Diam-Diam Musuh

Keesokan harinya Alina sudah siap dengan seragam sekolahnya. Jika biasanya ketika Alendra bangun sudah tersedia menu sarapan di meja makan, lain halnya dengan sekarang. Meja makan yang biasanya dipenuhi sarapan sederhana buatan Alina kini tidak tersedia lagi.

Alina yang sekarang juga bingung untuk membuat sarapan apa. Sebelumnya dia tidak pernah repot hanya untuk membuat sebuah sarapan. Akan ada banyak kiriman makanan dari pengagumnya yang berjajar di depan rumah.

"Masih setengah 7," lirihnya duduk di meja makan.

Tangannya terampil menulis apa saja yang dia butuhkan. Setelah selesai ia taruh kertas yang sudah penuh dengan list keperluannya. Senyum manis terbit di wajah cantik itu.

"Jangan lupa di acc ya pak Ale," kekehnya berniat untuk berangkat tanpa menunggu Alendra.

Meski sudah pernah mengalami kecelakaan sampai membuat hidupnya berubah seratus delapan puluh derajat. Namun yang namanya Jennifer tidak akan mungkin kapok untuk menyetir sendiri. Jika ibu martuanya sampai tahu. Dia tidak akan kehilangan akal untuk mengatakan jika Alendra tidak bersedia mengantarkannya. Lagian percuma saja bareng dengan guru baru itu. Yang ada betis Alina nantinya akan membengkak karena setiap harinya akan disuruh jalan kaki dari minimarket dekat sekolah oleh Alendra.

Itu salah satu alasan Alina kini menulis daftar keperluannya di kertas yang sengaja dia taruh di atas meja. Ia ingin meminta sepeda motor kepada Alendra. Meski kaya raya tetapi image Alendra di mata Alina kini suami pelit yang sangat tidak tahu diri. Sepeda motor saja mungkin akan sangat sulit untuk Alendra kabulkan.

Sementara Alendra masih meringkuk di bawah selimut tebal miliknya. Kepalanya terasa berat akibat mabuk semalam. Suara alarm yang terus berbunyi bahkan seakan tidak ada artinya untuk Alendra.

"Akhh...pusing banget kepalaku," gumamnya mencari ponsel yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya berbaring.

"****," umpat Alendra melihat jam yang sudah menunjukan pukul 8 pagi.

Dengan cepat ia segera bangkit menuju ke kamar mandi. Hari ini ia mengajar pagi. Dan bisa dipastikan ia akan datang terlambat.

"Alina...!" umpatnya menyalahkan Alina yang tidak membangunkannya.

Padahal itu salah Alendra sendiri. Kamar mereka beda ruangan. Alina yang sekarang mana sudi masuk ke kamarnya hanya untuk membangunkannya apa lagi pamit kepadanya. Sekalipun kamar itu terbuka untuknya. Yakinlah Alina akan berpikir seribu kali untuk masuk ke kamar suami yang sering dia sebut tidak tahu diri itu.

Langkah cepat Alendra menuju ke meja makan. Dengan harapan akan ada makanan untuk dia sarapan. Biasanya Alina akan menyiapkan roti tawar berisi selai kacang atau coklat. Atau kalau tidak nasi goreng beserta 2 telur di atasnya. Namun ketika ia membuka tutup saji kecil di meja tersebut nafasnya tersendat melihat sebuah kertas dengan tulisan yang cukup panjang.

"Apa-apaan ini?" decih Alendra kesal.

"Alina," geram Alendra ketika membaca salah satu keinginan yang ditulis gadis itu.

Gue mau hp baru. Malu gue pakai hp jelek,kuno kayak gini. Hp udah uzur kayak yang beli.

Dengan perasaan kesal bercampur marah. Alendra meremas kertas di tangannya. Ia berangkat menuju ke sekolah untuk mengajar. Kalau tidak salah nanti setelah istirahat ada jam pelajaran di kelas Alina. Kesempatan untuk Alendra membalas dan mengerjai bocah nakal itu.

"Alin, ke kantin yuk," ajak beberapa teman sekelasnya.

Dengan penampilan Alina saat ini tidak menutup kemungkinan untuk teman-temannya yang dulu bersikap cuek kini ingin berteman dengan Alina. Terlebih sudah digadang-gadang Alina menjadi saingan terberat Aurel karena paras cantiknya.

Alina menatap ke arah Widya yang sedang tersenyum seakan mempersilahkan jika ia ingin pergi ke kantin bersama teman yang lain. Namun gelengan kepala dari Alina membuat Widya seketika tersenyum senang.

"Kalian duluan aja, gue nunggu Widya selesai ngerjain tugas," balas Alina yang diangguki teman-teman yang lain.

"Belum selesai kan?" tanya Alina menghadap ke arah Widya.

"Belum, tapi kalau udah ditungguin kamu pasti cepet selesainya," balas Widya tersenyum manis.

"Makasih Alin," ujar Widya lagi.

Entah kenapa melihat Widya membuatnya jadi tahu satu hal. Jika dengan keadaannya yang sekarang membuat Alina bertemu dengan seseorang yang tulus berteman dengannya. Maka akan ia jalani dengan sepenuh hati. Tidak ada culas dalam pertemanan mereka. Sangat jauh berbeda ketika di sekolahnya yang dulu.

"Alin, udah ayo...malah bengong," ujar Widya membuat Alina tertawa.

"Cus Wid," balasnya semangat.

Keduanya berjalan bersama menuju ke kantin. Sampai seseorang tiba-tiba datang menghadang jalan mereka dan membuat beberapa anak yang berada di sana langsung tertuju ke arah keduanya.

"Alina," sapa Gevan ketua OSIS yang cukup populer di sekolah.

"Gue?" tunjuk Alina dan diangguki oleh Gevan dengan senyum.

"Dia siapa?" tanya Alina tanpa suara.

"Kak Gevan Alin, ketua OSIS," bisik Widya tidak habis pikir dengan Alina yang tiba-tiba bod*h sampai tidak mengenali ketua OSIS di sekolah.

Atau mungkin karena terlalu gugup menghadapi ketua OSIS populer itu sampai membuat Alina demikian. Diam-diam Widya tersenyum tipis yang nyaris tidak terlihat. Meski Alina kini terlihat sangat cantik dan bahkan sampai menarik seorang Gevan yang populer itu, nyatanya tetap saja mempunyai rasa minder ketika didekati cowok nomor satu sebelum kedatangan guru baru yang bernama Alendra.

"Mau ke kantin kan?" tanya Gevan yang hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Alina.

"Sekalian aja gimana? Gue juga mau ke sana," ujar Gevan lagi yang kembali diangguki oleh Alina.

Menghadapi cowok seperti Gevan sudah sering bagi Alina. Di sekolahnya dulu bahkan ada beberapa guru yang terang-terangan naksir dan mendekati Alina alias Jennifer. Yang tidak biasa itu menghadapi cowok seperti Alendra. Kalem di depan umum seakan orang yang sangat berwibawa tapi sangat sombong ketika berdua saja dengan Alina.

"Alin," cicit Widya membuat Alina menoleh.

"Wid, kenapa?" tanya Alina melihat Widya yang nampak keringetan.

"Lo sakit Wid?" tanya Alina khawatir

Widya menggeleng. Tidak, Widya tidak sakit tapi dia terlalu gugup jalan bersama cowok populer di sekolah mereka. Meski Alina yang diajak tetapi dekat dengan Gevan membuatnya tidak bisa mengontrol diri untuk baik-baik saja.

"Kak Gevan, sorry ya kayaknya gue harus nganter Widya ke UKS deh," pamit Alina yang hanya diangguki oleh Gevan pasrah.

"It's okay nggak masalah Lin, kalau ada apa-apa bilang aja sama gue ya?" ujar Gevan yang dijawab Alina dengan anggukan kepala.

Sampai di UKS. Alina menyeka keringat yang masih bercucuran di pelipis Widya. Bahkan tangan gadis itu masih gemetar.

"Widya lo laper deh kayaknya sampai gemetar gini," seloroh Alina seketika membiat Widya mencebik.

"A-aku tadi gugup Alin," cicit Widya membuat satu alis Alina terangkat. "Kok bisa?" tanya Alina membuat rona merah pada pipi gadis manis berpenampilan sedikit ne*rd itu di depannya.

"Ya ampun. Jadi karena tuh cowok?" tanya Alina membuat Widya semakin merasa malu. "Alin... Jangan begitu," cicitnya.

"Emm..tahu deh yang diam-diam suka," goda Alina semakin tertawa melihat pipi merah Widya.

Setelah bel istirahat. Benar saja kini giliran mata pelajaran matematika yang akan diajarkan oleh guru baru di kelas Alina. Banyak para siswi yang sengaja berdandan terlebih dahulu atau sekadar merapihkan rambut dan melembapkan bibir dengan alat-alat yang mereka bawa sendiri.

Alina bersama dengan Widya sibuk bermain xox, pokoknya yang dilakukan mereka sangat unfaedah sekali sampai tidak ada niatan untuk menarik perhatian guru baru seperti teman-teman yang lain.

"Selamat siang anak-anak," suara dari orang yang mereka harapakan kedatangannya terdengar.

Sontak saja para murid menjawab dengan kompak. "Siang pak," balas mereka menatap ke depan bangku guru.

"Ini untuk yang pertama kalinya saya mengajar di kelas ini ya? Sebelumnya kita sudah berkenalan kemarin di lapangan ya?" ujar Alendra membuat Alina mencebik.

Asli peran Alendra sebagai guru sangat mahir sekali. Sampai-sampai hampir saja membuat Alina lupa jika lelaki di depan yang sedang menjelaskan itu suaminya yang tidak tahu diri.

"Udah pak, tapi pengen kenalan lagi biar lebih dekat," balas salah satu siswi yang sontak mendapat sorakan dari teman-temannya.

"Wuuuuu."

Sesekali sengaja Alendra menatap ke arah Alina. Namun ia masih bersikap profesional layaknya seorang guru dan murid. Bahkan dendam yang tadi sangat ingin Alendra lakukan dia kesampingkan.

"Pak mau tanya," ujar salah satu siswi sembari mengangkat tangan.

"Iya silahkan! Ada yang belum kamu pahami?" tanya Alendra.

"Bapak udah punya pasangan belum?" tanya siswi tersebut membuat seisi kelas menjadi riuh.

Nekat, siswi itu terlalu nekat untuk menanyakan hal pribadi dengan guru baru itu. Bahkan ketika pelajaran sudah dimulai sekitar 1 jaman yang lalu.

Namun melihat pesona Alendra memang membuat para siswi tidak kuat iman rasanya. Ada yang mengganjal jika belum menanyakan masalah pribadi yang menyangkut dengan pasangan. Sudah 3 kelas yang mulai Alendra ajar dan semua siswi dalam kelas menanyakan hal serupa.

Kali ini akan Alendra jawab. Jelas karena adanya Alina di kelas itu.

"Ada," jawabnya melirik ke arah Alina yang sedang fokus dengan buku miliknya.

Seketika jawaban dari Alendra membuat para siswi hilang semangat. Jika semangat untuk mendapatkan Alendra tadi layaknya kobaran api yang menyala besar kini hanya tinggal sebesar obor olimpiade saja.

"Alin...pak Endra liatin ke sini terus," beritahu Widya seketika membuat Alina mendongak. Dan....

"Mau belajar apa menggambar Alina Ghaveza?" tanya Alendra dengan tegas.

Namun ucapan dari Alendra malah membuat para siswi semakin histeris. Nama siswi pertama yang Alendra sebutkan ialah Alina. Beberapa lambe-lambe di sekolah itu langsung melirik ponselnya, mereka sudah gatal untuk memberi tahu kepada penghuni grupnya jika Alina pemenang dari sayembara yang diadakan mereka dengan tagar murid pertama yang namanya diucapkan oleh Pak Endra.

Terpopuler

Comments

sherly

sherly

segitu hebohnya kelasmu Alina...

2023-09-16

0

Sweet Girl

Sweet Girl

keren Alina...

2023-07-17

0

Sweet Girl

Sweet Girl

bwahahahaha

2023-07-17

0

lihat semua
Episodes
1 Kecelakaan
2 Wajah Asing
3 Mendadak Jadi Istri
4 Semakin Berani
5 Satu Ranjang
6 Tanda Kepemilikan
7 Guru Baru-Teman Baru
8 Mabuk Obat Jujur
9 Diam-Diam Musuh
10 Gara-Gara Mengigau
11 Pemenang Sayembara Dalam Hal Apapun
12 Aksi Alina Buat Alendra Tersiksa
13 Keras Kepala Itu Alendra
14 Diam-Diam Penasaran
15 Seribu Satu Cara
16 Alendra Jadi Kakek
17 Kakek Legend
18 Mulai Menunjukan
19 Cieee Traktir
20 Kalah Taruhan? (Perjanjian Dibatalkan)
21 Mati Lampu Pembawa Berkah
22 Dasar Konyol
23 Rencana Licik Alina
24 Ketemu Mantan
25 Satu Sama (Impas)
26 Ada Saja Cara Alendra
27 Ada Yang Tumbuh Cepat
28 Masa Depan Suram
29 Si Seksi Alina
30 Ancaman Maut Alendra
31 Bisikan Memalukan
32 OTW Satu Kamar
33 Proyek Besar Alendra
34 Ada Penguntit
35 Welcome Boy
36 Ternyata Wajah Mirip Dewa
37 Amarah Alendra
38 Sopir Misterius
39 Sopir Ganteng Bajakan
40 Sebuah Berita Berujung Malapetaka
41 Tindakan Alendra Diluar Nalar
42 Bertemu Boy Diam-Diam
43 Bertemu Si Penghianat
44 Ketahuan Ngelayap
45 Diam-Diam Memperhatikan
46 Ijin Bolos
47 Penuh Drama Di Sekolah
48 Tragedi Di Ruang Guru
49 Imajinasi Terbuyarkan
50 Cara Licik Alendra
51 Alina Yang Diancam Widya Yang Gemetaran
52 Bestie Forever
53 Burung Besar Alendra
54 Salahkan Saja Minuman Itu
55 Dia Cemburu Tapi Tidak Sadar
56 Terapi Khusus Untuk....
57 Antara Tidak Sadar Dan Bodoh
58 Kopi Hitam Penuh Cerita
59 Alina VS Aurel
60 Pacar Dadakan
61 Senjata Makan Tuan
62 Mode Perang Dingin
63 Ibu Hamil Banyak Maunya
64 Cemburu Bilang Bosss
65 Siapa Yang Datang?
66 Mabuk Untuk Balas Dendam
67 Bertemu Mommy Sheren
68 Diam-Diam Menunggu
69 Kesempatan Dalam Kesempitan
70 Dibuat Bingung
71 Gevan Minta Bantuan Alina
72 Lupa Waktu
73 Belum On Fire
74 Putuskanlah saja Dirinya
75 What Happened?
76 Detik-Detik Menuju...
77 Berlanjut Atau Tidak?
78 Setengah Kebenaran
79 Teman Tapi Aneh
80 Pengakuan (Diluar Dugaan)
81 Setengah Panas
82 Mendadak Aneh
83 Cemburu Tapi Gengsi
84 Datang Lagi
85 Alina Mulai Aktif
86 Hampir Terjadi
87 Gosip Di Sekolah
88 Intim Berdua
89 Sekali Lagi
90 Berakhir Atau Lanjut?
91 Alina Yang Bolos-Alendra Yang Gundah
92 Tikus Caper
93 Rencana Sang Martua
94 Bioskop VIP?
95 Alendra Keluar Kota
96 Mulai Terungkap
97 Sahabat Tapi VS
98 Masuk Atau Tidak?
99 Musuh Dalam Selimut
100 Alina Pingsan
101 Terbongkar Sudah
102 Go Publick
103 Fire On Fire
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Kecelakaan
2
Wajah Asing
3
Mendadak Jadi Istri
4
Semakin Berani
5
Satu Ranjang
6
Tanda Kepemilikan
7
Guru Baru-Teman Baru
8
Mabuk Obat Jujur
9
Diam-Diam Musuh
10
Gara-Gara Mengigau
11
Pemenang Sayembara Dalam Hal Apapun
12
Aksi Alina Buat Alendra Tersiksa
13
Keras Kepala Itu Alendra
14
Diam-Diam Penasaran
15
Seribu Satu Cara
16
Alendra Jadi Kakek
17
Kakek Legend
18
Mulai Menunjukan
19
Cieee Traktir
20
Kalah Taruhan? (Perjanjian Dibatalkan)
21
Mati Lampu Pembawa Berkah
22
Dasar Konyol
23
Rencana Licik Alina
24
Ketemu Mantan
25
Satu Sama (Impas)
26
Ada Saja Cara Alendra
27
Ada Yang Tumbuh Cepat
28
Masa Depan Suram
29
Si Seksi Alina
30
Ancaman Maut Alendra
31
Bisikan Memalukan
32
OTW Satu Kamar
33
Proyek Besar Alendra
34
Ada Penguntit
35
Welcome Boy
36
Ternyata Wajah Mirip Dewa
37
Amarah Alendra
38
Sopir Misterius
39
Sopir Ganteng Bajakan
40
Sebuah Berita Berujung Malapetaka
41
Tindakan Alendra Diluar Nalar
42
Bertemu Boy Diam-Diam
43
Bertemu Si Penghianat
44
Ketahuan Ngelayap
45
Diam-Diam Memperhatikan
46
Ijin Bolos
47
Penuh Drama Di Sekolah
48
Tragedi Di Ruang Guru
49
Imajinasi Terbuyarkan
50
Cara Licik Alendra
51
Alina Yang Diancam Widya Yang Gemetaran
52
Bestie Forever
53
Burung Besar Alendra
54
Salahkan Saja Minuman Itu
55
Dia Cemburu Tapi Tidak Sadar
56
Terapi Khusus Untuk....
57
Antara Tidak Sadar Dan Bodoh
58
Kopi Hitam Penuh Cerita
59
Alina VS Aurel
60
Pacar Dadakan
61
Senjata Makan Tuan
62
Mode Perang Dingin
63
Ibu Hamil Banyak Maunya
64
Cemburu Bilang Bosss
65
Siapa Yang Datang?
66
Mabuk Untuk Balas Dendam
67
Bertemu Mommy Sheren
68
Diam-Diam Menunggu
69
Kesempatan Dalam Kesempitan
70
Dibuat Bingung
71
Gevan Minta Bantuan Alina
72
Lupa Waktu
73
Belum On Fire
74
Putuskanlah saja Dirinya
75
What Happened?
76
Detik-Detik Menuju...
77
Berlanjut Atau Tidak?
78
Setengah Kebenaran
79
Teman Tapi Aneh
80
Pengakuan (Diluar Dugaan)
81
Setengah Panas
82
Mendadak Aneh
83
Cemburu Tapi Gengsi
84
Datang Lagi
85
Alina Mulai Aktif
86
Hampir Terjadi
87
Gosip Di Sekolah
88
Intim Berdua
89
Sekali Lagi
90
Berakhir Atau Lanjut?
91
Alina Yang Bolos-Alendra Yang Gundah
92
Tikus Caper
93
Rencana Sang Martua
94
Bioskop VIP?
95
Alendra Keluar Kota
96
Mulai Terungkap
97
Sahabat Tapi VS
98
Masuk Atau Tidak?
99
Musuh Dalam Selimut
100
Alina Pingsan
101
Terbongkar Sudah
102
Go Publick
103
Fire On Fire

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!