Sungguh desa yang maju dan makmur, hanya dalam waktu tidak lebih dari dua tahun, desa Ye telah berkembang dari hanya sebuah bukit kecil menjadi sebuah desa besar, dar kawasan hutan liar menjadi kawasan yang bersih teratur.
Desa Ye, begitulah penduduk menamai desanya. Gapura besar terpasang kokoh di depan pintu masuk desa.
Tak pernah pilih-pilih saat menerima kedatangan pengungsi yang mau menetap menyebabkan desa Ye memiliki penduduk yang beragam dan meskipun sudah di atur baik-baik oleh ketua Song, tetap saja terjadi beberapa konflik-konflik kecil tapi tak sampai membuat perselisihan yang besar.
Semua masalah tetap bisa di selesaikan dengan jalan kekeluargaan.
Seperti saat sekarang, saat ini perdebatan agak alot dan panas di gedung desa. Gedung rumah ketua Song kini di sebut gedung desa, di sana dibangun sebuah tempat yang mirip seperti sebuah auditorium.
Perselisihan bermula sewaktu rombongan pengungsi yang merupakan kumpulan sekte yang berniat mencari tempat baru datang ke desa Ye, awalnya sekte ini masuk desa dengan damai dan meminta izin untuk menetap.
Setelah diizinkan tinggal, lama-kelamaan sekte ini sedikit berulah. Awalnya dengan alasan sebagai tempat berlatih, mereka membabat hutan.
Seiring berjalannya waktu, mereka seperti membangun daerah sendiri, mulai dari membangun batas sampai memukul siapa saja yang melewati daerah yang mereka anggap wilayah mereka.
Merasa lebih kuat dan melihat sumber daya desa Ye yang melimpah, timbul keinginan menguasai desa.
Mungkin karena merasa masih lemah , mereka tidak berani berbuat macam-macam tapi keadaan berubah sewaktu patriark mereka datang. Patriark ini berada di tingkat langin menengah.
Di waktu inilah Ye Chen datang.
"Ketua Song.. apa kabar, lama tak berjumpa." sapa Ye Chen langsung tanpa perduli dengan kehadiran perwakilan sekte.
"Tuan muda...!"
Qin Gang dan sepuluh rekannya menyapa serempak sambil menghormat menundukkan wajah.
"Qin Gang.. wah kau di sini juga, dan hei kalian juga di sini.. apa kabar semuanya..? aku harap kalian semua baik-baik saja."
"Tuan muda.. akhirnya anda datang juga, selamat datang, maaf tidak bisa menyambut kedatangan anda." Ketua Song tak menunggu jawaban Qin Gang dan rekannya menyapa Ye Chen.
Ketua Song tersenyum seolah sebuah beban di angkat dari pundaknya, selama ini Ia memutuskan semuanya seorang diri.
Menjadi patriark sekte besar tidak sama dengan menjadi ketua sebuah desa apalagi desa sebesar desa Ye yang baru dengan penduduk yang beragam.
Sebuah sekte telah membangun hierarki, kehidupan di dalamnya meskipun berpenghuni sampai ribuan orang tapi kehidupannya telah teratur dan telah berdiri sangat lama.
Sedangkan desa Ye baru berusia dua tahun, semua di bangun dari nol.
Tentu saja ketua Song kewalahan, kadang Ia meminta saran dari Qin Gang ataupun yang lain tapi sama sekali tidak ada saran yang bisa membantunya.
Ye Chen yang datang membuatnya sangat senang dan bahagia, Ia tau Ye Chen ini meskipun masih muda tapi wawasannya sangat luas.
Ketua Song turun dari kursinya lalu mempersilahkan Ye Chen naik ke tempat duduk.
"Nanti akan kujelaskan detailnya, bisik ketua Song.
" Silahkan pemimpin Ye.." Sambut ketua Song lagi, mempersilahkan Ye Chen duduk di kursi pemimpin, kursi yang selama ini kosong jika ada pertemuan di sini.
"Katakan, siapa dan ada keperluan apa anda di sini..?" Ye Chen tersenyum bertanya pada patriark sekte di depannya.
Tak ada satupun suara saat Ye Chen bertanya, ditambah suaranya yang tenang dan sedikit lambat. Keadaan ini membuat patriark sekte bergetar.
"Pemimpin Ye... begini... " Patriark sekte lalu menjelaskan maksud kedatangannya.
Ye Chen diam mendengarkan sambil mengelus-ngelus, memutar-mutar cincin hijaunya dengan ibu jari dan jari telunjuknya.
"Anda sudah tau bahwa di sini di desa ini dilarang membuat perkumpulan lebih-lebih lagi mendirikan sebuah sekte. Aturan ini berlaku bagi siapapun yang..
Belum selesai Ye Chen berbicara, seorang anggota sekte yang ikut hadir memotong pembicaraannya.
"cih cuma desa begini saja peraturannya begitu ketat." Yang berbicara ini adalah salah satu tetua sekte.
Ye Chen memicingkan matanya lalu tersenyum. Ia turun dari duduknya dan berjalan perlahan mendekati tetua yang berbicara.
"Oh jadi anda tidak setuju dengan peraturan yang kami buat?" Tanya Ye Chen santai."
"Peraturan yang...
Craass...
Belum selesai tetua berbicara, Ye Chen bergerak cepat mencabut pedang hitam dan membelahnya menjadi dua dari atas kepala ke bawah.
Tak ada seorangpun yang menyangka perbuatan Ye Chen ini.
" Kau.. berani sekali kau membunuh...
Craass...
Sekali lagi Ye Chen bergerak dan membunuh orang yang berbicara. Memotong kepala dari mulutnya, sebelum kepalanya jatuh, Ye Chen sekali lagi membabat tubuhnya jadi dua.
Diam..
Patriark sekte tak bisa berbicara, tatapan kebencian, kemarahan bercampur menjadi satu dengan rasa terkejutnya.
Bukan hanya berani membunuh anggotanya di depan matanya, tapi cara membunuhnya yang sangat sadis.
Ye Chen tak perduli tatapan orang-orang kepadanya, pedang hitamnya Ia panggul di pundak lalu berjalan kembali ke tempatnya. Tapi Ia tak segera duduk, hanya berdiri dan menancapkan pedang dilantai, percikan darah korbannya membasahi bajunya.
"Aku paling tidak suka ada yang memotong saat aku berbicara." Suasana yang mencekam dipecahkan oleh suara Ye Chen yang tetap tenang.
Tersadar dari rasa kagetnya, patriark berkata marah. "Aku meminta pertanggung jawaban, aku tidak terima anggotaku terbunuh." Patriark berdiri dari duduknya, di ikuti anggota yang lainnya.
Ketua Song, Qin Gang dan yang lain juga bersiap mencabut pedang, bersiap untuk bertarung.
"Kawasan ini sangat luas, kenapa memilih desa ini? dan satu lagi aku tak akan meminta maaf telah membunuh mereka. Anda lihat, kita sedang dalam rapat, antar pemimpin. Pakai akal sehatmu, sampai kapan ada kesepakatan jika ada yang selalu memotong rapat..?" Ucap Ye Chen.
"Baiklah begini saja, pulanglah jaga wilayahmu, aku akan melarang penduduk desa melintasi wilayahmu." Bukan mau mengalah, Ye Chen hanya tidak mau naif, pihak lawan memiliki dua tingkat langit, ini bukan sesuatu yang bisa di anggap remeh.
Kalaupun menang juga, pasti akan banyak korban diantara mereka.
Patriark sebenarnya sudah sangat marah, tapi mau bagaimana lagi, pihaknya juga tak mungkin bisa bertempur saat ini. Ia hanya membawa sedikit orang.
"Aku akan kembali, ingat kata-katamu, jangan ada yang berani melintasi wilayahku jika tidak ingin pulang hanya tinggal nama."
"Bawa jasad mereka." Dengan wajah masih menyimpan kemarahan, patriark berbalik pergi.
"Patriark apakah kita akan diam saja?" tanya seorang anggota sekte.
"Tunggu saja, kita pasti akan membalas ini semua, mereka akan membayarnya berkali-kali lipat." jawab patriark sekte sambil berjalan keluar.
Di balai pertemuan , Ye Chen yang sudah menyimpan kembali pedangnya berkata pada ketua Song.
"Ketua Song tenanglah, aku rasa mereka tak akan menyerang kita dalam waktu dekat ini."
"Tuan muda terlalu berani, bagaimana jika tadi mereka tidak menerima usulan tuan muda dan menyerang kita..?" kata ketua Song.
"Mereka tak akan berani, aku membunuh mereka bukan tanpa tujuan, ini menunjukkan bahwa kita tidak pernah takut pada apapun."
"Tapi aku memang tidak suka melihat mereka sejak aku masuk, wajahnya seolah mengingkan untuk di belah haha.. "
"Tuan muda.. tolong jangan main-main disaat seperti ini, aku sudah sangat kuatir tadi. Ketua Song berkata tapi entah kenapa Ia percaya perkataan terakhir Ye Chen tadi.
" Sudahlah, semua sudah terjadi.. nanti kita pikirkan lagi bagaimana, yang jelas mereka ini seperti duri dalam dating, harus segera di basmi." kata Ye Chen sambil meminta memanggil nona Ong.
"Tuan muda.. sebaiknya anda membersihkan diri dulu, lihatlah... hais paling tidak hindarilah percikan darah korban anda." Kata ketua Song.
"Baiklah, tapi bisakah aku minta diberikan baju? lihatlah baju ini, sudah lama tidak di ganti. Oh ya ketua Song, apakah ada makanan? sudah lama aku tak merasakan masakan enak."
"Ya pergilah, aku akan menyuruh seseorsng untuk menyiapkan pakaianmu dan memasak makanan untuk much." Ucap ketua Song.
Sambil berlalu pergi, Ye Chen berteriak.
" Yang banyak ya ketua Song makanannya."
Ketua Song hanya menggeleng pelan melihat tingkah Ye Chen.
"Entahlah mungkin aku yang terlalu kuatir." Gumamnya pelan.
...
"Apa kau yakin tak butuh bantuanku? atau begini saja, biarkan Qin Gang atau seseorang yang menjaga di luar gua." Kata ketua Song saat mendengar Ye Chen akan mulai menyerap api abadi.
Saat ini hanya ketua Song dan Ye Chen yang tinggal di balai pertemuan. Sebelumnya Ye Chen meminta untuk tim alkemis hanya fokus membuat pemulihan dan pil kultivasi.
Pil kultivasi hanya akan di buat oleh nona Ong karena tingkatannya yang paling tinggi sedangkan yang lain membuat pil pemulihan.
Ye Chen juga memberikan resep pil yang baru, resep ini membutuhkan tanaman herbal yang lebih banyak dibanding resep pil yang biasa alkemis buat.
Tentu saja hasilnya lebih bagus.
"Aku berangkat sekarang, lebih cepat lebih baik. Kakek Song, tolong berhati-hatilah, aku tak mau menghadiri pemakamanmu saat kembali nanti."
"Cih apa kau kira aku selemah itu? dasar kau ini, cepatlah kembali, aku tak melihat semangat mereka kalau kau tak di sini." Sahut ketua Song.
Aarghhh...
Di dalam gua, Ye Chen berteriak menahan rasa panas dari api abadi.
Ia sudah menyegel gua sebelum melakukan penyerapan. Suara sekuat apapun tak akan terdengar dari luar.
Seminggu berlalu akhirnya Ye Chen selesai menyerap seluruh energi api abadi.
Latihan-latihan kecil seperti mengeluarkan api ditangan dan melemparkannnya dilakukan Ye Chen sampai mahir.
Ia berpikir melatih kekuatan apinya di dimensi Batu Jajar.
Merasa cukup berlatih dengan apinya, Ye Chen kembali ke desa.
"Kakek Song, apakah ada gerakan mencurigakan dari kelompok sekte itu? Tanya Ye Chen setelah duduk berdua dengang Song Yi.
"Seminggu ini tak ada yang terjadi yang membahayakan desa, hanya mereka kadang terlihat sering keluar dari wilayah mereka, entah apa yang mereka cari di luar." jawab Song Yi.
"Oh ya apakah ads kabar tentang kristal jiwa ungu yang aku minta?"
"Kami menemukan beberapa tapi hanya itu, tim lain yang aku utus menelusuri hutan Selatan belum kembali, semoga tidak terjadi apa-apa pada mereka dan kembali membawa kabar baik.
Memang buat apa kristal jiwa ungu ini?" Lanjut Song Yi bertanya.
"Kakek Song aku tau ada aray tipis menuju bukit, bukan sengaja supaya tak ada bisa naik tapi memang aku tak tau, hanya saja aku baru menyadarinya kemaren.
Nah nanti aku akan membuat segel menggunakan kristal ini supaya yang lain bisa naik, sekaligus meningkatkan kekuatan aray pelindung.
"Apa kau sekarang sudah bisa formasi?" Ketua Song Yi lagi-lagi kagum mendengarnya, meskipun sudah lama tau tapi Ia tak menyangka Ye Chen bisa memperkuat formasi, ini berrarti Ye Chen juga bisa memasang formasi.
Asal tau saja, formasi aray pelindung adalah formasi tingkat tinggi, tidak semua ahli formasi bisa melakukan ini.
"Hehehe.. Apakah kini kau sadar betapa hebatnya aku ini hahaha... "
"Ya kau memang hebat, gayamu juga hebat." Sindir ketua Song.
Bukannya sadar disindir, Ye Chen malah semakin bangga.
"Sudahlah kakek Song, tak perlu terlalu terpesona begitu denga kehebatanku.. Sekarang ambillah kristal itu akan kubuat segelnya sekarang.
Setelah ini aku akan menutup diri lagi, berlatih kehebatanku yang lain hehehe... "
Ye Chen lalu membuat segel pada batu kristal yang diberikan ketua Song, lalu mengajaknya naik untuk mencobanya.
Hanya lima segel yang bisa di buat untuk saat ini, satu dipegang ketua Song, satu lagi oleh nona Ong sebagai ketua alkemis dan sisanya Ye Chen pakai sebagai titik formasi untuk menguatkan aray pelindung.
"Sempurna..!!
Teriak Ye Chen setelah segel yang di buatnya memang bisa dipakai melewati aray pelindung.
"Kakek Song segel ini hanya bisa dipakai untuk membawa maksimal sepuluh orang. Peganglah tangan orang yang akan di bawa ke dalam, saling bergandengan jika ingin masuk.
Maaf ini batasku, aku tak bisa membuat lebih dari ini." Dengan sedih Ye Chen menerangkan kondisi segel buatannya.
"Tidak usah di pikirkan, ini sudah cukup baik, dengan begini kita bisa menyelamatkan orang-orang kesini jika terjadi sesuatu di desa." Kata kakek Song membesarkan hati Ye Chen.
"Kakek Song, aku akan menambah kekuatan aray dari dalam. Setelah ini aku tak akan kembali, aku akan tetap di sini untuk menutup diri berlatih."
Dimensi Batu Jajar, di dunia dimensi cincin.
"Kalau tak salah ada di sekitar sini, um.." tampak Ye Chen mencari-cari sesuatu, membalik-balikkan tanah menyibak rerumputan dan.. "ah ini dia, sesuai dugaanku" tampak di tangan Ye Chen terdapat sebuah tungku pil, tungku berwarna hitam legam.
Tak apa yang penting bisa dipakai, pikir Ye Chen. Awalnya Ia kuatir tapi setelah mencoba melebur beberapa tanaman herbal, hasilnya cukup bagus.
Hari-hari berlalu, Ye Chen keluar dari dimensi Batu cincin dan berlatih menggunakan apinya dan sesekali bereksperimen menggunakan api dalam jurus-jurusnya.
Untuk pil, Ye Chen masih belum berlatih lagi, Ia mau membuat pil setelah berhasil menguasai penuh penggunaan apinya.
"Langkah angin ketiga, tapak jiwa formasi api"
Wuss...
Ye Chen melompat sangat cepat, menghantamkan tapaknya pada sebuah pohon.
Pohon besar berlubang, aray tipis mengelilingi pinggirang lubang dengan api merah membara ditengahnya.
"Selanjutnya pedang hitam.. " Ye Chen mengeluarkan pedang hitam dari dimensi cincin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
Arie Chaniago70
semangat ye,,, tingkatkan kekuatan mu
2025-02-20
0
Driyanto Kriswan
Waspada dari terror dan balas dendam kelompok yang tak tahu diri, tak tahu terima kasih, sekta pendatang, numpang tinggal di desa Ye. Sebaiknya diusir saja/dimusnahkan/ditaklukkan secara jelas tegas atau ditundukkan dengan belenggu racun... Ini bahaya latent yang merongrong Kedamaian Desa Ye... /Smug/
2024-04-05
4
K4k3k 8¤d¤
❤✍🏼❤✍🏼❤✍🏼❤✍🏼❤
2024-03-25
0