Yara di Tampar dan di dorong kasar oleh Tsania hingga terjatuh di depan rumah itu.
" Bibi, itu semua salah paham. Aku sama sekali tidak seperti yang di beritakan. Aku di culik seseorang, pasti orang itu sengaja ingin menggagalkan pertunangan ku dengan kak Darren." Yara mencoba meyakinkan bibinya dengan memegangi tangan ibinya.
" Tidak perduli kabar itu benar atau tidak, Kau sudah membuat malu keluarga Todd. Dan juga kau sudah membuat malu Darren. Kau.! Pergi dari rumah ini, mulai sekarang kau bukan anggota keluarga Todd kami." Tsania kembali mendorong Yara hingga jatuh.
" Bibi tunggu.. Ugh.."
Tsania membanting pintu masuk rumah nya dan menguncinya dari dalam. Sementara Yara kini sedang kesakitan karena luka yang baru di perban itu kembali terbuka akibat dorongan Tsania.
" Bibi.. kak Darren, tolong buka pintunya. Ini sungguh tidak seperti apa yang kakak pikirkan. Aku tidak melakukan hal itu, aku di culik." Teriak Yara dari luar rumah.
Tak perduli seberapa keras Yara berteriak , tak ada yang membuka kan pintu rumah itu. Hingga hujan turun, akhirnya Yara bangun dari duduk nya dan pergi dari rumah itu. Yara bingung harus kemana, di tambah ia juga tidak memiliki uang sama sekali.
"Aku harus kemana.. kenapa tidak ada yang percaya padaku." Yara merasa frustasi.
Yara yang malang, ia tidak mengetahui bahwa semua itu justru rencana Darren dan seluruh keluarga nya.
Semua orang menatap kasihan sekaligus jijik kepada Yara yang terlihat kacau, karena kondisinya yang begitu memperihatin kan. Luka di kepala nya terbuka hingga perban yang putih itu berubah menjadi merah akibat darah, dan gaun putih yang ia kenakan juga terkena noda darah .
Yara teringat dengan panti asuhan yang dulu menampung nya sebelum dia di adopsi oleh mendiang Davis Todd. Untung nya Yara masih berhubungan baik dengan para tetua di panti asuhan itu. Kini Yara dengan tenaga yang tersisa menyusuri jalan menuju panti asuhan.
Sepanjang jalan ia berusaha untuk tetap sadar agar tidak pingsan di jalan. kini gaun putih yang ia gunakan sudah tidak terlihat putih lagi karena tercemari oleh noda darah dan air hujan yang mengotori nya. Untung nya ia berhasil sampai di depan panti asuhan itu sebelum akhir nya pingsan.
Ke esokan harinya..
Yara terbangun karena mendengar suara gemericik air. Ia membuka matanya dan terlihat seorang suster yang sedang memeras handuk untuk mengompres kepala nya.
"Suster Lilith.. " Ucap Yara lemah.
" Kamu sudah sadar Yara, bagaimana kondisimu.? " Ucap suster Lilith dengan antusias.
" Yara baik baik saja suster. Terimakasih karena sudah menyelamatkan Yara."
" Apa pun yang terjadi, Pintu panti asuhan ini selalu terbuka untuk mu. Bisa ceritakan kepada suster apa yang terjadi.?" Suster Lilith menggenggam tangan Yara.
"Yara di fitnah suster, ada orang yang dengan sengaja menjebak Yara . Sekarang keluarga kak Darren sudah tidak percaya kepada Yara lagi." Tiba tiba tangis Yara pecah.
" Lalu bagaimana dengan pertunangan mu.?"
Lilith menghapus air mata Yara.
" Sudah berakhir, tidak ada yang percaya pada Yara lagi."
" Yara ku yang malang.. meskipun seluruh dunia membenci Yara, suster selalu percaya kepada Yara . Yara adalah anak baik. Istirahat lah, kamu sudah tidak sadar selama tiga hari."
" Tiga hari.?" Ucap Yara tidak percaya
" Benar, kamu harus istirahat supaya cepat sembuh. Suster harus mengurus hal lain." Suster mengusap kepala Yara.
" Terimakasih sus." Ucap Yara.
Lilith pergi dari sana, meninggalkan Yara di dalam kamar sendirian. Yara mengingat semua yang terjadi.. Rasanya seperti mimpi tiba tiba semua orang membencinya.
" Aku harus menemui kak Darren, aku harus menjelaskan ini padanya."
Yara bangun dari tempat tidur nya, ia melihat pakaian nya adalah milik salah satu anak laki laki yang seumuran Yara di panti itu.
" Bahkan baju pun aku meminjam milik orang lain."
Yara tidak menghiraukan nya lagi, Ia langsung mengambil jaket milik suster lilit, lalu keluar dari sana untuk mencari Darren.
Saat Yara berada di sebuah gang, ia melihat seseorang yang ia kenal, saat ia ingin memanggil ternyata ia sedang menelepon seseorang.
" Tuan muda tidak usah khawatir, kurasa Yara sudah mati. Saya mencarinya ke seluruh tempat, tapi tidak ada dia. Bahkan aku sudah mengintai panti asuhan nya. " Dia adalah Edwin, Sekertaris sekaligus pengacara Carig Todd.
Yara menutup mulut nya, ternyata apa yang terjadi padanya ini adalah perbuatan Darren.
Akhirnya Yara pergi diam diam tanpa disadari oleh Edwin. Ia menutup wajah nya dengan tudung jaket itu, berharap tidak ada yang mengenalinya.
" Aku tidak bisa kembali ke panti sekarang, mereka pasti sedang mengawasi di sana. " Ucap Yara yang jalan sambil menunduk.
Yara bingung akhir nya ia masuk kedalam sebuah super market.
" Tampilan ku saat ini pasti mudah di kenali. Kak Darren, aku tidak menyangka.. ternyata kau yang ada di balik semua ini. Apakah karena harta yang kakek berikan padaku.? "
Ucap Yara dalam hati.
Yara merogoh kantong jaket milik Lilith dan menemukan uang pecahan lima puluh ribuan.
Yara mengambil sebuah gunting dan roti serta sebotol air mineral , lalu membayar nya.
Setelah itu Yara langsung masuk kedalam toilet yang di sediakan oleh super market itu. Yara membuka jaket nya, dan menatap dirinya yang kini dengan rambut panjang nya. Ia seperti menimbang nimbang sesuatu dalam pikiran nya.
" Baiklah.. Nayara yang dulu anggap lah sudah mati."
Yara memotong rambut nya, sependek mungkin, hingga menyerupai laki laki. Saat memotong rambut nya, ia tak henti henti nya menangis.
" Tidak ada yang perlu disesali. Dimata dunia kamu sudah mati Yara."
Yara keluar dari toilet itu setelah membersihkan rambut nya. Kini ia lebih terlihat seperti seorang laki laki.
"Aku harus kembali ke rumah keluarga Todd bagaimana pun caranya. Ada yang harus aku ambil." Yara berjalan menuju kearah rumah keluarga Todd.
Yara mengingat satu satu nya benda berharga milik nya, yang di berikan oleh mendiang Davis Todd. Akhirnya ia mengintai di luar rumah keluarga Todd hingga tengah malam. Ia pun beraksi, dan mengendap endap untuk bisa mencongkel jendela kamarnya. Beruntung kamarnya memang mudah di buka tak butuh waktu lama, Yara sudah masuk di dalam kamar nya.
Dari dalam kamar, Yara mendengar percakapan antara Carig , Darren dan Tsania . Karena kamar Yara berada di depan ruang keluarga di lantai satu .
" Pastikan gadis itu benar benar sudah mati. Bisa bisa nya kita tidak bisa mengambil setengah harta itu. Aku tidak percaya ayah lebih menyayangi anak pungut dari pada cucu kandung nya." Ucap Tsania dengan kesal.
" Kamu harus sabar sayang, darah mu tinggi lagi nanti." Carig mengelus bahu istrinya itu.
" Bagaimana bisa sabar, susah payah kita membuat drama anak pungut itu di hari pertunangan beberapa hari lalu. Saat mau mengambil alih harta nya malah di persulit oleh Bima." Ucap Tsania semakin kesal.
Bima adalah pengacara dari mendiang Davis Todd.
" Ibu tenang saja, saat aku menemukan gadis itu.. Aku akan kembali berpura pura mencintainya. Agar dia mau menandatangani surat pemindahan harta warisan kakek." Ucap Darren dengan senyum jahat nya.
Yara yang mendengar dari balik pintu kamarnya pun tidak menyangka, selama ini ia telah di bohongi besar besar an oleh mereka semua.
"Baiklah, karena kalian begitu menginginkan harta. Biar ku bawa sekalian surat wasiat asli dari kakek, agar kalian semua gila."
Ucap Yara dalam hati.
TO BE CONTINUED..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 237 Episodes
Comments
Susilawati
bagus Yara, jgn mau kalah sama mereka
2024-09-10
1
kutu kupret🐭🖤🐭
good job Yara👍👍
2023-05-01
1
kutu kupret🐭🖤🐭
semoga cepat matiii 🤲🤲🤲🤲🤲🤣💣
2023-05-01
1