantaiku hanya dengan tangisanmu!"
"B..Biarkan aku sendiri!"
Pinta Sofea memohon agar Ardelof meninggalkannya sendiri, ia butuh kesunyian dan ia butuh sepi yang bisa mendengar tangisnya. keluh kesah yang terucap akan ia tahan sampai dua temannya sunyi dan sepi itu datang menenggelamkannya dalam jurang kesendirian.
Lama Ardelof terdiam mendengar isakan tertahan Sofea disudut sana, kepalan tangannya menguat dengan wajah yang mengeras.
"Kau hanya memainkan peran!"
"Kalau begitu pergi!!! hiks, aku bilang pergi tapi kau masih disini!!"
"Wanita penyihir sepertimu, akan ku buat menangis darah!"
Geram Ardelof lalu melangkah pergi, ia juga bingung dengan dirinya sendiri ketika bersama Sofea ia seakan tak bisa menghisap Roh wanita itu. kalau ia muak biasanya siapapun tak akan bisa berdiri dihadapannya lebih lama.
Setibanya diluar, Kristof lansung memberi salam hormat membungkukan setengah tubuhnya sementara Ardelof sudah lebih dulu melangkah menuju Lift untuk kebawah.
"Perusahaan telah siap, Yang Mulia!"
"Hm!"
Ardelof masuk kedalam Lift berwarna silfer dengan penjagaan yang ketat dari Kristof, pria itu tampak menatap lurus kedepan dengan guratannya sendiri.
Setelah beberapa lama berada didalam Lift, Ardelof lansung keluar tiba dilantai bawah dimana ratusan Pelayan menyambutnya namun ia hanya diam acuh seraya melangkah penuh wibawah menuju pintu besar untuk keluar.
"Ard!"
Suara Ibu Ratu Rosmeryna membuat langkah Ardelof terhenti namun ia tak berbalik melainkan hanya diam saja ditempat, detakan Heels tinggi wanita anggun itu terdengar mendekati sang putra.
"Ini sudah malam, kau masih keluar?"
"Iya!"
"Nak, cobalah untuk istirahat! Pekerjaan Kantormu bisa diurus oleh kaki tangan Istana, kau bisa diam di Istana mengurus Berkas Pajak Rakyat saja!"
Ardelof berbalik menatap Ibundanya penuh kedinginan, tak ada raut lain yang bisa menerka apa pria ini setuju atau tidak.
"Urusanku lebih dari itu."
"Nak, kau..!"
"Selamat malam!"
Ardelof berucap singkat lalu melanjutkan langkahnya membuat Kristof hanya pasrah mengikuti langkah Yang Mulianya, setibanya didepan Istana Ardelof diam ditempat karna hanya ada dua penjaga didepan pintu sedangkan penjaga lainnya tengah mengelilingi Papiliun tempat ruang baca Raja Petratolison.
"Kau pergilah!"
"Baik!"
Kristof hanya menurut karna ia hafal jalau sudah dititahkan begitu maka jangan bertanya banyak karna akan menyulut kemarahan dari Ardelof sendiri.
Seraya memandangi Mobil hitam itu pergi menuju Gerbang besar Istana, Ardelof pun melangkah pelan menuju Dermaga biru disamping Istananya, tempat yang ketika makan akan dihiasi lampu yang merangkai Visualnya hingga tempat seluas ratusan hektar ini sepi meninggalkannya sendiri.
Mata Ardelof menatap pantulan bayangannya di air sana seraya menelisik penuh makna, apa kekuatannya sudah menurun atau hilang? kenapa wanita itu tak mati dengan cepat.
"Quxi!"
Whuss..
Sesosok yang dipanggil itu datang menunduk dibelakang Ardelof yang diam dengan kedua tangan masuk kedalam kedua saku celananya, ia tetap menatap pantulan wajahnya di air.
"Iya, Yang Mulia!"
"Kau awasi dia, bisa saja dia wanita yang dikirim oleh Musuh untuk mencari kelemahan Kerajaanku!"
"Baik, Yang Mulia!"
Quxi melangkah pergi sementara itu hembusan angin kembali membawa sesosok bayangan hitam yang berdiri dibelakang Ardelof.
"Aku butuh 5 malam ini!"
"Maaf, Yang Mulia! apa anda akan mengunjungi Dimensi Drak malam ini?"
"Hm!"
Fu tampak berbinar, jujur ia sangat mengidamkan Yang Mulia Draknya mengunjingi tanah Iblis itu. apalagi akan ada jeritan para Manusia yang akan tersiksa melengking dipendengarannya.
"Kau dengar?"
"M..maaf, saya dengar Yang Mulia!"
"Hm!"
Fu pun menghilang pergi meninggalkan Ardelof yang menghela nafas berat, ia menggeleng karna pikirannya kembali tertuju pada wanita itu.
"Sihirnya sangat kuat!"
....
Vote and Like Sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Afifa Amini
bukan sihir loh ard,pelet cinta itu ,gemes kali sama pasangan ini 🤭
2024-02-01
1
nathalia tan
padahal kan pesuruhmu yang bawa masa iya mata2 🤣🤣 ngadi2 emang si ardelof
2023-05-22
0
💞 RAP💞
gk punya sihir aj km ud kelimpungan...apalagi klu km di sihir
2023-04-11
0