Langkahnya cepat bersamaan dengan tangannya yang sengaja menarik tangan Widya untuk menemani. Alina tergesa-gesa ketika bel istirahat tadi berbunyi, ia akan menemui Gevan. Tidak mungkin mengiyakan permintaan Alendra tadi untuk meminta ponselnya yang ketinggalan di mobil Gevan bersama dengan Alendra setelah pulang sekolah. Tidak akan mungkn Alina biarkan hal itu sampai terjadi.
"Alin, balik aja yuk," cicit Widya ketika mereka sudah berada di depan kelas Alendra.
Alina menoleh, ia menggelengkan kepalanya pertanda tidak setuju dengan ajakan Widya.
"Nggak bisa Wid, ini darurat banget," balas Alina memohon.
"Pleas temenin gue, kalau ada yang usil nanti biar gue yang lawan," jelas Alina seketika membuat Widya mengangguk.
Sebenarnya bukan itu yang Widya maksudkan, tetapi bertemu dengan Gevan selalu membuat Widya merasa sesak napas dan keringetan. Ia selalu gerah ketika dekat dengan Gevan. Jangankan dekat melihat saja membuat Widya ingin terus menundukan kepalanya.
"Eh Alin."
"Nunggu Gevan nih pasti."
"Ke kantin aja ayo Lin."
Beberapa siswa yang baru saja keluar dari kelas Gevan sengaja menggodanya. Namun hanya dijawab Alina dengan senyum saja. Itu ciri khas Jenni dulu makanya banyak yang menyukainya. Dan kini kebiasaan itu Alina perlihatkan lagi. Bedanya kalau di sekolah yang sekarang Alina bisa dianggap cari perhatian jika menebar senyum untuk menjawab mereka yang berniat mengobrol atau mencari perhatian.
"Nah...tuh Gevan," ujar Alina seketika membuat keringat dingin mulai bermunculan pada pelipis Widya.
"Alin, tumben ke sini?" ujar Gevan melihat adanya Alina di depan kelasnya.
Sebelum menjawab pertanyaan Gevan. Alina sempatkan untuk melirik ke penjuru arah. Waspada kalau tiba-tiba Alendra muncul dan menggagalkan niatnya.
"Hp gue kayaknya ketinggalan deh di mobil lo," ujar Alina langsung pada intinya.
Alis Gevan terangkat satu. "Yakin Lin?" tanya Gevan memastikan dan diangguki oleh Alina.
"Pleas cek dulu ya?" pinta Alina membuat Gevan tersenyum dan mengangguk.
"Emmm oke..." balas Gevan membuat Alina tersenyum senang. "Ayo Wid," ajak Alina dengan semangat.
Mereka bertiga langsung berjalan ke parkiran. Tidak peduli dengan beberapa pasang mata yang sengaja menatap ke arah mereka.
Semua bungkam tidak ada yang berani bersuara. Karena Alina dan Widya kini bersama dengan ketua OSIS mereka.
Sampai di mobil Gevan. Alina langsung mencari-cari ponsel yang tadi dia yakini tertinggal di mobil itu. Namun sudah cukup lama ia mencari bahkan sampai dibantu oleh Widya dan Gevan tetap tidak ketemu. Alina semakin panik. Ia takut jika ada seseorang yang menemukan ponselnya sementara banyak sekali rahasia di dalamnya. Bukan hanya rahasia tentang kematiannya yang diam-diam Alina sering mencari cari tahu tentang keadaan keluarganya yang dulu. Tetapi juga rahasia besar pernikahannya dengan Alendra.
"Kok nggak ada sih?" kesal Alina mulai panik.
"Lo nggak nemuin hp gue gitu Van?" tanya Alina yang mendapat gelengan kepala dari Gevan.
"Kalau gue tahu. Pasti udah gue kasih ke lo Alin," balas Gevan yang diangguki oleh Alina. "Benar juga ya."
Alina menatap Widya dengan muka memelas. Ia ingin menjerit rasanya, kehilangan ponselnya seperti kehilangan separuh nyawanya saja.
"Mana hp baru lagi," gumamnya tanpa disadari.
"Udah Alin, kita cari di tempat lain mungkin aja jatuh dimana gitu," jelas Widya yang diangguki oleh Alina.
"Semoga aja gitu. Makasih Gevan," ujar Alina menarik Widya untuk segera pergi.
"Alin," seru Gevan namun tidak mendapat respon dari Alina lagi.
Gevan diam di tempatnya, menatap kepergian Alina dengan sorot mata berbeda, tidak seperti biasanya.
"Hp gue Wid," keluh Alina yang diangguki oleh Widya.
"Tahu Alin, pasti kamu takut kan dimarahi calon suami kamu?" ujar Widya mencoba menenangkan.
Rasanya sangat frustasi sekali kehilangan ponsel barunya. Alina tidak takut jika Alendra akan marah, malahan tadi Alendra sudah menawarkan untuk membeli ponsel baru lagi. Tapi Alina khawatir dengan seseorang yang menemukan ponselnya. Semua rahasia besar ada di dalamnya.
"Semoga yang nemuin hp gue nggak bisa buka paswordnya," gumam Alina menarik Widya untuk menuju ke kantin.
Lapar rasanya setelah tenaganya terkuras untuk mencari ponsel tersebut. Alina jadi semakin yakin jika Alendra membelikannya dengan tidak ikhlas.
"Kita kemana lagi Alin?" tanya Widya ketika tangannya kembali ditarik oleh Alina.
"Kantin ngisi perut. Gue udah mau pingsan ini," balas Alina membuat Widya terkekeh.
"Alin kamu selain berani sekarang juga pinter ngelawak ya, kocak," lirih Widya tersenyum manis menatap Alina.
Sampai di kantin keduanya bingung untuk memilih menu makanan dan juga tempat. Kantin terlihat sangat ramai sampai berdesak-desakan.
"Ke kantin yang timur aja yuk Alina," ajak Widya membuat Alina mengangkat satu alisnya.
"Iya, di sana lebih sepi nggak seperti di sini, kamu kenapa sih jadi pelupa gitu?" ujar Widya membuat Alina menggeleng.
Bukan pelupa tetapi Alina memang tidak tahu jika ada kantin lain selain kantin tersebut.
Kantin timur merupakan kantin yang terdapat di pojok sekolah. Tidak terlalu besar dan ramai seperti kantin yang satunya. Karena yang berjualan di sana juga tidak menjajakan banyak makanan. Hanya berupa minuman dan cemilan juga makanan sederhana saja, itu yang membuat kantin timur tidak seramai kantin barat. Hanya beberapa siswa saja kadang yang sengaja nongkrong di sana juga mereka yang terlibat cinta untuk numpang pacaran.
Benar apa yang Widya katakan. Kantin itu terlihat lebih sederhana dan sepi. Alina menyukainya sebelum matanya menangkap sosok yang sangat dia kenali.
"Ale, ngapain di sini?" gumamnya lirih.
"Ayo Lin," ajak Widya menarik Alina untuk masuk ke dalam.
Tidak jauh berbeda dengan Alina tadi, Widya juga sama terkejutnya melihat guru tampan itu duduk di pojok kantin dengan kopi dan juga tab di depannya. Bahkan lengan kemeja yang Alendra kenakan sengaja ia tarik sampai bawah siku menambah kesan cool untuk guru tampan tersebut.
Beruntung saat itu hanya disaksikan oleh Alina dan Widya saja, selebihnya siswa cowok yang hanya beberapa anak berada di kantin tersebut.
"Widya," panggil Alina melirik Widya yang tidak berkedip menatap Alendra.
"Widya!" sentak Alina membuat Widya seketika terperanjat kaget bersamaan dengan Alendra yang juga ikut menoleh ke arah mereka.
"Ma-maaf Alin, kita jadi makan di sini?" tanya Widya yang diangguki oleh Alina.
"Jadi dong, gue udah laper banget. Peduli bagong sama pak Endra yang di sini juga," balas Alina menarik Widya untuk segera pesan.
Alendra memang lebih suka tempat yang sepi ketika di sekolah. Ia tidak ingin terus menjadi pusat perhatian murid-muridnya. Berbeda kalau ia sudah bersama dengan teman-temannya di malam hari. Tempat ramai dengan diiringi musik sudah menjadi makanan disetiap malamnya.
Dari kejauhan diam-diam Alendra terus mencuri pandang ke arah Alina. Ia merasa dengan adanya kantin sederhana itu malah menguntungkannya sekarang.
Melihat Alina yang sedang kepedasan memakan mie rebus pesanannya membuat Alendra berdecak.
"Gadis bo*oh," gumam Alendra beranjak dari duduknya.
Ia menemui ibu kantin untuk membayar kopinya tadi.
"Bu sekalian sama mereka saja, selebihnya buat ibu," ujar Alendra berlalu pergi.
"Ah...pasti karena neng cantik nih pak ganteng mulai kelpek-klepek, kalau gini terus untung banyak saya," ujarnya tersenyum senang.
Ekor mata Alina melirik sekilas kepergian Alendra. Dalam hatinya berkata. "Hebat juga si Ale aktingnya."
"Berapa bu?" tanya Alina merogoh saku seragamnya.
"Nggak usah neng, udah dibayarin sama pak genteng tadi," ujar Ibu kantin sembari memberi dua jempolnya.
"Hah?" bengong Alina bersamaan dengan Widya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Elly Watty
gevan pegang rahasia alin deh....
2023-01-27
0
uwuu
*please
2023-01-08
1
ZaeV92
mulai nih bbg ale Ale 🤣
2022-04-24
0