Alarm yang sengaja Alina pasang terus bergetar, bunyinya juga cukup kencang, namun getarannya jauh lebih terasa sampai membuat Alina berniat untuk mematikan alarm yang sengaja sudah dia pasang tadi malam. Tubuhnya terasa kaku dan sangat berat, matanya pun seakan enggan untuk terbuka dengan malas Alina mencoba menjangkau alarm yang entah dimana letaknya. Namun tangannya reflek menjauh saat tanpa sengaja menyentuh sebuah rambut.
Mata yang tadi terasa berat seketika terbuka dengan lebar. Alina keget setengah mati melihat gumpalan rambut pendek berada di bawah ketiaknya.
Perasaannya semakin campur aduk kala terasa hangat di sekitar samping dadanya.
"Kya...! Apaan ini!" teriaknya seketika membuat rambut yang sempat mengejutkannya bergerak pelan.
"Kepala orang," lirihnya semakin menajamkan pandangan matanya.
Alih-alih dia harusnya pergi dan menjauh karena keterkejutannya. Alina justru penasaran dengan kepala yang tadi sempat bergerak.
Sengaja dia raba dan berakhir dengan tarikan di rambut tersebut. Jelas perlakuan Alina barusan membuat si pemiliki kepala itu merasa terusik. Jika teriakan Alina tadi tidak berpengaruh baginya. Lain halnya dengan tarikan rambut yang super nyeri di sekitar kepalanya.
"Ah..bangs*t!" umpatnya menyadarkan Alina.
"What the hell?" tangannya langsung mendorong kasar kepala yang tadi berada di bawah ketiaknya.
"Sakit beg*!" umpat Alendra mengangkat kepalanya.
"Lo. Ngapain di sini? Nyari masalah banget," ujar Alina menatap Alendra yang belum sepenuhnya sadar.
"Ini kamarku. Harusnya aku yang tanya ngapain kamu di sini?" tanya Alendra tidak ingin kalah.
Ia sedang mencoba untuk bangkit dari tidurnya. Akibat mabuk semalam membuat kepalanya terasa berat.
"Suami istri nggak tidur bareng gitu?" heran Alina membuat Alendra menatap ke arahnya.
Detik berikutnya terdengar kekehan dari Alendra. Bahkan tubuh tegap dan tinggi itu kini bangkit dan menghampiri Alina.
"Ngarep banget tidur bareng aku?" tanya Alendra membuat Alina menatap sengit.
"Gue nanya karena nggak tahu. Kalau emang nggak tidur bareng baguslah, nggak sudi juga gue tidur bareng cowok modelan lo," ketus Alina menuju ke kamar mandi.
"Alina!" panggil Alendra yang tidak dipedulikan oleh Alina.
Merasa dicueki Alendra mengejar dan mencekal lengan Alina.
"Apa sih? Le-pas."
Ucapan Alina terpotong saat melihat beberapa bekas merah di leher Alendra. Otaknya seakan menyuruh berpikir siapa pengukir indah di leher cowok itu.
"Kamar kamu di ujung sana. Mulai sekarang jangan pernah lancang masuk ke kamarku lagi," tekan Alendra yang tidak dihiraukan Alina.
Matanya masih sibuk menatap bekas merah di leher seksi cowok itu. Pikirannya juga berkelana siapa pelaku yang sudah memberi tanda sebanyak itu.
"Alina jangan bikin aku berbuat kasar sama kamu," gertak Alendra tetap tidak mendapat jawaban.
Merasa tidak dihiraukan Alendra mendorong tubuh Alina agar menjauh. "Minggir," usirnya seketika membuat Alina tersadar.
"Dasar suami tidak tahu diri!" umpat Alina keluar dari kamar Alendra.
Meski sudah dua hari ini Alina berada di apartemen mewah itu. Namun ini untuk yang pertama kalinya ia memasuki kamar dari Alina yang asli. Nuansa kamar gadis pada umumnya. Rapih dan juga tidak terlalu banyak pernak-pernik hiasan seperti kamar Jennifer.
"Bagus," komentarnya dengan langkah pelan mengelilingi kamar tersebut.
Tepat di depan cermin cukup besar Alina berhenti. Ia menatap pantulah dirinya sekarang yang sangat berbeda dengan dirinya yang dulu. Lebih tepatnya tubuh yang sekarang jauh berbeda dengan yang dulu.
Tubuh Alina sangat ramping dan menurut Alina yang sekarang harus banyak olahraga dan makan makanan untuk membuat bagian tertentu terlihat lebih berisi lagi.
"Pantas sih suami lo nggak ngelirik, lo nya kecil gini," komentar Jenni kepada tubuh Alina.
Sejenak dia menghela napas dalam. Mengingat bentuk indah tubuhnya yang dulu membuat Jenni merasa sedih.
"Mungkin nggak sih lo terkubur bersama dengan tubuh gue? Atau mungkin lo udah lelah dengan keadaan di dunia ini, sementara tubuh gue itu ibarat mengundang dosa untuk lawan jenis yang melihat sampai Tuhan menggariskan jalan hidup kita seperti sekarang ini," lirihnya terus mengamati pantulan dirinya.
"Akhhh....gue jadi pusing sendiri," desisnya lagi.
Tidak ingin berlama-lama terus meratapi nasib hidupnya saat ini. Alina memutuskan untuk ke kamar mandi dan bersiap ke sekolah. Hari ini ia akan kembali bersekolah. Entah seperti apa Alina ketika di sekolah. Samakah seperti Jenni yang didamba oleh teman-temannya? Atau justru malah sebaliknya.
"What?" kagetnya melihat bekas merah yang terdapat dibagian dada. Ada beberapa dan bahkan sampai di dekat ketiak. Sungguh menggelikan.
Sejenak Alina terdiam mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi dengan dirinya.
"Tadi malam kenapa sih?" gumamnya terus mengingat.
Selesai dengan mandinya. Alina memutuskan untuk membuka lemari baju miliknya. Sebelum mengambil seragam yang seharusnya bukan haknya. Alina menghela napas dalam.
"Oke mulai sekarang gue akan jadi lo Alina, tapi fersi gue," lirihnya pada pantulan dirinya di cermin.
Jika biasanya Alina akan mengikat rambutnya seperti kuda. Maka Alina hari ini berbeda. Tidak ada lagi Alina yang selalu tampil apa adanya. Yang ada Alina si cantik penuh pesona.
Dipolesnya bedak dengan tipis. Jika soal beradu make up maka Jenni adalah ahlinya. Ia bisa menggunakan make up agar terlihat lebih natura meski kenyataannya berlapis-lapis. Namun untuk saat ini cukup menggunakan bedak tipis dan juga liptin saja. Pada dasarnya Alina ini sangat cantik hanya saja dia kurang percaya diri dulunya.
Tap
Tap
Tap
Derap suara langkah Alina yang turun dari tangga mengalihkan pandangan mata Alendra.
Benar Alina yang sekarang sangat berbeda. Bahkan berani sekali memakai rok lebih pendek dari yang biasa Alina pakai.
"Kamu...mua kondangan?" tanya Alendra mengejek.
Padahal dalam hatinya Alendra mulai merasa resah. Entah resah karena apa dia sendiri tidak cukup yakin untuk mengakui.
"Nggak lihat mata lo gue pakai seragam," jawabnya ketus.
"Alina kamu jadi semakin tidak sopan," desis Alendra yang tidak dihiraukan oleh Alina.
"Mana hp gue?" Alina menengadahkan tangannya.
"Cepetan keburu gue telat," lanjutnya lagi.
"Kamu berangkat bareng aku," balas Alendra membuat Alina menatap aneh cowok itu.
Mobil sport yang Alendra kendarai berhenti di depan minimarket dekat sekolah. Alina menatap horor ke arah Alendra.
"Kenapa berhenti?" tanya Alina heran.
"Kamu turun di sini," balas Alendra datar.
"Hah. Ngaco...gerbangnya masih di depan," protes Alina membuat Alendra menyodorkan ponsel milik Alina.
"Hp kamu," ujar Alendra menyerahkan ponsel itu.
Sumpah demi apapun Alina tergugu melihat bentuk ponsel miliknya. Itu ponsel dijaman kapan? Ponsel dengan merek jaman dulu yang bahkan Alina saja lupa pernah ada ponsel berbentuk seperti itu. Jika diingat-ingat ponsel yang dimiliki Jennifer saja keluaran terbaru dengan harga puluhan juta rupiah.
"Yakin hp gue?" tanya Alina memastikan.
"Cek aja sendiri," ketus Alendra seketika membuat Alina menerima dengan kesal.
"Nggak guna banget punya suami kaya tapi HP kelas bawah," sindir Alina keluar dari mobil Alendra.
Alendra hanya bisa memejamkan matanya kesal mendapati cemoohan dari Alina yang sekarang sangat berani. Karena jika ia turun masih dikawasan sekolah tidak akan baik untuk keduanya nantinya.
Ekor matanya menatap pantulan dirinya di kaca kecil mobil. Tanpa sadar sudut bibirnya tertarik ke atas dengan tangan meraba bagian lehernya.
"Awas Alina, aku sekarang guru kamu!" ancam Alendra lagi-lagi tanpa diketahui oleh Alina.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 103 Episodes
Comments
Sweet Girl
ih kayak e mau balas dendam
2023-07-17
1
Mariana Frutty
✔️✅
2023-06-13
0
ARA
Dari mana rok pe dek ya kalau Alina acima punya stok rok normal😁
2023-01-22
0