Malam ini gaun cantik yang tadi dipilih sendiri oleh Alina melekat dengan indah di tubuh rampingnya. Sangat pas dan terlihat elegan. Alina tersenyum melihat pantulan dirinya di depan cermin besar. Sangat puas dan semakin percaya diri dengan penampilannya malam ini.
"Sayang sudah belum?" Mama Intan datang dan masuk ke kamar Alendra.
"Sudah ma," jawab Alina menoleh.
"Ya ampun...cantiknya mantu mama," puji beliau seketika membuat senyum Alina terlihat.
"Mama tidak pernah tahu kalau kamu pinter make up lho sayang, jago malah," lanjutnya lagi memandangi wajah Alina yang memang sangat cantik.
"Tahu gini tadi mama nggak usah nyuruh orang salon buat dateng, mantu mama aja jago," lagi-lagi Mama Intan terus memuji kehebatan make up Alina yang baru saja dia ketahui.
Bukan. Itu bukan Alina yang hebat, namun Jenni yang memang sudah menjadi makanan sehari-harinya bergelut dengan dunia kecantikan.
"Masih belajar kok ma," balas Alina merendah.
"Belajar apa, bagus gini kok... Mama aja suka sama make up yang kamu padukan, cantik banget Alina," puji Mama Intan masih merasa takjub dengan menantu kesayangannya itu.
"Percaya deh, nanti Endra pasti kaget liat kamu cantik gini," ujar beliau lagi yang hanya dijawab Alina dengan senyum.
Lelaki seperti Alendra mana tergoda. Dia akan tergoda jika tubuh Alina nanti layaknya gitar sepanyol yang begitu mempesona. Namun Alina tidak akan begitu peduli, mau Alendra melihatnya atau tidak menganggapnya ia tidak akan peduli untuk sekarang ini. Toh... ia berdandan cantik bukan untun Alendra yang tidak tahu diri itu. Ia cantik untuk dirinya sendiri.
Mobil yang ditumpangi Alina dan Mama Intan berhenti di sebuah hotel. Di sana juga sudah sangat ramai terdapat mobil-mobil yang sepertinya juga ikut di acara malam itu.
"Ayo sayang kita sudah sampai, harusnya mama kamu sama papa kamu juga datang tapi mereka harus ke liar kota," jelas Mama Intan yang dijawab Alina dengan anggukan kepala.
Mama Diana tadi sore sudah memberitahunya akan ke luar kota. Belia juga menyuruh Alina untuk ikut bersama dengan ibu martuanya karena tidak adanya beliau di sisinya.
Kedua wanita cantik beda usia itu masuk ke gedung tinggi yang merupakan hotel milik keluarga Atmajaya. Melihat kedatangan istri bos besar mereka jelas membuat para pegawai yang melihat menunduk sopan.
Alina terdiam, tiba-tiba ia seperti merasa disituasi yang pernah terjadi seperti saat ini. Dimana ia berjalan di antara banyaknya orang dan diberi tepuk tangan oleh mereka.
Matanya terpejam sejenak, tangannya mengepal mengingat saat itu ketika dirinya masih menjadi model. Bahkan mendapat beberapa penghargaan karena bakat yang luar biasanya itu. Namun kini semua itu harus ia relakan dan lupakan.
"Sayang, kenapa?" tanya Mama Intan melihat wajah Alina sedikit pucat.
Alina menggeleng dengan senyum tipisnya. "Enggak papa ma," balasnya.
Tidak mungkin dia mengatakan jika ingatannya tentang kehidupan masa lalu membuatnya seperti tertekan. Alina sedang berusaha menjadi Alina yang seharusnya. Bukan Jennifer lagi yang memang dalam sejarahnya sudah tiada di dunia ini.
Ruangan besar itu sudah dipenuhi oleh beberapa orang terdekat keluarga Atmajaya. Rupanya Pak Dirta kini sedang merayakan keberhasilan proyek barunya yang dipimpin langsung oleh Alendra. Beliau bangga dan sengaja mengundang orang-orang yang beliau anggap berperan penting dalam bisnis dan hidup beliau.
Dengan setelan jas hitamnya malam ini Alendra terlihat sangat tampan dan berwibawa. Tidak akan ada yang percaya jika lelaki itu merupakan seorang guru SMA yang tengah mengajar karena ancaman dari orang tuanya.
Perbedaan Alendra di sekolah tempatnya mengajar dan di luar sangat kentara. Dari segi apapun itu termasuk penampilan sangatlah berbeda. Alendra hanya memakai mobil sportnya ketika bersama teman-temannya. Ketika menjadi guru ia lebih merendah agar tidak terlalu menarik perhatian.
"Ndra, sini nak," suruh Mama Intan melihat kedatangan Alendra.
Alendra menurut. Ia melangkah maju menghampiri Mama Intan yang sedang berdiri bersama dengan Alina. Namun mata Alendra kini tidak terlepas dari sosok Alina yang entah kenapa untuk malam ini sangat menarik perhatiannya.
"Kalian di sini dulu ya? Mama mau nyamperin papa," ujar Mama Intan setelah Alendra sampai di depan mereka.
"Ma Alin ik-"
"Di sini," sela Alendra membuat Alina mengurungkan niatnya untuk protes.
Ekor mata Alina melirik ke arah Alendra yang berdiri tegap di sebelahnya. Tadi saja ketika berjalan menghampirinya Alendra terus menatap ke arahnya tanpa berkedip. Sekarang sudah di depan mata kenapa seakan tidak menganggapnya ada. Memang selalu begitu bersikap baik ketika ada orang lain saja.
"Selamat pak Ale, proyek bapak ternyata sangat sukses," ujar Alina memecah keheningan.
"Di sini aku bukan guru kamu Alina. Jangan panggil aku pak," tekan Alendra tanpa menatap ke arah Alina.
Kepalanya mengangguk. Matanya kembali melirik ke arah Alendra. "Terus gue harus panggil apa dong? Masa iya beby kayak bapak manggil pacar bapak?" sindir Alina seketika membuat Alendra menoleh dengan tatapan tajam ke arahnya.
Jangan mengira Alina tidak tahu apa yang Alendra lakukan di luar sana. Mendengar Alendra bermesraan lewat sambungan telepon saja sudah bisa Alina tebak jika Alendra bermain wanita di luar sana. Entah pacar sungguhan atau hanya wanita bayaran saja.
"Tahu apa kamu tentang aku?" tanya Alendra menatap tajam Alna.
"Banyak, salah satunya pelit sama istri tapi mungkin sama pacar-"
"Stop Alin, aku yang harusnya tanya kamu. Siapa Diko?" tanya Alendra seketika membuat Alina terkejut.
Ale tahu Diko darimana? Apa dia tahu kalau gue ini Jenni bukan Alina? Gumam Alina dalam hatinya.
"Diko?" tanya Alina ingin tahu reaksi Alendra.
"Ck, dia datang dimimpi kamu bukan? Sampai kamu menyebutkan namanya?" tanya Alendra semakin membuat Alina terkejut.
Jadi Alina mengigau tentang Diko? Kapan? Tapi bagus lah kalau Alendra tahu dan sepertinya Alendra malah tidak suka dengan adanya Diko dihubungan mereka.
Dengan gaya menggodanya Alina beranikan diri untuk mengitari Alendra yang kini sedang menatap lurus ke depan. Namanya juga Alina yang sekarang dia tidak akan takut apa lagi peduli dengan kata-kata Alendra yang terkadang menyakiti hatinya.
"Oh...jadi karena gue ngigau tentang Diko lo nggak suka ya? Jangan bilang lo mulai cemburu?" tebak Alina seketika membuat Alendra meradang.
"Kamu anak kecil. Sama sekali bukan tipeku Alina, aku rasa sudah sering mengingatkan ini," sergah Alendra yang diangguki oleh Alina.
"Sekarang lo boleh ngomong gitu Ale, tapi nanti jangan harap gue bisa terima permintaan lo apapun itu," jelas Alina berniat untuk meninggalkan Alendra.
Bersama dengan Alendra malah membuat emosinya terus naik. Beruntung Alina masih bisa mengendalikannya sadar akan situasi. Jika tidak, lihat saja pasti ia sudah menyumpal mulut menyebalkan Alendra itu.
Mata Alina membola kala sebuah tangan mencekal pergelangan tangannya dan menariknya yang entah akan dibawa kemana dia. Namun tidak ada niatan untuk berontak dari Alina ketika ia tahu pelakunya ialah Alendra sendiri. Alina ingin tahu apa yang akan Alendra lakukan dan sejauh mana dia terus bersikap layaknya seorang musuh dengan istrinya.
Brak
Alendra menutup pintu sebuah kamar hotel yang jelas Alina sudah tahu kalau kamar tersebut kelas VVIP.
Alendra menatap tajam Alina. Begitu juga dengan Alina yang tidak kalah nyalang menatap Alendra.
"Apa?" tantang Alina membuat Alendra semakin mendekat bersamaan dengan tatapan matanya yang menatap lekat ke arahnya.
Alina tercekat kala hembusan napas Alendra begitu terasa disekitar permukaan kulit lehernya.
"Seyakin apa kamu ingin buat aku meminta Alina?" bisik Alendra tersenyum miring.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Jasreena
yakin 1000%
2022-06-10
2
Jasreena
good good Alina alias Jenifer... sering2 d ingetin klo perlu d rekam biar g ngeles kek bajaj. apalg ntar klo dah bucin...
2022-06-10
2
ZaeV92
gue suka sama Alina yg ngk mudah ditindas
2022-04-24
0