Semua orang berbisik, mereka bahkan tidak bisa membayangkan kekuatan ketua nya. Kapten nya saja tidak bisa di kalah kan.
" Kau menyesal, sudah terlambat. " Enek Rayson.
Ethan masuk kedalam ring, dia memakai topeng di wajah nya. Semua orang berbisik heran. Kenapa ketua nya tiba tiba memakai topeng , tidak seperti biasanya.
"Kau kah ketua itu.?" Tanya Yara.
" Benar." Ucap Ethan singkat.
Yara terkejut, ia seperti mengenal suara itu.
Yara " : Siapa dia.. Suaranya tidak asing."
Ucap Yara dalam hati.
" Mari mulai." Ajak Ethan.
Yara mulai bersiap, Ethan menyerang lebih dulu, dan semua serangan Ethan berhasil di tangkis oleh Yara.
" Jangan hanya menahan. Kau harus menyerang ku atau kau akan mati." Sindir Ethan.
Yara mulai tersulut emosi, Ia menyerang Ethan dengan semua kekuatan tangan dan kaki nya. Heran nya itu sama sekali tidak mengenai Ethan, Seolah Ethan mengerti arah gerakan Yara.
" Lumayan.. " Ucap Ethan yang sedikit kagum dengan gerakan Yara.
Yara mulai menyerang lagi, Kali ini ia menyerang dengan penuh pertimbangan. Sesekali Yara mencari celah kelemahan lawan nya.
" Kenapa kau hanya menghindar.? " Tanya Yara kepada Ethan.
" Aku ingin melihat, sekuat apa orang yang sudah menginginkan taruhan besar." Jawab Ethan.
" Bukan kah taruhan itu juga tidak di terima, Untuk apa masih melihat kemampuan ku.?". Ucap Yara.
" Rupa nya kau meragukan kekuatan mu sendiri.?"
Ejek Ethan.
" Aku tentu saja yakin dengan kekuatan ku. Hanya saja siapa yang tau kalau ternyata kalian ingkar janji. Bukan kah kalian hanya menganggap kami sebagai anjing petarung.?" Ucap Yara mengejek.
Setelah bertarung hampir setengah jam, Akhirnya Yara menemukan titik lemah lawan nya itu. Akhir nya ia yang sudah hampir kehabisan tenaga pun mengumpulkan sisa tenaganya dan dengan gerakan memutar seperti sebelum nya, mengenai dada lawan nya dan langsung tumbang.
" Than.!! " Teriak Rayson.
Rayson, Dan Jil langsung sigap menggendong Ethan. Sementara kini penglihatan Yara semakin kabur, ia pun pingsan.
Yara " : Aku.. menang.."
Ucap nya dalam hati.
Ke esokan harinya..
" Bangun.!!" Teriak Sean sambil menendang Yara.
Yara bangun dari tidur nya. Tidak di sangka, pingsan nya berlanjut sampai pagi. Kini ia kembali berada di dalam ruangan gelap yang sebelum nya.
" Berani nya kau mencelakai ketua.! Kau tahu apa hukuman nya mencelakai ketua.?" Teriak Sean.
" Cih, ternyata hanya dengan sekali tendang saja dia sudah kalah. Tidak heran hanya bisa memperlakukan orang lain sebagai anjing petarung." Ejek Yara.
" Berani sekali kau.!" Ucap Sean.
" Apa aku salah.? Seorang ketua kan seharusnya kuat. Dia.. Hanya di tendang langsung pingsan." Ejek Yara kembali.
Sean memukul wajah Yara hingga hidung Yara kembali mengeluarkan darah.
" Haha, aku sudah tahu akhir nya seperti ini. Kalian mana bisa memegang janji kalian." Ucap Yara pahit.
" Seharusnya kau jaga ucapan mu, dan berterimakasih kepada ketua karena aku tidak membunuh mu semalam." Ucap Sean.
Setelah mengatakan itu, Sean langsung pergi dari ruangan itu.
Yara " : Dia melarang bawahan nya membunuhku.? Kenapa.?"
Ucap Yara dalam hati.
Yara bangun dan merasa seluruh badan nya sakit. Ia mengelap hidung nya yang berdarah dan duduk di pojokan. Ia merasa sesak karena lain yang melilit di dada nya sudah tidak di buka selama sehari semalam. Tiba tiba seseorang masuk.
" Brengsek! Berani nya kau mencelakai ketua.!"
Rayson mencengkeram kerah baju Yara dan membuat nya semakin sesak.
" Bukan kah itu memang pertarungan.? Jika kalah ya wajar." Ucap Yara dengan nafas tersenggal.
" Berani kau hah.! "
Rayson menghempaskan Yara hingga kepala Yara menabrak ujung tembok dan kembali berdarah.
Yara tidak melawan, karena ia terlalu lemah.
" Bawa dia berendam di tengah sungai. Tidak boleh ada yang memberi nya makan atau minum apa lagi membantunya.!" Rayson memerintah kan beberapa anak buah nya.
Dua orang yang berjaga di depan pintu masuk itu langsung menyeret Yara pergi menuju sungai. Setelah sampai di sungai, Yara di lemparkan begitu saja kedalam sungai.
" Sebelum jam 5 sore, kau tidak boleh keluar dari sungai ini.!" Ucap Rayson penuh penekanan.
Semua orang menatap Yara dengan sangat menyedihkan. Dawn dan Noah ingin membantu, namun sudah ada larangan di kamp. Siapa pun yang membantu Yara, akan menemani Yara berendam di dalam sungai selama dua hari. Akhirnya mereka tidak berani.
" Hahaha. Bahkan jika aku menang sekalipun, tetap aku yang salah. Heh, Kalian sungguh lucu."
Yara berkata dengan senyum pahit, wajah nya sudah hampir tidak bisa di kenali lagi. Hidung dan mulut nya mengeluarkan darah, lebam di mana mana. Luka di kepala nya juga kembali terbuka. Akhir nya Yara menundukkan kepala nya memandangi air sungai yang lewat menabrak badan nya.
Yara " : Air.. Bawa saja sekalian nyawaku. Aku.. sangat lelah.." Ucap Yara dalam hati.
Yara merasa seluruh badan nya remuk, semangat nya juga tidak ada. Tidak ada seorang pun yang menyayanginya di dunia ini.
" Dia pria yang baik, dia membantuku sebelum nya." Ucap Dawn yang bersembunyi di balik bebatuan.
"Iya, aku juga berterimakasih kepadanya, dia menyelamatkan nyawaku." Ucap Noah yang juga bersembunyi di balik bebatuan.
Mereka ingin membantu, tapi lebih takut dengan ketua mereka. Akhirnya semua orang meninggalkan Yara di tengah sungai.
Di sebuah ruangan, Ethan masih belum sadar dari pingsan nya. Semalam Yara menendang tepat di bagian luka nya yang masih belum kering, sehingga kembali mengeluarkan darah. Apalagi tendangan Yara lumayan kencang saat itu.
" Pria bodoh ini, meskipun kuat harus nya memperhitungkan luka nya juga. Sekarang sudah begini mau bagaimana." Ucap Sean yang khawatir bercampur kesal karena ulah sahabatnya itu.
" Apa pria itu mengenali Ethan? dia menendang tepat di bekas tembak an nya kemarin." Ucap Jil yang kini berada di sana setelah melatih anak buah nya.
" Aku juga curiga begitu. Sekarang dia sedang berada di tengah sungai, semoga saja dia mati." Ucap Rayson.
" Tapi kan Ethan bilang dia adalah kenalan lama nya. Kalau sampai dia mati, apa yang akan kau jelaskan pada nya.?" Ucap Sean.
" Aku tidak percaya seorang kenalan lama lebih penting dari nyawa nya. Kecuali dia benar benar bodoh." Ucap Rayson yang sedikit emosi.
Tak terasa sudah jam 3 sore, langit terlihat sangat mendung seperti akan turun hujan lebat. Sementara Yara kini masih berada di tengah sungai dengan posisi masih menunduk. Tatapan mata nya kosong seolah pasrah jika ia akan mati hari ini.
" Y.. Naiklah, sebentar lagi turun hujan badai. Sungai akan penuh saat hujan." Teriak Dawn yang mencoba menyadarkan Yara
Dawn dan Noah sering mengecek kondisi Yara, dan Yara masih tidak bergeming dari posisi nya.
" Badai.. Bagus, sekalian saja bawa aku mati."
Ucap Yara dalam hati.
Tiba tiba saja hujan turun sangat deras, Yara menatap keatas langit seolah menyambut turunnya hujan. Lalu ia kembali menunduk kan kepalanya.
" Y, Jangan keras kepala.. Kapten tidak akan membiarkan orang nya mati, dia pasti akan memaklumi jika kamu naik keatas. Lagi pula ini hujan." Teriak Noah.
" Kalian pergilah, terimakasih sudah menghawatirkan aku. Aku tidak apa apa.. " Ucap Yara yang kinienatap kearah Dawn dan Noah.
" Y... " Ucap Noah.
" Pergilah." Ucap Yara lagi.
Hujan semakin lebat, akhirnya Dawn dan Noah pun pergi.
Ethan baru saja sadar dari pingsan nya. Dan semua orang senang karena Ethan kembali sadar.
" Than.. apa kau bodoh? bertarung dengan pria amatir bisa kalah dengan sekali tendangan." Ucap Sean.
" Ugh.. Dimana dia..? " Ucap Ethan sembari bangun dari posisi tidur nya.
" Dia siapa.? " Tanya Sean.
" Y.. " Jawab Ethan.
" Gawat.!! Aku menyuruh nya berendam di sungai, aku lupa ini hujan badai.!" Ucap Rayson .
" Apa! dia di sungai!?" Ucap Ethan dan langsung lari keluar.
TO BE CONTINUED..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 237 Episodes
Comments
Ciduwet Ciduwet
waw Yara keren 😯
2023-03-10
1
Je Jr
menegangkan !
2023-03-09
1