Kota dengan 4 Musim, yaitu Musim Semi, Musim Dingin. Musim Gugur dan Musim panas. dan kebetulan sekarang adalah Musim Semi dimana para Tumbuhan dan bunga kembali mekar setelah masa pengugurannya beberapa masa yang lalu.
Gedung-Gedung pencakar langit tampak menjulang tinggi dengan kerlipan kaca dari panasnya Efek Perusahaan ternama di Kota ini. apalagi malam ini lampunya sangat terang mampu menembus mata siapapun. keadaan lalu-lintas yang Stabil serta kebersihan lingkungan yang diutamakan Pemerintah setempat.
"Kau tahu? Pangeran Ardelof telah kembali ke kerajaan!"
"Yah, dan pasti Keluarga Kerajaan akan sangat senang dengan kembalinya setelah bertahun-tahun!"
Desas-desus para pejalan kaki anak Gadis yang begitu berbinar menceritakan kaum Keluarga Kerajaan Batalion Alison. Bangsa Bangsawan yang tengah terang dimasa keemasannya sampai Kota ini ia miliki dengan segenap kekuasaan.
Para Pejalan kaki itu terus berbicara dimana tempat dengan topik yang sama. Putra Mahkota Batalion Alison telah kembali ketanah air namun, sesosok yang tengah memakai Cadar dengan Dress selutut dan Mantel Hitam bertopi itu tengah mendengarkan dengan kesal.
Hentakan Boots berwarna hitam sama dengan Dressnya itu terus menginjak kesal dedaunan yang ia lewati.
"Dasar, tidak bisa melihat orang berada!"
Umpat Sofea yang terus berjalan dengan keanggunan yang ia miliki, Tujuannya sekarang adalah Restoran didekat Puzeel Micro tak jauh dari Kediamannya di tepi Kota ini.
Setelah beberapa lama ia sampai kesana, bukannya lewat depan Sofea memilih meloncat dari pagar pembatas menuju area belakang, ia tak terbiasa dengan keramaian didepan sana.
"Fea!!"
Perhatian Sofea langsung teralihkan dari depan ke arah samping dimana ada dua Manusia yang sedang duduk berhadapan memanggilnya dengan riang, tentu saja senyum Sofea mereka dari balik cadar tanpa Hijab itu seraya melangkah ketempat sepi itu.
"Kalian sudah lama?"
"Tidak juga, Sayang! baru beberapa menit saja!"
Jawab Gibran menarik kursi untuk Sofea yang dengan sumeringah mendudukinya, Pria dengan rambut ikal gerondong berkumis tipis diatas bibir itu tampak memberikan layanan yang bagus.
"Em, apa kalian sudah makan?"
"Sudah!"
"Belum!"
Seketika dahi Sofea menyeringit saat mendengar jawaban berbeda dari Yella dan Gibran yang menjawab Belum, apalagi wajah Gibran dan Yella terlihat pucat berkeringat dingin dan canggung.
"Ma..Maksudku aku sudah makan di rumah! kalau disini mana bisa Gibran makan tanpamu!"
"I..Iya. Sayang!"
Ucap Gibran mengelus punggung lembut Sofea yang sangat percaya hingga ia mengangguki tanpa masalah, mata Sofea tak ingin menatap kearah lain selain wajah tampan Gibran yang juga menatapnya penuh Cinta.
"Kalau begitu, kita makan saja! nanti baru kita bicarakan Lagunya!"
"Baiklah, Tapi..." Gibran menghentikan ucapannya saat sekilas melihat kening Sofea yang memar dan ini pasti karna Pria paruh baya itu lagi. "Sayang, dia melukaimu lagi?!" Sambung Gibran dengan Intonasi yang tak bersahabat.
Sofea hanya tersenyum menggenggam tangan kekar Gibran lembut seraya memberi kehangatan darinya, Gibran dan Yella adalah sahabat masa kecilnya. hanya pada dua orang ini dan Mama Netty Sofea berkeluh kesah masalahnya.
"Tidak apa! ini sudah biasa, lagi pula lukanya kecil!"
"Baiklah, kalau begitu aku sudah Pesan makanan kesukaanmu. Udang Saos Tiram dengan Ikan Tuna Krispi!"
Ucap Gibran menatap pelayan yang telah berjalan mendekat kerah mereka, Wanita berpakaian seragam Pelayan itu tampak menatap Sofea aneh dari gurat keningnya.
"Ini Tuan, Nona!"
"Terimakasih!"
Ucap Sofea ramah, tapi Pelayan itu malah mengalihkan pandangan karna semua orang tahu kalau wanita bercadar tanpa hijab yang sesekali keluar ini adalah Wanita buruk rupa yang membawa petaka kalau bergaul dengannya. Tentu Sofea merasakan itu hingga ia hanya diam menunduk.
"Kau jangan sedih! kami masih ada untukmu!" Gibran mengelus lengan Sofea dengan pandangan yang meyakinkan, tatapan panas dari seseorang membuat Sofea merasa sangat terusik hingga ia langsung menolah pada Yella yang kembali tersenyum padanya.
"Apa ada masalah?" tanya Sofea penuh intonasi halus tak terkesan menghakimi, Yella hanya menjawabnya dengan senyuman ceria selayaknya biasa.
"Tidak ada, tapi aku hanya cemburu melihat kalian bermesraan dihadapanku." Rengutan Yella seakan menjadi isyarat bagi Gibran untuk melepas genggamannya ke tangan Sofea hingga wajah pria itu berubah derastis.
"Em, Bagaimana tentang lagumu?"
"Sebentar, Sayang!" Sofea langsung mengeluarkan Amplop didalam saku Mantelnya membuat Gibran dengan cepat mendekat melihat bagaimana rentetan tulisan berserta abjadnya yang mudah dimengerti.
"Woww!! Lagunya bagus!"
"Tidak juga, aku perlu pendapat kalian!"
Sofea menarik kursi Yella untuk mendekat kearahnya seraya menarik Gibran untuk melakukan hal yang sama, namun disaat Sofea menjelaskan bagaimana nada dan Intonasi suara yang digunakan tiba-tiba ia melihat sesuatu dibalik kerah baju Yella.
"Kau beli kalung baru, ya?"
Degg..
Yella dan Gibran langsung saling pandang pucat dengan Gibran yang menyembunyikan kalung dilehernya saat Sofea fokus pada Yella yang gemetar gugup.
"Waaah, Inisialnya G!"
"I..Ini kalung..!"
"Kalung apa? kau sudah punya pacar? kenapa kau tak bilang, Ella?!"
Renggut Sofea begitu menggemaskan dibalik cadar sana, Yella semakin dibuat merasa bersalah atas semua ini karna ia dan Gibran terjebak dalam hubungan yang sangat sulit dijelaskan.
"A..I..Ini Kalungnya..."
"Gerry!!"
Sambar Gibran mencari aman seraya mengisyaratkan Yella untuk ikut bersandiwara, sayangnya Sofea begitu percaya pada dua sahabat sekaligus Gibran kekasihnya itu hingga ia menganggapnya benar.
"Benarkah? apa dia Tampan? tapi pasti dia tak setampan Gibranku!"
Sekilas rasa bersalah yang sangat dalam itu tertanam di hati mereka melihat Sofea yang begitu polos mempercayai segalanya, padahal Gibran juga tak bisa menghindar karna ia dan Yella memiliki hubungan lebih dari itu tapi mereka juga menyayangi Sofea.
"Fea! aku tak ingin membahasnya sekarang, lebih baik kita fokus saja pada Lagumu!"
"Emm, Benar juga! kalau begitu nanti kau cerita padaku, aku akan membuat sebuah Hadiah kalau itu benar!" Suara ceria Sofea membuat Yella ingin menangis, kalau bukan kesalahan pada saat itu ia dan Gibran tak akan terlibat Cinta dan kehausan.
"Sayang, kau sakit!"
"Eh, Tidak apa!"
Gibran yang terkaget karna ia sempat melamun pun hanya memberi cengiran manisnya membuat Sofea mengelus lengannya lembut.
"Aku harap kau mendapatkan kekasih seperti Gibran, dia selalu ada untukku!"
"Sa..Sayang, sampai dimana tadi?" tanya Gibran mengalihkan pembicaraan membuat suasana kembali nyaman, Sofea sesekali risih karna banyak Pelayan yang memandangnya aneh karna malam ini lampu cukup terang bagi wanita sepertinya.
"Kenapa kau disini?"
Mereka terkejut saat Seorang pria paruh baya yang menghampiri Sofea dengan raut tak suka dan itu adalah Manager tempat ini, Gibran dan Yella saling pandang langsung menarik Sofea untuk berlindung dibelakang tubuh mereka.
"Dia teman kami, memangnya kenapa?"
"Hey, anak muda! dia ini wanita pembawa sial, Ayahnya saja sudah bilang kalau wanita ini adalah kutukan Tuhan!"
Cacian itu hanya Sofea telan mentah tanpa mau menguarkan pembelaan, lidahnya sudah keluh untuk berbicara pada orang-orang seperti ini.
"Keluar kau dari sini!"
Brughh..
"Fea!!"
Sofea didorong kasar membuat Bootsnya terkeseleo, dilihat dari Penampilannya wanita ini sama sekali tak seperti buruk rupa dan tak terpelajar, Gestur Sofea yang anggun dan tenang membuatnya mengibarkan aura Positif apalagi kulit putih Sofea sangat senada dengan serbuk salju.
"Pergi!!!"
"Apa-Apaan, kau ha?"
"Maaf, tapi mulai hari ini dia tak bisa melewati area Restoku dan Cafe milikku!"
Gibran ingin membantah tapi Sofea mengangkat tangannya untuk tak bicara, ia pamit seraya memberikan kembali Kertas itu.
"Sudahlah, ini lagunya! dan rekamannya juga sudah ku kirim, aku pulang!"
"Fea kau...!"
Tapi Sofea sudah lebih dulu berbalik pergi menunduk menjahui keramaian, malam dengan kemerlap lampu ini sangatlah terang membuatnya bisa sedikit menyembunyikan diri.
"Fyuhh!"
Sofea menghela nafas untuk tak menormalkan suasana hatinya, ia harus kuat ditengah rumor ini.
....
Vote and Like Sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 122 Episodes
Comments
Amelia Harianja
cerita yg sangat bagus..
2025-02-27
0
ˢ⍣⃟ₛ 𝐀⃝🥀💜⃞⃟𝓛 Jibril Adinda
dih Gibran dan Yella berkhianat, ini namanya pagar makan tanaman
2023-10-10
1
Rangrizal28
wah kayaknya fra dimanfati Gibran aja.menusuk dari blakang
2023-05-25
0