Diam-Diam Penasaran

Matanya terpejam, napasnya naik turun tidak beraturan setiap kali mengingat kata-kata Alendra tadi. Alina semakin tertantang namun ia juga merasa apa yang akan dilakukannya akan sia-sia saja. Alendra itu aneh, terkadang ia seakan peduli di tengah sikap cueknya, seperti halnya dengan membelikan baju dan juga ponsel meski dengan caranya sendiri, namun tetap saja selalu meremehkan.

"Akh....kolot banget si Ale, tinggal bilang iya gue tunggu usaha lo kita liat aja nanti, gitu kenapa sih?" dumel Alina kesal sendiri.

Percuma saja dia tampil secantik mungkin. Nyatanya Alendra memang tidak pernah melihatnya sepesial. Alina tetaplah Alina gadis yang jauh dari tipenya. Namun tekatnya untuk merubah tubuh Alina agar terlihat lebih indah sudah bulat.

"Masa bod"h lah sama si Ale, gue pengen sehat dan menarik bukan karena lo lagi," kesalnya berguling-guling di atas ranjang.

Tidak jauh dari kamar Alina saat ini. Alendra sedang menyesap kopinya di ruang TV. Ia sibuk menyiapkan tugas besok untuk anak-anak didiknya. Namun kini pikirannya berkelana entah kemana. Tangannya terampil mengetik laptop di depannya akan tetapi pikirannya terus mengingat dimana tadi Alina mengatakan akan membuatnya meminta.

"Meminta apa gadis bod*h?" gumam Alendra terkekeh.

Sebagai laki-laki normal jelas yang Alendra maksudkan ialah meminta sesuatu hal yang seharusnya sudah mereka jalani sebagai pasangan suami istri. Terlebih mengingat kejadian tadi siang dimana Alendra tanpa sengaja sudah melihat tubuh Alina yang hanya dibalut pakaian dalam saja membuatnya merasa berbeda.

Sama sekali bukan tipenya apa yang melekat pada tubuh gadis itu. Namun begitu menarik perhatiannya sampai membuat Alendra tadi kehilangan fokus ketika sedang rapat.

"S**l," umpatnya ketika bayangan-bayangan dimana Alina memainkan bagian dadanya di depan cermin besar kembali datang.

Alendra menyangkal tidak menyukainya. Namun otaknya justru dipenuhi dengan bayangan-bayangan itu.

"Dia bukan tipeku sama sekali." Alendra menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan pikiran kotornya tentang Alina.

Tenggorokannya terasa kering. Alina meraih ponsel untuk melihat jam yang ternyata sudah pukul 12 malam. Tadi ia ketiduran dengan posisi kepala berada di bawah ranjang karena kesal setiap kali mengingat kata-kata Alendra.

"Haus banget gue, coba sedia minuman ale-ale di sini nggak usah repot ke dapur buat ngambil," gumam Alina terkikik geli dengan ucapannya sendiri.

Ia bangkit dari tidrunya. Tidak peduli dengan pakain yang sedang dia kenakan saat ini. Baju tidur mini yang diberikan oleh Mama Intan tadi. Toh... Palingan jika Alendra sudah pulang tentunya cowok itu sudah berada di kamarnya atau kalau tidak masih berada di luar bersama dengan pacarnya. Jika tanpa sengaja bertemu pun tidak akan menjadi masalah karena Alina bukan tipe Alendra seperti yang sering Alendra katakan.

Blup

Pintu kulkas tertutup bersamaan dengan Alinya yang berbalik badan. Tetapi...

Deg

Alina terperanjak kaget ketika badan Alendra sudah berdiri di depannya. Tepat di depan Alina saat ini.

"Mau ngambil minum juga?" tanya Alina yang tidak mendapat jawaban dari Alendra.

"Ale," panggil Alina mulai takut.

Tidak akan lucu jika yang berada di depannya itu mahluk tak kasat mata yang sedang menyamar menjadi Alendra.

Semakin merasa takut Alina mencoba menghafal bacaan untuk mengusir setan yang sedang menyerupai Alendra di depannya. Tidak ketinggalan minuman yang berada digenggamannya juga sengaja dia kasih doa-doa. Baru setelah itu ia siramkan ke wajah Alendra di depannya.

"Oh... S**t," umpat Alendra seketika membuat Alina terkejut.

"Se-tan bisa mengumpat?" tanya Alina yang langsung membuat Alendra murka.

Lampu utama yang memang tadi tidak Alina nyalakan di dapur apartemen seketika menyala bersamaan dengan wajah Alendra yang terlihat merah padam menahan amarah.

"Apa-apaan kamu Alina?" tanya Alendra menatap tajam Alina.

"Gue yang harusnya tanya. Ngapain lo di sini? Segala pakai cosplay jadi se*an?" tanya Alina membuat Alendra terdiam sesaat.

"Sengaja mau nakut-nakutin gue? Ck, lo-nya yang kena kan?" lanjut Alina melihat wajah tampan di depannya penuh dengan air dingin yang tadi dia siramkan.

Alendra terdiam. Dia masih memikirkan bagaimana bisa ia sampai di dapur dalam keadaan tidur. Tadi ia tanpa sengaja tertidur di depan TV tidak akan lucu jika ia benar-benar berjalan disaat sedang tertidur.

"Minggir gue mau balik ke kamar," usir Alina berniat untuk pergi.

Namun lagi-lagi Alendra sudah berhasil mencekal tangannya. Membuat Alina mau tidak mau menghentikan langkahnya dan kembali menoleh.

"Apa sih? Seneng banget deh nyekal tangan gue gini?" ketus Alina.

"Tanggung jawab kamu Alina!" ujar Alendra membuat mata Alina membola.

Tanggung jawab? Yang benar saja. Ini tengah malam dan Alendra meminta pertanggung jawaban atas kesalahannya sendiri. Tanggung jawab seperti apa yang Alendra maksudkan. Jangan sampai yang tidak-tidak.

"Tanggung jawab apa?" tanya Alina ragu-ragu.

Bukannya menjawab. Alendra kembali menarik tangan Alina untuk masuk ke dalam kamarnya. Yakin deh Alina sudah setengah was-was ketika memasuki kamar Alendra tengah malam begini. Pikirannya semakin dibuat kemana-kemana. Terlebih kata-kata Alendra yang menyuruhnya untuk tanggung jawab. Itu kata-kata yang tersirat akan makna.

"Ngapain sih? Lo yang salah gue yang disuruh tanggung jawab. Harusnya gue yang minta tanggung jawab karena lo udah bikin jantung gue hampir copot," omel Alina yang tidak dipedulikan Alendra.

Alendra sedang sibuk mencuci tangan dan wajahnya.

"Ambilin baju sama anduk," titah Alendra seketika membuat Alina mendelik.

"Apaan? Kenapa harus gue?" Alina berniat untuk keluar dari kamar Alendra. Namun langkah lebar Alendra yang berhasil menutup pintu kamarnya membuat Alina terhenti menatap tidak percaya.

"Kamu yang udah bikin baju aku basah Alin," tekan Alendra menatap tajam Alina.

Bukan. Niatnya bukan untuk itu, namun pikiran Alendra yang entah kenapa sangat berkhianat sekali dengan keinginanya dan juga kata-kata yang selalu ia ucapkan. Sangat bertolak belakang sejak kejadian tadi siang karena CCTV di kamarnya.

Ada dorongan dalam diri Alendra untuk membuat Alina tetap berada di kamarnya malam ini. Melihat baju yang dikenakan Alina saat ini membuat Alendra semakin merasa panas dingin. Entah sejak kapan ia tanpa sadar mulai tertarik dengan gadis itu. Semakin Alina galak semakin Alendra suka.

Dengan perasaan dongkol Alina melangkah menuju lemari untuk mengambilkan baju sesuai perintah Alendra. Dengan sembarang ia mengambil salah satu kaos yang menurutnya paling gampang untuk dijangkau.

"Nih, bentar anduknya," ujar Alina seraya melemparkan kaos berwarna hitam ke arah Alendra.

Melihat Alina yang sudah membawa handuk di tangannya. Alendra sengaja duduk di tepi ranjangnya. Baju yang diambilkan oleh Alina barusan belum ia pakai karena wajah dan rambutnya yang masih sedikit basah.

"Ale nih, udah ya gue mau ke kamar ngantuk," ujar Alina berniat untuk menyerahkan handuk yang baru saja ia ambil.

"Usapin," titah Alendra seketika membuat Alina melotot.

"Yang benar saja? Lo kan bisa pakai handuk sendiri, manja banget jadi orang, dah tua juga dasar Ale," dumel Alina membuat sorot mata Alendra berubah semakin tajam.

"Kamu nggak lihat aku bawa baju ini?" balas Alendra sukses membuat emosi Alina naik.

Baju? Gampang sekali tinggal ditaruh di samping Alendra dan ia menggunakan handuk yang baru saja diambilkannya kan bisa. Terkadang heran juga sama jalan pikir Alendra yang dibikin ribet sendiri.

"Gue nggak yakin otak lo beneran sepintar itu, ginian aja dibikin ribet nyari yang susah..." cibir Alina, namun tangannya tetap melakukan apa yang Alendra perintahkan.

Bukannya menjawab. Kini Alendra malah sedant menikmati usapan yang Alina lakukan pada sekitar rambut dan wajahnya. Jangan lupakan tatapan mata Alendra yang terkadang juga sedikit nakal mencuri-curi pandang pada bagian tertentu.

Glek

Meski ukurannya tidak terlalu besar namun semakin membuat Alendra penasaran dengan bentuknya. Jika dibayangkan sedang ranum-ranumnya yang sebentar lagi akan siap mekar.

"Ah...s**t," umpat Alendra kesal dengan pikirannya sendiri.

"Apa lagi?" tanya Alina dengan galaknya.

"Pakain aku baju," titah Alendra menghadap ke lain arah.

Bisa bahaya kalau terus melihat bentuk kecil yang ia perkirakan masih seukuran biji mangga itu.

"Hah? Sint*ng lo!" decak Alina beranjak untuk pergi.

Namun lagi-lagi cekalan tangan Alendra berhasil menghentikan niatnya bersamaan tubuh Alina yang ambruk di dekapan Alendra. Yakin posisi saat ini diam-diam sangat menguntungkan untuk Alendra. Ia bisa merasakan sesuatu yang sedari tadi terus memenuhi pikirannya.

Terpopuler

Comments

sherly

sherly

alin dan Alen... hahahahah

2023-09-16

0

Elly Watty

Elly Watty

tlog donk bkin cerita yg beda dkit jgn sama mulu, hmpir bisa ditebak, krakter cewek yg awalnya garang kyak mcan pd akhirnya bucin duluan

2023-01-27

0

ARA

ARA

😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂

2023-01-22

0

lihat semua
Episodes
1 Kecelakaan
2 Wajah Asing
3 Mendadak Jadi Istri
4 Semakin Berani
5 Satu Ranjang
6 Tanda Kepemilikan
7 Guru Baru-Teman Baru
8 Mabuk Obat Jujur
9 Diam-Diam Musuh
10 Gara-Gara Mengigau
11 Pemenang Sayembara Dalam Hal Apapun
12 Aksi Alina Buat Alendra Tersiksa
13 Keras Kepala Itu Alendra
14 Diam-Diam Penasaran
15 Seribu Satu Cara
16 Alendra Jadi Kakek
17 Kakek Legend
18 Mulai Menunjukan
19 Cieee Traktir
20 Kalah Taruhan? (Perjanjian Dibatalkan)
21 Mati Lampu Pembawa Berkah
22 Dasar Konyol
23 Rencana Licik Alina
24 Ketemu Mantan
25 Satu Sama (Impas)
26 Ada Saja Cara Alendra
27 Ada Yang Tumbuh Cepat
28 Masa Depan Suram
29 Si Seksi Alina
30 Ancaman Maut Alendra
31 Bisikan Memalukan
32 OTW Satu Kamar
33 Proyek Besar Alendra
34 Ada Penguntit
35 Welcome Boy
36 Ternyata Wajah Mirip Dewa
37 Amarah Alendra
38 Sopir Misterius
39 Sopir Ganteng Bajakan
40 Sebuah Berita Berujung Malapetaka
41 Tindakan Alendra Diluar Nalar
42 Bertemu Boy Diam-Diam
43 Bertemu Si Penghianat
44 Ketahuan Ngelayap
45 Diam-Diam Memperhatikan
46 Ijin Bolos
47 Penuh Drama Di Sekolah
48 Tragedi Di Ruang Guru
49 Imajinasi Terbuyarkan
50 Cara Licik Alendra
51 Alina Yang Diancam Widya Yang Gemetaran
52 Bestie Forever
53 Burung Besar Alendra
54 Salahkan Saja Minuman Itu
55 Dia Cemburu Tapi Tidak Sadar
56 Terapi Khusus Untuk....
57 Antara Tidak Sadar Dan Bodoh
58 Kopi Hitam Penuh Cerita
59 Alina VS Aurel
60 Pacar Dadakan
61 Senjata Makan Tuan
62 Mode Perang Dingin
63 Ibu Hamil Banyak Maunya
64 Cemburu Bilang Bosss
65 Siapa Yang Datang?
66 Mabuk Untuk Balas Dendam
67 Bertemu Mommy Sheren
68 Diam-Diam Menunggu
69 Kesempatan Dalam Kesempitan
70 Dibuat Bingung
71 Gevan Minta Bantuan Alina
72 Lupa Waktu
73 Belum On Fire
74 Putuskanlah saja Dirinya
75 What Happened?
76 Detik-Detik Menuju...
77 Berlanjut Atau Tidak?
78 Setengah Kebenaran
79 Teman Tapi Aneh
80 Pengakuan (Diluar Dugaan)
81 Setengah Panas
82 Mendadak Aneh
83 Cemburu Tapi Gengsi
84 Datang Lagi
85 Alina Mulai Aktif
86 Hampir Terjadi
87 Gosip Di Sekolah
88 Intim Berdua
89 Sekali Lagi
90 Berakhir Atau Lanjut?
91 Alina Yang Bolos-Alendra Yang Gundah
92 Tikus Caper
93 Rencana Sang Martua
94 Bioskop VIP?
95 Alendra Keluar Kota
96 Mulai Terungkap
97 Sahabat Tapi VS
98 Masuk Atau Tidak?
99 Musuh Dalam Selimut
100 Alina Pingsan
101 Terbongkar Sudah
102 Go Publick
103 Fire On Fire
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Kecelakaan
2
Wajah Asing
3
Mendadak Jadi Istri
4
Semakin Berani
5
Satu Ranjang
6
Tanda Kepemilikan
7
Guru Baru-Teman Baru
8
Mabuk Obat Jujur
9
Diam-Diam Musuh
10
Gara-Gara Mengigau
11
Pemenang Sayembara Dalam Hal Apapun
12
Aksi Alina Buat Alendra Tersiksa
13
Keras Kepala Itu Alendra
14
Diam-Diam Penasaran
15
Seribu Satu Cara
16
Alendra Jadi Kakek
17
Kakek Legend
18
Mulai Menunjukan
19
Cieee Traktir
20
Kalah Taruhan? (Perjanjian Dibatalkan)
21
Mati Lampu Pembawa Berkah
22
Dasar Konyol
23
Rencana Licik Alina
24
Ketemu Mantan
25
Satu Sama (Impas)
26
Ada Saja Cara Alendra
27
Ada Yang Tumbuh Cepat
28
Masa Depan Suram
29
Si Seksi Alina
30
Ancaman Maut Alendra
31
Bisikan Memalukan
32
OTW Satu Kamar
33
Proyek Besar Alendra
34
Ada Penguntit
35
Welcome Boy
36
Ternyata Wajah Mirip Dewa
37
Amarah Alendra
38
Sopir Misterius
39
Sopir Ganteng Bajakan
40
Sebuah Berita Berujung Malapetaka
41
Tindakan Alendra Diluar Nalar
42
Bertemu Boy Diam-Diam
43
Bertemu Si Penghianat
44
Ketahuan Ngelayap
45
Diam-Diam Memperhatikan
46
Ijin Bolos
47
Penuh Drama Di Sekolah
48
Tragedi Di Ruang Guru
49
Imajinasi Terbuyarkan
50
Cara Licik Alendra
51
Alina Yang Diancam Widya Yang Gemetaran
52
Bestie Forever
53
Burung Besar Alendra
54
Salahkan Saja Minuman Itu
55
Dia Cemburu Tapi Tidak Sadar
56
Terapi Khusus Untuk....
57
Antara Tidak Sadar Dan Bodoh
58
Kopi Hitam Penuh Cerita
59
Alina VS Aurel
60
Pacar Dadakan
61
Senjata Makan Tuan
62
Mode Perang Dingin
63
Ibu Hamil Banyak Maunya
64
Cemburu Bilang Bosss
65
Siapa Yang Datang?
66
Mabuk Untuk Balas Dendam
67
Bertemu Mommy Sheren
68
Diam-Diam Menunggu
69
Kesempatan Dalam Kesempitan
70
Dibuat Bingung
71
Gevan Minta Bantuan Alina
72
Lupa Waktu
73
Belum On Fire
74
Putuskanlah saja Dirinya
75
What Happened?
76
Detik-Detik Menuju...
77
Berlanjut Atau Tidak?
78
Setengah Kebenaran
79
Teman Tapi Aneh
80
Pengakuan (Diluar Dugaan)
81
Setengah Panas
82
Mendadak Aneh
83
Cemburu Tapi Gengsi
84
Datang Lagi
85
Alina Mulai Aktif
86
Hampir Terjadi
87
Gosip Di Sekolah
88
Intim Berdua
89
Sekali Lagi
90
Berakhir Atau Lanjut?
91
Alina Yang Bolos-Alendra Yang Gundah
92
Tikus Caper
93
Rencana Sang Martua
94
Bioskop VIP?
95
Alendra Keluar Kota
96
Mulai Terungkap
97
Sahabat Tapi VS
98
Masuk Atau Tidak?
99
Musuh Dalam Selimut
100
Alina Pingsan
101
Terbongkar Sudah
102
Go Publick
103
Fire On Fire

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!