Alendra baru saja selesai mengajar. Dia akan kembali ke ruanganya untuk menyiapkan mata pelajaran selanjutnya. Namun ditengah perjalanannya terhenti saat melihat Alina yang sedang mengobrol dengan salah satu siswa.
Alendra tahu siswa tersebut ketua OSIS di sekolah itu. Namun ia belum begitu mengenal.
"Bagus. Pacaran di saat jam pelajaran," gumamnya dengan rahang mengeras. Tanpa disadari olehnya tentunya.
"Semakin berani," decaknya bertambah kesal kala melihat Alina memberikan senyuman manis untuk siswa tersebut sebelum kepergiannya.
"Alin, lama banget sih?" tanya Widya yang dijawab Alina dengan senyuman.
"Mau tau nggak gue baru aja ketemu siapa?" tanya Alina seketika membuat Widya berpikir.
"Tisu toilet atau gayung kamar mandi mungkin," balas Widya dengan polosnya.
Sontak saja jawaban Widya barusan membuat Alina seketika tertawa. "Ngaco, Gevan tahu..gue baru ketemu sama dia," jelas Alina membuat Widya menatap penasaran.
"Pantesan lama, kalian ngobrol dulu?" tebak Widya dan kembali diangguki oleh Alina.
"Hehemm..." balas Alina tanpa tahu jika Widya kini sedang tersenyum tipis.
Kamu sekarang cantik Alin, pantas saja menjadi rebutan mereka termasuk kak Gevan. Batin Widya menatap wajah cantik Alina yang masih saja bercerita.
"So...kalau lo beneran suka ma tuh cowok, gue comblangin deh," ujar Alina yang dibalas Widya dengan gelengan kepala.
"Enggak Alin, aku nggak suka kak Gevan kok," sanggah Widya.
Ia tidak percaya diri untuk seorang Gevan yang terlihat sempurna di matanya. Jika diibaratkan Widya ini hanya biji kacang yang tidak mungkin mampu menggapai sebuah anggur yang terdapat di super market sana. Dari harga dan rasa saja jelas sudah sangat berbeda. Termasuk kasta dan juga penampilan.
"Widya. Percaya deh sama gue. Gue bisa rubah lo jadi lebih cantik lagi," jelas Alina tersenyum manis.
Alina berjalan santai menuju ke depan gerbang sekolah. Siang ini ia pulang sendiri karena Alendra sudah pulang terlebih dahulu tadi setelah selesai mengajar. Cowok itu mana paham semestinya bersikap seperti apa terhadap seorang istri.
"Yakin deh gue, jadi Alina yang dulu pasti tersiksa banget ngadepin tuh cowok," gumam Alina terus berjalan.
Sampai pada akhirnya seseorang datang dan menarik tas miliknya. Otomatis Alina ikuti langkah lebar dari siswi yang menjadi tersangkanya.
"Lepasin!" berontak Alina.
Namun karena dia kalah jumlah. Alina akhirnya terseret sampai di sebuah gedung yang Alina yakini sebagai gudang di sekolah itu. Dari barang-barang yang terlihat saja tidak terjaga. Banyak debu dan sangat berantakan.
"Heh n*rd, makin berani ya lo!" ujar salah satu siswi yang tidak Alina ketahui.
Alina hanya membaca name tag siswi tersebut. Tetapi tidak sudi untuk menghafal apa lagi mengucapkan.
"Gue peduli gitu?" balas Alina berani.
Seketika siswi yang tidak lain teman dari Aurel itu memicing tajam bersamaan dengan tangannya yang hampir saja meraih rambut Alina untuk ia tarik. Namun kedatangan Aurel mengurungkan niatnya.
"Kalian boleh ngelakuin apa aja setelah gue," beritahu Aurel dengan gaya sok berkuasanya.
Sejenak Alina terdiam mengamati Aurel dari atas sampai ke bawah. Sampai dia ingat jika siswi-siswi di depannya itu yang sering Widya ingatkan untuk hati-hati.
Aurel berdiri tepat di depan Alina. Tangannya mencengkram dagu Alina secara kasar, mengamati setiap inci dari wajah gadia di depannya itu. Seketika niatnya untuk membuat Alina hancur semakin berkobar dalam dirinya. Terlebih ketika mengingat Alina lah kini yang sedang teman-temannya junjung tinggi karena sayembara yang mereka adakan.
"Niat banget ya ke salon buat nyaingin gue?" tanya Aurel membuat Alina hampir saja tertawa.
Beruntung dia masih bisa mengendalikan. Ingin sekali rasanya mengatakan jika yang sedang dia rundung itu model yang bahkan Aurel sendiri meniru gayanya.
Dari tatanan rambut bahkan aksesoris yang melekat pada tubuh Aurel seketika sudah bisa Alina tebak. Gadis itu mengagumi seorang Jenni yang memang namanya sedang melambung tinggi kala itu. Hingga kecelakaan yang merubah dirinya dan kehidupannya berbanding terbalik dengan kehidupan aslinya.
"Sorry gue nggak harus ke salon buat bikin lo ngerasa tersaingi. Lo bukan level gue," balas Alina seketika membuat Aurel merasa panas.
Plak
Tangan Aurel dengan bebas menampar pipi kiri Alina. Jelas Alina terkejut ia tidak menyangka kalau perundungan yang didapatkan akan sampai ke fisik bukan hanya cemoohan yang bisa ia lawan dengan mudah.
"Lo berani banget nampar gue!" balas Alina meradang.
"Apa? Lo emang pantas dapetin itu, nggak usah sok polos deh lo...!" tatapan Aurel menajam.
"Dan jangan berani untuk deketin Gevan apa lagi pak Endra. Awas aja lo," ancam Aurel setelah itu pergi diikuti kedua dayangnya.
Alina masih terdiam. Bukan bermaksud untuk menerima perlakuan Aurel begitu saja. Pasti akan dia balas. Tetapi dia juga butuh kejelasan. Alina yang sekarang harus tahu terlebih dahulu kenapa Aurel bisa memusuhi dan sebenci itu dengannya.
"Aw..mana perih lagi, si*l*n tuh cewek bar-bar juga ternyata," dumelnya memegangi pipi sebelah kirinya yang masih terasa nyeri.
Taksi yang ia pesan kini melesat ke rumah ibu martuanya. Alina tadi sudah di telepon oleh mama Intan untuk datang ke rumah. Entah untuk tujuan apa Alina hanya mengikuti saja perintah dari orang tua itu.
Sampai di tempat tujuan. Alina sempat terkejut melihat rumah martuanya yang ternyata sangat luas. Yakin keluarga Atmajaya ini memang bukan orang sembarangan. Tetapi mengingat apartemen yang dia huni saat ini bersama dengan Alendra seketika membuat Alina mengangguk paham. Meski mewah namun tidak sebanding dengan luasnya pekarangan rumah di depannya itu.
"Dasar pelit," decak Alina ditujukan untuk Alendra.
"Non Alin, langsung masuk aja non," ujar salah satu asisten rumah tangga yang melihat kedatangannya.
Alina hanya mengangguk dengan senyum. Ingin menyapa dia juga bingung, salah sebut nama malah tidak akan lucu.
"Non Alin geulis pisan ih," ujar pak satpam melihat penampilan Alina saat ini.
"Sayang, mantu mama sini nak." Mama Intan sangat semangat begitu melihat kedatangan Alina.
"Ma," balasnya dengan sopan.
"Kamu ke sini naik apa nak? Nggak kepansan kan?" tanya beliau penuh perhatian. Alina menggelengkan kepala sebagai bentuk jawabannya.
"Enggak ma, Alin naik taksi tadi," jelasnya membuat Mama Intan mengangguk lega.
"Ayo sayang ikut mama," ajaknya semakin semangat.
Alina hanya menurut saja. Dia sendiri tidak tahu akan dibawa kemana. Sampai matanya semakin dibuat takjub melihat kamar dengan ukuran yang sangat luas dan interior yang megah pastinya.
"Ini cobain dulu ya sayang? Kalau tidak pas atau dirasa kurang cocok kamu bisa ganti yang ini dan bentar mama ambilin yang satunya lagi," jelas beliau memberi beberapa gaun untuk Alina kenakan.
"Ma..ini buat apa?" tanya Alin bingung.
"Nanti kamu juga tahu sayang, kamu masuk aja itu kamar Endra kok," beritahu mama Intan seketika membuat napas Alina sedikit tersendat.
Mendengar nama Alendra entah kenapa emosinya ingin naik seketika. Padahal orangnya juga tidak ada.
Dengan langkah sepelan mungkin Alina masuk ke kamar yang megah dan luas itu. Bahkan kamar aslinya saja tidak seluas milik Alendra. Tangannya memilih salah satu gaun yang sudah Mama Intan sediakan untuknya.
"Coba yang ini deh..kayaknya cocok untuk badan ini," gumam Alina mendadak ragu-ragu untuk memilih baju yang akan dikenakan olehnya.
Tidak seperti ketika ia masih berada di tubuh aslinya. Untuk memulih baju tidak akan sulit bagi Alina. Namun kini Alina harus lebih berhati-hati lagi. Berada di tubuh Alina yang sekarang merupakan tanggung jawab besar untuk menjaganya. Alina tidak ada niatan lain lagi selain untuk merubah postur tubuh itu agar terlihat lebih menarik lagi.
Merasa sendiri berada di kamar tersebut. Alina mulai menanggalkan seragam sekolahnya tanpa harus ke kamar mandi. Ia melakukannya dengan sangat pelan di depan cermin besar. Toh ia pikir hanya mencoba saja tidak perlu mandi terlebih dahulu.
Namun siapa sangka. Aksinya itu kini sedang disaksikan langsung oleh Alendra melalui ponsel miliknya. Niatnya tadi iseng untuk mengecek cctv kamar di rumahnya yang terhubung langsung dengan ponsel miliknya. Dan berakhir dengan mata Alendra yang begitu lekat menatap aksi Alina di dalam kamarnya.
Glek
Jakun seksi itu terus naik turun. Napas Alendra mulai terasa berat, ada sesuatu yang bergejolak dalam dirinya, Alendra paham betul dengan keadaannya itu, namun dia coba untuk bersikap tenang karena ia masih berada di ruangan rapat bersama banyak karyawan di depannya.
Terlebih ketika dengan sengaja Alina memainkan bagian dadanya di depan cermin. Alendra langsung hilang kosentrasi. Entah apa yang sedang gadis itu lakukan, namun karena Alina kini Alendra sangat merasa tersiksa.
"Gadis ceroboh," lirih Alendra meremat bolpoint yang berada digenggaman tangannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
sherly
dih kamu aja yg kurang kerjaan lg rapat malah ngecek cctv kamar... rapat tu yg dicek laporan pak ale2 ...
2023-09-16
0
Echa04
cemburu nie yeeeeee
2023-07-28
0
Jacklin Clarisa morgana
Prcum jika jiwa jeni masuk ke tubuh amina dgn sikp bar2nya yg sok berani tapi payah msih sja diam nga mampu bela diri dan balas orang yg udah merundung dri sndri
2023-01-21
0