Bulu mata panjang nan lentik itu mulai merenggang dengan peraduannya. Bola mata yang indah dengan warna kecoklatan itu kian terbuka. Nuansa putih yang pertama ia lihat sebelum beberapa suara mulai terdengar di telinganya.
"Alina."
"Alina sayang."
"Alina sadar pa."
"Dokter!"
"Dokter cepat ke sini!"
Deg
Jantungnya terasa berdenyut sangat kencang. Nama yang asing terus dia dengarkan. Sebenarnya dia sedang berada dimana? Diliriknya orang-orang yang kini sedang mengitarinya. Mereka benar menatap ke arahnya. Tetapi kenapa menyebutkan nama yang sangat asing sekali?
Jennifer atau yang kini sudah berada di tubuh Alina itu ingin bersuara. Dia ingin sekali menjawab dan mengingatkan kepada para orang tua yang menatapnya penuh haru jika namanya Jennifer bukan Alina seperti yang mereka sebutkan.
Namun ketika ia berusaha untuk membuka suara. Rasanya masih sangat kaku, sampai akhirnya dokter datang untuk memeriksanya.
"Alhamdllah ibu, bapak... Nak Alina kini sudah sadarkan diri, bahkan suatu keajaiban Alina bisa melewati masa kritisnya dengan keadaan yang sangat normal begini, saya sudah memeriksa jantungnya yang sempat berhenti berdetak kini sudah kembali normal," jelas Dokter seketika membuat para orang tua yang berada di ruangan itu mengucap syukur tiada henti.
"Biar saya kasih tahu Alendra," ujar Pak Dirta yang disetujui oleh istri dan kedua besannya.
Sementara Jenni atau Alina kembali menutup mata. Obat yang baru saja diberikan oleh dokter membuatnya kembali tidur untuk beristirahat.
Sekitar pukul 10 malam. Jenni atau Alina terbangun, ia kembali membuka matanya setelah tadi tidur cukup lama karena obat yang dokter berikan tadi siang.
Matanya menangkap sosok laki-laki yang sangat tampan dan bahkan dibanding dengan Diko lebih tampan lelaki di depannya itu. Tapi tunggu, dia siapa? Kenapa bisa berada di ruangannya? Kenapa bukan Diko yang pura-pura datang untuk menjenguknya ketika mendengar ia kecelakaan.
Ah...mungkin cowok breng**k itu kini sudah tidak sudi lagi ketika sudah menemukan pengganti yang baru. Awas saja jika Jenni sudah sembuh, rencana untuk membuat Diko menjemput ajal akan dia lanjutkan. Baru sadar saja sudah mempunyai rencana jahat duh... Jenni-Jenni.
"Udah bangun?" suara lelaki yang berada di depannya tadi mengejutkan lamunan Jenni atau Alina.
"Tanya gue?" jawabnya lirih.
Lelaki di depannya itu terdiam menatap ke arahnya, sebelum terdengar kekehan dari lelaki itu. Apanya yang lucu coba? Pikir Jenni tidak habis pikir.
"Kamu gegar otak Alina," selorohnya membuat Jenni kembali merasakan dejavu.
Lagi-lagi nama Alina yang dia dengar? Siapa sih sebenarnya gadis yang brnama Alina itu?
"Lo ngomong sama gue kan?" tanya Jenni membuat Alendra semakin tertawa.
Iya lelaki yang kini sedang bersama dengan Alina atau Jenni itu ialah Alendra. Mau tidak sesuka apapun dia dengan Alina tetap saja sebagai suami harus bertanggung jawab. Tanggung jawab untuk menunggu Alina yang sedang sakit maksudnya bukan yang lain.
"Biar aku panggilkan dokter," balasnya berniat untuk pergi.
"Nggak usah, gue nggak papa! Nggak ada keluhan juga," tolak Jenni membuat Alendra mengurungkan niatnya.
Jika dilihat Alina memang lebih bugar sekarang. Padahal tadi pagi dia baru saja dinyatakan kritis selucu itu ternyata keadaan mempermainkan Alendra untuk merasakan rasa bersalah.
"Lo nggak kenal gue?" tanya Jenni seketika membuat Alendra tertawa remeh.
"Gue model sekaligus artis terkenal," jelasnya membuat Alendra menggeleng tidak habis pikir dengan kehaluan istri kecilnya.
"Kamu istri aku," jelasnya yang berhasil membuat Jenni menganga tidak percaya dengan pernyataan lelaki di depannya.
Mimpi? Apakah ia sedang mimpi sekarang?
Tetapi ketika jemari lentiknya sengaja mencubit kecil ia merasa sakit yang terasa nyata. Berati ini bukan mimpi tapi kenyataan.
"Istri? Jangan mimpi! Gue model terkenal Jennifer Mauren," jawabnya membuat Alendra seketika tertawa ringan.
Tawa yang sangat terlihat meledak.
"Kamu yang mimpi! Ngaku-ngaku model," cibirnya masih dengan tawa ringannya.
"Sorry untuk kata-kata aku tadi pagi," lanjut Alendra berniat untuk meminta maaf.
Bicara bersama dengan Alina yang tiba-tiba otaknya terbalik dan mengaku sebagai model memang harus ekstra sabar. Alendra turuti saja permintaan mamanya tadi untuk meminta maaf ketika Alina kembali sadar. Siapa tahu Alina kembali seperti sedia kala. Meski kehaluan Alina saat ini semakin asik.
Jennifer terdiam. Ia masih bingung dengan keadaan yang tiba-tiba sangat berbubah. Ekor matanya kembali menatap ke arah Alendra.
"Siapa nama lo?" tanya-nya.
"Kenapa? Udah mau tanda tangan surat perceraian kita?" balas Alendra seketika membuat Jenni semakin menaikkan sebelah alisnya.
Cerai? Yang benar saja. Menikah saja belum sudah harus mengurus surat perceraian. Enak saja Jenni kan belum pernah merasakan indahnya surga dunia.
"Kita akan tetap jadi suami istri sampai-"
"Stop! Jangan pernah ngomong lagi suami-istri atau apa lah itu. Lo nggak ada gitu liat berita tentang model yang kecelakaan?" sela Jenni sudah muak dengan pembahasan rumah tangga yang dia sendiri tidak tahu.
"Ada," balas Alendra enteng.
"Siapa?" tanya Jenni penasaran.
"Nggak penting buat aku," balas Alendra kembali sibuk dengan ponselnya.
Jenni membrengut kesal ia merasa model seterkenal dirinya bisa dicueki oleu satu mahluk di dunia ini. Tapi Diko yang sudah berhasil mengambil hatinya saja menyakiti apa lagi lelaki di depannya yang sama sekali tidak mengenalnya. Bersikap cuek tentu hal yang wajar.
Anehnya meski cuek mengakui jika Jenni sebagai istrinya
"Tapi kalau nggak salah dia dinyatakan meninggal dunia tadi sore," jelas Alendra seketika membuat Jenni menegang.
Dia belum tahu model yang Alendra maksudkan, namun rasanya sudah membuat detak jantungnya kembali berpacu tidak normal.
"Gue tanya siapa?" tekan Jenni menatap tajam ke arah Alendra.
Bahkan Alendra sendiri belum pernah melihat tatapan tajam dari Alina itu. Jika diingat-ingat Alina gadis yang sangat baik dan tidak neko-neko. Apa lagi menatao tajam Alendra jelas Alina tidak akan berani, sebelum kecelakaan yang menimpanya tadi pagi.
"Yang kamu sebutin tadi Alina. Kenapa sih tanya itu terus? Masih untung nyawa kamu tertolong," balas Alendra membuat degupan di jantung Jenni semakin terpacu dengan cepat.
"Gue pinjem hp lo," seloroh Jenni membuat Alendra menatap tidak percaya. Setelah kecelakaan semakin berani saja Alina.
"Gue pinjem hp lo!" ulang Jenni yang akhirnya membuat Alendra menyodorkan ponsel miliknya.
Percuma saja memang beradu mulut dengan gadis yang setengah sakit itu di depannya. Ajaib bukan Alina? Setelah hampir meregang nyawa kini berubah menjadi gadis galak dengan sejuta kehaluannya.
Deg
Dunia Jenni seakan berhenti berputar di malam ini ketika melihat pantulan wajah asing di depannya. Sketika matanya membola dengan sempurna bersamaan dengan ponsel milik Alendra yang ia lempar ke sembarang arah.
"Akkhhh....wajah gue!" teriaknya sebelum kembali tidak sadarkan diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Fifid Dwi Ariyani
trussukses
2024-12-02
0
𝓜𝓸𝓬𝓬𝓪
Ini genre fantasi romance ya?
2023-10-03
0
Sweet Girl
siok dia...
2023-07-17
0