Yara masuk kedalam salah satu kamar di lantai satu itu, lalu membaringkan tubuh nya di ranjang yang tak begitu besar namun nyaman itu.
" Seperti kamar seorang gadis.."
Ucap Yara dalam hati.
Yara memandangi sekeliling nya, dan matanya tertuju pada sebuah foto seorang gadis remaja bersama seorang pria , pria itu tak lain adalah pria tadi.
" Apa ini adik nya.. "
Yara tak ingin melihat lebih lagi, Ia langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak lupa ia mengunci kamar itu.
Yara membuka kain yang melilit di dadanya. Kain itu sengaja ia kenakan untuk menekan payudara nya, agar tidak ketahuan dirinya seorang wanita.
" Kehidupan baru, yang suram.. "
Yara sudah selesai membersihkan dirinya, ia mencuci semua pakaian nya tadi, agar besok bisa kering. Ia mengenakan kaos oblong dan celana pendek, lalu tidur.
Ke esokan harinya..
Yara bangun pagi pagi, lalu langsung masuk kedalam kamar mandi nya untuk kemudian menggunakan kembali perlengkapan nya. Setelah selesai, ia pun keluar dari kamar itu .
" Dia belum bangun.. "
Dengan suara pelan dan mengendap endap.
" Kau sedang apa. ?" Caleb tiba tiba berdiri di belakang Yara.
" Oh, Kaget aku.. " Yara mengelus dada nya.
" Kau ini pria tapi bisa kaget.? " Ucap Caleb heran.
"Memang nya pria tidak boleh kaget.?"
" Cih. Tentu saja tidak boleh. Hei, apa kau tidak punya baju lain.?"
" Ee... Iya. boleh pinjam bajumu.? Aku akan ganti dengan yang baru nanti." Ucap Yara dengan cengiran nya
" Oke.. Ayo ikut aku."
Caleb menarik tangan Yara menuju ke kamar nya.
" Abaikan kamar berantakan ku. kebetulan aku punya banyak pakaian, kau ambil ini semua."
Caleb memberikan setumpuk pakaian kepada Yara. Dari celana , baju , kemeja, dll.. termasuk dalaman.
" Terimakasih , aku akan balas kebaikan mu ini."
" Balas dengan menyelesaikan misiku saja ." Ucapnya.
" Misi.?" Tanya Yara bingung.
" Hmm.. Nanti malam, Aku punya target yang harus ku selesaikan. Tapi aku mengenal orang itu, takut nya aku akan meleset."
" Ternyata kau masih manusiawi." Ucap Yara enteng.
" Tentu saja. Aku hanya membunuh orang yang bersalah saja. Bukan sembarang membunuh orang."
" Hanya membunuh orang bersalah.?" Yara kembali bingung.
" Tentu saja, organisasi kita bernama
God's Warning. Yang artinya teguran dari Tuhan. Karena mereka terlalu berbuat banyak kejahatan, jadi mereka harus di basmi." Jelasnya.
" Begitu ya.? Lalu pria yang semalam itu.. apa salah nya.?"
" Dia adalah tokoh negara, yang selalu menggelapkan uang dan mengedarkan barang terlarang , termasuk perdagangan manusia. Jadi wajar jika seseorang menginginkan dia mati." Menjelaskan.
Yara mengangguk tanda mengerti.
"Sana ganti pakaian mu. Siang kita tidak ada pekerjaan, malam baru beraksi. Jadi kau bebas kemana saja, asal nanti malam ada di tempat."
" Oke.. Terimakasih untuk baju nya." Yara melangkah pergi dari kamar pria itu.
" Tidak masalah."
Yara kembali masuk kedalam kamar nya. Ia mengganti pakaian nya dengan pakaian yang di berikan oleh Caleb. Karena badan Yara memang tinggi jadi pakaian Caleb tidak terlalu terlihat kebesaran. Hanya pinggang celana nya saja yang kebesaran. Di usia 18 tahun tinggi Yara adalah178 cm , termasuk tinggi bagi kaum wanita.
"Aku harus melihat keadaan di panti, dan memberi tahu suster Lilith tentang aku sekarang."
Yara bingung karena ia tak mempunyai kendaraan.
" Bos memberikan mu satu motor, karena kau menyelesaikan misi semalam." Tiba tiba pria itu muncul.
" Hah.? memberiku begitu saja.?"
" Benar, Tangkap ini."
Caleb melemparkan satu kunci motor kearah Yara dan langsung di tangkap.
" Terimakasih." Yara tersenyum.
" Kau, siapa nama mu.? Bos ingin tahu nama mu."
Yara langsung bingung ketika ditanyai nama nya. Karena ia seorang wanita dan belum memikirkan identitas baru.
" Kau boleh panggil aku Y." Ucap Yara singkat.
" Y.? saja.?" Bingung..
" Benar.. Aku pergi dulu."
Caleb menyipit kan mata nya menaruh curiga pada Yara, namun ia kembali masuk kedalam.
Sementara Yara langsung mengendarai motor besar nya dan pergi dari sana.
" Aku tidak bisa membuat dia curiga, tapi sepertinya ia sudah curiga. "
Ucap nya dalam hati.
Yara menelusuri jalan dan menuju ke panti nya. Beruntung Yara mengerti semua jalur jalan raya, ia tidak kebingungan sama sekali. Saat Yara sampai di jalan yang dekat dengan panti, Yara mengamati setiap arah, dan ada beberapa orang yang nampak sedang bersiaga mengamati panti.
" Belum menyerah juga rupanya."
Ucap Yara dalam hati.
Yara mengenakan masker nya dan berjalan dengan santai memasuki panti tanpa di curigai, karena kini penampilan Yara 100% seperti laki laki.
" Suster Lilith.." Ucap Yara pelan.
" Siapa kamu.? Aku sudah katakan Yara tidak ada disini." Lilith hampir memukul Yara.
" Suster ini aku Yara.."
Yara membuka masker nya, dan menenangkan Lilith yang terlihat ingin memukul Yara dengan tongkat.
" Yara.?" Lilith langsung berlinang air mata.
" Benar.. maaf kan Yara suster, Yara sudah membuat suster kesulitan." Yara memeluk Lilith.
" Ada apa dengan penampilan mu Yara, kamu seperti anak laki laki."
" Yara tidak punya jalan lain. Ini satu satu nya cara agar Yara bisa menghindari orang orang suruhan paman dan bibi. Yara kesini ingin mengatakan selamat tinggal, mungkin Yara tidak akan kembali kesini demi keselamatan kalian."
" Tapi Yara , kamu tinggal dimana ?" Tanya Lilith pelan.
" Suster tenang saja, Yara sudah punya pekerjaan dan tempat tinggal. Ini jaket milik suster.."
Yara mengembalikan jaket Lilith yang ia gunakan untuk kabur kemarin.
" Suster, aku titip ini.."
Yara memberikan sebuah cincin yang terukir nama Yara di dalam nya.
" Ini kan satu satu nya barang peninggalan orang tua kandung mu."
" Yara sudah tidak bisa menggunakan nama ini, dan Yara tidak mau menunggu hal yang tidak pasti. Sudah delapan belas tahun Yara mengunggu mereka, mereka tidak pernah datang sekalipun mencari Yara. " Terlihat kesedihan di mata Yara.
" Anak yang malang.. Semoga kamu bisa lebih bahagia nak, ingat.. panti ini selalu terbuka untuk mu. " Suster Lilith membelai kepala Yara.
" Terimakasih suster. Sekarang Yara harus pergi.. Ingat , kalau mereka datang katakan saja Yara sudah mati."
Lilith menangis memeluk Yara. Yara tidak sempat untuk menangis, hati nya sudah mati rasa. Setelah memeluk Lilith, Yara pun pergi dari sana. Saat Yara keluar dari panti ia melihat Darren dan Robin yang berjalan masuk. Yara menundukkan wajah nya yang di tutup topi dan melewati mereka tanpa di curigai.
Yara belum jauh dari sana, terdengar suara tembakan dari dalam panti, Yara langsung memutar balik badan nya dan mendobrak pintu panti yang terkunci dari dalam.
" Suster.!!"
Yara tak melihat kemana Darren dan Robin. Hanya terlihat Lilith yang terkulai di lantai dengan luka tembak di perut nya.
" Lari Yara.. Mereka masih disini." Ucap suster Lilith lemah.
Yara melihat pintu belakang yang terbuka, ia langsung mengeluarkan pistol nya dari balik baju nya dan lari mengejar Darren dan Robin.
Terlihat Darren dan Robin yang berlari menuju mobil nya, dan Yara langsung mengarahkan pistol nya untuk menembak, sayang nya mobil itu sudah jauh. Yara berlari masuk kedalam panti untuk menyelamatkan Lilith, namun terlambat.
" Maafkan Yara suster, Yara tidak bisa melindungi suster dengan baik." Yara meneteskan air mata nya.
TO BE CONTINUED ..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 237 Episodes
Comments
heyannafs._
terus cincin Yara gimana?
2023-12-30
1
Ciduwet Ciduwet
terharu aq
2023-03-09
1
putri peach
yah. lambat dikit kamu .....
2022-12-08
2