Yara memiliki sebuah penyimpanan rahasia yang tidak di ketahui oleh orang lain. Selama ini ia selalu di ajari oleh mendiang Kakek angkat nya.
" Mungkin ini sebab nya kakek lebih percaya padaku dari pada keluarga kandung nya sendiri. Untung dulu aku mengikuti ajaran kakek. "
Yara membuka sebuah pintu , di dalam pintu itu ada pintu rahasia. Di dalam pintu rahasia itulah Yara menyimpan semua benda benda penting nya. Termasuk pistol yang di berikan oleh mendiang Davis.
" Maaf kek, Yara tidak bisa menjaga semua permintaan kakek dengan baik. Semoga kakek mengerti kesulitan Yara. " Ucap Yara saat mengambil pistol peninggalan kakeknya
Setelah Yara sudah mengemasi semua barang penting nya ia juga mengambil beberapa pakaian dan uang nya. Setelah itu, Ia keluar kembali dari jendela.
Kini Yara sudah di pinggiran jalan. Ia menutup wajah nya dengan masker dan berjalan biasa saja meskipun ia melewati beberapa orang suruhan Darren.
" Aku harus menghubungi pak Bima, sebelum pak Bima di hasut oleh orang orang jahat itu."
Yara datang ke sebuah toko Handphone, setelah ia membeli Handphone baru beserta kartu SIM barunya. Yara langsung menghubungi Bima.
" Halo, siapa ini ?" Ucap Bima di seberang sana.
" Pak Bima, saya Yara.. Pak Bima bisa temui saya ?" Ucap Yara pelan
" Syukurlah.. akhir nya nona Yara menghubungi saya. Saya tahu dan yakin Nona pasti masih hidup. Nona ada dimana, biar saya jemput."
" Saya tunggu pak Bima di depan super market 55." Ucap Yara.
" Baik nona.. "
Yara langsung mematikan sambungan telepon nya dan bergegas pergi dari sana menuju super market yang sebelum nya ia menggunting rambut. Tak berapa lama Bima pin datang di sana.
" Anda nona Yara.?" Tanya Bima bingung.
Yara " : Benar pak. Maaf saya mengubah penampilan saya, agar tidak di kenali oleh orang orang suruhan paman dan bibi. "
"Tidak apa apa nona. Tapi ada apa nona memanggil saya kesini.?" Bima langsung duduk di tempat duduk yang tersedia di sana.
" Pak Bima, saya sudah mendengar secara langsung dari mulut paman bibi dan kak Darren. Mereka ingin menemukan ku agar aku mau menandatangani surat pemindahan harta dari kakek."
" Apa.!! Mereka tidak hanya membohongi saya, tapi juga berencana jahat kepada nona.?" Ucap Bima geram.
" Pak Bima, aku kesini untuk memberikan ini."
Yara menyodorkan surat asli tulisan tangan dari mendiang Davis, yang menyatakan bahwa setengah harta keluarga Todd akan di berikan kepada Yara.
"Kenapa nona memberikan nya kepada saya. Saya bisa mendukung nona agar menang dalam kasus ini." Ucap Bima meyakinkan.
" Sejak awal.. harta bukan lah keinginan ku pak. Kakek lah yang bersih keras membuat pernyataan itu. Aku hanya orang luar, tidak bisa memegang tanggung jawab sebesar itu." Yara menolak.
" Nona memang sangat rendah hati. Lalu.. saya harus apa kan surat ini.?" Bima bingung.
" Tolong bantu saya simpan ini pak, Saya tahu bapak orang yang tepat. "
" Baiklah, lalu nona bagaimana ?"
"Di dunia ini, Nayara Valerie sudah mati. Anggap saja begitu. Terimakasih untuk waktu nya pak Bima, saya permisi."
Yara pergi dari hadapan Bima. Bima paling tahu seberapa sayang nya mendiang Davis kepada cucu angkat nya itu. Dan juga ia tahu siapa yang tulus menyayangi Davis saat masih hidup dulu.
" Semoga kau panjang umur nak, semoga kau bisa menjadi orang yang hebat seperti kakek mu." Ucap Bima dalam hati.
Bima pun pergi dari super market itu.
Yara masuk ke sebuah salon, Ia ingin merapihkan rambut nya. Bagaimana pun ia memotong asal rambut nya, Jadi kini ia ingin setidak nya agar lebih rapi.
Karena Yara sedang menyamar menjadi pria, Ia pun memotong rambut di salon pria. Saat sedang potong rambut, Yara mendengarkan percakapan antara dua pria tinggi dengan badan atletis yang sedang mencari seorang ahli menembak jarak jauh.
Melihat ada kesempatan, Yara pun menawarkan diri.
" Boleh saya coba.?" Yara mendekati mereka.
" Siapa kau.? fisikmu yang seperti perempuan bisa apa. Kau lebih cocok jadi gig*lo." Ucapa salah seorang yang terlihat lebih tua dari teman nya.
" Hahaha.. Pria cantik tidak cocok dengan pekerjaan ini." Ucapnya meremehkan.
"Bagaimana jika kalian lihat dulu , Setelah itu kalian bisa putuskan." Ucap Yara menantang.
Kedua pria itu berfikir sejenak, Akhirnya mereka mengizinkan Yara untuk melakukan salah satu misi kecil mereka.
" Baiklah, Kita ingin lihat.. Tapi kau harus tau, jika sampai ini bocor, nyawamu taruhan nya."
Ucap pria yang lebih muda.
" Oke." Ucap Yara.
Mereka membawa Yara keatas sebuah gedung yang menjulang tinggi. Awal nya Yara bingung, misi apa yang akan dia lakukan , mengapa berada di atas gedung.
" Pria cantik, lihat arah jam 12 mu. kamar dengan lampu kuning, bunuh pria yang sedang berada di kamar itu." Ucap pria yang lebih tua.
" Bunuh.?" Ucap Yara kaget.
" Iya , Bunuh.. Seharusnya kau tahu arti pekerjaan ini kan. Seorang pembunuh bayaran."
Yara kaget saat mengetahui ternyata mereka pembunuh bayaran, pikir nya ia akan menjadi guru menembak atau berada di turnamen lomba menembak.
" Kau ragu.? kalau ragu lompat kebawah." Ucap pria yang lebih muda.
Yara tidak punya pilihan lain, Akhirnya ia menyetujui nya.
"Baiklah, Tapi.. Apakah jika misi ini berhasil aku di terima ?" Yara mencoba bernegosiasi.
" Kita lihat performa mu."
Yara mengambil senapan dari tangan pria yang lebih tua dan mengarah kan nya kepada sasaran itu.
" Apakah hanya target yang berada di sana.? aku tidak mau salah membunuh." Tanya Yara .
" Kau tenang saja, hanya dia di sana sendiri."
Ucap pria satunya .
Bintang mengarahkan senapan nya, ia membidik target, mengunci nya, saat ingin menembak, ada sedikit keraguan dalam dirinya. Karena kakek nya berpesan jangan sampai membunuh orang yang tidak bersalah.
" Terlalu lama.." Saat Pria itu ingin mengambil senapan dari tangan Yara, tiba tiba..
DOR.!
Kedua pria tadi terkejut, ternyata Yara sungguhan bisa membunuh target dengan sekali tembak. dan itu tepat di jantung nya.
" Bagus, Mulai sekarang kau bagian dari tim kami." Ucap pria yang terlihat lebih muda.
Yara menghembuskan kasar nafas nya, ia merasa sedikit menyesal dan bersalah. Baik kepada orang yang baru ia bunuh atau pun mendiang Kakek nya.
Yara " : Maaf kan Yara kek, tidak menjaga pesan mu dengan baik."
Ucap Yara dalam hati.
Kedua pria itu membawa Yara pergi dari sana sebelum ketahuan oleh pengawal dari target tadi. Pria yang baru Yara tembak adalah tokoh penting di kota itu.
" Misi hari ini sudah di selesaikan oleh mu. Kau boleh pulang, nanti ku kabari lagi. Namaku Jackson, dia Caleb. Ini nomor kami." Jackson memberikan kartu nama nya .
"Boleh aku ikut dengan kalian? Aku tidak punya tempat tinggal." Ucap Yara sedikit takut.
" Tidak punya tempat tinggal.?" Tanya Caleb.
" Benar." Ucap Yara.
" Baiklah, ayo." Ucap pria itu
Jackson langsung pergi untuk menyelesaikan tugas lain dari bos nya. Sementara Yara kini ikut dengan Caleb. Setelah satu jam berkendara, mereka sampai di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, juga tidak kecil.
" Masuklah, Kau boleh tidur dimana saja.. Ada dua kamar tamu di bawah. Kamarku di atas." Ucap Caleb.
" Terimakasih ." Ucap Yara.
Yara tidak memberitahukan identitas aslinya yang seorang perempuan. Karena demi keamanan dirinya sendiri juga.
TO BE CONTINUED...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 237 Episodes
Comments
Ciduwet Ciduwet
wanita yg luar biasa !
2023-03-09
1
Dewi Kania
aku suka wanita yg kuat...
2022-12-04
3
🌹Barcayl_Elquenna🌹
Hancur kan mereka yara...
2022-10-14
1