17 - Keadaan jantung

Raya

Setelah memastikan semuanya siap, ia menuruti kemauan Nev untuk mengantarkan makan malam pria itu ke ruang kerja.

Namun, saat ia ingin mendorong troli makanan menuju lift, ia berpapasan dengan Feli yang entah kenapa memang seperti menunggunya.

Feli terlihat bersandar sembari bersedekap dada, Feli memperhatikannya dari atas hingga bawah--seolah tengah menilai penampilannya dan kemudian menatapnya dengan tatapan yang nampak menyepelekan.

"Raya, ku pikir kau tidak perlu berpakaian seperti itu jika berada dirumah ini." kata Feli memulai pembicaraannya.

Ia pun otomatis memandang penampilannya sendiri yang hanya mengenakan kaos seperti biasanya. Tidak ada yang aneh, pikirnya.

Dasar Feli, ada saja hal kecil yang dibesar-besarkan untuk bahan pertengkaran mereka.

"Apa tanganmu yang kemarin sudah baikan?" sindirnya, mengingatkan tentang aksinya yang memelintir tangan Feli kemarin.

Feli memegangi tangannya sendiri. "Memangnya kenapa?" tanya Feli tak senang.

"Ku pikir kau tidak usah menilai penampilanku, toh aku berpenampilan biasa saja. Jangan mengurusi hal yang tak penting, Fel ! Atau ku buat tanganmu tidak bisa lurus," ancamnya santai sembari mengetuk-ngetukkan kaki dilantai-- seolah memberi perhitungan pada Feli.

Feli terlihat bergidik, kemudian beranjak dari hadapannya.

Ada saja ulah Feli untuk membuat keributan.

"Aku akan pesankan seragam saja untukmu, Raya." ujar Feli sambil lalu.

Ia masih mendengar suara Feli itu tapi tak ingin menyahuti, ia hanya mengangkat bahu dan memasuki lift untuk menuju ruang kerja Nev.

Ia mengetuk pintu lalu mendengar Nev memintanya untuk masuk.

"Makan malamnya sudah siap, Tuan." ucapnya sembari memindahkan makanan dari troli ke meja sofa yang ada dalam ruangan yang sama.

Nev hanya berdehem untuk menyahutinya, nampaknya Nev benar-benar sibuk di depan laptop-nya.

"Saya permisi, Tuan." ucapnya lagi setelah selesai dengan tugasnya.

Tapi, bukan Nev namanya jika membiarkannya pergi begitu saja, ia sudah bisa menebak pasti Nev akan memanggilnya karena begitulah kebiasaan Tuannya itu--yang mulai dihafalnya dan membuatnya terbiasa dengan sikap Nev yang kadang juga sulit untuk ditebak.

"Ada yang bisa saya bantu lagi, Tuan?" tanyanya pada Nev yang masih fokus pada layar pipih dihadapan pria itu.

Nev menatapnya dan tentu saja dia menundukkan pandangan agar pandangan mereka tak bersirobok seperti kemarin.

Kemarin? Ya Ampun, kejadian kemarin harus bisa ia lupakan dan jangan sampai terulang kembali.

Ia tidak mau terlarut lagi dalam keadaan akward dimana tak bisa menepis pesona Nev dan justru tenggelam dimata kecoklatan itu. Ia tak mau lagi sampai terlihat bodoh dengan membalas genggaman tangan Nev yang bahkan ia sendiri tak mengetahui apa maksud Nev melakukan hal itu.

Sebenarnya ia ingin bertanya apa maksud Nev menggenggam tangannya kemarin, tapi ia tak berani jadi ia memutuskan diam dan berlagak tak terjadi apapun diantara mereka.

"Temani aku makan malam, Raya."

Ucapan lembut Nev itu berhasil membuatnya mengadahkan pandangan dan akhirnya tatapan mereka kembali bersua untuk yang kedua kalinya.

Entah kenapa, ia merasa ada harapan besar yang terkandung dimata pria itu saat menatapnya--tapi lagi dan lagi ia harus menepiskan itu, karena baginya mungkin itu hanyalah perasaannya saja.

Jangan GR, Raya. Mana mungkin dia tertarik padamu.

Entah ia yang terlalu naif, atau Nev yang terlalu baik membuatnya tak bisa menolak ajakan Nev untuk menemani pria itu makan malam.

Hanya menemani makan malam, tak lebih. it's oke, Raya. Tak apa.

Begitulah keyakinannya mengatakan pada dirinya sendiri. Akhirnya ia mengangguk untuk menjawab tawaran Nev.

Ia membantu Nev duduk di sofa karena Nev urung makan dikursi rodanya. Ia pun berdiri disamping Nev dan berharap Nev cepat-cepat menghabiskan makan malamnya--karena kegugupannya kembali meningkat drastis jika berada sedekat ini dengan Nev.

Tapi, kegugupannya tak berhenti sampai disitu, karena ia harus kembali gugup. Ah tidak... bukan gugup lagi, tetapi lebih daripada itu--ketika Nev justru menatapnya yang berdiri kaku.

Lalu pria itu berkata,

"Duduklah, Raya. Aku tidak bisa makan jika kamu berdiri disana." kata Nev dengan nada terendah, membuatnya menggigit bibirnya sendiri demi menetralkan degup jantung yang semakin bergenderang dan bertalu-talu.

Jantungnya, kenapa selalu seperti ini akhir-akhir ini?

Ia hanya menggeleng sebagai isyarat penolakan pada Nev, karena mulutnya tak kuasa mengeluarkan suara lagi.

"Ya sudah, aku tidak akan makan," ancam Nev sembari kembali meletakkan sendok dan mengambil sikap bersedekap dada dan bersandar disandaran sofa sambil memberengut.

Astaga.. Tuan Nev, kamu sudah terlalu tua untuk bersikap merajuk seperti itu dan lagi itu hanya karena ia tak mau menurut untuk ikut duduk di sofa.

Masalahnya bukan hanya perkara duduk di sofa, tapi masalahnya adalah... sofa yang ada diruangan ini hanya sebuah sofa kecil yang muat untuk diduduki dua orang.

Jika Nev memintanya untuk duduk, itu berarti ia harus duduk tepat disamping pria itu, begitu?

Jawabannya adalah iya.

Karena setelah pemikiran itu melintas dikepalanya, Nev justru seperti bisa membaca pikirannnya--sebab Nev langsung bersuara dan mengambil sikap seolah menjawab isi kepalanya.

"Duduklah, Raya." kata Nev sembari menepuk-nepuk pelan sofa disebelahnya, sebagai isyarat agar ia duduk disana.

Ia menggeleng keras, mungkin wajahnya sekarang sudah memucat atau mungkin memerah, karena sikap Nev yang lagi-lagi membuatnya ingin tenggelam saja.

"Kamu tega aku kelaparan karena tidak makan malam?" tanya Nev.

"Tentu tidak, Tuan." jawabnya cepat.

"Kalau begitu, apa salahnya duduk disini. Biar aku bisa makan." kata Nev lembut, tidak ada nada tinggi sedikitpun dari suaranya.

"Memangnya kalau saya berdiri disini, Tuan tidak bisa makan?" tanyanya mencoba protes.

Nev terlihat tersenyum kecil. "Mulutmu itu sudah pintar memprotes sekarang, padahal kemarin kamu sulit mengeluarkan pendapat, bahkan bertanya pun tidak mau." sindir Nev sembari terkekeh.

"Tapi Tuan..." belum sempat ia melanjutkan kalimatnya, Nev justru beringsut dan menarik tangannya, hingga mau tak mau ia pun terduduk di sofa tepat disebelah Nev.

"Nah, begitu bagus. Aku bisa makan sekarang." kata Nev enteng. Kemudian Nev mulai mengambil sendoknya dan menyuap makanan dengan antusias.

"Kamu gak makan? Makan aja sekalian sama-sama." kata Nev dan ia hanya menggeleng kembali sebagai penolakan.

Bagaimana mungkin Nev bisa bersikap seperti ini padanya dalam hitungan hari?

Padahal, dihari pertama saja, Nev sudah memarahinya karena ia menepuk punggung pria itu saat tersedak--nampak sekali Nev menghindari kontak fisik dengannya. Tapi sekarang apa?

Ia pun hanya bisa duduk tertunduk disebelah Nev dan mengatupkan mulut rapat-rapat. Sesekali sudut matanya mencuri pandang pada pria disampingnya-- yang tengah menyantap makanan itu.

Kenapa makanpun tetap tampan? Aduh Raya...

Tapi sesekali berikutnya, dengan sadar ia justru memegangi dadanya sendiri untuk merasakan detak jantung yang belakangan hari selalu bertalu-talu dengan cepatnya-- ketika berada didekat Nev seperti ini.

Jantungku, semoga kau sehat-sehat saja ya. Nanti kalau aku sudah punya banyak uang, aku akan memeriksakan keadaanmu ke spesialis.

-

Nevan

Makan disamping wanita yang tertunduk malu tanpa mengucap sepatah katapun itu--membuat selera makannya bertambah berkali-kali lipat, benar saja ia sampai menambah nasi dan lauk demi mengulur waktu, agar Raya berlama-lama duduk disampingnya.

Lebih parahnya, wajah Raya yang memerah-- membuatnya melakukan metode mengunyah sehat yaitu satu suapan dengan dua belas kali kunyahan.

ckckck! Apa-apaan kau ini Nev.

Rasanya selalu seru mengerjai Raya seperti ini, ada tantangan dan kesenangan tersendiri saat melakukannya.

Setelah makanannya habis, ia pun meminum minuman dengan perlahan-lahan, seolah bersikap tenang padahal memang sengaja kembali mengulur waktu, karena tak bisa dipungkiri jika ia menikmati momen kebersamaannya dengan Raya. Walau hanya duduk bersebelahan seperti ini.

Usai dengan urusan makan dan minum, ia tak membiarkan Raya pergi begitu saja. Ia mengingat tentang identitas dan latar belakang Raya yang baru ia ketahui lewat email yang dikirimkan Bian padanya tadi.

"Raya,"

Raya yang hampir berlalu dari ruangannya sambil mendorong troli makanan pun-- menoleh padanya.

"Iya, Tuan?" jawab Raya.

Sahutan suara Raya yang selalu ia tunggu dan sukai. Benar-benar sia lan!

"Kalau kamu butuh apa-apa, jangan sungkan untuk mengatakannya padaku." ucapan itu tercetus begitu saja dari mulutnya--efek rasa prihatin pada keadaan Raya, namun keprihatinan itu berada dalam urutan terakhir, karena urutan pertamanya adalah... ia ingin memperhatikan Raya.

Ya, sebuah bentuk perhatian.

Wajah Raya sedikit tertegun atas ucapannya, mungkin Raya menganggapnya gila saat ini. Apalagi kelakuannya yang selalu mencari selah untuk berdekatan dengan wanita itu. Apa yang ada di pikiran Raya tentangnya?--pasti Raya mengatakan bahwa ia sudah gila. Terserahlah!

Ia benar-benar tak peduli. Nyatanya, ia memang sudah gila-- karena otaknya seakan tidak mampu mengimpuls sistem sensorik dan motorik jika berada didekat Raya. Bahkan, tindakan serta ucapannya lebih sering tidak sinkron sejak beberapa hari kebelakang.

"Tuan, saya tidak bisa--" Raya tak melanjutkan kalimatnya, entah kenapa.

"Tak bisa apa? Aku mendengar tentang permasalahanmu, Raya." ucapnya lembut.

"Saya tidak mau merepotkan Anda, Tuan. Saya bisa meng-handle semuanya sendiri. Tuan sudah terlalu baik pada saya." ucap Raya dengan nada sungkan.

Oh Tuhan, seandainya Raya sangat merepotkannya pun ia akan sangat bersedia dan berdiri paling depan untuk membantu Raya.

Ia menggeleng. "Mungkin kamu wanita yang kuat, tapi kalau kamu merasa lelah dan merasa menyerah, kamu bisa mengandalkanku, Raya." ucapnya dengan percaya diri yang tinggi.

Raya tersenyum kecil. "Terima kasih, Tuan. Feli beruntung mempunyai suami seperti Anda. Anda sangat murah hati." ucap Raya.

Dan, ucapan Raya berhasil menyadarkannya akan sebuah status yang masih ia sandang dan belum ia singkirkan. Very damned!

Ia terdiam dan Raya berlalu dari hadapannya.

Jika aku bukan suami Feli, apa kamu mau mengandalkan aku dalam apapun permasalahan hidupmu, Raya?

Ingin rasanya ia meneriaki Raya dengan kalimat itu, tapi ia segera memejamkan matanya.

Ia harus tahu dan memahami betul apa yang sebenarnya diinginkan oleh dirinya sendiri saat ini.

Benarkah ia menginginkan Raya? Ataukah ini hanya rasa nyaman biasa ketika berada didekat wanita itu?

...Bersambung ......

...Jangan lupa jadikan Favorite. Tinggalkan like, komentar, vote dan juga hadiah ya 💕...

Terpopuler

Comments

☠ᵏᵋᶜᶟ༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ɪᴍᴏᴇᴛᴛ𝐀⃝🥀

☠ᵏᵋᶜᶟ༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ɪᴍᴏᴇᴛᴛ𝐀⃝🥀

sekalian pinjamkan bahu untuk bersandar ya Nev 😝😝😝

2022-05-14

1

☠ᵏᵋᶜᶟ༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ɪᴍᴏᴇᴛᴛ𝐀⃝🥀

☠ᵏᵋᶜᶟ༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ɪᴍᴏᴇᴛᴛ𝐀⃝🥀

sia lan sudah dideportasi kk
yang ini tinggal sia lin 🤣🤣🤣✌️

2022-05-14

0

☠ᵏᵋᶜᶟ༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ɪᴍᴏᴇᴛᴛ𝐀⃝🥀

☠ᵏᵋᶜᶟ༄༅⃟𝐐𝐌ɪ𝐌ɪ🧡ɪᴍᴏᴇᴛᴛ𝐀⃝🥀

senggolan dikit, bakal meledak tuh jantung 😅😝😝🙈🙈🙈

2022-05-14

1

lihat semua
Episodes
1 1 - Prolog
2 2 - Kau tahu namaku?
3 3 - Ingin mengundurkan diri
4 4 - Pekerjaan baru membuat canggung
5 5 - Mulai menanyakan kehidupan pribadi
6 6 - Bantu aku mandi!
7 7 - Kontrak
8 8 - Dikira istri
9 9 - Tidak berani menatap
10 10 - Jimmy yang tengil
11 11 - Kebiasaan tidur yang buruk
12 12 - Perkelahian
13 13 - Menghindar
14 14 - Meminta kesempatan
15 15 - Latar belakang sang pengasuh
16 16 - Sang Pengacara Muda
17 17 - Keadaan jantung
18 18 - Membangunkannya
19 19 - Menyelidiki kehidupanku?
20 20 - Kecemburuan Feli
21 21 - Perusak suasana
22 22 - Temani aku makan!
23 23 - Terkena radiasi
24 24 - Cemburu?
25 25 - Tak punya alasan
26 26 - Menemui Papa Adrian
27 27 - Memasak untukmu
28 28 - Si Tuan Manja
29 29 - Meratapi kesalahannya
30 30 - Ku pikir aku menyukaimu
31 31 - Nasehat Nenek
32 32 - Night market
33 33 - Keputusan Nenek
34 34 - Tidak memberi kesempatan lagi
35 35 - Perasaan yang tidak enak
36 36 - Pria yang menjadi gila
37 37 - Yang aku mau hanya Raya!
38 38 - Penyesalan yang terlambat
39 39 - Mencari keberadaanmu
40 40 - Mencari informasi
41 41 - Melamar pekerjaan baru
42 42 - Menjadi penguntit
43 43 - Gagal dan ditolak
44 44 - Siapa wanita itu?
45 45 - Persidangan
46 46 - Tidak bisa menolak
47 47 - Ada apa?
48 48 - Berhenti memanggilku 'Tuan'
49 49 - Lebih dari rasa suka
50 50 - Jangan meneruskan perasaan
51 51 - Persiapan
52 52 - Galau
53 53 - Ambisi Reka
54 54 - Menyusun Rencana
55 55 - Menolong
56 56 - Tukar cincin
57 57 - Kecupan pertama
58 58 - Ternyata
59 59 - Cocoknya jadi menantu
60 60 - Ikrar talak
61 61 - Sebuah Paket
62 62 - Tawaran yang tak diduga
63 63 - Sudah resmi
64 64 - Dan terjadilah
65 65 - Sakit di awal
66 66 - Hadiah
67 67 - In Bali
68 68 - Villa
69 69 - Petualangan hari ini
70 70 - Trekking
71 71 - Maladewa
72 72 - Saling bercerita
73 73 - Kembali
74 74 - Mengetahui alasan
75 75 - Menjalani kehidupan baru
76 76 - Prilaku aneh
77 77 - Terlalu egois
78 78 - Mengecek keadaan
79 79 - Hadirnya wanita bernama Luisa
80 80 - Ditinggal pergi
81 81 - Mengidam
82 82 - My beautiful wife
83 83 - Bertemu wanita aneh
84 84 - Siapa Luisa?
85 85 - Pria asing
86 86 - Rumah Sakit
87 87 - Tidak pernah menduga
88 88 - Tertipu dengan permintaan maaf
89 89 - Siapa yang terlibat?
90 90 - Meratapi
91 91 - Kedatangan Reka
92 92 - Terdoktrin?
93 93 - Menuntut hukuman yang pantas
94 94 - Khawatir
95 95 - Ketidaksempurnaan
96 96 - Menjadi lebih baik
97 97 - Menjadi saksi
98 98 - Hari bahagia sang Cassanova
99 99 - Hari peradilan
100 100 - Permintaan maaf
101 101 - Duka
102 102 - Datangnya Citra
103 103 - Percakapan dua wanita
104 104 - Tidak pernah menuntut
105 105 - London
106 106 - Berkeliling
107 107 - Ingin memiliki profesi
108 108 - Edisi jalan-jalan
109 109 - Manchester
110 110 - Menghancurkan ego
111 111 - Menemui Reka
112 112 - Merasakan perubahan
113 113 - Mencari info
114 114 - Rencana yang gagal
115 115 - Epilog
116 116 - Ekstra Part 1
117 117 - Ekstra Part 2
118 118 - Ekstra Part 3
119 119
120 120
121 SEASON II - Anak nakal
122 SEASON II - Sekolah
123 SEASON II - Pedekate
124 SEASON II - Mengantar
125 SEASON II - Lupa
126 SEASON II - Kabar Kepulangan
127 SEASON II - Dijemput
128 SEASON II - Bandara
129 SEASON II - Perasaan yang berubah
130 SEASON II - Bilang aja mau peluk!
131 SEASON II - Jadi pacar gue!
132 SEASON II - Cewek yang kamu suka
133 SEASON II - Pulang bersamamu
134 SEASON II - Berkemah
135 SEASON II - Berkemah 2
136 SEASON II - Ikut campur (lagi)
137 SEASON II - Merasa Kehilangan
138 SEASON II - Vonis
139 SEASON II - Menjenguk
140 SEASON II - Kepindahan
141 SEASON II - Kehidupan baru
142 SEASON II - Kelulusan
143 SEASON II - Membahas pertunangan
144 SEASON II - Sikap Dingin
145 SEASON II - Kecemburuan
146 SEASON II - Ingin Melepaskan
147 SEASON II - Apa kamu memiliki cinta?
148 SEASON II - Pikirkan secara matang
149 SEASON II - Merawat kamu
150 SEASON II - Sikap yang berbeda
151 SEASON II - Aku sudah bertunangan
152 SEASON II - Sebuah keputusan
153 SEASON II - Penawaran Zack
154 SEASON II - Nasehat Mama
155 SEASON II - Sebuah titipan
156 SEASON II - Hari Pernikahan
157 SEASON II - Belajar menjadi istri
158 SEASON II - Saling Jail
159 SEASON II - Status baru
160 SEASON II - Berlagak tak mengenal
161 SEASON II - Semuanya telah berubah
162 SEASON II - Masih sama
163 SEASON II - Sepenggal tentang Zio
164 SEASON II - Datang Menjemput
165 SEASON II - Kita
166 SEASON II - Tak romantis
167 SEASON II - Kunjungan
168 SEASON II - Berpacaran
169 SEASON II - Hari Terakhir
170 SEASON II - Menghabiskan Waktu
171 SEASON II - Mengantar kepulangan
172 SEASON II - Kabar baik dan buruk
173 SEASON II - Arti mencintai
174 SEASON II - Merindumu
175 SEASON II - Terpesona
176 SEASON II - Mulai terbuka
177 SEASON II - Bertemu lagi
178 SEASON II - Menjebak
179 SEASON II - Ketakutan
180 SEASON II - Berita terbaru
181 SEASON II - Pertemuan keluarga
182 SEASON II - Sebuah kejutan
183 SEASON II - Antara Ayah dan putrinya
184 SEASON II - Hari Bahagia yang telah tiba
185 SEASON II - Selepas kata SAH
186 SEASON II - Setelah kamu menjadi milik saya
187 SEASON II - Setelah bersama
188 SEASON II - Hadiah pernikahan
189 SEASON II - Part Ending
190 BLURB ABRINE
191 PROMO
Episodes

Updated 191 Episodes

1
1 - Prolog
2
2 - Kau tahu namaku?
3
3 - Ingin mengundurkan diri
4
4 - Pekerjaan baru membuat canggung
5
5 - Mulai menanyakan kehidupan pribadi
6
6 - Bantu aku mandi!
7
7 - Kontrak
8
8 - Dikira istri
9
9 - Tidak berani menatap
10
10 - Jimmy yang tengil
11
11 - Kebiasaan tidur yang buruk
12
12 - Perkelahian
13
13 - Menghindar
14
14 - Meminta kesempatan
15
15 - Latar belakang sang pengasuh
16
16 - Sang Pengacara Muda
17
17 - Keadaan jantung
18
18 - Membangunkannya
19
19 - Menyelidiki kehidupanku?
20
20 - Kecemburuan Feli
21
21 - Perusak suasana
22
22 - Temani aku makan!
23
23 - Terkena radiasi
24
24 - Cemburu?
25
25 - Tak punya alasan
26
26 - Menemui Papa Adrian
27
27 - Memasak untukmu
28
28 - Si Tuan Manja
29
29 - Meratapi kesalahannya
30
30 - Ku pikir aku menyukaimu
31
31 - Nasehat Nenek
32
32 - Night market
33
33 - Keputusan Nenek
34
34 - Tidak memberi kesempatan lagi
35
35 - Perasaan yang tidak enak
36
36 - Pria yang menjadi gila
37
37 - Yang aku mau hanya Raya!
38
38 - Penyesalan yang terlambat
39
39 - Mencari keberadaanmu
40
40 - Mencari informasi
41
41 - Melamar pekerjaan baru
42
42 - Menjadi penguntit
43
43 - Gagal dan ditolak
44
44 - Siapa wanita itu?
45
45 - Persidangan
46
46 - Tidak bisa menolak
47
47 - Ada apa?
48
48 - Berhenti memanggilku 'Tuan'
49
49 - Lebih dari rasa suka
50
50 - Jangan meneruskan perasaan
51
51 - Persiapan
52
52 - Galau
53
53 - Ambisi Reka
54
54 - Menyusun Rencana
55
55 - Menolong
56
56 - Tukar cincin
57
57 - Kecupan pertama
58
58 - Ternyata
59
59 - Cocoknya jadi menantu
60
60 - Ikrar talak
61
61 - Sebuah Paket
62
62 - Tawaran yang tak diduga
63
63 - Sudah resmi
64
64 - Dan terjadilah
65
65 - Sakit di awal
66
66 - Hadiah
67
67 - In Bali
68
68 - Villa
69
69 - Petualangan hari ini
70
70 - Trekking
71
71 - Maladewa
72
72 - Saling bercerita
73
73 - Kembali
74
74 - Mengetahui alasan
75
75 - Menjalani kehidupan baru
76
76 - Prilaku aneh
77
77 - Terlalu egois
78
78 - Mengecek keadaan
79
79 - Hadirnya wanita bernama Luisa
80
80 - Ditinggal pergi
81
81 - Mengidam
82
82 - My beautiful wife
83
83 - Bertemu wanita aneh
84
84 - Siapa Luisa?
85
85 - Pria asing
86
86 - Rumah Sakit
87
87 - Tidak pernah menduga
88
88 - Tertipu dengan permintaan maaf
89
89 - Siapa yang terlibat?
90
90 - Meratapi
91
91 - Kedatangan Reka
92
92 - Terdoktrin?
93
93 - Menuntut hukuman yang pantas
94
94 - Khawatir
95
95 - Ketidaksempurnaan
96
96 - Menjadi lebih baik
97
97 - Menjadi saksi
98
98 - Hari bahagia sang Cassanova
99
99 - Hari peradilan
100
100 - Permintaan maaf
101
101 - Duka
102
102 - Datangnya Citra
103
103 - Percakapan dua wanita
104
104 - Tidak pernah menuntut
105
105 - London
106
106 - Berkeliling
107
107 - Ingin memiliki profesi
108
108 - Edisi jalan-jalan
109
109 - Manchester
110
110 - Menghancurkan ego
111
111 - Menemui Reka
112
112 - Merasakan perubahan
113
113 - Mencari info
114
114 - Rencana yang gagal
115
115 - Epilog
116
116 - Ekstra Part 1
117
117 - Ekstra Part 2
118
118 - Ekstra Part 3
119
119
120
120
121
SEASON II - Anak nakal
122
SEASON II - Sekolah
123
SEASON II - Pedekate
124
SEASON II - Mengantar
125
SEASON II - Lupa
126
SEASON II - Kabar Kepulangan
127
SEASON II - Dijemput
128
SEASON II - Bandara
129
SEASON II - Perasaan yang berubah
130
SEASON II - Bilang aja mau peluk!
131
SEASON II - Jadi pacar gue!
132
SEASON II - Cewek yang kamu suka
133
SEASON II - Pulang bersamamu
134
SEASON II - Berkemah
135
SEASON II - Berkemah 2
136
SEASON II - Ikut campur (lagi)
137
SEASON II - Merasa Kehilangan
138
SEASON II - Vonis
139
SEASON II - Menjenguk
140
SEASON II - Kepindahan
141
SEASON II - Kehidupan baru
142
SEASON II - Kelulusan
143
SEASON II - Membahas pertunangan
144
SEASON II - Sikap Dingin
145
SEASON II - Kecemburuan
146
SEASON II - Ingin Melepaskan
147
SEASON II - Apa kamu memiliki cinta?
148
SEASON II - Pikirkan secara matang
149
SEASON II - Merawat kamu
150
SEASON II - Sikap yang berbeda
151
SEASON II - Aku sudah bertunangan
152
SEASON II - Sebuah keputusan
153
SEASON II - Penawaran Zack
154
SEASON II - Nasehat Mama
155
SEASON II - Sebuah titipan
156
SEASON II - Hari Pernikahan
157
SEASON II - Belajar menjadi istri
158
SEASON II - Saling Jail
159
SEASON II - Status baru
160
SEASON II - Berlagak tak mengenal
161
SEASON II - Semuanya telah berubah
162
SEASON II - Masih sama
163
SEASON II - Sepenggal tentang Zio
164
SEASON II - Datang Menjemput
165
SEASON II - Kita
166
SEASON II - Tak romantis
167
SEASON II - Kunjungan
168
SEASON II - Berpacaran
169
SEASON II - Hari Terakhir
170
SEASON II - Menghabiskan Waktu
171
SEASON II - Mengantar kepulangan
172
SEASON II - Kabar baik dan buruk
173
SEASON II - Arti mencintai
174
SEASON II - Merindumu
175
SEASON II - Terpesona
176
SEASON II - Mulai terbuka
177
SEASON II - Bertemu lagi
178
SEASON II - Menjebak
179
SEASON II - Ketakutan
180
SEASON II - Berita terbaru
181
SEASON II - Pertemuan keluarga
182
SEASON II - Sebuah kejutan
183
SEASON II - Antara Ayah dan putrinya
184
SEASON II - Hari Bahagia yang telah tiba
185
SEASON II - Selepas kata SAH
186
SEASON II - Setelah kamu menjadi milik saya
187
SEASON II - Setelah bersama
188
SEASON II - Hadiah pernikahan
189
SEASON II - Part Ending
190
BLURB ABRINE
191
PROMO

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!