Mobil yang mereka tumpangi melesat dengan sangat kencang. Alina nemejamkan mata guna menangkan hatinya, dia masih ada rasa takut setiap kali melihat mobil yang melaju dengan kencang. Bayangan-bayangan dimana ia terlempar dari mobilnya sendiri karena sebuah truk terus memenuhi pikirannya.
"Ale jangan ngebut," ujar Alina masih dengan mata terpejamnya.
Alendra menurut dia memelankan laju mobilnya yang tadi terasa ingin terbang dan membuat nyawa Alina hampir hilang untuk yang kedua kalinya. Diliriknya Alina yang mulai membuka mata dan mengatur napasnya.
"Lo kayak anak kecil tahu nggak," komentar Alina dengan sikap Alendra tadi.
Tepatnya ketika tadi Alina mengatakan jika sudah meminta dan mengeceknya sendiri di mobil Gevan namun ponselnya masih tetap tidak ditemukan seketika membuat Alendra murka.
Alendra marah karena Alina tidak menurutinya. Alina selalu membantah dengan alasan apapun. Lagian apa susahnya sih menunggu sampai pulang dan cek bersama dengan Alendra. Jelas niatan Alendra tentunya bukan hanya untuk itu. Tetapi agar Gevan tahu jika Alina dan dirinya ada sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan murid dan seorang guru.
"Aku tidak suka dibantah Alina," tegas Alendra.
Alina mengangguk. Dia memang salah, tetapi semua itu dia lakukan untuk menyelamatkan hubungan mereka berdua. Alina tidak akan membiarkan siapa pun tahu rahasia besar di antara dirinya dan Alendra. Bahkan Widya yang notaben sebagai sahabat saja Alina belum memberitahunya. Ada banyak pertimbangan salah satunya ialah menghargai keputusan Alina yang dulu.
Dan kini tinggal mencari alasan supaya Alendra tidak marah lagi dan menjadi buta dengan ugal-ugalan di jalan raya. Sungguh Alina tidak mau sampai berpindah tubuh lagi ke orang lain. Alina sudah sayang dengan tubuh itu, ia sudah mulai menerima dan ingin membuat perubahan pada tubuh itu agar tidak lagi dipandang sebelah mata.
"Aku disuruh hubungi mama, sore ini mereka pulang Ale," final Alina tidak ada alasan yang tepat untuk membuat Alendra percaya.
Selain tidak tahu diri dan keras kepala. Alendra juga sosok yang tidak mudah percaya apa lagi kata-kata yang keluar dari mulut Alina.
"Oke," balas Alendra membuat Alina seketika lega.
Ia pikir Alendra sudah tidak marah dan percaya dengannya. Diam-diam Alina tersenyum tipis saat tahu bagaimana mudahnya membodohi Alendra kali ini.
Namun saat mobil mereka melewati jalan yang asing untuknya. Alina menatap Alendra seakan bertanya.
"Aku juga ingin bertemu dengan papa martuaku Alina," ujar Alendra dengan senyum dan sukses membuat Alina terperangah.
Jadi Alendra ingin membawanya pulang ke rumahnya yang dulu. Rumah kedua orang tua Alina untuk memastikan apa yang Alina katakan tadi itu benar atau salah. Ah...ternyata tidak semudah itu untuk membuat Alendra percaya. Lelaki itu memang pintar dalam hal apapun. Termasuk ketika sedang mode modus ke Alina.
"Nggak usah tegang, seperti orang ketahuan lagi berbohong Alina," ujar Alendra terdengar mencibir.
Alina mendesah kesal. Namun dia paksakan untuk tersenyum manis. "Kalau gue terbukti nggak bohong lo berani apa?" tantang Alina seketika membuat Alendra menatap lekat Alina.
"Apapun yang lo minta," balas Alendra seketika membuat Alina hampir saja melonjak saking senangnya. Tetapi tunggu ia tadi hanya pura-pura saja. Bagaimana kalau sampai kebohongannya itu ketahuan dan membuat Alendra semakin marah dan bersikap menyebalkan.
"Tapi kalau kamu sampai berbohong, perjanjian kita benar-benar batal Alin, selama ini kamu tidak pernah menjadi istri yang seharusnya," ujar Alendra dengan senyum miringnya.
Alina memejamkan matanya. Ia hanya berharap semoga kini dewi fortuna sedang berpihak dengannya. Alina hanya ingin kedua orang tuanya sudah berada di rumah untuk menyelamatkan hidupnya.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan gerbang rumah yang juga cukup luas dan besar. Alina baru sadar jika Alina yang asli juga ternyata dari kalangan kelas atas. Namun kenapa Alina bisa berpenampilan layaknya gadis biasa saja dulu? Ada banyak hal yang ingin Alina ketahui. Mungkin dengan cara ia pulang ke rumah Alina yang dulu di sana bisa mendapatkan jawaban. Alina sangat yakin ada sesuatu yang pasti akan mendapat titik temu dari pertanyaan-pertanyaan selama ini yang bersarang di otaknya.
"Den Endra. Nggak masuk aja mobilnya?" tanya satpam melihat mobil Alendra yang berhenti di depan gerbang.
"Cuma sebentar kok pak," balas Alendra tersenyum miring ke arah Alina.
"Si**an si Ale udah pede banget lagi bakal menang," gumam Alina melirik sinis Alendra.
"Non Alin makin cantik aja, cantik banget malah," puji pak satpam melihat perubahan pada diri Alina yang memang sangat pesat.
"Makasih pak. Bapak juga ganteng," balas Alina seketika membuat satpam tersebut terkejut.
Tidak biasanya nona mudanya seperti itu. Mentoknya kalau di puji juga hanya akan tersenyum sembari menunduk malu. Lha ini malah berani sekali mengatakan pak satpam ganteng langsung di depan suaminya lagi. Yang jika dibandingkan dengan pak satpam yang Alina sebut ganteng itu jelas tidak ada apa-apanya. Bagaikan langit dan bumi.
Alendra berdecak kala mendengar pujian Alina. Ia melihat ke arah pak satpam lalu meraba janggutnya jelas apa yang dikatakan oleh Alina barusan terkesan merendahkan pak satpam bagi Alendra.
"Maaf ya pak, istri saya tidak ada maksud untuk membuat bapak berpikir keras," ujar Alendra membuat Alina mengernyitkan keningnya.
"Berpikir keras apa sih? Orang gue beneran muji kok, bapak nya emang ganteng dari pada lo-"
Buru -buru Alendra menarik Alina untuk segera masuk. Di depan satpam saja Alina sudah berbuat ulah yang seakan menjatuhkan harga dirinya sebagai laki-laki tampan yang sudah diakui oleh semua orang yang sudah bertemu atau melihatnya. Namun Alina. Anak itu memang perlu memakai kaca mata besar biar tidak salah membedakan laki-laki tampan dan seperempat tampan.
"Besok aku temani ke optik," ujar Alendra membuat Alina meradang.
"Buat apa? Mata gue masih normal," balas Alina menolak.
"Ck, normal dari mananya? Pak satpam tadi kamu bilang ganteng? Kamu mau punya suami seperti dia?" ujar Alendra membuat Alina melongo.
Jadi masih karena masalah yang tadi sampai membuat Alendra bahas-bahas tentang optik. Alina menggeleng tidak percaya dengan pikiran Alendra yang terlampau seperti anak kecil. Eh tapi kok gemes ya? Secara tidak langsung Alendra mengakui kalau ia tidak suka Alina memuji laki-laki lain.
"Mau aja asal nggak pelit, nggak nyebelin kayak lo," balas Alina kesal.
"Alin, nggak boleh gitu ih," suara Mama Diana berhasil membuat keduanya menoleh.
Alina kembali dibuat terkejut sebelum akhirnya terlonjak senang. "Yeay...mama sudah pulang," ujar Alina merangkul Mama Diana.
Sebelumnya ia menatap Alendra dengan penuh kemenanga. Ia sangat senang karena setelah ini bisa meminta apapun kepada laki-laki tidak tahu diri itu.
Lihat saja akan Alina buat black card yang Alendra miliki berubah menjadi warna merah seakan sekarat.
"Apa sih kamu kayak anak kecil deh. Mama sama papa memang nggak jadi pergi malam itu, kita jadi perginya yang deket aja ke bali. Lagian kata mama Intan kamu sudah baikan jadi mama sudah tenang," jelas Mama Diana yang sukses membuat Alina kembali dibuat terkejut bertubi-tubi.
Ini kenapa keadaan seakan sengaja mempermainkannya? Lihatlah Alendra sekarang sedang tersenyum penuh kelicikan atas kemenangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Fitria Dian Sulistiani
terus hp alin dimana?
2022-08-08
0
Jasreena
istri yg seharusnya gmn maksud pak Ale ? sdgkan bpk sebagai suami jg tdk menjadi suami yg seharusnya. mana ada suami punya kekasih, normalkah ? ato Alina hrs punya kekasih jg biar sama ?
2022-06-11
0
ZaeV92
pasangan yg ngemusin 😄😄😄
2022-04-24
0