Pagi ini ada yang cukup menarik perhatian di sekolah tempat Alina mengejar ilmu. Kedatangan Alina dengan penampilan baru jelas menjadi pusat perhatian seluruh sekolah. Sisiwi yang biasanya melirik sinis ke arahnya kini sedang terbengong dengan pandangan mata tak berkedip.
Alina berbeda, dan Alina yang sekarang sangat cantik bahkan sayang untuk dilewatkan.
Dengan gaya santai Alina berjalan menuju ke kelasnya. Sebelumnya ia sudah mencari tahu terlebih dahulu dimana letak kelasnya.
Nggak percaya kan lo liat Alina yang sekarang? Batin Alina melirik sekilas ke arah salah satu siswi yang terbeo melihatnya.
Awas tuh ngences, lanjutnya lagi melalui suara dalam hati ketika melihat salah satu siswa yang berhenti ketika melihat kedatangannya.
Mamp*s lo semua pada sawan liat kecantikan gue. Gumamnya dalam hati merasa tingkat kepercayaan dirinya bertambah kali lipat.
Sampai dimana dia masuk ke sebuah ruangan yang merupakan kelasnya sendiri. Alina terdiam di tempat. Begitu juga dengan semua mata yang tertuju akan dirinya. Alina seperti siswi baru yang siap menjadi idola di sekolahnya.
"Alin," seorang siswi buru-buru menarik pergelangan tangannya.
Alina menatap siswi tersebut. Sudah bisa ia tebak jika siswi itu salah satu teman Alina di sekolah. Atau mungkin malah satu-satunya.
"Buruan duduk," suruhnya sedikit tergesa-gesa.
Alina menurut saja. Ekor matanya melirik ke arah name tag di sebelah kiri. Lalu kembali menatap siswi yang berpenampilan sedikit ne*rd itu.
"Widya," lirihnya membuat Widya menatap ke arahnya.
"Alin kenapa jadi begini?" tanya Widya tidak habis pikir.
Ia letakan salah satu tanganya di kening Alina dengan niatan mengecek suhu tubuh gadis itu. Merasa baik-baik saja Widya kembali menatap Alin dengan rasa bingung.
Perlu kalian tahu tidak ada seorang pun yang tahu mengenai kecelakaan yang menimpa gadis itu.
"Gue nggak papa kok," ujar Alina seketika membuat Widya mendelik.
"A-apa Alina? Ka-kamu bilang apa tadi?" tekan Widya menyuruh Alina untuk mengulang ucapannya.
"Gue nggak papa Widya," tegas Alina seketika membuat Widya menggeleng.
"Kenapa? Ada yang salah?" kali ini Alina yang penasaran dengan tanggapan dari Widya.
"Alin kamu berubah."
Seluruh siswa dan siswi kini dipersilahkan untuk berbaris di lapangan. Katanya sih ada guru baru yang akan diperkenalkan langsung oleh Pak kepala Sekolah.
Alina menggenggam tangan Widya dengan hangat. Dia baru tahu jika Alina yang dulu hanya dekat dengan Widya saja.
"Jangan gugup Widya," bisik Alina membuat Widya menatap ke arahnya.
"Alina yang sekarang sangat pemberani," bisiknya lagi seketika membuat senyum indah terukir di wajah gadis yang bernama Widya.
"Tapi kamu tetep harus hati-hati Alin, Aurel pasti semakin tidak suka kamu," balas Widya yang diangguki oleh Alina.
Dalam hatinya bertanya siapa gadis yang bernama Aurel? Alina sendiri cukup penasaran dan...
Benar saja, tidak lama setelah obrolannya dengan Widya. Aurel bersama dengan gengnya yang terdiri dari empat orang datang untuk ikut berbaris.
Mereka tidak satu kelas. Namun Aurel sangat mengenali Alina karena rasa tidak sukanya. Sebelum benar-benar berbaris Aurel sempat melirik ke arah Alina. Tidak ada tindakan namun dari sorot matanya tersirat akan sesuatu.
"Alin, jangan dilihatin," cicit Widya membuat Alina mengangguk kecil.
Jadi itu Aurel? Emm lumayan juga bodynya doang tapi, wajah mah kalah jauh sama gue. Ucapnya dalam hati dengan cengiran kecil.
Tapi tunggu. Kenapa kayak nggak asing ya wajahnya? Pikirnya dalam hati.
"Alin," peringat Widya melihat Alina yang menatap Aurel dari kejauhan.
Rupanya selain penakut. Widya ini anaknya sedikit cerewet, atau mungkin memang karena Widya yang masih belum terbiasa dengan keadaan Alina sekarang.
"Anak-anak mohon perhatiannya sebentar."
"Baik pak," jawab siswa dan siswi serentak.
"Jadi alasan kalian dikumpulkan pagi ini di lapangan sekolah bukan untuk mengikuti upacara di hari kamis," ujar Pak kepala Sekolah yang langsung mendapat kekehan dari beberapa muridnya.
"Wuuuu."
"Receh banget pak!" seru salah satu siswa yang tekenal cukup bandel di sekolah itu.
"Sudah-sudah kalian jangan bicara sendiri. Kalian sengaja bapak kumpulkan untuk berkenalan langsung dengan guru baru dari anak pemilik sekolah ini," jelas Pak kepala Sekolah seketika membuat semua siswa bersorak.
Sementara para siswi centil kini mulai penasaran dengan guru baru yang dimaksud itu. Mereka berharap jika guru baru tersebut seorang laki-laki tampan yang siap memanjakan mata di sekolah.
"Harus banget ya diomongin anak pemilik sekolah, gue aja yang model terkenal gini b aja tuh," gumam Alina tanpa minat melihat ke depan.
"Silahkan pak Endra perkenalkan diri anda," ujar kepala sekolah kepada guru baru tersebut.
Semua mata kini tertuju ke arah laki-laki yang berjalan santai dengan perawakan tinggi dan wajah tampan yang sangat surgawi sekali. Harusnya Alendra itu lebih cocok hidup di dunia dongeng atau di serial drama turki yang ketampananya melebihi kapasitas. Namun sosok tampan itu kini berdiri di antara ribuan siswa dan siswi yang kini sedang menatap ke arahnya tanpa berkedip.
Kebanyakan dari mereka bahkan sudah menjerit histeris di relung hatinya melihat guru baru yang siap menjadi idola bagi para siswi di sekolah.
"Sorry v lu kayaknya bias gue setelah pak ganteng deh."
"Ah...kenapa jadi guru sih bukan suami gue aja."
"Awas gaes, rahim gue mulai hangat nih melihat jakun seksinya."
Beberapa obrolan kecil dari para siswi genit yang sudah pasti nantinya akan mencari perhatian dengan pak guru baru tersebut.
"Halo semua-"
"I love you pak," sela salah satu murid yang langsung mendapat sorakan dari teman-temannya.
"Wuuuu...."
"Perkenalkan nama saya Alendra Atmajaya, saya mengajar biologi dan matematika. Kalian boleh panggil pak Endra," ujar Alendra memperkenalkan diri.
"Panggil sayang aja boleh nggak pak?" tanya salah satu siswi yang kembali mendapat sorakan dari teman-temannya.
"Paan sih? Namanya juga usaha," decihnya mengibaskan rambut cakrawalanya.
"Rel, mending lo cepet putusin Diko deh. Mubazir banget nih guru kalau sampai dianggurin," celetuk Evelyn salah satu teman Aurel.
"Kalian tenang aja. Itu guru bakal takluk di hadapan gue," decihnya penuh percaya diri.
Memang selama ini apa yang Aurel inginkan selalu bisa ia dapatkan. Termasuk merebut kekasih dari model terkenal meski dengan cara papaun itu.
"Alina," panggil Widya lirih.
"Apa?" balas Alina sedang sibuk dengan ponsel yang dia anggap kuno itu.
"Wid, hp gue kenapa kuno gini sih?" tanya Alina membuat Widya menggeleng pelan.
"Bukannya kamu suka banget sama hp itu Lin?" balas Widya seketika membuat Alina mendongak.
"Kamu sendiri yang bilang itu hp pemberian dari calon suami kamu," lanjut Widya seketika membuat Alina mendelik.
Jadi ini ponsel kuno yang beliin si pongah itu? Tidak heran sih cowok seperti Alendra terlihat pelit untuk istri sendiri.
Awas saja nanti Alina sudah berniat untuk meminta ponsel baru dan juga baju-baju baru yang lebih terlihat modis dibanding baju-bajunya yang sekarang.
"Alin," cicit Widya lagi. "Apa?" tanya Alina yang dijawab Widya dengan senyum malu-malu.
"Guru barunya ganteng banget," desisnya pelan.
Seketika Alina ikut penasaran dengan guru baru yang dimaksudkan oleh Widya. Tadinya dia biasa saja. Toh...baginya semua guru dan juga semua di sekolah itu sesuatu hal yang baru baginya. Namun saat melihat siapa guru yang dimaksud oleh temannya itu membuat Alina ternganga tidak habis pikir.
"Ale," gumamnya lirih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
𝓜𝓸𝓬𝓬𝓪
V bts kah? 😂
2023-10-03
0
sherly
keren Jen...
2023-09-16
0
Sweet Girl
kamu Ndak dengerin perkenalannya tadi, Lin...
2023-07-17
0